KEMBALINYA BARA API
4. Berkumpulnya Geng Kampung Hilir

INT. RUSUN KAMPUNG HILIR. LT 2 - SIANG

Pintu lift terbuka, Kinan keluar diikuti dengan Bara yang berjalan dengan tatapan kesal.

Bara dan Kinan berjalan di lorong dalam diam. Tampak Bara membuang mukanya dari Kinan sementara Kinan sekali-kali melihat kakaknya, canggung. 

Kinan dan Bara kemudian melewati IBU TETANGGA yang sedang menjemur pakaiannya di pagar depan unit rusunnya.

IBU TETANGGA
Baru pulang, Mbak Nan?
KINAN
Iya, Bu. Habis ngurus laporan. Mari, Bu.
IBU TETANGGA
Mari-mari.

Bara dan Kinan kembali berjalan dalam diam. Kinan menarik nafas dalam-dalam lalu memberanikan diri untuk menengok ke kakaknya.

KINAN
Tadi… Kenapa Abang ribut sama Bang Ipung?

Bara diam. Dia terus berjalan, tidak menjawab. Kinan menghela nafas.

KINAN
Yang lain juga ditanya ga mau jawab. Apa sampai sekarang Kinan tetep dianggep anak bawang?

Bara tetap tidak menjawab dan terus berjalan. Kinan berhenti berjalan, membiarkan Bara berjalan sendiri.

KINAN
Bang! Sepuluh tahun Abang ngilang. Terus sekarang ketemu, Kinan dicuekin kayak gini?

Bara berhenti lalu berbalik ke arah Kinan.

BARA
(Membentak)
Lu masih nanya kenapa gue diemin elu?

Bara menunjuk seragam polisi yang Kinan pakai dengan penuh emosi.

BARA
Lu gak liat apa baju yang lu pake? Lu gak inget apa yang mereka lakuin ke Abah?

Kinan menundukkan kepalanya.

BARA
Abah ilang gara-gara mereka, Nan! Mereka baik-baikin Abah biar Abah mau nolong. Tapi abis ditolong, mereka BUANG Abah gitu aja.
(menunjuk seragam Kinan)
 Dan sekarang lu…

Bara mengacak-acak rambutnya frustasi. Kinan masih menunduk diam.

BARA
Gua… Gua ga ngerti ama kalian semua? Apa? Apa yang terjadi? Kenapa semua berubah gini? 
(jeda)
Apa tinggal di gedongan gini bikin otak kalian pada geser?

Kinan mengepalkan tangannya erat-erat, memberanikan diri. Dia kemudian mengangkat kepalanya, melihat langsung Bara.

KINAN
Kita mau gak mau HARUS berubah, Bang!

Bara memandang Kinan. Kinan melihatnya dengan tatapan tajam.

KINAN
Abang kira, selama Abang ngilang, waktu bakal berhenti nungguin Abang?
(jeda)
Enggak Bang! Semua terus jalan. Mereka ga peduli kalo kita lagi nungguin Abang, perlu Abang.

Kinan menunjukkan seragam polisinya pada Bara.

KINAN
Dan ini! Kalo Abang kesel kenapa Kinan pake baju ini...

Kinan melihat Bara dengan tajam.

KINAN
Ini Satu-satunya cara buat ngelindungin kampung kita tanpa Abang.

Bara membelalakan mata diam.

EXT. JEMBATAN KAMPUNG HILIR - SIANG. FLASHBACK

Sebuah tinju melayang ke seorang PREMAN hingga dia terlempar jatuh. Itu tinju dari Kinan (18) yang tampak babak belur dan terengah-engah.

KINAN (V.O.)
Setelah abang ngilang, kampung ini malah semakin diincer banyak orang.

Preman itu dan beberapa PREMAN LAIN langsung berlarian pergi. Namun PREMAN-PREMAN BARU terlihat datang dari ujung jembatan.

Kinan yang terengah-engah kembali memasang kuda-kuda. Dia kemudian didekati oleh Ipung (20), Hasan (22) dan Rizki (22) yang tidak kalah babak belur.

KINAN (V.O.)
Cuma Kinan, Bang Ipung, Bang Hasan, ama Bang Rizki yang ngejagain kampung ini…

Kinan melihat ketiga temannya itu. Tampak Ipung sudah sempoyongan, setengah sadar untuk berdiri. Sementara wajah Hasan sudah habis babak belur, dan Rizki yang bersimbah darah memperbaiki rahangnya yang geser.

KINAN (V.O.)
Dan Kinan sadar kemampuan kita ada batasnya kalo tanpa abang.

EXT. JEMBATAN KAMPUNG HILIR. POS RONDA - SIANG. FLASHBACK

Kinan tampak mengajukan sebuah ide ke Ipung, Hasan, dan Rizki yang membuat Mereka tercengang kaget.

Ipung, Hasan, dan Rizki tampak tidak setuju dan berusaha mendebat Kinan. 

KINAN (V.O.)
Makanya Kinan ngajuin buat jadi aparat supaya gak ada lagi yang berani ganggu kampung kita. 

Terlihat Kinan tetap bersikeras berargumen hingga Ipung, Hasan, dan Rizki terdiam. 

KINAN (V.O.)
Jelas awalnya mereka gak setuju sama ide Kinan…

Ipung, Hasan, dan Rizki tampak mondar mandir penuh khawatir. Mereka tampak berpikir keras untuk mencari ide.

KINAN (V.O.)
Tapi kita semua sadar kalau cuma ini satu-satunya pilihan untuk ngelindungin kampung kita.

Ipung, Hasan, dan Rizki membuang muka, merasa kesal. Namun akhirnya mereka semua melihat ke Kinan, lalu mengangguk. Kinan tersenyum lega.

INT. RUSUN KAMPUNG HILIR. LT 2 - SIANG

Kinan bersender di pagar rusun sambil melihat kosong ke depan, larut mengingat masa lalu.

KINAN
Dan karena cuma Kinan yang belum punya catatan kriminal, jadi Kinan yang ngejalanin rencana ini.

Bara masih diam memperhatikan adiknya dengan shock, tidak percaya.

KINAN
Sejak itu, mereka bantu Kinan biar Kinan bisa lulus. Dan setelah setahun dua tahun ikut tes…

Kinan tersenyum kecut sambil melebarkan tangan untuk menunjukkan seragamnya.

Dari pinggir pagar rusun, Kinan melihat ke lantai bawah.

KINAN
Kinan juga ga akan bisa maafin mereka, Bang.
(jeda)
Tapi apa Kinan bakal ngebiarin dendam Kinan ngancurin masa depan kampung kita?

Bara menundukkan kepalanya. Dia terdiam, sadar kalau ini semua juga karena kesalahannya. Namun Bara menggeleng kuat, tatapannya kembali tajam.

BARA
Tapi…

Bara terdiam melihat mata Kinan mulai berkaca-kaca. Bara menghentikan niatnya untuk menyelesaikan kata-katanya. Keadaan sunyi yang canggung kembali terjadi.

Kinan mengelap matanya lalu kembali tersenyum. Dia kemudian berjalan ke pintu Rusun bernomor 209 lalu membuka kuncinyanya. Kinan mempersilahkan Bara masuk.

KINAN
Masuk, bang. Ini rumah kita sekarang.

Bara terdiam. Dia masih memperhatikan adiknya, iba. Namun, Bara kemudian menggeleng lirih.

BARA
Makasih, Nan. Tapi… Abang tetep ga bisa masuk ke rumah aparat.

Bara berbalik pergi, meninggalkan Kinan yang diam memperhatikan kakaknya pergi.

EXT. RUSUN KAMPUNG HILIR - PAGI

ESTABLISH Gedung Rusun Kampung Hilir.

INT. RUSUN KAMPUNG HILIR. WARUNG IPUNG - PAGI

Hasan dan Rizki makan sarapan nasi uduk ditemani Ipung yang merokok. Tampak wajah Ipung terlihat lebam.

Arum datang membawa dua gelas besar teh hangat, lalu meletakannya di depan Hasan dan Rizki.

ARUM
Mas Hasan teh panas, gak pake gula. Yang Mas Rizki, tehnya pake gula sedikit.
HASAN
Makasih, Mbak.

Arum kembali masuk sambil mengelus perutnya sementara Hasan dan Rizki kembali makan, Ipung menghembuskan asap rokoknya ke atas.

IPUNG
Gua… Kemarin berlebihan ga sih ke Bang Bara?

Hasan dan Rizki terdiam. Mereka meletakkan sendok mereka lalu melihat Ipung beberapa saat.

RIZKI
Elu mungkin enggak, tapi… Gua jadi kepikiran. Bang Bara kan habis bertapa bertahun-tahun di gunung. Bisa jadi dia emosi karena shock ngeliat kampung berubah total.

Ipung mengangguk sambil membuang abu rokok.

IPUNG
Harusnya kita nolongin dia.
HASAN
Tapi gimana caranya? Kemarin kita ngejelasin aja dianya batu.

Tak lama, Bara tiba-tiba muncul di depan warung membuat Ipung, Hasan, dan Rizki tersentak kaget. Ipung segera bangkit sambil mematikan puntung rokoknya, Hasan dan Rizki pun ikut bangkit dengan mulut masih penuh nasi. Ketiganya tegang.

Bara mengangkat tangannya, menenangkan ketiga temannya.

BARA
Tenang! Gue ke sini bukan cari masalah.
(Ke Ipung, canggug)
Sorry… Kemarin gue kebawa emosi.

Ipung sedikit tenang.

IPUNG
Duduk, Bang.

Bara tersenyum kemudian duduk di samping Ipung. Ipung, Hasan, dan Rizki pun kembali duduk. Begitu semua duduk, Bara memperhatikan ketiga temannya.

BARA
Kalian… Kenal sama Si Mister Sam?

Hasan, Rizki, dan Ipung saling lihat, lalu menggeleng ke arah Bara.

BARA (O.S.)
Kalian tahu dia darimana? Kenapa dia nolong kalian? Atau… Apa dia pernah dateng ke rusun ini? 

Ketiga teman itu terdiam, lalu kembali menggelengkan kepala. Bara tersenyum mantap.

BARA
Nah itu! Aneh kan, kita gak tahu apa-apa soal orang yang banyak ngebantu kita?

Ipung mengerenyitkan dahi, bingung.

IPUNG
Maksud Abang?

Bara memajukan badannya ke depan meja.

BARA
Gini. Gua bukannya ga bersyukur dia udah bantuin kampung kita. Tapi paling enggak kita harusnya tau dong sama orang yang nolong kita.

Hasan, Rizki, dan Ipung saling lihat, lalu melihat Bara dengan tatapan bingung.

IPUNG
Kita gak paham maksud abang.

Bara mengacungkan jarinya sambil tersenyum.

BARA
Gimana kalo kita selidikin itu bule sampe ke akar-akarnya.

Hasan, Rizki, dan Ipung kompak membuang muka, malas. Bara tersentak kaget melihat reaksi mereka.

BARA
Loh? Kok pada males gitu mukanya? Sini, Sini. Dengerin dulu.

Hasan, Rizki, dan Ipung kembali melihat Bara dengan malas.

BARA
Kalo dia emang orang baik, ya syukur kita bisa berterima kasih… Tapi kalo dia sampe punya maksud terselubung, kita kan bisa siap-siap.

Bara menoleh ke Ipung.

BARA
Gimana, Pung? Masuk akal Kan?

Ipung membuang muka, enggan.

Bara melihat ke arah Hasan dan Rizki yang tampak mengelus-elus leher mereka, enggan.

BARA
San, Ki. Ayolah! Anggap aja kita ngumpul lagi kaya dulu.

Ipung, Hasan, dan Rizki saling lihat. Mereka kemudian menghela nafas.

IPUNG
Ya udah deh, Bang. Terus rencana abang gimana?

Bara tersenyum lebar ke arah teman-temannya.

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar