Seliburan Semester Mengejar Gita
2. Skenario Seliburan Semester Mengejar Gita Part 2
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

Skenario 

SELIBURAN SEMESTER

MENGEJAR GITA

Part 2

INT. RUMAH NANDA – MALAM

Nanda memasuki rumah langsung menuju ruang tengah. Ayah dan bunda sedang berada di depan TV yang menyala sambil menyemil snack asin dari toples di atas meja. Nanda mencium tangan ayah dan bunda kemudian duduk di samping bunda.

AYAH

Nda. Besok mobil bawa ke bengkel Pak Bas, ya?

Nanda memandang lemes ayahnya.

AYAH

Ada uang rokoknya.

Nanda langsung mengangkat dua jempol.

BUNDA

Gimana mas Joko?

NANDA

Sehat, bun.

Nanda mengeluarkan goodybag kecil dari tas dan meletakkannya di atas meja.

BUNDA

Sukur. Gimana istrinya, sudah hamil?

NANDA

Kayaknya belum. Mas Joko juga kayaknya belum.

Bunda langsung menjejalkan snack di tangannya ke mulut Nanda. Bunda mengeluarkan isi goodybag. Beberapa pack bumbu pecel.

BUNDA

Bumbu pecel, yah.

AYAH

Besok bikin, bun.

BUNDA

Iya.

NANDA

Cepek itu. Bun.

BUNDA

Yah, dipalak?

AYAH

Iya sekalian besok.

Bunda mendorong pelan kepala Nanda yang langsung ambruk di bahu bunda.

INT. BENGKEL SHOWROOM PAK BAS – SIANG

Nanda memarkir mundur Lancer tahun 90 di bagian bengkel. Nanda keluar dari mobil dan berbicara ke pegawai bengkel yang membantu memarkir.

NANDA

Servis rutin, bang.

PEGAWAI BENGKEL

Ok siap.

Nanda duduk di kursi tunggu kemudian dari arah showroom PAK BAS, 55 tahun, mendatangi Nanda. Pak Bas duduk di samping Nanda.

PAK BAS

Eh Nanda, eloo?

NANDA

lya pak, saya.

PAK BAS

Kok lo yang nganter?

NANDA

Mumpung lagi libur, pak.

PAK BAS

Gue bingung. Lo sebenernya sudah kerja, apa masih kuliah, sih?

NANDA

Masih kuliah pak, kalo liburan nyambi kerja. Nyari pengalaman. Hmm.

PAK BAS

Kenapa gak langsung kerja aja. Gue seneng banget, waktu kita ketemu dan gue lihat lo pakai dasi.

CUT TO :

INT. RUKO ELANG – SIANG

Dari mengetik, Nanda menoleh ke kamera dan berbicara.

NANDA

Kalau gue pikir-pikir lagi, gaya gue norak juga. Magang jadi asisten akunting aja pakai dasi. Apa hebatnya pakai dasi? Tapi perhatian dari Pak Bas membuat gue ingat masa-masa magang dulu, masa-masa romantisme dengan Sindi. Apalagi waktu suap-suapan popcorn di dalam gedung bioskop.

CUT TO FLASHBACK :

INT. BIOSKOP – MALAM

Di dalam studio bioskop, Nanda dan Sindi duduk berdampingan. Keduanya makan popcorn dari cup popcorn di batas kursi mereka. Sindi menyuapi satu popcorn pada Nanda. Tidak lama lampu studio dimatikan. Nanda kaget langsung menoleh kanan kiri sambil komplain setengah teriak.

NANDA

Loh. Om. Lampunya kok dimatiin?

Om. Gelap ini.

Om. Saya kan jadi suka.

Nanda mengambil pocorn dan menyuapkannya pada Sindi.

CUT TO BACK :

INT. BENGKEL SHOWROOM PAK BAS – SIANG

PAK BAS

Ngomong-ngomong lo kan bisa bawa mobil, anak buah gue yang bawa mobil

jemputan anak SD sudah lama pingin balik kampung.

Dia pingin nengokin bininya yang hamil tua. Kalo mau, lo bawa aja tuh mobil.

Ketika sedang Nanda dan Pak Bas berbincang, telpon meja dari arah showroom terdengar berdering.

NANDA

Gitu ya, pak?

PAK BAS

Iya. Duitnya lumayan. Kalo cuman nambah-nambah uang rokok sih, bisa lebih.

NANDA

Nanti saya kabari, pak. Ini saya juga lagi nyari-nyari.

PAK BAS

Oke, lo masih punya nomer sini, kan?

NANDA

Masih, pak.

PAK BAS

Gue angkat telpon dulu.

NANDA

Iya Pak.

Nanda mengeluarkan hape kemudian menoleh ke arah perempatan lampu merah. Sosok  GITA, 21 tahun, duduk di samping kursi kemudi di dalam city car yang terhenti oleh lampu merah.

NANDA

Bening banget nih cewek.

Angin yang berhembus bertiup menembus kaca jendela yang setengah terbuka mengibarkan rambut Gita.

NANDA

Rambutnya.

Seorang pengamen mendekat ke mobil, genjrang-genjreng gitar sebentar. Gita mengulurkan tangan memberi uang ke pengamen sambil tersenyum simpul. 

NANDA

Senyumnya.

Mobil Gita meninggalkan lampu merah yang sudah berganti warna hijau. Nanda melambaikan tanganya, dadah.

NANDA

Dari samping aja cantik. Apalagi dari depan.

Pasti kelihatan yang lain-lain.

INT. RUKO ELANG – SORE

Nanda menemani Elang menjaga konter. 

ELANG

Ditawari pak Bas bawa mobil jemputan?

NANDA

Iya. Enaknya gimana, ya? Lagi males juga nyari yang lain.

ELANG

Ya udah, trima aja. Lumayan buat uang liburan, lo.

NANDA

Iya, ya. Ntar agak maleman gue telpon pak Bas.

ELANG

Iya. Daripada ngutang terus ke gue, lama-lama bosen juga, Nda!

NANDA

Lang, di sini banyak kabel. Lo, nggak takut kesetrum?

Kali ini Elang memberi saran dengan nada yang lebih lembut.

ELANG

Ya terima aja, Nda. Lumayan. Ya, kan?

NANDA

Iya.

Nanda menunduk untuk mengambil colokan listrik di bawah mereka.

ELANG

Nda. Nda. Sabar. Sadar. Nyebut.

NANDA

Mau ngecas hape.

Elang ketakutan berdiri dengan postur menjauh dari sumber colokan.

ELANG

Nyebut, Nda. Sabar.

EXT. BENGKEL DAN SHOWROOM PAK BAS – SIANG

Di dalam minivan jemputan. Nanda duduk di kursi kemudi memandang ke depan dengan optimis.

NANDA

Hari ini gue akan liburan produktif lagi. Pakai dasi kupu-kupu juga nggak masalah. Siapa tahu cewek kemarin lewat lagi.

Nanda mengepalkan tangan.

NANDA

Gue akan ngamen.

EXT. JALANAN PERUMAHAN – SIANG

Nanda mengemudikan minivan sambil melihat kertas berisi alamat. 

EXT. JALANAN PERUMAHAN – SIANG

Minivan Nanda berjalan di satu perumahan dan menepi di salah satu rumah dimana sudah berdiri seorang anak berpakaian SD merah putih di depannya. Si anak masuk minivan, kemudian tidak lama minivan meninggalkan rumah tersebut.

EXT. JALANAN PERUMAHAN – SIANG

Nanda men-cek di list anak yang harus dijemput dan menengok ke kursi belakang yang mulai terisi.

NANDA

Tinggal satu lagi?

EXT. RUMAH DAMAR– SIANG

Nanda menepikan minivan di depan rumah dengan pagar hitam. Nanda memperhatikan pagar rumah.

NANDA

Rumahnya lumayan besar. Pagar tinggi warna hitam.

Semoga bukan rumahnya Batman.

Nanda menekan klakson memberi tanda kalau mobil jemputan sudah ada di depan rumah. Sampai tiga kali klakson berbunyi, si anak tidak keluar.

EXT. RUMAH DAMAR– SIANG

Nanda turun mobil dan memasuki pagar rumah. Belum sempat mengetuk, pintu dibuka dari dalam dan muncul anak cowok dengan postur lumayan gemuk. lbu si anak menyusul tidak lama berselang dan IBU DAMAR, 45 tahun, langsung menyapa.

IBU DAMAR

Maaf ya dek, agak lama, Damar bangunnya telat.

NANDA

Gak pa-pa, bu. Jam sekolah masih lama.

IBU DAMAR

Lho adek siapa, ya? Kok agak lain? Tapi bunyi belnya tadi bener?

NANDA

Oh ya, saya lupa ngenalin, saya Nanda, driver mobil jemputan Pak Bas yang baru.

IBU DAMAR

Kamu bukan penculik, kan?

Nanda mengernyitkan dahi kemudian melempar senyum.

NANDA

Kebetulan belum kepikiran, Bu.

Ibu Damar langsung merangkul anaknya.

IBU DAMAR

Lho Iho Iho, maksudnya belum kepikiran?

NANDA

Maksudnya, saya belum kepikiran nyupirin mobil jemputan, ini yang pertama.

IBU DAMAR

Hmm.

Ibu Damar melepas rangkulannya. Nanda melihat ke arah dalam, tampak Gita sedang sarapan sambil memegang hape di ruang depan. Nanda berbalik berjalan bersama Damar. 

NANDA

(berbisik)

Kayak cewek yang kemarin?

(tersenyum)

Rejeki emang gak kemana.

Nanda mengelus kepala Damar.

NANDA

Ayo masuk mobil. Dedek pinter.

EXT. JALANAN PERUMAHAN– SIANG

Nanda mengemudikan minivan dengan lagu dari salah satu band lokal. Volume yang lumayan keras mengganggu salah satu penumpang di kursi belakang.

TEMAN DAMAR

Musiknya jangan keras-keras dong, bang?

Nanda melirik ke belakang kemudian memutar tombol di perangkat audio untuk mengecilkan volume musik.

TEMAN DAMAR

Nah, kalo pelan gini kan enak dengernya. Asek. Asek. Asek.

Beberapa penumpang ikut berjoget. Setelah melirik ke belakang, Nanda mengemudikan minivan sambil menunduk.

CUT TO :

INT. RUKO ELANG – SIANG

Nanda mengetik di laptop. Elang muncul dari lantai satu membawa semangkuk baso ke depan Nanda.

ELANG

Baso langganan, Nda.

NANDA

Oh ya, thanks, Lang.

ELANG

Iya.

Elang kembali turun ke lantai satu. Nanda menengok ke kamera untuk menawari baso di kamera.

NANDA

Baso.

EXT. JALANAN– SIANG

Tampak penumpang minivan sisa tiga, satu di samping Nanda dan di kursi belakang ada dua, Damar dan satu teman ceweknya. Damar yang duduk di kursi belakang mendekat pada Nanda di kursi kemudi.

DAMAR

Bang?

Nanda menengok ke Damar.

NANDA

Yak.

Damar menyodorkan permen yang sudah tidak di bungkusnya.

DAMAR

Mau permen, gak?

NANDA

Baik banget nih calon adik.

Nanda menerimanya kemudian memasukkannya ke mulut.

DAMAR

Enak gak, bang?

NANDA

Enak, seger. Rasa mint, ya?

DAMAR

Ih, abang kok makan permen yang udah jatuh ke lantai?

Damar langsung balik ke kursinya di belakang.

NANDA

Heh, jatuh ke lantai?

Nanda langsung mengerem dan menepikan minivan. Nanda membuka jendela samping, membuang permen.

NANDA

Ini anak yang main film home alone apa, ya? Tengilnya next level.

Sabar. Sabar. Namanya juga anak-anak. Belum sunat.

Mungkin ini cobaan biar gue bisa mendapatkan kakaknya nanti.

Teman Damar yang duduk di samping Nanda ngomong ke Nanda.

TEMAN DAMAR

Permennya kok di buang, Bang?

Nanda menodongkan dua jarinya yang membentuk sebuah pistol pada teman Damar di sampingnnya.

NANDA

Door.

EXT. RUMAH DAMAR– SIANG

Dengan minivan yang sudah hampir penuh, Nanda menepikan minivan di depan rumah Damar.

NANDA

Kali ini gue nggak membunyikan klakson. Gue akan langsung mengetuk pintu.

Siapa tahu yang buka pintu, kakaknya.

EXT. RUMAH DAMAR– SIANG

Nanda mengetuk pintu, tidak lama pintu terbuka dan muncul ibu Damar. 

NANDA

Bu?

IBU DAMAR

Kok saya nggak denger suara klakson mobil kamu?

NANDA

Masa sih, Bu. Padahal saya bunyikan klakson sampai tiga kali.

IBU DAMAR

Nggak ah, saya nggak denger.

NANDA

Ah, sudah, bu.

IBU DAMAR

Ah, belum, dik.

NANDA

Sudah, Buu.

IBU DAMAR

Belum, Diik.

Damar muncul dari dalam.

DAMAR

Berangkat, ya?

IBU DAMAR

Iya. Nggak boleh nakal.

DAMAR

Iya.

Damar meraih dan mencium tangan ibunya untuk pamit memotong debat Nanda dengan Ibu Damar.

EXT. JALANAN PERUMAHAN – SIANG

Minivan melaju di satu perumahan, setelah mengambil suatu belokan. Minivan berhenti di satu rumah. Seorang teman cewek Damar turun dari pintu tengah. Teman cewek tersebut melambai ke dalam minivan sebelum menutup pintu dan masuk pagar rumah.

TEMAN CEWEK DAMAR

Dadah, Damar!

EXT. JALANAN PERUMAHAN – SIANG

Minivan sudah kosong, hanya tinggal Damar di kursi belakang. Nanda melirik kaca tengah. 

NANDA

Apa gue nekat masuk rumah Damar aja, ya?

EXT. RUMAH DAMAR– SIANG

Nanda menepikan minivan di depan rumah Damar. Damar turun mobil, Nanda mengekor di belakang dengan sedikit ambil jarak.

EXT. RUMAH DAMAR– SIANG

Damar mengetuk pintu, Nanda menunggu di ujung pagar. Pintu terbuka, Nanda langsung mengambil langkah setengah lari ke pintu. Gita setengah kaget melihat Nanda.

GITA

Siapa ya, mas?

DAMAR

Itu bang Nanda yang bawa mobil jemputan Damar, Kak.

GITA

Oh, gitu?

DAMAR

Bang Nanda seneng sama kak Gita.

Nanda kaget dan memaksakan senyumnya.

GITA

(senyum)

Ada apa ya, mas?

NANDA

Beli pulsa. Eh anu, apa, anu, ada air putih nggak, ya?

GITA

Oh iya, masuk, mas.

Nanda melangkah masuk di belakang Gita.

INT. RUMAH DAMAR– SIANG

Di dalam rumah, Gita masuk ke sisi dalam rumah menyusul Damar, Nanda duduk di sofa dan mencari posisi yang enak untuk memandang foto keluarga di depan gue.

NANDA

Kak Gita. Gita. Gita.

Tidak lama bibik dari arah dalam membawa nampan dan segelas air putih ke depan Nanda.

BIBIK

Mangga, mas.

NANDA

Ya, bik.

Nanda sebisa mungkin menikmati air bening dingin sambil menikmati pemandangan foto keluarga Gita.

Tidak lama terdengar sebuah suara klakson mobil dari depan pagar rumah.

INT. RUMAH DAMAR– SIANG

Nanda menengok ke depan, sebuah city car yang tempo hari Nanda lihat di bengkel pak Bas, berhenti di depan mobil antar jemputnya.

INT. RUMAH DAMAR– SIANG

NANDA

Bener. Jodoh emang nggak kemana. Amin.

Gita keluar dari belakang membawa tas kulit di bahunya menyapa Nanda.

GITA

Mas, saya tinggal dulu. Lagi, buru-buru.

Setelah Gita keluar rumah, Nanda melambaikan tangan, dadah. Nanda mengenduskan hidungnya menciumi aroma ruangan.

NANDA

Wanginya? Harga parfum isi ulang berapa, ya? Bisnis parfum

refill kayaknya lumayan menjanjikan.

Nanda menoleh ke pagar luar.

NANDA

Baru kenal aja, Gita sudah menginspirasi gue buka bisnis. Hebat.

Nanda menoleh ke arah dalam rumah untuk memanggil bibik.

NANDA

Biik.

Bibik muncul dari arah dalam.

BIBIK

Ya?

NANDA

Bik. Boleh nambah air putihnya?

BIBIK

Oh, iya.

Ketika bibik hendak berbalik, Nanda kembali memanggil.

NANDA

Sebentar, bik. Mau tanya.

Gita pergi ke mana?

BIBIK

Ke tempat magang.

NANDA

Oh magang. Hmm. Kalo malam minggu Gita ada yang jemput?

Maksudnya Gita sudah punya pacar?

BIBIK

Kayaknya belum.

NANDA

Yaudah, bik. Oh, airnya nggak jadi. Minum di rumah aja.

BIBIK

Iya.

NANDA

Terima kasih bik, ya? Saya pamit, dulu.

BIBIK

Iya.

EXT. RUMAH DAMAR– SIANG

Nanda keluar pagar dan menuju minivan. Nanda melepas senyum.

NANDA

Gita masih kosong. Bisa diisi.

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)