KEMBALINYA BARA API
1. Bara Api dari Kampung Hilir

EXT. JEMBATAN KAMPUNG HILIR — SIANG

Sebuah Pos ronda usang berdiri tegap dengan papan bertuliskan “POS RONDA KAMPUNG HILIR”. 

Kita kemudian bergeser ke samping, memperlihatkan sebuah jembatan yang cukup lebar di mana terdapat dua kubu saling berhadapan.

Kubu pertama dipimpin UJANG CODET (32), Pria berwajah culas dengan codet di alis kirinya. Dia diikuti 10 PREMAN yang masing-masing membawa balok kayu, pipa besi, bambu, dan botol-botol.

Di kubu lainnya terdapat 4 anak muda asli Kampung Hilir. HASAN (22) si tambun yang sedang memperkuat lilitan ikat pinggang pada gear sepeda, IPUNG (20) si cungkring yang sedang menyalakan rokok, KINAN (18) si tomboy yang sedang memutar-mutar bahu untuk pemanasan, dan RIZKI (22) si jangkung yang memukul-mukulkan balok kayu yang ia pegang ke pundaknya.

Ujang menyungingkan senyum sombong ke 4 anak muda itu.

UJANG CODET
Heh, Pada balik ngaji sono. Kasian enyak babeh lo kalo pada bonyok.

Para Preman di belakang Ujang TERTAWA.

Hasan, Ipung, Kinan, dan Rizki geram. Ketika Ipung membuka mulutnya hendak membalas, terdengar…

BARA (O.S.)
Seharusnya kalian yang pada balik ngaji…

Ke empat anak muda Kampung Hilir itu menengok ke belakang. Di belakang mereka, datang BARA API (25) pemuda gagah berjaket jeans dengan mata penuh semangat.

BARA
Soalnya KITA yang bakal bikin kalian pada bonyok.

Para preman di belakang Ujang Codet menggeram kesal sementara Ujang sendiri tersenyum sinis.

UJANG CODET
Bara Api… Nekat seperti biasa.

Bara balas tersenyum sinis.

BARA
Ujang Codet… Bacot seperti biasa.

Keempat anak muda Kampung Hilir di samping Bara, tersenyum lega sambil melihat Bara.

IPUNG
(Menunjuk Kinan)
Si Kinan bilang, abang ga bisa dateng.

Bara geleng-geleng kepala sambil mengambil rokok yang ada di mulut Ipung, lalu membuangnya ke tanah.

BARA
Ipung. Ipung. Ga mungkin ada hajat gini gua ga dateng. Cuma…

Bara kemudian menepuk-nepuk perutnya sambil melirik tajam ke Kinan. Kinan tetap fokus melihat ke depan.

BARA
Gua ada perlu aja tadi. Kayaknya gara-gara sayur asem tadi KEBANYAKAN bumbu.

Hasan, Ipung, dan Rizki berusaha menahan tawa. Sementara Kinan masih fokus melihat ke depan. 

KINAN
Kalo ga gitu, Abang pasti ga akan ngebolehin Kinan ikut kan?
UJANG CODET (O.S.)
Heh! Bara!

Bara menoleh ke depan. Ujang Codet melihatnya sambil tersenyum sombong.

UJANG CODET
Dah serahin aja kampung lu baek-baek.

EXT. KAMPUNG HILIR — SIANG

Establish Kampung Hilir, kampung kumuh padat penduduk di pinggir sungai. 

Terlihat ke seharian di kampung itu, seperti: IBU yang duduk di depan rumah papannya sambil berjualan gorengan, BAPAK-BAPAK yang duduk bergossip sambil merokok, dan anak-anak yang bermain bola di lorong jalan yang sempit.

UJANG CODET (V.O.)
Kampung lu itu udah ga ada masa depannya. Ga berharga. Buat apa lu jagain ampe sekarang?

EXT. JEMBATAN KAMPUNG HILIR — SIANG

Ujang Codet menunjuk dirinya sambil membusungkan dada. Wajahnya menyunggingkan senyum sok ramah.

UJANG CODET
Jadi mending serahin ke gue. Entar gue yang atur, biar kampung lu bisa ngasilin duit.
(jeda)
Soal bagi hasil, gampang lah. Lu- lu semua bakal kecipratan hasilnya kok.

Bara tersenyum sinis.

BARA
Heh. Kalo emang ga berharga, ngapain lu ngotot ngambil wilayah gue?

Senyum Ujang Codet menghilang. Dia kembali berdiri tegap lalu merentangkan tangan, menyombongkan sepuluh preman yang berdiri di belakangnya.

UJANG CODET
Bar! Lu gak liat orang yang gua bawa? Gua barusan ngajak lu baek-baek, tapi kalo lu mau pake cara yang satunya lagi…

Bara menyunggingkan senyum.

BARA
Justru itu yang gue tunggu.

Dengan semangat, Bara maju menyerang disusul Ipung, Hasan, dan Rizki. Ipung menunjuk ke Kiri.

IPUNG
Hasan lu sana!

Hasan mengangguk lalu berlari ke Kiri, sementara Ipung menunjuk ke Kanan.

IPUNG
Rizki lu situ!

Rizki berlari ke Kanan.

Mereka berpencar, Kinan yang terlambat sadar segera menyusul mereka.

INSTRUMEN MUSIK METAL mulai terdengar. Ujang Codet kaget melihat Bara dan teman-temannya datang menyerang. Sehingga bogem dari Bara pun tidak sempat ia tangkis dan mendarat di wajahnya. 

Sementara itu, ke empat anak muda Kampung Hilir yang lain mulai menyerang Preman-preman bawahan Ujang Codet.

BARA, IPUNG, HASAN, RIZKI
HEEEAAAA!!! Hahaha!

Perkelahian yang kasar terjadi di tengah dentuman INSTRUMEN METAL. Meski kalah jumlah, Bara, Ipung, Hasan, Rizki, dan Kinan dengan brutal meninju, menendang, dan bahkan melempar preman-preman yang menyerang mereka. 

Sesekali salah satu dari mereka di keroyok para preman, tapi kemudian yang lain segera menyerang kerumunan preman itu untuk menyelamatkan teman mereka.

Ke lima anak muda Kampung Hilir itu terus bertarung hingga layar menghitam. 

Di tengah kegelapan itu, INSTRUMEN MUSIK METAL perlahan transisi ke INSTRUMEN SULING dan KENDANG DANGDUT dengan suara kecil.

EXT. JALAN — SIANG

Bersamaan dengan SULING dan KENDANG DANGDUT tadi, Tampak dari kejauhan sebuah metromini datang mendekat. INSTRUMEN SULING DAN KENDANG DANGDUT terdengar semakin keras mengikuti metromini yang datang semakin dekat.

Begitu Metromini berhenti, sepasang kaki pria bersepatu boots turun dari Metromini. MUSIK DANGDUT pun mengecil, berganti dengan suara host radio.

HOST RADIO (V.O. RADIO)
Itu tadi lagu ‘Sepuluh tahun Lalu’…

Ketika kita melihat ke atas, Pria bersepatu boots itu adalah BARA (35), yang rambutnya mulai sedikit beruban, masih mengenakan jaket jeans lamanya, terlihat tetap gagah, dan penuh semangat.

Dia tersenyum lalu memperbaiki letak ranselnya yang digantung di bahu kanannya.

HOST RADIO (V.O. RADIO)
Rekwes dari bang BARA API.

Bara mulai berjalan menuju jembatan.

EXT. JEMBATAN KAMPUNG HILIR — SIANG

Bara berjalan melewati jembatan. Dia berpapasan dengan EMPAT ORANG PEMUDA dan SEORANG PEMUDI, yang membuatnya tersenyum.

HOST RADIO (V.O. RADIO)
Dia titip salam buat Kinan, Ipung, Hasan, dan Rizki di Kampung Hilir.

Dia kemudian lanjut melewati jembatan itu.

HOST RADIO (V.O. RADIO)
Dia bilang, gua balik!

EXT. DEPAN RUSUN KAMPUNG HILIR — SIANG

Bara melongok diam.

HOST RADIO (V.O. RADIO)
Dan mulai sekarang…

Di depannya, berdiri rumah susun bersih yang terlihat baru selesai dibangun. Terdapat plang bertuliskan “RUSUN KAMPUNG HILIR” di samping Bara yang terdiam.

HOST RADIO (V.O. RADIO)
Gak akan ada lagi yang berani ganggu Kampung Hilir.

Bara menjatuhkan tas ranselnya. MUSIK DANGDUT berhenti.

Muncul TITLE PAGE: KEMBALINYA BARA API

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar