Disukai
1
Dilihat
3,922
Aku Menunggumu di Taman Baca
Romantis

SURAT UNTUK KIRANA

Bagian Satu

Taman Baca dan Perempuan Bersyal Cokelat

Setiap sore, Rama selalu duduk di kursi kayu dekat jendela taman baca.

Ia akan membuka buku yang sama, memesan kopi hitam yang sama, lalu memandang ke jalan kecil di depan gedung, berharap seseorang datang dari kejauhan.

Namanya Kirana.

Sudah dua tahun Kirana tidak pernah muncul lagi.

Rama tidak pernah benar-benar bisa menjelaskan kepada siapa pun mengapa ia terus datang ke tempat yang sama setiap harinya. Teman-temannya sudah bosan mendengar cerita tentang perempuan yang tidak pernah memberi kabar itu. Pak Darmo, penjaga taman baca sekaligus yang menyeduh kopi setiap sore, sudah hafal pesanan Rama tanpa perlu ditanya. Bahkan anak-anak desa yang sering datang membaca sudah tahu bahwa Mas Rama akan selalu duduk di kursi dekat jendela, memandang jalan dengan tatapan yang sulit dibaca.

Namun tidak ada yang bertanya lagi.

Mereka hanya membiarkan Rama dengan ritualnya yang sunyi itu.

Dulu, perempuan itu hampir setiap hari datang ke taman baca desa. Ia suka duduk di pojok rak novel, membaca puisi, lalu mencatat kalimat-kalimat indah di buku kecil berwarna biru. Buku itu selalu ia bawa ke mana-mana, tergantung di dalam tas kanvas cokelat yang sudah sedikit lusuh di bagian jahitannya.

Rama mengenalnya perlahan seperti cara mengenal musim: tidak tiba-tiba, tidak dengan pengumuman, tetapi terasa jelas ketika tiba-tiba kamu sadar bahwa sesuatu telah berubah.

Awalnya hanya saling menyapa. Anggukan kepala, senyum kecil, sesekali tatapan yang bertemu sebentar lalu sama-sama dialihkan ke halaman buku masing-masing. Kemudian berbagi buku Kirana meminjamkan kumpulan puisi Sapardi, Rama membalas dengan novel terjemahan yang baru ia beli dari kota. Lalu berbicara tentang banyak hal: tentang hujan yang selalu datang terlambat di desa mereka, tentang gunung yang terlihat dari jendela taman baca kalau langitnya sedang bersih, tentang kopi yang rasanya berbeda di tiap warung, tentang rindu yang kadang tidak punya alamat yang jelas.

Kirana pernah berkata bahwa ia ingin sekali melihat perpustakaan kecil itu ramai oleh anak-anak desa.

"Aku suka tempat ini," katanya suatu sore, ketika cahaya matahari mulai kekuningan dan menyeruak masuk dari celah-celah jendela kayu. "Kalau suatu hari aku pergi, jangan biarkan tempat ini sepi."

Rama hanya tertawa kecil. Tertawa yang sebenarnya menyembunyikan sesuatu yang baru saja bergerak di dalam dadanya.

"Kamu mau pergi ke mana?"

Kirana tidak langsung menjawab. Ia menatap halaman buku di tangannya sebentar, lalu mengalihkan pandangan ke jendela. Matanya memiliki cara tersendiri untuk terlihat jauh meski tubuhnya sedang ada di sana, duduk di kursi kayu yang sama dengan Rama.

"Kadang ada orang yang harus pergi sebelum sempat tinggal lebih lama."

Kalimat itu menggantung di antara mereka. Rama tidak tahu harus membalasnya dengan apa. Ia hanya mengangguk pelan, seolah mengerti, padahal sebenarnya ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul di balik tulang rusuknya.

Sejak hari itu, Rama sering merasa takut kehilangan.

Bagian Dua

Ketika Semuanya Tiba-tiba Sunyi

Namun ketakutan itu benar-benar terjadi.

Kirana tiba-tiba berhenti datang.

Tidak ada kabar. Tidak ada pesan. Tidak ada penjelasan.

Minggu pertama, Rama masih berpikir mungkin Kirana sedang sakit, atau ada keperluan keluarga, atau sekadar sedang tidak mood keluar rumah. Ia pun tidak terlalu khawatir orang boleh absen dari tempat biasanya sesekali. Itu hal yang wajar.

Minggu kedua, rasa penasaran mulai berubah menjadi kegelisahan. Ia mulai melihat ke arah pintu setiap kali ada suara langkah kaki di teras. Mulai melirik ke pojok rak novel setiap pagi ketika membuka taman baca.

Pojok itu selalu kosong.

Minggu ketiga, Rama tidak bisa lagi pura-pura tenang.

Ia mencoba mencari tahu. Bertanya kepada Dian, teman akrab Kirana yang sesekali juga datang ke taman baca. Dian hanya menggeleng, mengatakan bahwa ia pun sudah tidak mendapat kabar. Ia mendatangi Bu Lastri, tetangga rumah keluarga Kirana, perempuan paruh baya yang ramah dan suka bercerita. Bu Lastri mengusap tangannya dengan celemek, lalu berkata dengan nada yang terasa seperti pamitan:

"Mereka pindah, Mas. Sudah dua minggu lalu."

"Pindah ke mana, Bu?"

"Tidak tahu. Mereka pergi mendadak. Tidak sempat berpamitan banyak."

Rama berdiri di depan rumah Bu Lastri lebih lama dari yang ia sadari. Angin sore bertiup, membawa bau tanah dan daun pisang. Dari kejauhan terdengar suara anak-anak bermain di lapangan. Semuanya terasa normal. Terasa biasa.

Hanya ada sesuatu di dalam dadanya yang tiba-tiba tidak bisa menemukan tempat berpijaknya.

Ia bahkan pernah mendatangi alamat yang pernah ditulis Kirana di belakang kartu pinjaman buku sebuah rumah di ujung gang dengan pohon jambu di depannya. Tapi ketika ia tiba, yang ia temukan hanyalah rumah dengan pintu terkunci dan jendela yang sudah ditutup dari dalam. Seorang anak kecil yang lewat memberi tahu bahwa penghuni rumah itu sudah lama pergi.

Rama pulang dengan tangan kosong dan kepala yang terlalu penuh.

Bagian Tiga

Puluhan Surat yang Tidak Pernah Dikirim

Sejak itu, Rama mulai menulis surat.

Bukan karena ia tahu ke mana harus mengirimnya. Bukan karena ia yakin surat-surat itu akan sampai. Tetapi karena ada terlalu banyak yang ingin ia katakan dan tidak ada tempat untuk mengatakannya.

Surat pertama ia tulis malam hari, di meja kayu di ruang belakang taman baca, dengan lampu minyak yang berkedip-kedip karena angin masuk dari celah dinding. Ia menulis tentang hari pertama Kirana tidak datang. Tentang bagaimana ia terus menoleh ke pintu meski tahu tidak ada yang akan masuk.

Surat kedua tentang buku yang Kirana tinggalkan kumpulan puisi Chairil Anwar yang masih ada di rak, dengan lipatan kecil di halaman tiga puluh dua, menandai puisi yang rupanya belum selesai ia baca.

Surat ketiga tentang rak buku baru yang akhirnya selesai dibuat. Rama mengingat bagaimana Kirana pernah mengatakan bahwa rak buku yang ada sudah terlalu penuh dan harus ditambah. Ia menambah rak itu seorang diri, mengecat kayunya dengan warna putih gading, dan meletakkannya di sudut ruangan yang paling terang.

Ia menulis tentang anak-anak yang mulai sering datang. Ada Bagas, sembilan tahun, yang awalnya hanya duduk-duduk karena ikut kakaknya tapi kemudian diam-diam mulai menyukai buku-buku bergambar tentang hewan. Ada Sinta, dua belas tahun, yang tulisannya rapi sekali dan sudah mulai mencoba menulis cerita sendiri di kertas-kertas bekas. Ada Pak Hendra, pensiunan guru SD, yang setiap Sabtu pagi datang untuk membaca koran dan kadang membawakan pisang goreng untuk semua yang ada di sana.

Kirana, taman baca ini tidak sepi lagi. Kamu pasti senang kalau tahu.

Rama menulis itu di surat yang kesebelas.

Puluhan surat itu ia simpan di dalam kotak kayu di bawah meja — kotak yang dulu dipakai untuk menyimpan stempel peminjaman buku. Setiap kali selesai menulis, ia melipat surat itu rapi, memasukkannya ke dalam amplop, menuliskan nama Kirana di bagian depan, lalu menyimpannya bersama yang lain.

Ia tidak tahu mengapa ia terus melakukan itu. Mungkin karena menulis terasa seperti berbicara. Mungkin karena diam terasa terlalu berat untuk ditanggung sendirian. Mungkin karena ada bagian dari dirinya yang percaya bahwa kata-kata yang sudah ditulis tidak akan benar-benar hilang — bahwa suatu hari, dengan cara yang tidak ia mengerti, surat-surat itu akan sampai kepada yang seharusnya membacanya.

Ia percaya suatu hari Kirana akan kembali.

Bagian Empat

Sore yang Berbeda

Dua tahun berlalu.

Taman baca itu sekarang memang lebih ramai. Ada program baca bareng setiap Rabu sore. Ada dinding mural yang dilukis oleh anak-anak desa bersama sukarelawan dari kota gambar buku terbang, burung-burung berwarna warni, dan kalimat besar yang berbunyi: *Satu buku, satu dunia baru.* Ada kelompok ibu-ibu yang kadang datang untuk meminjam buku resep masakan atau majalah kesehatan.

Rama masih ada di sana. Masih membuka taman baca setiap pagi, masih duduk di kursi kayu dekat jendela setiap sore, masih memesan kopi hitam dari Pak Darmo.

Sampai suatu sore, ketika hujan baru saja reda dan udara berbau petrichor, seorang perempuan datang ke taman baca.

Perempuan itu memakai syal cokelat dan membawa buku kecil berwarna biru.

Rama langsung berdiri. Kursinya bergeser ke belakang dengan suara yang cukup keras sehingga beberapa anak yang sedang membaca menoleh ke arahnya. Dadanya berdebar begitu keras sampai ia bisa merasakannya di ujung jari-jarinya.

Ia mengenal syal itu. Ia mengenal buku itu.

"Kirana?"

Suaranya keluar lebih pelan dari yang ia inginkan.

Perempuan itu menghentikan langkahnya. Ia menatap Rama lama sekali tatapan yang tidak bisa langsung dibaca, campuran dari banyak hal yang Rama tidak bisa identifikasi satu per satu.

Matanya basah.

"Aku adiknya," katanya pelan.

Bagian Lima

Amplop Putih

Nama adik Kirana adalah Andini.

Ia duduk di kursi kayu dekat jendela kursi yang sama, tempat yang sama dan Rama duduk di hadapannya dengan perasaan yang tidak bisa ia gambarkan dengan tepat. Seperti semua ketegangan dua tahun itu tiba-tiba naik ke permukaan, tapi di saat yang bersamaan ada rasa takut untuk mendengar apa yang akan dikatakan perempuan di depannya.

"Aku menemukan surat-suratmu di rumah," kata Andini sambil mengeluarkan sebuah amplop putih. "Kakak menyimpannya. Semua yang pernah kamu tulis." Ia berhenti sebentar. "Aku rasa kamu berhak tahu semuanya."

"Ia menyimpan surat-suratku?"

Andini mengangguk. "Di kotak kayu kecil. Di bawah kasurnya. Sudah sejak pertama kamu mulai mengirimnya meski kamu tidak benar-benar mengirimnya ke alamat mana pun."

Rama tidak mengerti. Ia tidak pernah mengirim satu pun surat itu. Surat-surat itu semuanya masih ada di dalam kotak di bawah meja taman baca ia tahu pasti, ia mengeceknya hampir setiap hari.

"Aku tidak pernah mengirim apa pun," katanya.

Andini menatapnya. "Aku tahu. Tapi Kakak juga menulis surat. Untukmu."

Rama diam.

"Ia menulis banyak surat yang juga tidak pernah ia kirim. Tentang mengapa ia pergi tanpa pamit. Tentang hal-hal yang tidak sempat ia katakan." Andini menggeser amplop putih itu ke depan Rama. "Ini yang terakhir. Ia tulis menjelang akhir."

Dengan tangan gemetar, Rama membuka amplop itu.

Di dalamnya ada selembar kertas tulisan tangan Kirana yang ia kenal, miring ke kanan sedikit, dengan titik-titik yang selalu terlalu tegas di akhir kalimat.

*Rama,*

*Aku minta maaf karena pergi tanpa pamit.*

*Aku sakit sejak lama. Sejak sebelum kita mengenal satu sama lain. Dokter bilang waktuku tidak banyak, dan aku sudah mengetahuinya bahkan sejak pertama kali aku duduk di pojok rak novel itu, membaca puisi, dan kamu mengangguk padaku dari kursi kayu dekat jendela.*

*Aku tidak ingin kamu melihatku semakin lemah. Aku tidak ingin pertemuan-pertemuan kita di taman baca itu menjadi sesuatu yang menyedihkan. Aku ingin semuanya tetap seperti yang terbaik yang pernah kita miliki percakapan tentang hujan, tentang kopi, tentang buku-buku yang kita pinjamkan satu sama lain.*

*Jadi aku memilih pergi diam-diam.*

*Aku tahu itu egois. Aku tahu itu mungkin menyakitimu dengan cara yang berbeda — bukan sakit yang terlihat, tapi sakit yang datang dari tidak tahu dan tidak mengerti. Dan untuk itu, aku benar-benar minta maaf.*

*Tapi aku ingin kamu mengingatku sebagai perempuan yang suka tersenyum, yang suka membaca sampai lupa waktu, yang suka mencatat kalimat-kalimat indah di buku biru, yang kadang membuatmu menunggu terlalu lama sebelum menjawab pertanyaan sederhana pun.*

*Aku ingin kamu mengingatku seperti itu. Bukan yang lain.*

*Kalau suatu hari kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak ada. Mungkin sudah jauh. Tapi aku ingin kamu tahu satu hal:*

*Tolong jangan terlalu lama menungguku.*

*Karena cinta tidak selalu tentang bersama. Kadang cinta hanya tentang meninggalkan sesuatu yang indah di hati seseorang dan berharap orang itu tidak terlalu lama berdiri di tempat yang sama menunggu sesuatu yang tidak bisa lagi kembali.*

*Hiduplah yang baik, Rama. Jaga taman baca itu. Jadikan ramai.*

*Aku percaya kamu bisa.*

*Kirana*

---

Rama tidak sanggup melanjutkan membaca.

Ia berhenti di kalimat terakhir. Air matanya jatuh di atas kertas tanpa ia sadari — pelan, lalu tidak bisa lagi ia tahan. Ia menunduk, meletakkan surat itu di meja, dan menutup wajahnya sebentar dengan kedua telapak tangan.

Di sudut ruangan, Bagas dan dua anak lainnya yang sedang membaca diam-diam menghentikan aktivitas mereka, menatap Mas Rama dengan ekspresi bingung yang jujur. Pak Darmo yang sedang menyapu di belakang mengintip sebentar dari tirai, lalu kembali diam.

Andini tidak berkata apa-apa. Ia membiarkan Rama dengan rasa sakitnya.

Beberapa saat kemudian, ketika Rama sudah sedikit lebih tenang, Andini mengeluarkan sebuah buku kecil berwarna biru dari dalam tasnya.

"Ini milik Kak Kirana," katanya. "Buku catatannya. Ia minta aku menyampaikannya langsung ke tanganmu."

Rama menerimanya dengan hati-hati — seperti menerima sesuatu yang rapuh, sesuatu yang bisa hancur kalau dipegang terlalu erat. Cover buku itu sudah agak lusuh, sudut-sudutnya membulat karena sering dibuka tutup. Ada noda kecil di pojok kanan bawah yang mungkin bekas tumpahan kopi.

Ia membukanya.

Halaman demi halaman berisi tulisan Kirana kutipan puisi, kalimat-kalimat yang tampaknya ia salin dari buku lain, catatan-catatan kecil yang setengahnya tidak Rama mengerti konteksnya. Tapi di beberapa tempat, ia menemukan namanya sendiri. Dalam kalimat-kalimat yang tidak panjang, tapi cukup untuk membuat napasnya tercekat.

*Hari ini Rama merekomendasikan buku yang sampulnya sudah pudar. Katanya isi lebih penting dari sampul. Aku rasa ia berbicara tentang lebih dari sekadar buku.*

*Hujan deras. Rama membuat dua cangkir kopi dan meletakkan satu di mejaku tanpa berkata apa-apa. Aku tidak tahu kenapa itu terasa seperti hal yang paling menyentuh yang pernah seseorang lakukan untukku.*

*Ia tidak tahu bahwa setiap kali ia tertawa, aku selalu terlambat ikut tertawa karena aku lebih suka memandang cara ia tertawa.*

Rama membalik halaman dengan jari yang tidak sepenuhnya bisa ia kendalikan.

Lalu ia sampai di halaman terakhir yang ada tulisannya.

Hanya satu kalimat. Ditulis lebih besar dari yang lain, seolah ingin memastikan bahwa kalimat itu tidak terlewat.

*Aku mencintaimu, Rama. Sejak pertama kali kita bertemu di taman baca.*

Bagian Enam

Yang Tersisa

Rama memejamkan mata.

Selama dua tahun, ia pikir ia sedang menunggu seseorang yang mungkin lupa jalan pulang. Mungkin sedang sibuk di tempat baru, mungkin butuh waktu, mungkin suatu hari akan muncul lagi dengan syal cokelat dan buku birunya, duduk di pojok rak novel seperti sebelumnya.

Ternyata ia sedang menunggu seseorang yang sejak lama sudah tidak bisa kembali.

Dan seseorang itu tahu. Seseorang itu pergi dengan sengaja, dengan alasan, dengan cinta yang justru memilih untuk tidak dinyatakan langsung agar yang ditinggalkan bisa terus hidup tanpa terbebani oleh kesedihan yang panjang.

Andini tidak buru-buru. Ia duduk diam, memandang ke luar jendela. Di luar, langit mulai berubah warna menjadi oranye muda sore yang tenang meski baru saja hujan.

"Kapan?" tanya Rama akhirnya. Suaranya terdengar berat.

"Delapan bulan yang lalu," jawab Andini pelan. "Di rumah sakit di kota. Kami sudah di sana selama setahun lebih sebelumnya. Ia memang tidak pernah mau memberi tahu orang-orang di sini."

"Bahkan sampai akhir?"

"Bahkan sampai akhir." Andini menoleh ke Rama. "Tapi ia sering bertanya tentang tempat ini. Taman baca ini. Ia selalu ingin tahu apakah masih ada, apakah masih ramai. Aku yang mencari tahu dari jauh kadang tanya ke orang-orang yang masih kenal daerah sini."

Rama menatap dinding taman baca mural itu, rak-rak buku yang penuh, foto anak-anak dalam berbagai kegiatan yang ditempel di papan pengumuman.

"Ia tahu taman baca ini jadi ramai?"

"Tahu." Andini tersenyum tipis, dan untuk sesaat Rama bisa melihat sedikit kemiripan dengan Kirana bukan di wajah, tapi di cara senyum itu terlihat seperti sesuatu yang disimpan lama sebelum dikeluarkan. "Itu yang membuatnya tenang di hari-hari terakhirnya. Ia bilang, kalau taman bacanya sudah ramai, berarti orang yang menjaganya baik-baik saja."

Rama menelan ludah. Ada yang naik ke tenggorokannya dan ia tidak yakin bisa menahannya lama-lama.

"Aku tidak baik-baik saja," katanya jujur.

"Aku tahu," kata Andini. "Tapi kamu masih di sini. Masih membuka tempat ini setiap hari. Bagi Kakak, itu sudah cukup."

Bagian Tujuh

Setelah Sore Itu

Andini pergi ketika langit sudah gelap sepenuhnya.

Sebelum pamit, ia menitipkan satu hal lagi foto kecil yang ia ambil dari dompet Kirana. Foto itu diambil di taman baca ini, dari sudut yang tidak Rama ingat pernah ada yang memotret. Kirana sedang duduk di pojok rak novel, kepala menunduk ke buku, cahaya dari jendela menyinari satu sisi wajahnya.

"Ia sendiri yang minta aku foto," kata Andini. "Katanya ia ingin mengingat tempat yang paling ia sukai."

Rama memegang foto itu lama setelah Andini pergi.

Malam itu, setelah menutup taman baca dan memastikan semua lampu sudah dimatikan, Rama duduk sendirian di kursi kayu dekat jendela. Kotak kayu di bawah meja ia keluarkan, ia buka. Puluhan amplop tersusun rapi di dalamnya semua surat yang pernah ia tulis, semua kata yang tidak pernah sampai ke tangan yang seharusnya.

Ia mengambil satu amplop dan membukanya. Membaca suratnya sendiri, tulisannya sendiri, tentang hari-hari yang telah berlalu.

Lalu ia mengambil selembar kertas baru.

Dan mulai menulis lagi.

*Kirana,*

*Hari ini adikmu datang.*

*Aku sudah tahu sekarang. Semua yang tidak kamu katakan langsung, semua yang kamu pilih untuk disimpan sendiri. Aku mengerti mengapa kamu melakukannya meski bagian dari aku ingin kamu tidak perlu melakukannya sendirian.*

*Taman baca ini memang sudah ramai. Kamu benar, kalau itu yang kamu tanyakan dari jauh selama ini.*

*Bagas sekarang sudah bisa membaca buku tanpa gambar. Sinta sudah menyelesaikan cerita pertamanya aku sudah mencetaknya dan menempelnya di papan pengumuman, dan ia sepertinya tidak bisa berhenti senyum selama seminggu penuh. Pak Hendra masih datang setiap Sabtu, sekarang juga membantu mengajarkan anak-anak membaca dengan lebih nyaring.*

*Aku rasa kamu akan sangat menyukainya.*

*Aku tidak tahu apakah aku akan berhenti menulis surat untukmu. Mungkin tidak. Mungkin ini sudah menjadi bagian dari caraku menjalani hari seperti kopi hitam, seperti kursi kayu ini, seperti memandang ke jalan kecil di depan gedung.*

*Tapi aku mendengar apa yang kamu minta.*

*Aku tidak akan terlalu lama berdiri di tempat yang sama.*

*Aku akan mulai berjalan.*

*Pelan-pelan. Tapi aku akan mulai.*

*Terima kasih sudah pernah duduk di pojok rak novel itu. Terima kasih sudah meminjamkan Sapardi. Terima kasih sudah menyebutkan nama tempat ini seperti sebuah janji.*

*Dan terima kasih sudah mencintaiku, meski dengan cara yang memilih untuk menyimpannya sendiri.*

*Aku mencintaimu juga, Kirana.*

*Sejak percakapan tentang hujan yang pertama.*

* Rama*

Ia melipat surat itu rapi. Memasukkannya ke dalam amplop.

Tapi kali ini, ia tidak menyimpannya di dalam kotak.

Ia meletakkannya di atas meja, di samping foto kecil yang ditinggalkan Andini, di samping buku biru yang sudah lusuh sudut-sudutnya.

Di luar, desa sudah sunyi. Hanya ada suara jangkrik dan angin yang sesekali menggerakkan daun-daun di halaman.

Rama memandang ke jendela ke jalan kecil yang sama, yang sudah ia pandangi selama dua tahun.

Untuk pertama kalinya, ia tidak sedang menunggu seseorang datang dari kejauhan.

Ia hanya duduk di sana, dengan semua yang sudah ia pelajari tentang kehilangan dan cinta dan hal-hal yang tidak sempat terucap, membiarkan malam berlalu dengan caranya sendiri.

Dan di dalam dadanya, di tempat yang dua tahun belakangan selalu terasa seperti kamar yang pintunya tidak bisa dibuka, sesuatu perlahan mulai bergerak.

Bukan sembuh belum.

Tapi mulai.

Dan untuk malam ini, itu sudah cukup.

**— Selesai —**

*"Cinta tidak selalu tentang bersama. Kadang cinta hanya tentang meninggalkan sesuatu yang indah di hati seseorang."*

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)