1.INT. KOS LUCI-MALAM
Ruangan kamar yang rapi,tampak dua orang wanita berpandangan,Luci di kasur dan Raya di lantai. Luci menatap Raya yang termenung tanpa kata, pikirannya kalut, duduk di pojok ruangan, Luci menuangkan air, memberikannya pada Raya agar sedikit tersadar
Raya hanya menatap Luci cemas, meminum sedikit air digelas agar dapat berpikir.
Raya berkata sedih, matanya berkaca-kaca memikirkan nasib ayahnya yang kabur karena dituduh membunuh seorang wanita paruh baya di sebuah kamar hotel.
Luci mulai letih memberikan penjelasan pada Raya. Luci bangkit dari duduknya, mengambil gelas, menuangkan air dan meminumnya lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela.
Raya menatap Luci kesal
Raya bangkit dari duduknya, mengemasi pakaiannya ke dalam tas ransel,dan mengenakan jaket bersiap hendak pergi
Luci menatap Raya dengan wajahnya yang letih
Raya yang sudah menenteng tas dan melangkah pergi terhuyung jongkok di lantai. kedua tangan menutupi wajahnya yang sudah penuh air mata
CUT TO
2.INT. SUNJAYA LAND.RUANG KERJA CEO-MALAM
Tampak dua orang pria berjas duduk di ruang kerja yang besar dan super mewah bernuansa hitam, Satria menatap serius ke laptop, duduk di kursi CEO, sedangkan Albert duduk di kursi tamu sambil mengeser layar tablet dengan jarinya.
sesaat dia teringat pertemuan dengan bawahannya tadi siang, tawaran yang dia ajukan kepada gadis yang baru saja menjadi pegawai di Sunjaya Land itu terasa mengusiknya
Albert menatap Satria sesaat, lalu mengarahkan lagi pandangannya ke tablet di tangan, lalu mencuri pandang lagi ke Satria.
Satria menatap lekat laptopnya, kebingungan yang menyerang Albert tak dihiraukannya.
Satria berdiri, menatap ke kaca yang menghadap langsung ke gemerlapnya pusat kota, dari lantai 21 Satria dapat melihat, kerlap-kerlip lampu bersinar
Albert membaca perjanjian pernikahan yang dikirimkan Satria padanya lewat Whatsapp, sesekali Albert mengernyitkan dahi, membayangkan apa yang akan terjadi pada Raya jika menyetujui pernikahan ini.
CUT TO:
3. INT.SUNJAYA LAND-RUANG KERJA ADMIN.PAGI
Seharian Raya bekerja tanpa tenang, pikirannya terus pada pertemuannya dengan Pak Albert kemarin,perbincangannya denga Luci semalam dan pertimbangannya sendiri untuk menikah dengan CEO mereka Satria Sanjaya. Berkali-kali Raya menghela nafas, memijit kepala dan meregangkan lehernya yang kaku.
Luci yang duduk di hadapannya menatap, takut manager mereka menyadari kegusaran Raya, dengan halus Luci menegur.
Luci menunjuk sang manager yang duduk disamping mereka, jarak yang hanya dibatasi dengan cubicle itu membuat mereka tak leluasa untuk ngobrol.
Raya mengangguk dan lanjut bekerja
CUT TO:
4. INT.SUNJAYA LAND-CAFETARIA.SIANG
Cafetaria tampak tak begitu ramai, Raya dan Luci sudah membawa makanan di nampan masing-masing, duduk di salah satu meja.
Raya langsung mengeluarkan handphone nya, mengecek notifikasi dan meletakkannya di meja.
Wajah Raya masih kebingungan
Raya tampak berpikir
Luci terkekeh, Raya menatap penasaran
CUT TO:
5. INT.CAFE SOUND OF FLOWER-MALAM
Cafe bertema bunga menjadi pilihan Albert untuk bertemu Raya, mereka duduk berhadapan, Albert masih dengan stelan jas dan Raya menggunakan dress selutut warna biru, sekilas mereka seperti pasangan, Albert dikenal Raya sebagai Sekretaris CEO idola para pegawai cantik di kantornya.
Raya menerima surat dari tangan Albert dan mulai membaca dengan seksama.Pernikahan ini adalah pernikahan kontrak,kamu hanya enam bulan menjadi istrinya, dengan menikah Satria dianggap serius akan memiliki keturunan yang akan mewarisi perusahaan.
Albert menunjuk kertas yang dipeganga oleh Raya, Raya melongo' membaca nominal yang akan diberikan oleh Satria, tiga miliar, modal yang cukup besar untuk mencari dan membela ayahnya nanti.
Raya masih membaca surat perjanjian pernikahan dengan seksama
Tanpa menunggu reaksi jawaban dari Raya, Albert bangkit dan bergegas pergi meninggalkannya, Raya masih termenung, hanya satu hari waktunya berpikir akan menerima atau tidak tawaran pernikahan ini.
CUT TO:
6.INT.KAMAR KOS LUCI.BERBARING DI KASUR BAWAH-MALAM
Raya tak bisa memejamkan mata, dia masih mempertimbangkan tawaran Albert barusan, Luci yang sudah tidur diranjang bahkan tak boleh tahu tentang pernikahan ini sebenarnya. Tapi tawaran tiga miliar itu sungguh menggoda, bahkan jika dijalani dengan kontrak pun akan cepat berlalu.
kontrak pernikahan ini dianggap Raya tak sulit, hal yang paling digaris bawahi olehnya bahkan tak ada kontak fisik antara mereka, jadi tak akan ada rasa atau kesempatan memiliki rasa yang lebih pada Satria.
Dan yang lebih penting jika dia punya uang yang banyak, dia tidak hanya bisa mencari ayahnya tapi punya tempat tinggal sendiri, sehingga tak lagi merepotkan Luci.
CUT TO:
7.INT. CAFE SOUND OF FLOWER-MALAM
Satria, Raya dan Albert sudah duduk disatu meja, Raya berhadapan dengan Satria sedangkan Albert ada disebelahnya. Di depan Raya dan Satria sudah tersedia Surat Perjanjian Pernikahan yang siap ditandatangani.
Raya hanya terdiam memandangi Satria, wajahnya misterius, walaupun matanya sendu namun ada garis ketegasan yang tergambar dari tatapannya yang tajam
Tiba-tiba Raya terkesima, walaupun Satria tidak setampan Albert tapi dia memiliki kharisma yang mengganggu Raya
Mendengar itu Satria sedikit mendehem, sedangkan Albert memasang wajah syok
Albert menahan tangan Satria, memberi pertanda untuk jangan memperpanjang ucapannya. Raya menangkap keangkuhan Satria dengan cepat, namun tiga miliar mungkin bisa menambah kesabaran Raya atas sifat Satria
Satria senyum mengejek mendengar ucapan Raya. Raya mengulurkan tangannya ke Satria, mereka bersalaman dan mulai meneken perjanjian pernihakan
CUT TO:
8.INT. TAMAN SUNJAYA LAND-SIANG
Raya sudah bersiap menuju pelaminan, konsep pernikahan yang mendadak mengejutkan banyak pihak, baik itu pegawai,kolega, bahkan teman dari Satria, sedangkan Raya hanya ditemani Luci.
Proses pernikahan lancar dilaksanakan dari mulai akad hingga resepsi dan berakhir di malam hari. Setelah berganti pakaian Raya bersiap untuk pulang, menuju tempat menunggu taksi online.
Raya bingung, Albert menuntun Raya menuju mobilnya
CUT TO:
9.INT.RUMAH SATRIA-MALAM
Raya disambut oleh Bik Rum, Asisten rumah tangga yang sudah berumur, dengan ramah dia menyambut Raya dan mengantarkannya ke kamar.
Raya menutup pintu kamar, duduk ditepi ranjang, memandangi lagi sekeliling kamar, berpikir setidaknya kamar ini menjauhkannya dengan Satria dan dia sudah punya tempat tinggal yang layak.
CUT TO:
10.INT. RUANG MAKAN RUMAH SATRIA-PAGI
Satria dan Raya duduk sarapan berdua, Satria fokus makan sedangkan Raya sesekali melirik, seketika Satria menoleh
Raya mengernyitkan dahinya, mencoba merangkai puzle yang berantakan di depan mata.
Ada rasa bersalah ketika berhadapan langsung dengan keluarga korban, selama semua bukti memang mengarah ke ayahnya, namun Raya merasa tak menemukan alasan yang jelas mengapa ayahnya membunuh
Satria bangkit dari duduknya, meninggalkan Raya yang semakin cemas. Gagal sudah semua rencananya,ternyata dia dijebak oleh lawannya sendiri. Raya merasa bodoh harus tersakiti selama enam bulan kedepan.
Seketika Raya tersadar, bagaimana jika sampai enam bulan ayahnya belum juga ditemukan, bisakah dia keluar dari penderitaan ini?
CUT TO:
11.INT.SUNJAYA LAND. RUANG KERJA ADMIN-SIANG
Raya memikirkan permasalahannya, wajahnya cemas berada didekat keluarga korban yang diduga dibunuh ayahnya, jika berencana kabur, tidak mungkin dia bisa hidup tanpa bekerja dan tempat tinggal. Mau menyusahkan Luci rasaya sudah tidak enak hati.
tak lama Albert menelepon, mengatakan Satria memanggil Raya ke ruangannya.
Luci dan Manager mereka tersenyum sambil mengangguk
CUT TO:
12.INT.SUNJAYA LAND. RUANGAN CEO-SIANG
Raya berdiri menghadap Satria yang masih sibuk membaca berkas, Raya hanya diam, masih menyesali hal yang menimpanya kini, harus terus bertemu dengan orang yang paling membencinya.
seketika Raya merasa hidupnya akan semakin sulit, dia harus mengatur strategi kembali.
Raya melengos tanpa senyum, wajah tegas Satria semakin membuatnya geram
CUT TO:
13.INT. RUANG KERJA ADMIN-MALAM
Raya mengerjakan pekerjaannya dengan seksama, sambil memutar rencananya sendiri, Raya harus bertahan kerja disini untuk tetap menghasilkan uang,dia tahu sikap buruk satria akan semakin menjadi.
Raya berencana untuk menabung gajinya dan tidak akan memakai uang yang diberikan Satria, uang itu untuk berjaga-jaga jika Raya sudah tidak tahan lagi dengan sikap satria dan harus membayar pinalti jika pernikahan ini gagal.
Luci yang beranjak hendak pulang bertanya heran
CUT TO:
14.INT. SUNJAYA LAND. RUANG KERJA CEO-MALAM
Satria melempar berkas yang dilihatnya ke wajah Raya
Raya hanya diam menunduk, bulir air matanya akan pecah
Raya sedikit mengeram, ada amarah di suaranya
Raya membalikkan badan, ingin meninggalkan ruangan, tak berselang berkas yang tadi dilempar kearahnya kembali dilemparkan ke punggungnya oleh Satria
CUT TO:
15.INT. SUNJAYA LAND. DEPAN RUANG KERJA CEO-MALAM
Raya baru saja keluar dari ruangan Satria, melengos melihat Albert yang berdiri menatapnya.
CUT TO:
16.INT. RUMAH SATRIA. KAMAR RAYA-MALAM
Raya membanting tubuhnya kekasur, kembali mencerna setiap hal yang sudah terjadi hari ini, yang membuat dirinya syok, takut, dan marah bersamaan
pintu kamar diketuk, raya bangkit untuk membuka
Raya teringat perkataan Satria tadi pagi, dia kembali membaringkan tubuhnya di kasur untuk mencoba tidur
CUT TO:
17.INT. RUMAH SATRIA.DAPUR KOTOR-PAGI
Raya membuat susu di dapur kotor yang biasanya dipakai oleh para asisten rumah tangga, melihat itu para asisten rumah tangga dirumah itu heran
tak lama Bik Rum datang, dan berterik melihat hal itu
Satria menampar wajah Raya, semua yang melihat terkejut, termasuk Albert yang baru datang. Raya memegangi pipinya yang mulai memerah
Raya melengos pergi, meninggalkan situasi yang menegangkan ini, dia meyakini keadaannya semakin memburuk bila dia terus disini
CUT TO:
18.INT. SUNJAYA LAND. DEPAN RUANG KERJA CEO-SIANG
Raya menghadap Satria sambil membawa berkas yang sudah dikerjakannya sebaik mungkin, Raya bahkan menghubungi temannya yang seorang manager perencanaan di sebuah perusahaan ternama untuk memeriksa pekerjaannya.
Satria menatapnya dingin sambil meletakkan berkas itu di meja,Raya menunduk bisu, tak lama dia mendengar kertas yang dirobek.
Raya mengangguk sambil cemberut, siap berbalik badan dan meninggalkan Satria
Raya menoleh
Satria tak menjawab, dia memutar kursinya membelakangi Raya, menatap dinding kaca yang menembus cakrawala.
Raya meninggalkan ruangan Satria, pergi ke cafetaria untuk membeli minum. Amarahnya memuncak.
CUT TO :