Seliburan Semester Mengejar Gita
6. Seliburan Semester Mengejar Gita Part 6
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

Skenario 

SELIBURAN SEMESTER

MENGEJAR GITA

Part 6


EXT. RUMAH BANG JONI – SIANG

Minivan Nanda terparkir di depan rumah bang Joni. Bang Joni sudah duduk di samping Nanda. Anak buah Bang Joni keluar rumah bang Joni membawa tas. Anak buah bang Joni memasukkan tas rangsel ke dalam minivan untuk kemudian masuk.

NANDA

Apaan tuh, bang?

BANG JONI

Lakban, tali. Persiapan aja.

Bang Joni sambil menyerahkan topi dan masker ke Nanda.

BANG JONI

Nih, ntar kalo lo malu, pakai.

Nanda langsung memakai topinya.

EXT. JALANAN PERUMAHAN - SIANG

Minivan Nanda parkir di depan rumah korban yang bakal diculik. Bang Joni dan Nanda melihat korban mulai membawa mobilnya meninggalkan rumah.

BANG JONI

Tuh, orangnya berangkat.

Nanda mulai menginjak gas mengikuti dari belakang.

EXT. JALANAN PERUMAHAN - SIANG

Di satu perempatan, mobil korban dan minivan Nanda terhenti oleh lampu merah. Sebuah sepeda motor berhenti pas di sebelah Nanda, dua cewek unyu-unyu berboncengan. Nanda menoleh ke bang Joni.

NANDA

Bang, cewek.

Bang Joni menoleh ke cewek.

BANG JONI

Bening juga. Nda.

Sadar Nanda perhatikan, cewek yang dibonceng memberi respon dengan senyum manis.

Waktu lampu sudah hijau, motor si cewek jalan belok kanan dan Nanda otomatis ikut belok kanan.

BANG JONI

Lho. Lho. Itu mobil orangnya belok kiri, kok lo malah belok ke kanan, ke kiri, kiri!

EXT. JALANAN KOTA - SIANG

Nanda segera menepikan mobil dan memutar balik mobil.

BANG JONI

Gimana sih, lo? Ya udah, kita langsung ke kantornya aja.

NANDA

Iya, bang.

INT. KANTOR KORBAN– SIANG

Nanda dan Bang Joni keluar dari lift di lantai tujuh, sebuah gedung perkantoran Jakarta pusat. Anak buah bang Joni di belakang.

INT. KANTOR KORBAN– SIANG

Bang Joni memimpin berjalan ke arah meja resepsionis.

Cewek resepsionis mengucapkan salam pada bang Joni yang berdiri di depan mejanya. Bang Joni membalas dengan pandangan sinis ala preman.

RESEPSIONIS

Siang, bang.

BANG JONI

Siang. Bilang bos kamu, bang Joni mau ketemu.

RESEPSIONIS

Bos sedang keluar, bang.

BANG JONI

Kemana?

Cewek resepsionis melihat lembaran kertas di atas meja.

RESEPSIONIS

Jadwalnya meeting sama suplier.

BANG JONI

Meeting di mana?

RESEPSIONIS

Wah, nggak ngomong bang, biasanya sih, sambil makan siang.

BANG JONI

Tanya dong sebelum berangkat, kalo ada orang tanya Bos kamu kemana, kamu nggak bisa jawab.

RESEPSIONIS

Tadi saya sudah nanya, tapi pesen Bos memang gitu, bang.

BANG JONI

Kamu telponin hape dia, bilang gue mau ketemu.

RESEPSIONIS

Kalo meeting, biasanya hapenya nggak aktif, bang. Pasti abang tadi juga berusaha menghubungi, tapi nggak bisa, kan?

Dan kesabaran Bang Joni tidak bertahan lama, mukanya kembali mengkerut. Bang Joni menoleh ke anak buahnya. 

BANG JONI

Jek, periksa ke dalam, gue nggak percaya, dia ngomongnya pinter.

RESEPSIONIS

Saya nggak bohong, bang. Tapi kalo wakilnya ada, mau saya panggilin?

BANG JONI

Ya, udah. Jek, kamu geledah dia.

Bang Joni menunjuk cewek resepsionis di depannya. Anak buah bang Joni tampak bingung menatap bosnya. Nanda juga bingung.

BANG JONI

Iya, geledah dia.

RESEPSIONIS

Geledah gimana, Bang? Lho, memangnya saya sembunyiin bos di baju?

BANG JONI

Emang nggak mungkin, tapi gue seneng aja, ngelihat kamu di geledah.

Nanda tersenyum pahit kemudian menunduk. Anak buah Bang Joni maju mendekat ke cewek resepsionis.

RESEPSIONIS

Lo pegang-pegang. Gue tampol!

ANAK BUAH BANG JONI

Bang, dia gak mau.

Anak buah Bang Joni memelas.

BANG JONI

Cepet.

RESEPSIONIS

Pegang? Gue tampol lo!

BANG JONI

Cepet.

RESEPSIONIS

Gue tampol lo!

BANG JONI

Cepet.

RESEPSIONIS

Bos ada di dalam.

Cewek resepsionis menyerah, kali ini bang Joni menebar senyum.

BANG JONI

(lembut)

Nomor hape kamu berapa?

Cewek resepsionis menyodorkan perangkat telpon meja.

BANG JONI

Nggak bisa diajak romantis nih cewek.

(ke Nanda)

Ayo.

Nanda langsung merogoh saku celana, mengeluarkan masker dan memakainya untuk kemudian masuk ruangan korban.

INT. BANK BANG JONI KERJA – SIANG

Bang Joni, Nanda, dan anak buah bang Joni memasuki pintu depan bank. Nanda kembali harus membantu Bang Joni memegangi korban. Beberapa karyawan bank di dalam ruangan yang mereka lewati, melihat ke arah aksi bang Joni dan Nanda, sebagian lagi cuek. Di antara para pekerja bank ada Gita. Dan Nanda kurang mengenalinya sampai beberapa saat.

O.S. SUARA HATI NANDA

Yang itu, manis banget.

Manis, dan sepertinya pernah lihat. Anak mana, ya?

Lumayan tuh cewek. Eits, dia ngeliat ke gue. Eehhm, gue jadi grogi.

O.S. SUARA HATI NANDA

lya, sepertinya gue kenal. Cantiknya, manisnya.

Heh, itukan, itukan?

O.S. SUARA HATI NANDA

Heh? Lah itu 'kan, Gita!

Itu bener Gita. Si CANTIK Gita.

Kok si Gita magangnya di sini?! Mampus gue. Gue mampus.

Pandangan Gita langsung membuat dengkul Nanda lemas. Setengah terseok Nanda melanjutkan langkah ke arah sebuah ruangan interogasi. Nanda tidak berani menoleh ke Gita lagi.

INT. BANK BANG JONI KERJA – SIANG

Di dalam ruangan interogasi, Nanda duduk jongkok di pojokan ruangan cuma bisa menutup mata.

NANDA

Gue butuh udara segar. Tapi gue akan keluar lewat pintu lain. Gue gak mau ketemu Gita lagi.

INT. BANK BANG JONI KERJA – SIANG

Nanda berjalan mengendap mencari pintu belakang. Nanda menemukan satu pintu. Nanda kaget OB kantor menegurnya.

OB KANTOR

Mas, itu pintu ke toilet.

NANDA

Heh? Disaat-saat bahaya begini, gue masih bisa kesasar?

EXT. BANK BANG JONI KERJA – SIANG

Di dalam mobil, Nanda nengok kanan-kiri kemudian teriak.

NANDA

Tidaakk!!

Nanda mencopot maskernya.

NANDA

Lupa dicopot?

(pelan)

Tidaaak!

INT. RUKO ELANG – SIANG

Nanda turun tangga lantai dua menemui Elang di konter. Nanda mengambil kunci kontak di gantungan tembok.

NANDA

Gita dianter bokapnya ke bandara.

ELANG

Bandara? Gita jadi berangkat?

EXT. RUKO ELANG – SIANG

Tanpa menutup konter, Elang menyusul langkah cepat Nanda keluar konter. Nanda langsung masuk VW kodok, Elang turut naik, tapi kali ini Nanda yang pegang setir.

CUT TO :

INT. RUMAH DAMAR - SIANG

Dari arah dalam ayah Gita menemui Gita di ruang tamu yang duduk ditemani Damar dengan dua tas besar di samping kursi. Di pangkuan Gita terdapat sebuah tas selempang kecil. Ayah duduk di depan Gita.

AYAH DAMAR

Ayah sudah bilang ke Nanda, tapi kamu nggak bilang selamat tinggal dulu?

AYAH DAMAR

Kamu yakin gak mau telpon Nanda?

Ayah Gita menyodorkan hapenya pada Gita.

AYAH DAMAR

Nanti kamu pasti nyesel kalo kamu nggak mau ngomong sama Nanda dulu, siapa tahu keadaan sudah berubah.

CUT BACK TO :

EXT. JALANAN KOTA – SIANG

Di dalam VW kodok yang melaju, Nanda mengemudi sambil melihat layar handphone. Nanda membelokkan VW ke arah rumah Gita.

ELANG

Kok belok sini Nda?

NANDA

Belum berangkat, masih di rumah. Gita baru aja WA.

EXT. RUMAH DAMAR – SIANG

VW kodok merapat di depan rumah Gita. Sudah ada minivan milik ayah Gita di depan rumah. tanpa menutup pintu Nanda langsung masuk pagar.

EXT. RUMAH DAMAR – SIANG

Nanda berjalan dan berdiri di beranda, Gita yang duduk di ruang tamu menoleh ke Nanda dan memutuskan keluar.

NANDA

Gita.

Gita dan Nanda duduk kursi di depan.

NANDA

Kenapa kamu pergi, kamu tega ninggalin aku sendiri?

GITA

Aku harus mengejar mimpi, setelah itu, aku akan kembali dan mencari kamu.

NANDA

Tapi kenapa harus seperti ini? Berpisah ketika kita mulai dekat. Ini bukan gara-gara peristiwa di kantor kamu 'kan?

Gita mengambil sebuah buku dari dalam tas selempangnya. Gita menyodorkan buku pada Nanda. 

GITA

Baca halaman terakhir.

Nanda melihat buku di tangannya sebentar sebelum menatap Gita.

EXT. RUMAH DAMAR – SIANG

Gita masuk minivan untuk duduk di samping ayah, tidak lama minivan meninggalkan rumah Damar. Damar bersama ibunya kembali masuk pagar, meninggalkan Nanda yang melambaikan tangan memandangi minivan menjauh. Dadah.

EXT. JALANAN KOTA – SIANG

Di dalam VW, kali ini Elang yang pegang kemudi mobil. Mata Nanda masih berkaca-kaca membuka halaman terakhir buku Gita. Nanda menemukan sebuah puisi berjudul ^lelaki^.

Nanda membaca puisi Gita, seakan suara Gita bergema melantunkan puisi yang ditulisnya.

O.S. GITA

Lelaki

Kau lari secepat kuda

Pula kuat menarik pedati

Adakah lelaki yang pantas melintas di benak

Dia yang mampu taklukkan terjal tebing hatiku

Memetik petir dan membawa kilat cahayanya padaku

Tatapannya menyisir utuh jiwa

Dan tanpa kata menundukkan pusaran hebat angan

Di setiap dengus nafas memanggilku

Merangkulku lembut dalam kokohnya genggaman

Pada akhirnya kutemui jua` jiwa sesosok itu

Di sudut jalanku

Tempatku sebelum terhenti

Tapi raga ini harus jauh melihat dunia

Merampas nyali dari sang ragu yang gelisah

Sebelum kutambatkan kaki pada hangat langkahmu

Wahai lelaki

Ku.

Nanda tersenyum dengan mata makin berkaca-kaca. Nanda mencondongkan tubuh ke depan dan melihat ke atas langit melalui kaca depan.

Elang masih nyetir, menggoyang-goyang bahu Nanda.

ELANG

Nda. Nanda!

Nda, bangun wooi!

CUT TO :

INT. RUKO ELANG – SIANG

Di atas kasur Nanda membuka mata menengok ke Elang di kasur. 

ELANG

Bangun. Lo nggak berangkat?

Elang meninggalkan Nanda untuk turun ke lantai satu. Nanda meraih hape.

NANDA

Mimpi gue mirip ending filmnya Dian Sastro?

Apa ini artinya Gita bakal meninggalkan gue.

Dengan langkah yang berat, Nanda masuk kamar mandi.  

Ya, siapa yang mau punya pacar penculik?

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)