KEMBALINYA BARA API
2. 10 Tahun Kemudian

EXT. DEPAN RUSUN KAMPUNG HILIR — SIANG

Bara berjalan masuk rusun sambil melongok, tidak percaya. Dengan cuek, dia melewati ruang satpam kosong yang berada di depan gerbang rusun.

EXT. RUSUN KAMPUNG HILIR. LT DASAR — SIANG

Bara terus berjalan sambil melihat lantai dasar Rusun yang dipenuhi WARGA-WARGA yang berjualan dan berbelanja. Tampak PEDAGANG-PEDAGANG berjualan dengan meja-meja kayu seadanya ataupun meja stand yang masih baru. 

Mereka menjual berbagai macam hal. Mulai dari berjualan sayur-sayuran, warung kelontong, sampai tempat makan seperti tukang nasi uduk, warteg, dan gerobak mie ayam.

Bara masih melongo melihat keadaan itu.

KINAN (V.O.)
Bang…

EXT. KAMPUNG HILIR. LORONG — SIANG. FLASHBACK

Bara (25), yang babak belur, menengok ke belakang.

Di belakangnya, tampak Ipung (20), Hasan (22), Rizki (22), dan Kinan (18) yang juga babak belur mengikutinya. Tampak mereka sedang berdiri di depan sebuah tukang gorengan, sementara PENJUAL GORENGAN menghitung lalu menyodorkan beberapa lembar 10 ribuan pada Bara.

KINAN
Kenapa sih kampung kita diincer terus?

Bara dan yang lain tengah berada di gang sempit Kampung Hilir. Di sekitar mereka terdapat beberapa beranda rumah yang saling berdempetan dan disulap menjadi warung seadanya. Mulai dari berjualan sayur, toko kelontong, ataupun warteg.

Bara mengambil uang yang disodorkan Penjual Gorengan. Dia dan yang lain kemudian pindah menagih Penjual Sayur yang berada di sebelah Penjual Gorengan.

KINAN
Kayak Si Mang Ujang bilang, ini kampung ga ada bagus-bagusnya, tapi kenapa banyak yang ngincer?

Bara berhenti menagih lalu menengok Kinan dengan malas.

BARA
Ini nih alesan gua males ngajak lu. Kagak tau apa-apa tapi ingin ikut-ikutan.

Kinan tersentak marah sementara yang lain TERTAWA.

Bara lanjut menagih meninggalkan teman-temannya. Ipung dan yang lain berhenti sebentar sambil menengok ke Kinan.

IPUNG
Jelek-jelek begini, lokasi kampung ini strategis, Nan. Kalo mau, kampung ini bisa Abang lo jual ke penggede buat dijadiin ladang duit.

Kinan garuk-garuk kepala bingung.

KINAN
Lah? Terus kenapa gak dijual aja?

Hasan tersenyum ke arah Kinan.

HASAN
Kalo dijual, terus orang-orang yang tinggal di sini mau ke mana, Nan?
(jeda)
Banyak yang tertarik sama tempat ini, tapi gak ada yang mau bayar ganti rugi warga sini. Makanya abang lu berantem terus ngusirin orang yang mau ngerebut.

Kinan terdiam. Matanya melongok, tidak percaya.

KINAN
Kinan kira... Kalian cuma asik-asikan doang.

Rizki tertawa.

RIZKI
Kalo si Hasan sih, iya. Tapi dia cupu.
HASAN
Sialan lo!

Hasan langsung mempiting Rizki. Rizki berusaha melepaskan diri dengan berusaha mencolok hidung Hasan. Ipung berusaha melerai sementara Bara yang menengok ke belakang langsung geleng-geleng.

BARA
Kalian ini... Bukannya ngajak.

Bara langsung ikut bergulat dengan Hasan dan Rizki sambil tertawa-tawa, sementara Ipung bersorak penuh semangat.

IPUNG
Cekek, San! Cekek!

Kinan melihat Bara dan yang lain dengan tatapan iba.

KINAN
Tapi… Kalian jadi harus berantem terus tiap hari.

Bara, Rizki, Ipung, dan Hasan terdiam melihat Kinan.

Bara kemudian memperhatikan adiknya itu. Tampak Kinan penuh luka dan bajunya kotor dengan tanah. 

Dia kemudian melirik teman-temannya yang juga penuh luka dan noda kotor dimana-mana.

Bara memejamkan matanya beberapa saat, lalu menghela nafas.

BARA
Ipung, Hasan, Rizki, Kinan.

Ipung, Hasan, Rizki, dan Kinan menengok ke Bara. Mereka terlihat kebingungan melihat Bara memandang mereka semua dengan tatapan serius.

BARA
Gue... Punya cara biar kampung kita ga diserang lagi.

Ipung, Hasan, Rizki, dan Kinan tersentak kaget. Mereka segera mendekat ke arah Bara dengan tatapan antusias. Ipung yang terlihat paling antusias.

IPUNG
Oh ya? Gimana, Bang?

Bara tersenyum sambil mengeluarkan sebuah gulungan kuno.

BARA (V.O.)
Gue nemu rahasia kesaktian Abah gua dulu.

EXT. JALAN PINTU GUNUNG ADIL — SIANG

Sebuah Metromini berhenti, sepasang kaki pemuda bersepatu boots turun dari Metromini.

Ketika kita melihat ke atas, Pemuda bersepatu boots itu ternyata Bara yang menggendong tas di bahu kanannya dan mengenakan jaket jeans lamanya, terlihat gagah, dan penuh semangat.

BARA (V.O.)
Kalau gua bisa sesakti abah gua dulu, gak akan ada lagi yang berani nyerang kampung kita.

Bara melihat ke depan, dimana di depannya terdapat jalan setapak penuh semak belukar yang menuju ke arah gunung.

Bara menarik nafas. Lalu dengan penuh percaya diri, dia berjalan masuk jalan setapak hutan itu.

BARA (V.O.)
Jadi, tolong kasih gua waktu…

EXT. RUSUN KAMPUNG HILIR. LT DASAR — SIANG

Kembali ke masa sekarang, Bara masih melongo sambil berjalan memperhatikan warung-warung di lantai dasar, membuat BEBERAPA WARGA memperhatikannya dan salah satu dari mereka berlari pergi. 

BARA (V.O.)
Begitu gua balik, gua janji gak akan ada lagi yang berani buat ngubah kampung kita.

Bara celingak-celinguk memperhatikan warung satu persatu, membuat warga yang dilewatinya berbisik-bisik curiga. Namun Bara tidak mempedulikannya sama sekali. Dia terlalu tenggelam dalam perasaan bingungnya.

IPUNG (O.S.)
Bang Bara?

Bara menengok. Dia kaget melihat SEORANG SATPAM paruh baya cungkring memperhatikannya dengan seksama. Di samping Satpam itu, terdapat warga yang tadi berlari pergi.

Satpam mendekat sambil memperhatikan Bara dengan seksama, begitu pun Bara. Bara balas memicingkan mata, berusaha mengingat-ingat sang Satpam.

Sang satpam tiba-tiba tersenyum lebar lalu menepuk pundak Bara dengan begitu semangat.

IPUNG
Bang Bara! Abang pulang juga?

Bara semakin memicingkan matanya sambil menunjuk Pria itu dengan heran.

BARA
Ipung?

Satpam cungkring itu, Ipung (30), mengangguk mantap.

EXT. RUSUN KAMPUNG HILIR. WARUNG IPUNG — SIANG

TANGAN ARUM meletakkan segelas kopi yang masih mengeluarkan uap panas di atas meja.

ARUM
Diminum, Bang.

Ipung, yang duduk di seberang Bara, tersenyum ke arah Bara sambil melingkarkan tangannya ke pinggang ARUM (32), istrinya, yang tengah hamil tua.

IPUNG
Kenalin bang, Arum, Istri gue. Lagi isi anak pertama die.

Bara tersenyum ke arah Arum, yang langsung dibalas dengan anggukan kecil. Arum pun kembali ke dalam.

Bara segera meneguk kopinya cepat-cepat, seolah tidak merasa panas meskipun asap masih mengepul dari gelas itu. Sementara itu Ipung hanya berdecak kagum melihat Bara.

IPUNG
Gila… Sepuluh tahun ilang, pulang-pulang jadi kayak gini. Lu kemana aja sih Bang selama ini?
(Berbisik ke Bara)
Denger-denger, abang dijadiin makanan singa sama jendral.

Begitu beres menghabiskan kopinya, Bara segera memajukan badannya ke arah Ipung.

BARA
Eh, Pung! Ini… Kenapa kampung kita berubah gini?

Ipung tersentak kaget.

IPUNG
Hah?

Bara menunjuk ke sekeliling.

BARA
Ini! Kenapa tiba-tiba kampung kita jadi gedong begini? Orang-orang juga pada beda. Terus…
(menunjuk ke Ipung)
Kenapa elu jadi pake baju hansip begitu.

Ipung tersentak kaget lalu menunjukkan seragamnya ke Bara.

IPUNG
Enak aja hansip. Satpam nih, Bang. Head of Security!
BARA
Ah! Gua ga peduli namanya apaan. Ini kenapa jadi pada berubah gini sih?

Ipung terdiam beberapa saat, enggan mengatakan sesuatu.

IPUNG
(canggung)
Kampung kita… Beberapa taun lalu direnov, Bang. Baru kemaren-kemaren diresmiin.
BARA
Ya tapi kenapa musti direnov segala? Gaya banget ampe renov-renovan.

Ipung kembali terdiam. Dia sedikit menunduk, sayu.

IPUNG
Dulu... kampung kita sempet kebakar Bang. Semua abis.

Bara langsung bangkit sambil membelalakan mata, membuat Ipung terlonjak kaget.

BARA
(kaget)
HAH?! Yang lain gimana?! 
IPUNG
Alhamdulilah… Ga ada korban. Semua selamat.

Bara kembali duduk sambil bernafas lega, pundaknya kembali lemas. Ipung pun ikut bernafas lega.

BARA
Kasih tau, Pung…

Ipung melihat ke arah Bara dengan heran. Dia kaget melihat Bara menatap balik dirinya dengan tatapan tajam dan penuh amarah.

BARA
Siapa yang berani ngebakar kampung kita?

Ipung terdiam, kaget. Dia kemudian melihat Bara bangkit sembari melipat lengan jaketnya ke atas, lalu mulai berjalan pergi. Ipung pun segera bangkit menenangkan Bara.

IPUNG
Ga ada yang ngebakar kampung kita, Bang. Cuma konslet biasa. Abang tau sendiri warga sini dulu pada nyambung listrik.

Bara menggeleng tidak percaya.

BARA
Enggak, Pung! Gak mungkin cuma kecelakaan. Pasti ada yang ngerencanain! Pasti itu ulah orang-orang yang ngincer kampung kita!

Bara melihat sekeliling. Ketika dia melihat langit-langit, dia langsung mengerenyitkan mata, curiga. Bara menengok ke Ipung sambil menunjuk ke lantai.

BARA
Pung, kantor kontraktor rusun ini dimana?
IPUNG
Deket halte depan. Emang kenapa, Bang?

Bara tidak menjawab. Dia hanya menggeram dan berjalan pergi. Ipung mengerenyitkan dahi, bingung. Namun tiba-tiba dia membelalakan mata, Sadar maksud Bara.

IPUNG
Bang! Bang! Tunggu, Bang. Ga mungkin mereka yang bakar.
BARA
Ga mungkin gimana? Jelas-jelas kampung kita dibakar biar gedung ini dibangun.

Ipung segera berlari ke depan Bara untuk menghalanginya.

IPUNG
Kalo memang mereka yang bakar kampung kita, emang apa untungnya buat mereka? Selama ini mereka selalu baik ama kita.

Bara mendengus. 

BARA
Mungkin sekarang masih baik, tapi apa lu yakin mereka gak punya maksud lain? 

Ipung terdiam. Dilema.

BARA
Udah jangan gampang percaya, Pung! Semuanya cuma kedok buat ngambil tanah kita!
IPUNG
Tapi ga ada yang mau ngambil tanah kita, bang! Zaman udah berubah. Tanah kita udah ga se strategis dulu.

Bara menghela nafas malas, lalu melihat Ipung.

BARA
Lu... Kenapa dari tadi nyari alasan mulu sih? Takut ngelawan mereka?

Bara memukul dadanya dengan bangga.

BARA
Tenang, Pung! Sepuluh tahun gua bertapa di Gunung Adil! Sekarang ga akan ada lagi di dunia ini yang bisa nyaingin gua!

Ipung mengerenyitkan dahi, khawatir. Dia hanya terdiam melihat Bara berjalan pergi dengan penuh percaya diri.

MUSIK METAL kembali terdengar.

I/E. KANTOR KONTRAKTOR — SIANG

Di luar kantor, terlihat papan perusahaan "Kontraktor SURYA ADHI MANDIRI" diiringi MUSIK METAL.

Di dalam kantor, MUSIK METAL itu langsung berhenti ketika seorang SECURITY MUDA terlempar ke tembok dan terjatuh hingga tak sadarkan diri.

Ketika dilihat dari jauh, tampak Bara berdiri santai dengan LIMA SECURITY BERBADAN BESAR bergeletakan di bawahnya sambil MENGERANG KESAKITAN. Di samping Bara, Ipung hanya melongo takjub, tidak percaya.

BARA
Yah… Belum ngapa-ngapain, udah pada keok.
(ke Ipung. Bangga)
Gimana, Pung? Kesaktian Gunung Adil? Ini baru samplenya.

Ipung masih melongo tidak bisa berkata apa-apa. Bara langsung menghela nafas.

BARA
Ah! Elu... Ditanya malah planga plongo.

Bara yang kecewa berjalan masuk. Ipung yang tersadar langsung mengejar Bara dengan canggung.

IPUNG
Eh, Bang! Tunggu!

INT. KANTOR KONTRAKTOR. DEPAN RUANGAN SAM — SIANG

Ipung berusaha mengejar Bara yang berjalan cepat.

IPUNG
Bang, terus rencana abang apaan kalo udah ketemu?

Bara tersenyum sambil mengepal-ngepalkan tinjunya.

BARA
Gua ajak mereka ngobrol baik-baik buat ngelepasin kampung kita. 

Begitu Bara dan Ipung sampai di depan pintu ruangan Boss, SHERYL (27), Sekretaris cantik tapi berekspresi kaku dan dingin, bangkit dari mejanya dan segera berdiri di depan Bara.

SHERYL
Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?
BARA
Gua mau ketemu Boss, lu!

Bara terus berjalan, tidak mempedulikan Sheryl. Namun Sheryl kembali menghadang Bara.

SHERYL
Apa bapak sudah ada janji sebelumnya?

Bara diam melihat Sheryl yang membuka notes kecil. Sheryl kemudian balas melihat Bara.

INT. KANTOR KONTRAKTOR. RUANGAN SAM — SIANG

Pintu ruangan Boss terbuka keras karena ditendang Bara. Bara kemudian masuk sambil berteriak. 

BARA
Heh! Bangsat! Keluar lu?

Bara memindai seluruh ruangan, tapi ruangan itu kosong. Hanya berisi meja, lemari dokumen, dan kursi tamu.

Sheryl dan Ipung mengejar Bara masuk ke ruangan Sam. Bara langsung menunjuk Sheryl.

BARA
Heh! Dimana Boss lu?
SHERYL
Maaf, Pak. Hari ini kebetulan beliau sedang ada jadwal di luar. Apa bapak mau meninggalkan pesan? Atau bapak ingin dibuatkan janji untuk bertemu?

Bara menggeram kesal lalu menyapu barang-barang di atas meja.

BARA
Ah!
IPUNG
Bang, kita pulang aja ya. Gak guna juga kita nunggu di sini.

Bara menggeleng.

BARA
Gak! Gue gak akan balik sebelum ketemu sama dia.

Bara duduk di kursi Boss lalu mengangkat kakinya ke atas meja.

BARA
Gua tunggu dia di sini sampai dia dateng!

Ipung garuk-garuk kepala bingung melihat aksi Bara, sementara Bara melihat sekeliling sambil memutar kursinya.

Pandangan Bara berhenti di bingkai foto di atas meja. Dia kemudian mengangkat foto itu.

Foto itu ternyata foto sang kontraktor, SAM (30), berkulit putih dengan rambut putih pirang, sedang berdiri di depan Kantor Kontraktornya sambil mengacungkan jempol. 

SHERYL
Bapak, silahkan tunggu di sini, tapi... Saya tidak sarankan, karena mau ditunggu sampai kapanpun, Bapak tidak akan bisa bertemu Pak Boss.

Bara melihat Sheryl dengan tatapan tajam.

BARA
APA LU BILANG?!

Bara bangkit dari kursinya, lalu mencengkram kerah Sheryl. Ipung yang melihat kejadian itu langsung berusaha menarik tangan Bara untuk melepaskan Sheryl. Namun Sheryl tidak sedikitpun terlihat takut.

BARA
Kenapa? Gua ga bisa ketemu karena gue bukan orang penting? Bukan pejabat gitu?
SHERYL
Bukan, Pak. Siapapun anda, jika belum membuat janji… Tidak akan bisa bertemu Pak Boss.
IPUNG
Udah bang, lepasin.

Bara akhirnya melepaskan Sheryl. Dengan kesal, dia kemudian merebut buku notes yang sedari tadi di pegang Sheryl.

BARA
Sini!

Bara membuka halaman demi halaman buku itu dengan cepat. Tampak ekspresinya semakin lama semakin kesal. Dia kemudian menunjukkan isi buku itu ke Sheryl.

BARA
(penuh amarah)
APAAN NIH?! Maksud lu gua harus nunggu setahun buat ketemu dia.
SHERYL
Iya, Pak. Kebetulan jadwal beliau sangat penuh sampai tahun depan.

Bara membanting buku itu keras-keras ke tanah. Lalu menunjuk Sheryl dengan emosi.

BARA
Lu sengaja hah?! Lu main-main ama gua?!
SHERYL
Saya tidak bermaksud mempermainkan anda. Mau bapak mengancam saya ataupun menghancurkan kantor ini, bapak tetap harus memiliki janji untuk bertemu bapak boss.

Bara menggeram. Tangannya mengepal kuat-kuat hingga bergetar hebat.

BARA
AAAARGH!

Bara memukul meja hingga meja itu terbelah. Ipung yang sedari tadi berusaha menenangkan langsung terdiam mundur.

Nafas Bara naik turun, setelah meluapkan emosinya. Dia melihat ke salah satu ujung atas ruangan sambil menggeram. Bara menunjuk ke sana, ke CCTV.

BARA
Heh! Bangsat! Dengerin kata-kata gua! Gua gak bakalan bikin janji buat ketemu elo!
(jeda)
Gua bakal nguber elu sampe ketemu. dan gue! Bara Api dari Kampung hilir, bakal ngambil balik kampung gue dari elu! 

Bara mendengus lalu pergi keluar ruangan di susul Ipung yang mengangguk kecil pada Sheryl. Mereka meninggalkan ruangan itu sementara CCTV terus merekam.

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar