Skenario
SELIBURAN SEMESTER
MENGEJAR GITA
Part 9
EXT. RUKO ELANG – SIANG
Nanda menepikan motor dan memarkir motornya di samping VW. Nanda langsung masuk konter duduk di dalam menemani Elang.
ELANG
Masalah bang Joni, beres. Lu gak telpon Gita, Nda?
NANDA
Gue ngga mau ditolak jarak jauh. Ntar agak maleman gue ke rumah Gita.
ELANG
Mau ngomong apa, lu?
NANDA
Gue masih belum nemu alasan kenapa ikut Bang Joni. Gue mutusin untuk ngomong jujur.
ELANG
Gita nggak punya sepupu cewek, Nda?
NANDA
Hah?
ELANG
Gita. Punya sepupu cewek, nggak?
NANDA
(seengah teriak)
Intan!
ELANG
Nda. Bajingan lu.
Bakso, bakso ya, Nda?
Sate? Nda jawab!
Kamu jangan hanya diam. Jangan kamu acuhkan aku, Nda.
EXT. RUMAH ORANG – MALAM
Tidak jauh masuk komplek perumahan Gita, Nanda merapatkan VW di trotoar depan rumah.
Nanda keluar dari VW dan memasuki pagar.
EXT. RUMAH ORANG – MALAM
Nanda mengetuk pintu. Tidak lama seorang ibu yang tidak di kenal Nanda muncul.
O.S. SUARA HATI NANDA
Budenya Gita? Baru lihat?
TETANGGA GITA
Ya, ada apa?
NANDA
Gitanya ada, Bu?
TETANGGA GITA
Gita siapa, ya?
NANDA
Gita, kakaknya Damar, Bu.
TETANGGA GITA
(bingung)
Lah, Damar siapa?
NANDA
Damar, ya adiknya Gita. Gimana ibu ini. Kan Gita sebagai kakaknya Damar!
TETANGGA GITA
Ruwet, ngomong sama situ.
Si Ibu menuntup membanting pintunya.
NANDA
Kok Ibu ini ngambek. Apa gue ngomongnya kurang jelas. Perasaan, bahasa lndonesia gue lumayan baku. Gue nggak ngerti.
Jangan-jangan ini bukan rumah Gita, atau Gita sudah pindah. Tapi siang tadi, perasaan gue ngantar Damar.
EXT. RUMAH ORANG – MALAM
Nanda buru-buru menjauh dari pintu dan keluar pagar. Nanda melihat rumah sebelah. Di dalam pagar, Nanda melihat di depan pintu utama ada kursi dari rotan. Dan sepertinya, barusan Nanda salah rumah.
NANDA
Pantas ibu tadi sewot banget.
NANDA
Tapi komplek perumahan model tempat Gita gini kadang ribet. Bentuk rumahnya relatif sama.
EXT. RUMAH DAMAR – MALAM
Nanda mengetuk pintu. Pintu dibuka dari dalam oleh Damar.
NANDA
Eh, Damar, tambah tinggi aja. Nggak tambah pendek.
CUT TO :
INT. RUKO ELANG – SIANG
Nanda berbicara ke kamera.
NANDA
Gue rayu-rayu dulu.
CUT BACK TO :
EXT. RUMAH DAMAR – MALAM
NANDA
Kak Gitanya ada?
Damar mengernyitkan dahi.
DAMAR
Kak Gita nggak mau ketemu bang Nanda.
Damar menutup pinu. Langkah Nanda kembali ke VW jadi berat.
EXT. RUMAH DAMAR – MALAM
Di dalam VW yang terparkir.
NANDA
Ini nih rasanya pulang lari maraton nggak dikasih minum. Lemes.
NANDA
Gita nggak mau ketemu gue. Yah wajar sih. Dan yang nggak gue harapkan benar-benar terjadi.
Teriakan abang sate dari arah belakang membuat Nanda melirik spion.
NANDA
Gue butuh tenaga tambahan untuk bisa balik. Dengkul hampir copot, otak mulai random. Mata kelilipan.
Nyemil sate, nyemil sate, dah.
Abang sate mendorong gerobaknya di samping VW kodok. Nanda melongok ke jendela pintu.
NANDA
Bikinin duapuluh, pak. Pake lontong.
ABANG SATE
Iya.
EXT. RUMAH DAMAR – MALAM
Nanda beralih dari memandang hape ke arah depan, Nanda kaget melihat Gita keluar dari pagar rumahnya.
NANDA
Gita?
Gita berjalan ke arah VW.
NANDA
Untuk menghormati cewek, perlu gue bukain pintu nggak, ya? Tapi ntar dibukain pintu, tangan gue malah dijepitin.
EXT. RUMAH DAMAR – MALAM
Gita masuk VW dan duduk di samping Nanda.
GITA
Beli sate?
NANDA
Iya, lagi pingin lontong.
GITA
Kamu langsung pergi aja, ngomong apa adek aku?
NANDA
Biasalah, namanya juga anak kecil.
GITA
Sori ya, pas kamu datang, aku lagi angkat telpon.
Abang sate mengantar pesanan, Nanda membayarnya.
GITA
Di dalam aja yuk. Aku ambilin piring.
NANDA
Iya.
EXT. RUMAH DAMAR – MALAM
Nanda dan Gita duduk di kursi depan. Keduanya mulai menikmati sate berdua.
NANDA
Gita?
GITA
Hmm?
Gita menggumam seraya menikmati sate di mulutnya.
NANDA
Waktu anu, ehh aku, di kantor kamu itu.
Waktu aku, ke kantor kamu.
GITA
Ngapain, buka rekening?
NANDA
Bukan. Waktu itu, anu, aku.
GITA
Bang Joni sudah cerita, kok.
Nanda terdiam sejenak memandang Gita.
NANDA
Eeh, Bang Joni?
GITA
Iya.
NANDA
Kamu kenal bang Joni?
GITA
Nggak kenal. Bang Joni bareng Tante Kiki, tadi siang datang ke kantor.
NANDA
Datang ke kantor?
GITA
Iya. Bang Joni pamit ke bos. Trus bareng tante Kiki nemuin aku. Njelasin masalah kamu sama Bang Joni. Mereka banyak cerita, mulai kenapa kamu ikut Bang Joni sampai cerita cara kamu sama Elang mempertemukan mereka.
NANDA
Eh, trus?
GITA
Ya, pertamanya aku bingung. Tapi dari yang aku denger, ya aku pikir kamu nggak ada niatan ikut Bang Joni. Emang kenapa?
NANDA
Jadi selama ini kamu nggak marah ke aku?
GITA
Lagian, waktu kamu masuk ke kantor aku itu. Kan kamu pakai masker. Jadi aku nggak tau kalo itu kamu.
NANDA
Tapi kaosnya?
GITA
Kaos apa? Kan kamu megangin orang itu. Aku nggak merhatiin.
Nanda melihat ke atas, garuk garuk kepala.
GITA
Justru, aku tersanjung loh, kamu berusaha mati-matian untuk meyakinkan aku, kalo kamu cowok baik. Dan karena nggak mau diajak nyulik lagi, sampai-sampai kepikiran nyomblangin Bang Joni sama Tante Kiki.
Gita meraih botol air mineral di atas meja dan meneguknya.
GITA
Aneh juga ide kalian?
NANDA
Ya, jangan ditanya.
GITA
Nanda.
NANDA
Ya?
GITA
Gara-gara lihat praktek nagih utang kasar di kantor, aku jadi malas nerusin magangnya.
NANDA
lya, aku juga nyesel ikut Bang Joni kemarin.
GITA
Aku mutusin milih ngambil beasiswa, Nda.
NANDA
Lah? Kan kamu nggak ikutan. Yang penting kan kamu, bukan mereka.
GITA
Tapi aku eneg. Lihat orang kantor nawarin kreditnya pakai rayuan, tapi nagihnya kasar gitu. Untuk saat ini aku lebih milih untuk keluar magang.
NANDA
Kalo kamu nggak betah, kamu keluar kuliah. Ntar di denda, Git?
GITA
Kok kamu jadi berat aku ngambil beasiswa?
NANDA
Lagi usaha, Git.
GITA
Masih modal nekat?
NANDA
Iya. Oh ya, tapi Damar gimana? Kamu nggak kasian ninggalin dia?
GITA
Masih usaha, nih?
NANDA
Iya.
GITA
Ya, ntar aku pasti sering telpon, kalo ada libur juga pulang. Atau Damar yang ke sana.
NANDA
Gitu, ya?
GITA
Kalo aku jadi berangkat. Kamu ikut nganter ke bandara ya, Nda?
NANDA
Pastinya. Ntar Kamu bikin puisi buat aku, kan?
GITA
Puisi?
NANDA
Iya. Biar romantis.
GITA
Nggak ah, males.
NANDA
Kayak yang di mimpi.
GITA
Mimpi?
Nanda melempar senyum.
GITA
Eh, Nda. Ke Kediri, kamu ke rumah siapa?
NANDA
Rumah mas Joko. Adik bungsu bunda. Dulu rumah nenek,
sekarang yang nempatin mas Joko sama istrinya.
GITA
Ibu kamu orang Kediri?
NANDA
Iya. Ibu Kediri, Ayah Jakarta.
GITA
Unik juga, Jakarta pasangan sama Kediri.
NANDA
Unik, dong. Hasilnya ya aku ini.
GITA
Jadi kemarin itu, kamu sama Elang mau kabur ke sana?
NANDA
Iya.
GITA
Emang ada apa di sana?
NANDA
Ada Gunung Kelud.
GITA
Kamu naik gunung?
NANDA
Iya, naik gunung bareng mas Joko. Di sana juga ada petok petok.
GITA
Ayam?
NANDA
Iya, petok-petok.
GITA
Ayam! Petok petok?!
NANDA
Kamu pernah naik gunung, Git?
GITA
Belum. Pingin sih sekali-kali. Eh, gimana kalo kita ke gunung Kelud?!
NANDA
Serius?
GITA
Iya. Mumpung aku masih semingguan lebih di sini.
NANDA
Aku juga masih bisa bebas semingguan. Sebelum KKN.
GITA
Nah kan. Sama.
NANDA
Ntar kamu capek lagi.
GITA
Emang kamu nggak capek?
NANDA
Ya capek. Ya udah kalo kamu pingin, kita berangkat.
GITA
Sekalian ngajak Elang.
NANDA
Iya bener. Sekalian ngajak Intan?
GITA
Iya.
NANDA
Deal ini ya?
GITA
Iya.
NANDA
Bener?
GITA
Bener.
NANDA
(teriak)
Gunung Kelud. Gita datang.
GITA
Apaan sih? Norak.
NANDA
(teriak)
Bersiaplah.
Terdengar suara ibu Damar dari arah dalam.
O.S. IBU DAMAR
Gita?
INT. RUKO ELANG - SIANG
Nanda berbicara di kamera.
NANDA
Gita melayang.
Iya Gita naik pesawat. Buat kuliah dari beasiswa.
Untuk sementara gue harus berusaha merelakan Gita jauh. Dan mungkin semua kejadian ini tanda gue belum siap dan layak mendampingi Gita. Dan gue harus bersiap untuk LDRan sama Gita, hubungan jarak jauh yang nggak akan mudah.
Tapi untuk urusan komunikasi, sohib gue adalah bandar pulsa, jadi nggak begitu masalah.
Kalau pun nggak bisa menyusul Gita dengan beasiswa. Gue akan berusaha untuk sudah kerja sesuai kompetensi ilmu kuliah, sepulang Gita nanti.
Atau gue akan buka jasa antar-jemput sendiri, gue lumayan jatuh cinta dengan kerjaan ini. Atau buka usaha roti buaya. Dengan begitu gue nggak bakal gampang dendam ke orang hajatan, karena gue yang produksi roti buayanya. Atau gue bisa mulai bisnis parfum refill, yang terinspirasi wangi Gita tempo hari.
Yang jelas. Program selama Gita jauh, gue akan berusaha untuk me-reboot ulang isi kepala supaya nggak gampang ribet sendiri. Biar nggak setengah pintar lagi.
Elang naik ke lantai dua menemui Nanda.
ELANG
Hei Nda. Bakso, nggak?
NANDA
Bakso, lah.
ELANG
Nda. Gue tanya.
NANDA
Tanya apaan?
Elang melihat ke kamera.
ELANG
Itu lu, tiap nulis ngobrolnya sama banner?
NANDA
Biar semangat, Lang. Cowok mana sih yang nggak semangat kalo ditemenin cewek.
ELANG
Kenapa nggak foto Gita aja?
NANDA
Ya, masa gue cerita tentang Gita ke Gita?
ELANG
Iya, ya. Canggih juga otak, lo.
NANDA
Iya, lah.
INT. RUKO ELANG - SIANG
Kamera mengambil dari sudut lain.
ELANG
Tuh abangnya sudah nungguin.
NANDA
Yoh.
Elang dan Nanda turun ke lantai satu, sorot kamera bergeser dari menyorot kepergian Elang dan Nanda ke arah laptop, kemudian ke arah sudut dimana Nanda sering berbicara ke kamera, terdapat banner milik salon tante Kiki.
EXT. RUKO ELANG - SIANG
Nanda mendatangi ruko Elang dan berhenti di depan area konter, Elang baru saja melayani pembelinya. Nanda berbicara dengan Elang tanpa turun dari motor.
ELANG
Gimana, Nda?
NANDA
Kayaknya gak masuk, Lang.
ELANG
Yang penerbit mana? Kan lu ngasih ke tiga penerbit.
NANDA
Ya semua, kayaknya.
ELANG
(sewot)
Trus royalti buku buat rencana kita ke Singapur hangus, dong?
NANDA
Ya begitulah, Lang.
ELANG
berarti selama ini gue nyuapin lu baso, nasi goreng, sate nggak ada hasilnya?
NANDA
Gue balik dulu ya, Lang?
ELANG
Kemana?
NANDA
Gita minta ditelpon ntar malem.
ELANG
Di sini kan bisa?
NANDA
Di rumah aja, aman.
Nanda menyalakan motor kemudian menancap gas meninggalkan ruko Elang.
ELANG
(teriak)
Nda, woii.
Awas lo, ya. Gue bakar poster, lo.
Rugi bandar, rugi bandar.
Tidak lama Intan muncul dari warung padang menghampiri Elang dengan membawakan sepiring nasi padang.
INTAN
Bang Elang.
ELANG
Wei. Pakai apa, nih?
INTAN
Ayam bakar.
ELANG
Ayam bakar? Petok petok, dong?
INTAN
Ih. Apaan bang Elang ini?
INT. RUMAH MAS JOKO – SIANG
Mas Joko keluar kamar menemui istrinya yang duduk di meja makan. Tampak terdapat tas rangsel di atas meja makan.
MAS JOKO
Bekalnya sudah dimasukin semua, dik?
ISTRI MAS JOKO
Sudah semua.
MAS JOKO
Ya udah kalo sudah semua, kita berangkat.
ISTRI MAS JOKO
Iya, mas.
Mas Joko menggendong tas ransel kemudian merangkul istrinya untuk keluar rumah.
EXT. RUMAH MAS JOKO – SIANG
Mas Joko dan istrinya keluar rumah. Setelah Mas Joko mengunci rumah, mas Joko berbicara pada Nanda, Elang, Gita dan Intan yang sudah menunggu di teras rumah. Semua menggendong tas rangsel masing-masing.
MAS JOKO
Sudah siap semua, ya?
NANDA-ELANG-GITA-INTAN
Siap, mas.
MAS JOKO
Peraturannya cuma satu. Nggak boleh pisah sama rombongan.
NANDA-ELANG-GITA-INTAN
Iya, mas.
MAS JOKO
Aku jalan mimpin di depan. Setengah jalan, ntar gantian Nanda di depan.
NANDA
Iya, mas.
MAS JOKO
Kamu masih ingat jalannya, Lang?
ELANG
Masih, mas.
MAS JOKO
Ya, kamu ntar giliran jalan di depan setelah Nanda.
ELANG
Iya, mas.
MAS JOKO
Yoh. Berangkat.
NANDA-ELANG
Ya, mas.
Tidak jauh meninggalkan pintu, mas Joko merangkul istrinya kemudian mematuk pipi istrinya menggunakan jari-jarinya yang membentuk paruh ayam.
MAS JOKO
Petok petok.
Istrinya menyikut pelan mas Joko kemudian mengeratkan rangkulannya pada mas Joko.
Elang yang melihat kemesraan mas Joko dan istrinya melirik kepada Intan. Elang menirukan mas Joko mematukkan jari-jarinya pada pipi Intan.
ELANG
Petok petok.
Intan menyikut untuk kemudian merangkul pinggang Elang untuk kemudian berdua menyusul Mas Joko dan istrinya.
Gita yang menyaksikan Elang dan Intan melirik Nanda. Nanda tersenyum pahit pada Gita.
GITA
Oh, itu yang namanya petok petok?
Nanda masih senyum pahit.
NANDA
Ayam.
EXT. GUNUNG KELUD – SIANG
Berenam berjalan di jalan setapak di perbukitan gunung Kelud, sudah mulai tampak pemandangan utuh gunung Kelud. Nanda dan Gita berjalan di depan, di belakangnya Elang dan Intan bergandengan, disusul mas Joko jalan berdua dengan istrinya.
NANDA
Tuh, gimana? Masih kepikiran beasiswa?
GITA
Iya, ya? Gimana ini?
Udah terlanjur keluar magang.
NANDA
Ya, cari yang lain.
GITA
Ah kamu.
NANDA
Pulang dari sini. Yakin, kamu akan lebih berat lagi buat berangkat.
GITA
Ah, tau lah.
EXT. GUNUNG KELUD – SIANG
Di sebuah bukit yang di depannya tampak jelas pemandangan utuh gunung Kelud, Nanda berhenti, yang lain ikut berhenti. Nanda menggunakan kedua tangannya sebagai pengeras suara untuk berteriak.
NANDA
Gunung Kelud. Gita datang.
Gita tersenyum memukul lengan Nanda pelan. Elang yang melihat Nanda dan Gita melirik Intan, kemudian kembali menghadap ke depan untuk teriak.
ELANG
Gunung Kelud. Intan datang.
Intan tersenyum memukul lengan Elang. Mas Joko dan istrinya yang berada di belakang menyalip pasangan Elang dan Intan. Mas Joko memukul kepala Elang menggunakan gagang ranting yang ia bawa.
MAS JOKO
Berisik.
Mas Joko menyalip Nanda dan Gita, memukulkan kepala Nanda menggunakan gagang ranting.
MAS JOKO
Berisik.
Nanda dan Gita melanjutkan berjalan menyusul pasangan mas Joko. Nanda menunduk.
NANDA
Lud. Permisi.
ELANG
(menunduk)
Lud. Permisi.
EXT. GUNUNG KELUD – SIANG
Mas Joko dan istrinya berjalan di depan, disusul pasangan Elang dan Intan, kemudian paling belakang Nanda dan Gita.
Nanda berhenti dan mengeluarkan papan kecil dari tas rangselnya. Gita ikut berhenti. Nanda menancapkan papannya yang bertuliskan ‘GITA WAS HERE’. Gita tersenyum.
GITA
Repot banget hidup kamu, ya?
NANDA
Kenang-kenangan.
Nanda dan Gita melanjutkan langkah mereka. Gita merangkul punggung Nanda.
-Tamat-