Seliburan Semester Mengejar Gita
1. Skenario Seliburan iburan Semester Mengejar Gita
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

Skenario

SELIBURAN SEMESTER

MENGEJAR GITA


INT. RUKO ELANG – SIANG

NANDA, 20 tahun, duduk di depan laptop di meja kamar lantai dua konter pulsa Elang. Setelah mengetikkan beberapa kata di laptop. 

Nanda menoleh ke kiri dan berbicara ke kamera.

NANDA

Haii. Gue akan cerita liburan semester gue. Ini mau gue jadiin buku. Semoga ada penerbit yang mau cerita gue.

Perkenalan dulu, ya? Gue Nanda, Ananda Prawira. Bokap gue Betawi dan Nyokap asli Kediri. Jawa Timur.

Gue anak akuntansi di salah satu Universitas swasta di Jakarta.

Di kampus, anak-anak kadang memanggil gue skinni. Bodi gue memang lumayan kurus. Sepertinya bawaan dari lahir. Tapi ada sisi positif punya badan kering.

CUT TO FLASHBACK :

INT. SEKOLAH DASAR – SIANG

Di dalam ruangan kelas 4 suatu SD. Nanda duduk bersama salah satu teman lelakinya. Tampak salah seorang murid lelaki yang duduk sesama lelaki bertukar tempat duduk dengan salah satu murid perempuan yang duduk sesama perempuan.

O.S. NANDA

Waktu kelas empat SD dulu, wali kelas gue mengatur tempat duduknya berpasangan cewek dan cowok supaya gak banyak bercanda.

Karena bodi kecil gue bukan sesuatu yang tidak mengancam untuk cewek manapun. Alhasil gue dipasangkan dengan si cantik Zizi

Bu guru melihat buku absen kemudian berbicara.

GURU SD

Nanda? Nanda kamu pindah duduknya di samping Zizi.

Nanda yang masih SD berdiri dari tempat duduknya kemudian bertukar duduk dengan murid perempuan di samping Zizi. Nanda menyapa Zizi dengan mengangguk sopan, Zizi membalasnya dengan juga mengangguk.  

CUT TO FLASHBACK :

INT. RUKO ELANG – SIANG

Nanda masih berbicara di depan kamera.

NANDA

Cinta monyet gue pun berkembang. Tapi tak disangka, Zizi memberi respon positif. Zizi sering ngajak gue ke rumahnya.

Tapi anehnya, bukan pas malam minggu, tapi di hari pas ada banyak PR. Iya, gue disuruh bantu mengerjakan PR.

Nggak enak memang. Tapi gue nggak menyesal, paling nggak gue jadi sering lihat wajah cantiknya.

CUT TO FLASHBACK :

INT. RUMAH ZIZI – SIANG

Diruang tamu, Nanda SD dan Zizi belajar bersama di meja tamu, keduanya duduk di lantai. Terdapat beberapa buku di atas meja. Zizi menunjuk isi buku di depannya.

ZIZI

Jadi yang dikurung dihitung dulu?

NANDA SD

Iya.

ZIZI

Kenapa sih, kok ini angkanya banyak yang dikurung-kurung?

NANDA SD

Iya. Supaya angkanya nggak kabur.

ZIZI

Nggak kabur?

NANDA SD

Iya, kalo nggak kabur, ngitungnya jadi cepet.

ZIZI

Oh, gitu?

NANDA SD

Iya.

Nanda melempar senyum setelah menjawab pertanyaan Zizi.

CUT TO BACK :

INT. RUKO ELANG – SIANG

Nanda bicara ke kamera.

NANDA

Namanya juga cinta monyet. Datangnya diundang, pulangnya beli cakwe.

CUT TO FLASHBACK :

EXT. TROTOAR JALAN – SIANG

Nanda SD menghampiri gerobak abang cakwe dengan wajah yang ceria. Nanda menyerahkan uang di tangannya ke abang cakwe.

NANDA

Bang. Cakwe sepuluh.

Abang cakwe memasukkan cakwe ke kantung kresek dan menyerahkannya kepada Nanda. Nanda meninggalkan gerobak cakwe dengan wajah yang masih ceria.

TUKANG CAKWE

Bahagia banget tuh bocah.

CUT TO BACK :

INT. RUKO ELANG – SIANG

Nanda menoleh dari laptop dan berbicara ke kamera.

NANDA

Dan tercatat, Zizi adalah cinta pertama gue. Selamat ya, Zi!

(sedih)

Sisi minus punya badan kering. Itu pas SMP. Gue sering banget jadi korban pemalakan oleh preman gondrong tidak bertanggung jawab yang sering nongkrong di depan sekolah.

CUT TO FLASHBACK :

INT. DEPAN PAGAR SMP – SIANG

Seorang dengan rambut gondrong menghampiri Nanda yang sedang berdiri dengan salah satu temannya. Berdua sedang makan batagor di plastik. Si rambut gondrong menghampiri Nanda.

PREMAN

Hei. Bagi duit.

Nanda menoleh ke preman kemudian menoleh ke teman yang berdiri di sampingnya. Nanda memalak temannya.

NANDA SMP

Hei. Bagi duit.

Nanda memasang wajah sangar dengan tangan memasang cakar.

NANDA

Haaa.

Teman Nanda mengeluarkan uang dari saku dengan santai dan menyerahkannya ke Nanda.

TEMAN NANDA

Biasa aja kali.

Nanda memberikan uang dari temannya tadi kepada Si rambut gondrong. Setelah mendapat uang dari Nanda, Si rambut gondrong beralih ke teman Nanda dan memalaknya.

PREMAN

Bagi duit.

Teman Nanda menolaknya dengan halus.

TEMAN NANDA

Itu uang dari aku, bang.

Si rambut gondrong menoleh ke Nanda. Nanda membela diri.

NANDA SMP

Tapi yang ngasih ke abangnya, aku.

Si rambut gondrong mengernyitkan dahi kemudian meninggalkan Nanda dan teman Nanda.

PREMAN

Iya ya. Yaudah.

CUT TO BACK :

INT. RUKO ELANG – SIANG

Nanda mengetik sesuatu di laptop kemudian menoleh ke kamera.

NANDA

Sekarang ini, gue sedang dalam masa liburan semester yang biasanya gue pakai untuk kerja paruh waktu, ngefreeline, dan kadang magang tapi digaji.

Liburan? Artinya uang jajan dipotong, nggak ada subsidi dari bokap-nyokap.

NANDA

Dan tercatat, gue pernah mengisi liburan dengan menjadi asisten akunting di distributor obat, delivery-boy fast food, ojol dan banyak lagi.

Liburan kali ini? Kerja lagi. Tapi seminggu pertama liburan, gue isi dengan main ke Kediri. Gue masih trauma waktu magang liburan semester lima kemarin. Gue dipecat dari tempat magang.

Bayangkan, magang bisa di-PHK. Memang terdengar menye-menye, di-PHK magang aja cerita-cerita. Jangan salah, berbarengan dengan putus magang, gue juga putus cinta.

Kok malah terdengar lebih menye-menye? Tapi ini tidak sesepele itu.

Cerita dipecatnya, waktu gue magang jadi asisten akunting distributor obat. Pertama kena SP, gara gara gue salah ngasih alamat surat jalan yang menjadi salah-satu jobdesk gue.

CUT TO FLASHBACK :

INT. KANTOR DISTRIBUTOR OBAT – SIANG

Nanda berdiri di depan meja bos distributor obat.

BOS

Ini uangnya obat nggak ada?

NANDA

Salah kirim, pak.

BOS

Nggak dibayar?

NANDA

Nggak pak. Kurirnya kabur.

BOS

Yaudah. Kamu mau ke kantor polisi apa damai?

NANDA

Piss aja, pak.

BOS

Potong gaji, ya?

NANDA

Iya pak, piss.

CUT TO BACK :

INT. RUKO ELANG – SIANG

Nanda memutar kursi untuk menghadap kamera.

NANDA

Gaji dipotong. Catat.

Dan yang langsung SP tiga dan dipecat. Gara-gara anak cewek si Bos, Sindi namanya.

Ceritanya, Si Sindi lagi bikin skripsi dan yang jadi bahan rujukan kantor bokapnya sendiri. Karena doi kuliah jurusan akuntansi, otomatis yang banyak jadi bahan skripsi ada di meja gue.

Memang dasar bawaannya nggak bisa lihat cewek cakepan sedikit. Nggak pakai lama, gue pun kasmaran.

Hasilnya, gue mulai berani ngobrol topik diluar skripsi, mengajak makan siang bareng. Sampai ngajak Sindi belajar Bahasa Prancis. Lidah gue pun keseleo.

CUT TO FLASHBACK :

INT. KANTIN KANTOR – SIANG

Nanda dan SINDI, 21 tahun, duduk di salah satu meja di kantin. Tampak dua piring kosong bekas makan keduanya dan dua gelas berisi es teh di atas meja. Sindi memegang kamus bahasa prancis.

SINDI

Boire de l'eau. Artinya, minum air putih.

NANDA

Boire de l'eau. Minum air putih

SINDI

Boire du lait blanc. Artinya, minum susu putih.

NANDA

Boire du lait blanc. Aduh aduh.

Nanda memegangi bibirnya kesakitan.

SINDI

Kenapa?

Nanda berbicara tidak jelas.

NANDA

Hidahu geheloo. (Lidahku Keseleo.)

SINDI

Lidah keseleo?

Nanda mengangguk-angguk.

SINDI

Kamu sih sok sokan ngajak belajar bahasa Prancis.

Nanda menunjuk kamus yang di pegang Sindi.

NANDA

Huang (buang).

SINDI

Buang?

Nanda kembali mengangguk. Sindi memanggil pelayan yang sedang membereskan satu meja tidak jauh dari meja Nanda dan Sindi. 

SINDI

Mas, mas!

Pelayan itu mendatangi Sindi.

WAITER

Ada apa, mbak?

Sindi menyerahkan kamus yang ia pegang kepada pelayan.

SINDI

Mas. Tolong buangin ini, ya?

WAITER

Iya.

SINDI

(ke Nanda)

Kamu ada-ada aja.

CUT TO BACK :

INT. RUKO ELANG – SIANG

Nanda masih bicara ke kamera.

NANDA

Lanjut, kita jadi sering nongkrong di taman kota atau mampir di bioskop.

Gue tambah sayang sama Sindi. Di hari ulang tahun Sindi, gue mengirim bunga ke rumahnya. Besok paginya gue dipanggil Bos.

Nanda memandang ke atas, coba mengingat-ingat sesuatu kemudian kembali berbicara ke kamera.

NANDA

Mungkin gara-gara tukang bunganya salah tulis.

CUT TO FLASHBACK :

EXT. RUMAH SINDI – SIANG

Tukang bunga menurunkan karangan bunga dari mobil bak, membawanya ke depan rumah Sindi dan meletakkannya di depan pintu. Tukang bunga meninggalkan pintu kembali ke mobil.

Kamera menyorot karangan bunga bertuliskan, “SELAMAT DAN SUKSES HUT KE-21 SINDI YUNIAR.”

CUT TO FLASHBACK :

INT. KANTOR DISTRIBUTOR OBAT – SIANG

Nanda kembali menghadap bos distributor.

BOS

Kemarin kamu kirim bunga ke rumah?

NANDA

Iya, pak.

BOS

Sebaiknya kamu beresin barang kamu. Mulai besok kamu gak usah masuk lagi.

NANDA

Kok gitu Pak?

BOS

Ambil sisa gaji kamu di Mirna.

NANDA

Ya, pak.

Nanda menunduk, berbalik jalan ke arah pintu. 

BOS

Nda, Nanda.

NANDA

(berbisik)

Nggak jadi dipecat.

Nanda berbalik menghadap ke arah bos distributor.

NANDA

Ya pak?

BOS

Tolong bilangin OB, kopi saya habis.

Nanda kembali menunduk untuk keluar ruangan bos distributor. 

INT. KANTOR DISTRIBUTOR OBAT – SIANG

Nanda sudah menggendong tasnya memasuki pantri dan menemui OB.

NANDA

Pak, bos minta kopi.

OB

Iya, mas.

Ketika berbalik untuk keluar pantri. Nanda kembali melirik ke arah OB yang mulai membuat kopi.

NANDA

Eh Pak, kopinya jangan pakai gula, ganti pakai garam.

OB

Yang benar aja mas, masa bikin kopi pakai garam?

NANDA

Eh pak, bos diabetnya lagi kambuh, jadi gak bisa makan gula.

Tadi kopi pertama pakai gula?

OB

Iya.

NANDA

Tuh, kan. Gula lagi?

Nanda menengok ke pintu keluar pantri kemudian geleng-geleng. 

NANDA

(berdecak dan berbisik)

Ckk. Kasian sih bos.

OB

Emang iya?

NANDA

Bener, pak.

OB

Saya tanya bos dulu, ya?

NANDA

Iya.

Si OB keluar pantri untuk ke ruangan bos.

EXT. KANTOR DISTRIBUTOR OBAT – SIANG

Nanda buru-buru keluar kantor distributor obat langsung menuju motornya. Nanda menghidupkan motor sambil sesekali menengok ke pintu kantor. Nanda menancap gas motornya buru-buru meninggalkan halaman kantor distributor obat.

CUT TO BACK :

INT. RUKO ELANG – SIANG

Nanda mengangkat gelas kopi dan meminumnya.

NANDA

Liburan semester kali ini, gue merasa dejavu. Setiap ngaduk kopi, otak selalu kepikiran Sindi.

Untuk bisa lupa Sindi, gue sengaja kabur ke Kediri selama seminggu. Naik ke puncak gunung Kelud bareng mas Joko, bisa sedikit mengobati.

EXT. GUNUNG KELUD – SIANG

Setelah berjalan mendaki beberapa langkah, Nanda yang berjalan di depan MAS JOKO, 33 tahun, berhenti untuk menikmati pemandangan gunung Kelud di depannya.

NANDA

(teriak)

Aahh. Gunung kelud. Gue datang.

Mas Joko menyalip Nanda dan memukul kepala Nanda menggunakan daun pisang yang ia bawa. Nanda langsung menunduk dan kembali berjalan di belakang mas Joko.

NANDA

Lud. Permisi.

CUT TO BACK : 

INT. RUKO ELANG – SIANG

Nanda meletakkan gelas kopinya di atas meja.

NANDA

Pokoknya sekarang bye-bye dulu Kediri. Dan gue gak mau sering-sering ke Kediri, karena kalau gue ke Kediri, gue pasti sedang punya masalah.

Nanda menghela nafas panjang.

NANDA

Ini kamar lantai dua ruko Elang. Dan ini Elang.

Kita sahabatan sejak SMP, sekolah SMA juga bareng.

CUT TO :

EXT. JALAN RAYA PROVINSI –SIANG

Nanda menggendong tas rangsel turun dari bus antar kota antar provinsi. Nanda menoleh ke mobil VW kodok yang terparkir agak jauh di belakang yang membunyikan belnya. Nanda menghampiri VW kodok dan masuk ke pintu depan.

EXT. JALAN RAYA PROVINSI –SIANG

Nanda duduk di sebelah ELANG, 20 tahun, yang mengemudikan VW. Nanda mengeluarkan kepalanya sebentar unuk menghirup udara Jakarta. Nanda memasukkan lagi kepalanya untuk menoleh ke Elang. 

NANDA

Ternyata Jakarta ngangenin, Lang.

ELANG

Yaiya lah.

Nanda berteriak keluar jendela.

NANDA

Jakarta gue datang.

ELANG

Norak, lo.

NANDA

Biarin.

Berganti Elang teriak keluar jendela.

ELANG

Jakarta, Nanda datang.

Nanda dan Elang saling memandang untuk kemudian tertawa terbahak bersama.

NANDA – ELANG

Waaaa..

Nanda kembali teriak keluar jendela.

NANDA

Jakarta, bersiaplah!

Berganti Elang teriak keluar jendela.

ELANG

Iya. Hayo, lo!

CUT BACK TO:

INT. RUKO ELANG – SIANG

Nanda berbicara di kamera.

NANDA

Setelah lulus SMA, Elang males buat kuliah. Elang anak bontot jadi Elang lumayan di manja, Langsung disewain ruko dan dikasih modal untuk buka konter pulsa. Tapi gue akui konternya lumayan jalan, Elang bisa menambah jualannya empat kali lebih banyak dari pertama buka. Ditambah jualan segambreng kartu perdana.

Prestasi lain Elang membuka konter, Elang bisa pacaran dengan anak pemilik warung padang sebelah ruko konternya.

CUT TO FLASHBACK :

INT. WARUNG PADANG – SIANG

Elang berdiri di depan meja warung padang menunggui INTAN, 20 tahun, yang sedang menyiapkan sepiring nasi lauk rendang. Setelah isi piring lengkap, Intan menyerahkannya pada Elang. Tapi Elang tidak langsung menerimanya, malahan hanya mengagumi kecantikan Intan.

INTAN

Ini, bang.

Elang masih mengagumi kecantikan Intan. Intan jadi senyum-senyum sendiri sembari masih menyodorkan piring nasi padang.

INTAN

Bang, Elang?

Elang masih belum menerimanya. Nanda masuk warung pada langsung mengambil piring dari tangan Intan dan langsung kabur kembali ke konter. Elang kaget sontak teriak mengejar Nanda.

ELANG

Hei, Nda! Kodok, lo!

CUT BACK TO :

INT. RUKO ELANG – SIANG

Nanda berbicara ke kamera.

NANDA

Setiap masa liburan, gue lebih banyak tidur di ruko Elang, kadang juga nemenin jaga konter.

CUT TO :

EXT. JALANAN KOTA – SIANG

Di dalam VW kodok yang mulai melintasi jalanan kota.

ELANG

Nda, Bang Joni kemarin nyariin lo.

Nanda menoleh ke Elang mendadak mengernyitkan dahi.

ELANG

Tapi gue bilang kalo lo masih lama di Kedirinya.

CUT BACK TO:

INT. RUKO ELANG – SIANG

Nanda berbicara di depan kamera dengan nada sebal.

NANDA

Bang Joni? Berikut ini legenda Sang debt collector.

Dijaman doyan nongkrongin nonton bola di warung kopi perempatan. Kita asik ngobrol tentang tim nanti malam yang bakal main. Manchester City. Favorit berdua.

CUT TO FLASHBACK :

EXT. WARUNG KOPI – MALAM

Nanda dan Elang duduk di salah satu meja di dalam warung kopi menghadap ke arah TV. Tidak lama setelah memarkir motor, BANG JONI, 33 tahun, masuk warung kopi bersama tiga anak buahnya duduk di meja samping meja Nanda. Bang Joni berteriak ke pemilik warung kopi.

BANG JONI

Pak. Kopi item empat.

ELANG

Kira kira gimana, Nda?

NANDA

Ya, dua kosong lah, Lang.

ELANG

Iya, kayaknya. Minimal dua gol. Penyerangnya lagi subur-suburnya.

NANDA

Iya. Mainnya juga lagi rapi.

BANG JONI

(ke Nanda)

Kalo gitu, ntar malem menang siapa, nih?

Nanda menengok ke samping ke bang Joni.

BANG JONI

Menang Manchester City?

NANDA

Jelas Manchester City, bang.

BANG JONI

Kok bisa?

NANDA

Bang, pemain Manchester City, ada Erling Haaland, Bernardo Silva,

kipernya, Donnaruma. Tak ada lawan, bang.

BANG JONI

Siapa nama, lo?

NANDA

Nanda, bang.

BANG JONI

Gue Joni.

NANDA

Iya. Bang Joni. Nggak usah sungkan.

Bang Joni mengajak tiga anak buahnya keluar warung kopi. Tidak lama, pemilik warung keluar dari dalam dapur membawa nampan berisi empat gelas kopi ke arah meja bang Joni. Pemilik warung bingung bang Joni sudah gak ada dan bertanya ke Nanda.

PEMILIK WARKOP

Mana orangnya?

NANDA

Siapa pak?

PEMILIK WARKOP

Yang baru pesen kopi?

NANDA

Gak tau.

Pemilik warung kopi buru-buru masuk kembali ke dapur sambil teriak.

PEMILIK WARKOP

Setan!

EXT. WARUNG KOPI – MALAM

Nanda dan Elang keluar warung kopi menuju ke motor milik Nanda.

NANDA

Bernardo Silva gak bisa main, Lang.

ELANG

Bisa-bisanya cedera. Mainnya jadi gak jelas.

NANDA

Kalah lagi. Payah.

Langsung balik, ya?

ELANG

Iya.

Belum sempat naik ke motor, bang Joni dan anak buahnya berbocengan dua motor mendatangi Nanda.

BANG JONI

Hei, tunggu.

Gimana sih lo, katanya Manchester City pasti menang?!

NANDA

Namanya juga bola Bang. Bulet. Dan apapun bisa

terjadi di atas lapangan.

BANG JONI

Tadinya gue yakin pegang musuhnya. Tapi gara-gara lo,

gue ganti pegang Manchester City, ada

siapa tuh nama kipernya?

NANDA

Donnaruma?

BANG JONI

Iya, itu. Dan gue jadi kalah taruhan dua juta.

NANDA

Taruhan?

BANG JONI

Gini aja, daripada lo pulang bonyok-bonyok, lo gue

anggap punya utang dua juta, tapi lo bayarnya bisa nyicil.

NANDA

Nggak bisa gitu, Bang. Kok jadi saya yang bayar.

Kalo Manchester City menang emang duitnya saya kebagian.

ELANG

Iya bang.

Pemilik warung nasi goreng sebelah warung kopi keluar warung membawa kantung kresek transparan berisi tiga bungkusan nasi goreng. Satu tangannya membawa rantai sepeda dengan jeruji sepeda di ujungnya.

ORANG WARUNG

Bang lumayan, nasi goreng.

Bang Joni memberi sarat untuk memberikan nasi goreng ke anak buahnya yang duduk di boncengan. 

ORANG WARUNG

Sama balikin ini, bang, terima kasih. Anak saya nggak jadi tawuran. Main futsal.

Si pemilik warung nasi goreng menyerahkan rantai sepeda ke anak buah bang Joni. Elang menyikut pinggang Nanda memberi sarat. Nanda tersenyum pahit ke arah bang Joni.

NANDA

Bang. Nyicil, ya?

BANG JONI

Iya. Sini KTP lo.

Nanda mengeluarkan KTP dari dompet dan menyerahkannya kepada bang Joni. Bang Joni membacanya sekilas dan memberikannya ke anak buahnya di boncengan. 

BANG JONI

Gue balik dulu.

NANDA

Iya bang Joni. Ati-ati.

Nanda melambaikan tangan ke arah bang Joni yang menjauh meninggalkan area warung kopi. Nanda geleng-geleng.

NANDA

Jualan racun apa gimana sih tuh orang? Main ngasih

utang seenaknya?

CUT TO BACK :

INT. RUKO ELANG – SIANG

Nanda berbicara ke kamera.

NANDA

Dan yang bikin gue heran, kenapa manusia-manusia gondrong hobi banget mendatangi gue. Kurang amal, apa kebanyakan dosa, ya?

Demikian perkenalan ini. Maaf, sedikit horor.

CUT TO :

INT. RUKO ELANG – SIANG

Nanda muncul dari tangga dan memasuki lantai dua ruko Elang. Nanda meletakkan tas di atas tempat tidur. Nanda membantingkan tubuhnya di atas tempat tidur. 

NANDA

Ckk. Bang Joni?

Nanda mengeluarkan hape dari kantong celana.

NANDA

Uhh, digoyang bis semalaman, badan jadi lumayan pegal-pegal juga.

Nanda bangkit duduk.

NANDA

Digoyang bis semalaman juga bikin perut lapar.

INT. RUKO ELANG – SIANG

Nanda mendatangi Elang yang sedang bebersih etalase konter pulsa. 

NANDA

Lang sarapan?!

ELANG

Lo duluan, ntar gue nyusul.

INT. WARUNG PADANG – SIANG

Nanda memasuki warung padang langsung memesan menu padang pada Intan.

NANDA

Intan, satu ya, pake ayam bakar.

INTAN

Satu? Bang Elang nggak nitip?

Nanda melirik ke konter.

NANDA

Bentar lagi juga ke sini.

Elang memasuki warung padang langsung menebar senyum menghadap Intan.

NANDA

Tuh, kan?

ELANG

Burung kutilang burung gelatik.

Yang tersayang, ya yang paling cantik.

Yang, abang rendang, dong. Biasa, sambel ijonya banyakin.

Elang menoleh ke Nanda.

ELANG

Gimana Nda, romantis nggak?

NANDA

Gue pulang liburan, Lang, tapi kepala masih sumpek. Badan pegal, perut lapar. Dan pemandangan mengganggu hadir di depan mata.

Nanda mendongak ke atas.

NANDA

Holiday gini-gini amat, ya?

Nanda langsung menyahut piring dari tangan Intan langsung kabur ke konter.

NANDA

Bayar, Lang.

ELANG

Nda. Woi.

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)