Skenario
SELIBURAN SEMESTER
MENGEJAR GITA
INT. RUKO ELANG – SIANG
NANDA, 20 tahun, duduk di depan laptop di meja kamar lantai dua konter pulsa Elang. Setelah mengetikkan beberapa kata di laptop.
Nanda menoleh ke kiri dan berbicara ke kamera.
NANDA
Haii. Gue akan cerita liburan semester gue. Ini mau gue jadiin buku. Semoga ada penerbit yang mau cerita gue.
Perkenalan dulu, ya? Gue Nanda, Ananda Prawira. Bokap gue Betawi dan Nyokap asli Kediri. Jawa Timur.
Gue anak akuntansi di salah satu Universitas swasta di Jakarta.
Di kampus, anak-anak kadang memanggil gue skinni. Bodi gue memang lumayan kurus. Sepertinya bawaan dari lahir. Tapi ada sisi positif punya badan kering.
CUT TO FLASHBACK :
INT. SEKOLAH DASAR – SIANG
Di dalam ruangan kelas 4 suatu SD. Nanda duduk bersama salah satu teman lelakinya. Tampak salah seorang murid lelaki yang duduk sesama lelaki bertukar tempat duduk dengan salah satu murid perempuan yang duduk sesama perempuan.
O.S. NANDA
Waktu kelas empat SD dulu, wali kelas gue mengatur tempat duduknya berpasangan cewek dan cowok supaya gak banyak bercanda.
Karena bodi kecil gue bukan sesuatu yang tidak mengancam untuk cewek manapun. Alhasil gue dipasangkan dengan si cantik Zizi
Bu guru melihat buku absen kemudian berbicara.
GURU SD
Nanda? Nanda kamu pindah duduknya di samping Zizi.
Nanda yang masih SD berdiri dari tempat duduknya kemudian bertukar duduk dengan murid perempuan di samping Zizi. Nanda menyapa Zizi dengan mengangguk sopan, Zizi membalasnya dengan juga mengangguk.
CUT TO FLASHBACK :
INT. RUKO ELANG – SIANG
Nanda masih berbicara di depan kamera.
NANDA
Cinta monyet gue pun berkembang. Tapi tak disangka, Zizi memberi respon positif. Zizi sering ngajak gue ke rumahnya.
Tapi anehnya, bukan pas malam minggu, tapi di hari pas ada banyak PR. Iya, gue disuruh bantu mengerjakan PR.
Nggak enak memang. Tapi gue nggak menyesal, paling nggak gue jadi sering lihat wajah cantiknya.
CUT TO FLASHBACK :
INT. RUMAH ZIZI – SIANG
Diruang tamu, Nanda SD dan Zizi belajar bersama di meja tamu, keduanya duduk di lantai. Terdapat beberapa buku di atas meja. Zizi menunjuk isi buku di depannya.
ZIZI
Jadi yang dikurung dihitung dulu?
NANDA SD
Iya.
ZIZI
Kenapa sih, kok ini angkanya banyak yang dikurung-kurung?
NANDA SD
Iya. Supaya angkanya nggak kabur.
ZIZI
Nggak kabur?
NANDA SD
Iya, kalo nggak kabur, ngitungnya jadi cepet.
ZIZI
Oh, gitu?
NANDA SD
Iya.
Nanda melempar senyum setelah menjawab pertanyaan Zizi.
CUT TO BACK :
INT. RUKO ELANG – SIANG
Nanda bicara ke kamera.
NANDA
Namanya juga cinta monyet. Datangnya diundang, pulangnya beli cakwe.
CUT TO FLASHBACK :
EXT. TROTOAR JALAN – SIANG
Nanda SD menghampiri gerobak abang cakwe dengan wajah yang ceria. Nanda menyerahkan uang di tangannya ke abang cakwe.
NANDA
Bang. Cakwe sepuluh.
Abang cakwe memasukkan cakwe ke kantung kresek dan menyerahkannya kepada Nanda. Nanda meninggalkan gerobak cakwe dengan wajah yang masih ceria.
TUKANG CAKWE
Bahagia banget tuh bocah.
CUT TO BACK :
INT. RUKO ELANG – SIANG
Nanda menoleh dari laptop dan berbicara ke kamera.
NANDA
Dan tercatat, Zizi adalah cinta pertama gue. Selamat ya, Zi!
(sedih)
Sisi minus punya badan kering. Itu pas SMP. Gue sering banget jadi korban pemalakan oleh preman gondrong tidak bertanggung jawab yang sering nongkrong di depan sekolah.
CUT TO FLASHBACK :
INT. DEPAN PAGAR SMP – SIANG
Seorang dengan rambut gondrong menghampiri Nanda yang sedang berdiri dengan salah satu temannya. Berdua sedang makan batagor di plastik. Si rambut gondrong menghampiri Nanda.
PREMAN
Hei. Bagi duit.
Nanda menoleh ke preman kemudian menoleh ke teman yang berdiri di sampingnya. Nanda memalak temannya.
NANDA SMP
Hei. Bagi duit.
Nanda memasang wajah sangar dengan tangan memasang cakar.
NANDA
Haaa.
Teman Nanda mengeluarkan uang dari saku dengan santai dan menyerahkannya ke Nanda.
TEMAN NANDA
Biasa aja kali.
Nanda memberikan uang dari temannya tadi kepada Si rambut gondrong. Setelah mendapat uang dari Nanda, Si rambut gondrong beralih ke teman Nanda dan memalaknya.
PREMAN
Bagi duit.
Teman Nanda menolaknya dengan halus.
TEMAN NANDA
Itu uang dari aku, bang.
Si rambut gondrong menoleh ke Nanda. Nanda membela diri.
NANDA SMP
Tapi yang ngasih ke abangnya, aku.
Si rambut gondrong mengernyitkan dahi kemudian meninggalkan Nanda dan teman Nanda.
PREMAN
Iya ya. Yaudah.
CUT TO BACK :
INT. RUKO ELANG – SIANG
Nanda mengetik sesuatu di laptop kemudian menoleh ke kamera.
NANDA
Sekarang ini, gue sedang dalam masa liburan semester yang biasanya gue pakai untuk kerja paruh waktu, ngefreeline, dan kadang magang tapi digaji.
Liburan? Artinya uang jajan dipotong, nggak ada subsidi dari bokap-nyokap.
NANDA
Dan tercatat, gue pernah mengisi liburan dengan menjadi asisten akunting di distributor obat, delivery-boy fast food, ojol dan banyak lagi.
Liburan kali ini? Kerja lagi. Tapi seminggu pertama liburan, gue isi dengan main ke Kediri. Gue masih trauma waktu magang liburan semester lima kemarin. Gue dipecat dari tempat magang.
Bayangkan, magang bisa di-PHK. Memang terdengar menye-menye, di-PHK magang aja cerita-cerita. Jangan salah, berbarengan dengan putus magang, gue juga putus cinta.
Kok malah terdengar lebih menye-menye? Tapi ini tidak sesepele itu.
Cerita dipecatnya, waktu gue magang jadi asisten akunting distributor obat. Pertama kena SP, gara gara gue salah ngasih alamat surat jalan yang menjadi salah-satu jobdesk gue.
CUT TO FLASHBACK :
INT. KANTOR DISTRIBUTOR OBAT – SIANG
Nanda berdiri di depan meja bos distributor obat.
BOS
Ini uangnya obat nggak ada?
NANDA
Salah kirim, pak.
BOS
Nggak dibayar?
NANDA
Nggak pak. Kurirnya kabur.
BOS
Yaudah. Kamu mau ke kantor polisi apa damai?
NANDA
Piss aja, pak.
BOS
Potong gaji, ya?
NANDA
Iya pak, piss.
CUT TO BACK :
INT. RUKO ELANG – SIANG
Nanda memutar kursi untuk menghadap kamera.
NANDA
Gaji dipotong. Catat.
Dan yang langsung SP tiga dan dipecat. Gara-gara anak cewek si Bos, Sindi namanya.
Ceritanya, Si Sindi lagi bikin skripsi dan yang jadi bahan rujukan kantor bokapnya sendiri. Karena doi kuliah jurusan akuntansi, otomatis yang banyak jadi bahan skripsi ada di meja gue.
Memang dasar bawaannya nggak bisa lihat cewek cakepan sedikit. Nggak pakai lama, gue pun kasmaran.
Hasilnya, gue mulai berani ngobrol topik diluar skripsi, mengajak makan siang bareng. Sampai ngajak Sindi belajar Bahasa Prancis. Lidah gue pun keseleo.
CUT TO FLASHBACK :
INT. KANTIN KANTOR – SIANG
Nanda dan SINDI, 21 tahun, duduk di salah satu meja di kantin. Tampak dua piring kosong bekas makan keduanya dan dua gelas berisi es teh di atas meja. Sindi memegang kamus bahasa prancis.
SINDI
Boire de l'eau. Artinya, minum air putih.
NANDA
Boire de l'eau. Minum air putih
SINDI
Boire du lait blanc. Artinya, minum susu putih.
NANDA
Boire du lait blanc. Aduh aduh.
Nanda memegangi bibirnya kesakitan.
SINDI
Kenapa?
Nanda berbicara tidak jelas.
NANDA
Hidahu geheloo. (Lidahku Keseleo.)
SINDI
Lidah keseleo?
Nanda mengangguk-angguk.
SINDI
Kamu sih sok sokan ngajak belajar bahasa Prancis.
Nanda menunjuk kamus yang di pegang Sindi.
NANDA
Huang (buang).
SINDI
Buang?
Nanda kembali mengangguk. Sindi memanggil pelayan yang sedang membereskan satu meja tidak jauh dari meja Nanda dan Sindi.
SINDI
Mas, mas!
Pelayan itu mendatangi Sindi.
WAITER
Ada apa, mbak?
Sindi menyerahkan kamus yang ia pegang kepada pelayan.
SINDI
Mas. Tolong buangin ini, ya?
WAITER
Iya.
SINDI
(ke Nanda)
Kamu ada-ada aja.
CUT TO BACK :
INT. RUKO ELANG – SIANG
Nanda masih bicara ke kamera.
NANDA
Lanjut, kita jadi sering nongkrong di taman kota atau mampir di bioskop.
Gue tambah sayang sama Sindi. Di hari ulang tahun Sindi, gue mengirim bunga ke rumahnya. Besok paginya gue dipanggil Bos.
Nanda memandang ke atas, coba mengingat-ingat sesuatu kemudian kembali berbicara ke kamera.
NANDA
Mungkin gara-gara tukang bunganya salah tulis.
CUT TO FLASHBACK :
EXT. RUMAH SINDI – SIANG
Tukang bunga menurunkan karangan bunga dari mobil bak, membawanya ke depan rumah Sindi dan meletakkannya di depan pintu. Tukang bunga meninggalkan pintu kembali ke mobil.
Kamera menyorot karangan bunga bertuliskan, “SELAMAT DAN SUKSES HUT KE-21 SINDI YUNIAR.”
CUT TO FLASHBACK :
INT. KANTOR DISTRIBUTOR OBAT – SIANG
Nanda kembali menghadap bos distributor.
BOS
Kemarin kamu kirim bunga ke rumah?
NANDA
Iya, pak.
BOS
Sebaiknya kamu beresin barang kamu. Mulai besok kamu gak usah masuk lagi.
NANDA
Kok gitu Pak?
BOS
Ambil sisa gaji kamu di Mirna.
NANDA
Ya, pak.
Nanda menunduk, berbalik jalan ke arah pintu.
BOS
Nda, Nanda.
NANDA
(berbisik)
Nggak jadi dipecat.
Nanda berbalik menghadap ke arah bos distributor.
NANDA
Ya pak?
BOS
Tolong bilangin OB, kopi saya habis.
Nanda kembali menunduk untuk keluar ruangan bos distributor.
INT. KANTOR DISTRIBUTOR OBAT – SIANG
Nanda sudah menggendong tasnya memasuki pantri dan menemui OB.
NANDA
Pak, bos minta kopi.
OB
Iya, mas.
Ketika berbalik untuk keluar pantri. Nanda kembali melirik ke arah OB yang mulai membuat kopi.
NANDA
Eh Pak, kopinya jangan pakai gula, ganti pakai garam.
OB
Yang benar aja mas, masa bikin kopi pakai garam?
NANDA
Eh pak, bos diabetnya lagi kambuh, jadi gak bisa makan gula.
Tadi kopi pertama pakai gula?
OB
Iya.
NANDA
Tuh, kan. Gula lagi?
Nanda menengok ke pintu keluar pantri kemudian geleng-geleng.
NANDA
(berdecak dan berbisik)
Ckk. Kasian sih bos.
OB
Emang iya?
NANDA
Bener, pak.
OB
Saya tanya bos dulu, ya?
NANDA
Iya.
Si OB keluar pantri untuk ke ruangan bos.
EXT. KANTOR DISTRIBUTOR OBAT – SIANG
Nanda buru-buru keluar kantor distributor obat langsung menuju motornya. Nanda menghidupkan motor sambil sesekali menengok ke pintu kantor. Nanda menancap gas motornya buru-buru meninggalkan halaman kantor distributor obat.
CUT TO BACK :
INT. RUKO ELANG – SIANG
Nanda mengangkat gelas kopi dan meminumnya.
NANDA
Liburan semester kali ini, gue merasa dejavu. Setiap ngaduk kopi, otak selalu kepikiran Sindi.
Untuk bisa lupa Sindi, gue sengaja kabur ke Kediri selama seminggu. Naik ke puncak gunung Kelud bareng mas Joko, bisa sedikit mengobati.
EXT. GUNUNG KELUD – SIANG
Setelah berjalan mendaki beberapa langkah, Nanda yang berjalan di depan MAS JOKO, 33 tahun, berhenti untuk menikmati pemandangan gunung Kelud di depannya.
NANDA
(teriak)
Aahh. Gunung kelud. Gue datang.
Mas Joko menyalip Nanda dan memukul kepala Nanda menggunakan daun pisang yang ia bawa. Nanda langsung menunduk dan kembali berjalan di belakang mas Joko.
NANDA
Lud. Permisi.
CUT TO BACK :
INT. RUKO ELANG – SIANG
Nanda meletakkan gelas kopinya di atas meja.
NANDA
Pokoknya sekarang bye-bye dulu Kediri. Dan gue gak mau sering-sering ke Kediri, karena kalau gue ke Kediri, gue pasti sedang punya masalah.
Nanda menghela nafas panjang.
NANDA
Ini kamar lantai dua ruko Elang. Dan ini Elang.
Kita sahabatan sejak SMP, sekolah SMA juga bareng.
CUT TO :
EXT. JALAN RAYA PROVINSI –SIANG
Nanda menggendong tas rangsel turun dari bus antar kota antar provinsi. Nanda menoleh ke mobil VW kodok yang terparkir agak jauh di belakang yang membunyikan belnya. Nanda menghampiri VW kodok dan masuk ke pintu depan.
EXT. JALAN RAYA PROVINSI –SIANG
Nanda duduk di sebelah ELANG, 20 tahun, yang mengemudikan VW. Nanda mengeluarkan kepalanya sebentar unuk menghirup udara Jakarta. Nanda memasukkan lagi kepalanya untuk menoleh ke Elang.
NANDA
Ternyata Jakarta ngangenin, Lang.
ELANG
Yaiya lah.
Nanda berteriak keluar jendela.
NANDA
Jakarta gue datang.
ELANG
Norak, lo.
NANDA
Biarin.
Berganti Elang teriak keluar jendela.
ELANG
Jakarta, Nanda datang.
Nanda dan Elang saling memandang untuk kemudian tertawa terbahak bersama.
NANDA – ELANG
Waaaa..
Nanda kembali teriak keluar jendela.
NANDA
Jakarta, bersiaplah!
Berganti Elang teriak keluar jendela.
ELANG
Iya. Hayo, lo!
CUT BACK TO:
INT. RUKO ELANG – SIANG
Nanda berbicara di kamera.
NANDA
Setelah lulus SMA, Elang males buat kuliah. Elang anak bontot jadi Elang lumayan di manja, Langsung disewain ruko dan dikasih modal untuk buka konter pulsa. Tapi gue akui konternya lumayan jalan, Elang bisa menambah jualannya empat kali lebih banyak dari pertama buka. Ditambah jualan segambreng kartu perdana.
Prestasi lain Elang membuka konter, Elang bisa pacaran dengan anak pemilik warung padang sebelah ruko konternya.
CUT TO FLASHBACK :
INT. WARUNG PADANG – SIANG
Elang berdiri di depan meja warung padang menunggui INTAN, 20 tahun, yang sedang menyiapkan sepiring nasi lauk rendang. Setelah isi piring lengkap, Intan menyerahkannya pada Elang. Tapi Elang tidak langsung menerimanya, malahan hanya mengagumi kecantikan Intan.
INTAN
Ini, bang.
Elang masih mengagumi kecantikan Intan. Intan jadi senyum-senyum sendiri sembari masih menyodorkan piring nasi padang.
INTAN
Bang, Elang?
Elang masih belum menerimanya. Nanda masuk warung pada langsung mengambil piring dari tangan Intan dan langsung kabur kembali ke konter. Elang kaget sontak teriak mengejar Nanda.
ELANG
Hei, Nda! Kodok, lo!
CUT BACK TO :
INT. RUKO ELANG – SIANG
Nanda berbicara ke kamera.
NANDA
Setiap masa liburan, gue lebih banyak tidur di ruko Elang, kadang juga nemenin jaga konter.
CUT TO :
EXT. JALANAN KOTA – SIANG
Di dalam VW kodok yang mulai melintasi jalanan kota.
ELANG
Nda, Bang Joni kemarin nyariin lo.
Nanda menoleh ke Elang mendadak mengernyitkan dahi.
ELANG
Tapi gue bilang kalo lo masih lama di Kedirinya.
CUT BACK TO:
INT. RUKO ELANG – SIANG
Nanda berbicara di depan kamera dengan nada sebal.
NANDA
Bang Joni? Berikut ini legenda Sang debt collector.
Dijaman doyan nongkrongin nonton bola di warung kopi perempatan. Kita asik ngobrol tentang tim nanti malam yang bakal main. Manchester City. Favorit berdua.
CUT TO FLASHBACK :
EXT. WARUNG KOPI – MALAM
Nanda dan Elang duduk di salah satu meja di dalam warung kopi menghadap ke arah TV. Tidak lama setelah memarkir motor, BANG JONI, 33 tahun, masuk warung kopi bersama tiga anak buahnya duduk di meja samping meja Nanda. Bang Joni berteriak ke pemilik warung kopi.
BANG JONI
Pak. Kopi item empat.
ELANG
Kira kira gimana, Nda?
NANDA
Ya, dua kosong lah, Lang.
ELANG
Iya, kayaknya. Minimal dua gol. Penyerangnya lagi subur-suburnya.
NANDA
Iya. Mainnya juga lagi rapi.
BANG JONI
(ke Nanda)
Kalo gitu, ntar malem menang siapa, nih?
Nanda menengok ke samping ke bang Joni.
BANG JONI
Menang Manchester City?
NANDA
Jelas Manchester City, bang.
BANG JONI
Kok bisa?
NANDA
Bang, pemain Manchester City, ada Erling Haaland, Bernardo Silva,
kipernya, Donnaruma. Tak ada lawan, bang.
BANG JONI
Siapa nama, lo?
NANDA
Nanda, bang.
BANG JONI
Gue Joni.
NANDA
Iya. Bang Joni. Nggak usah sungkan.
Bang Joni mengajak tiga anak buahnya keluar warung kopi. Tidak lama, pemilik warung keluar dari dalam dapur membawa nampan berisi empat gelas kopi ke arah meja bang Joni. Pemilik warung bingung bang Joni sudah gak ada dan bertanya ke Nanda.
PEMILIK WARKOP
Mana orangnya?
NANDA
Siapa pak?
PEMILIK WARKOP
Yang baru pesen kopi?
NANDA
Gak tau.
Pemilik warung kopi buru-buru masuk kembali ke dapur sambil teriak.
PEMILIK WARKOP
Setan!
EXT. WARUNG KOPI – MALAM
Nanda dan Elang keluar warung kopi menuju ke motor milik Nanda.
NANDA
Bernardo Silva gak bisa main, Lang.
ELANG
Bisa-bisanya cedera. Mainnya jadi gak jelas.
NANDA
Kalah lagi. Payah.
Langsung balik, ya?
ELANG
Iya.
Belum sempat naik ke motor, bang Joni dan anak buahnya berbocengan dua motor mendatangi Nanda.
BANG JONI
Hei, tunggu.
Gimana sih lo, katanya Manchester City pasti menang?!
NANDA
Namanya juga bola Bang. Bulet. Dan apapun bisa
terjadi di atas lapangan.
BANG JONI
Tadinya gue yakin pegang musuhnya. Tapi gara-gara lo,
gue ganti pegang Manchester City, ada
siapa tuh nama kipernya?
NANDA
Donnaruma?
BANG JONI
Iya, itu. Dan gue jadi kalah taruhan dua juta.
NANDA
Taruhan?
BANG JONI
Gini aja, daripada lo pulang bonyok-bonyok, lo gue
anggap punya utang dua juta, tapi lo bayarnya bisa nyicil.
NANDA
Nggak bisa gitu, Bang. Kok jadi saya yang bayar.
Kalo Manchester City menang emang duitnya saya kebagian.
ELANG
Iya bang.
Pemilik warung nasi goreng sebelah warung kopi keluar warung membawa kantung kresek transparan berisi tiga bungkusan nasi goreng. Satu tangannya membawa rantai sepeda dengan jeruji sepeda di ujungnya.
ORANG WARUNG
Bang lumayan, nasi goreng.
Bang Joni memberi sarat untuk memberikan nasi goreng ke anak buahnya yang duduk di boncengan.
ORANG WARUNG
Sama balikin ini, bang, terima kasih. Anak saya nggak jadi tawuran. Main futsal.
Si pemilik warung nasi goreng menyerahkan rantai sepeda ke anak buah bang Joni. Elang menyikut pinggang Nanda memberi sarat. Nanda tersenyum pahit ke arah bang Joni.
NANDA
Bang. Nyicil, ya?
BANG JONI
Iya. Sini KTP lo.
Nanda mengeluarkan KTP dari dompet dan menyerahkannya kepada bang Joni. Bang Joni membacanya sekilas dan memberikannya ke anak buahnya di boncengan.
BANG JONI
Gue balik dulu.
NANDA
Iya bang Joni. Ati-ati.
Nanda melambaikan tangan ke arah bang Joni yang menjauh meninggalkan area warung kopi. Nanda geleng-geleng.
NANDA
Jualan racun apa gimana sih tuh orang? Main ngasih
utang seenaknya?
CUT TO BACK :
INT. RUKO ELANG – SIANG
Nanda berbicara ke kamera.
NANDA
Dan yang bikin gue heran, kenapa manusia-manusia gondrong hobi banget mendatangi gue. Kurang amal, apa kebanyakan dosa, ya?
Demikian perkenalan ini. Maaf, sedikit horor.
CUT TO :
INT. RUKO ELANG – SIANG
Nanda muncul dari tangga dan memasuki lantai dua ruko Elang. Nanda meletakkan tas di atas tempat tidur. Nanda membantingkan tubuhnya di atas tempat tidur.
NANDA
Ckk. Bang Joni?
Nanda mengeluarkan hape dari kantong celana.
NANDA
Uhh, digoyang bis semalaman, badan jadi lumayan pegal-pegal juga.
Nanda bangkit duduk.
NANDA
Digoyang bis semalaman juga bikin perut lapar.
INT. RUKO ELANG – SIANG
Nanda mendatangi Elang yang sedang bebersih etalase konter pulsa.
NANDA
Lang sarapan?!
ELANG
Lo duluan, ntar gue nyusul.
INT. WARUNG PADANG – SIANG
Nanda memasuki warung padang langsung memesan menu padang pada Intan.
NANDA
Intan, satu ya, pake ayam bakar.
INTAN
Satu? Bang Elang nggak nitip?
Nanda melirik ke konter.
NANDA
Bentar lagi juga ke sini.
Elang memasuki warung padang langsung menebar senyum menghadap Intan.
NANDA
Tuh, kan?
ELANG
Burung kutilang burung gelatik.
Yang tersayang, ya yang paling cantik.
Yang, abang rendang, dong. Biasa, sambel ijonya banyakin.
Elang menoleh ke Nanda.
ELANG
Gimana Nda, romantis nggak?
NANDA
Gue pulang liburan, Lang, tapi kepala masih sumpek. Badan pegal, perut lapar. Dan pemandangan mengganggu hadir di depan mata.
Nanda mendongak ke atas.
NANDA
Holiday gini-gini amat, ya?
Nanda langsung menyahut piring dari tangan Intan langsung kabur ke konter.
NANDA
Bayar, Lang.
ELANG
Nda. Woi.