Daun Emas
9. Bagian #9

91. INT. APARTEMEN CARLA - SORE

Carla pergi keluar lalu mengetuk sebuah pintu lain di depan apartemen tempatnya tinggal. Pintu itu adalah apartemen yang ditinggali oleh ali.

CARLA

Ali. Ali apa kamu ada di dalam?

Ali membuka pintu.

ALI

Iya kak ada apa?

CARLA

Makan yuk aku yang traktir.

Ali menghela nafas sedangkan Carla hanya melihat ali yang sedang kelelahan.

CARLA

Habis dimana kayaknya capek gitu.

ALI

Dari Indonesia baru pulang tadi siang. Udah ya kak aku mau istirahat.

Ali hendak menutup pintunya namun ditahan oleh carla.

CARLA

Tunggu dong kok gitu, ayok keluar sekali saja nanti aku masakin makan malam buatmu ya.

ALI

Terimakasih tapi nggak maaf ya.

CARLA

Palingan kau akan makan mie istan lagi kan.

Ali Hanya tersenyum.

CARLA

Jangan sering makan itu gak baik. Percuma kan kamu udah pulang tapi malah sakit. Kerjaanku bakal numpuk.

ALI

Iya iya jadi mau gimana.

CARLA

Malam nanti kita makan bersama ya sudah lama aku nggak makan sama asisten ku ini.

ALI

Iya boleh kalau gitu sampai jumpa.

CARLA

Tunggu dulu anterin, banyak barang yang harus dibeli.

Ali hanya diam mendengarnya.

CARLA

Kok diam.

ALI

Ya udah aku siap siap dulu.

CARLA

Nah gitu dong.

92. EXT. PUSAT KOTA KOREA SELATAN - CONTINUOUS

Ali menemani Carla berbelanja bahan makanan miliknya. Di perjalanan ke toko mereka tampak asik berbincang.

Beberapa kali carla sempat tertawa dan tersenyum di dekat ali saat mengobrol dengannya.

93. INT. BANDARA KOREA SELATAN - CONTINUOUS

Amira yang baru sampai di bandara langsung melihat ponselnya. Mencari alamat ke apartemen tempat Carla berada. Amira kemudian berjalan keluar.

94. INT. TOKO SWALAYAN KOREA - CONTINUOUS

Carla tampak serius memilih bahan bahan yang cocok untuk di makan oleh ali. Wajah carla cukup bersemangat memilih belanjanya dengan menunjukannya setiap bahan makanan pada ali.

CARLA

Kalau yang ini gimana.

ALI

Boleh.

95. EXT. PUSAT KOTA KOREA SELATAN - CONTINUOUS

Amira keluar dari taksi yang dia naiki, kemudian berjalan menyusuri trotoar pejalan kaki yang ada.

96. INT. APARTEMEN CARLA - CONTINUOUS

Carla memasak sebuah makanan yang dapat ali makan. Ali menyiapkan meja makan untuk meletakkan makanan yang akan mereka makan.

ALI

Udah aku siap mejanya.

CARLA

Iya terimakasih, kerja bagus.

97. INT. APARTEMEN - CONTINUOUS

Amira keluar dari lift lalu berjalan kaki menyusuri lorong apartemen tempat carla tinggal. Amira kini berada tepat di depan pintu lalu mengetuk pintu apartemen kakaknya.

98. INT. APARTEMEN CARLA - LATER

Carla yang baru menyiapkan makanan di meja makan langsung berjalan ke pintu depan dengan semangat. Ali menghiraukan tingkah Carla dan memainkan ponselnya.

99. INT. APARTEMEN CARLA - CONTINUOUS

Amira membuka pintu dan melihat Kakaknya carla. Carla tersenyum melihat adiknya datang menemuinya dan langsung mengajaknya masuk kedalam.

CARLA

Ayok masuk.

AMIRA

Iya.

Amira terkejut saat melihat ada seorang pemuda di rumah kakaknya carla.

AMIRA

Kapan kau nikah kok aku nggak tahu.

CARLA

Nikah, apa maksudmu?

AMIRA

Lelaki itu siapa dong.

Carla hanya tersenyum, Ali yang mendengar seseorang berbicara langsung menoleh ke arah carla dan amira.

100. INT. APARTEMEN CARLA - CONTINUOUS

Amira terkejut melihat ali yang ada di depannya, penampilan ali cukup berbeda dari sebelumnya. Rambutnya sedikit panjang dari biasanya dan kali ini dia lebih bugar tidak kurus seperti dulu.

AMIRA

Ali apa kamu ali.

ALI

(mengangguk pelan)

Iya, kamu amira ya penampilanmu berubah, sejak kapan.

AMIRA

Alhamdulillah sudah lama kok, menurutmu gimana.

ALI

Cocok, sesuai denganmu.

Amira tersenyum lalu Carla langsung mengajaknya duduk untuk makan.

CARLA

Udah ya, kita makan yuk.

AMIRA

Tunggu kan tapi.

CARLA

Udah makan aja kakak dan Ali yang membuatnya.

ALI

(Ali tertawa)

Bukankah kau yang masak kak, itu bohong namanya.

CARLA

Sama saja kan toh kamu yang memeriksa ulang bahan yang ku beli.

Amira hanya melihat dan mendengarkan obrolan mereka dengan ekspresi menahan rasa sedihnya.

101. INT. APARTEMEN CARLA - KAMAR

Amira mengobrol dengan carla sambil tiduran di kasur yang sama terkait kegiatan ali di Korea beberapa hari terakhir sebelum tidur.

AMIRA

Kak apa ali baik baik saja bekerja di sini.

CARLA

Iya, baik baik saja. Malahan dia disukai oleh semua orang di kampus loh.

AMIRA

Dia populer di sini?

CARLA

Nggak cuman para mahasiswa menyukai cara ali mengajar.

Amira hanya diam.

CARLA

Emang kenapa amira kamu bertanya seperti itu?

AMIRA

Penasaran saja.

CARLA

Kamu ke korea bukan hanya untuk liburan dan menemui aku saja kan.

AMIRA

(Tersinggung cemburu )

Itu bukan hal yang harus kakak ketahui, terserah aku kan apa kakak tidak suka aku kesini.

CARLA

Kamu tidak berubah ya.

Amira bangun dari kasur kakaknya.

AMIRA

Tunggu maksud kakak apa?

CARLA

Tatapan matamu hari ini itu sama saat seperti saat kamu menatapku di hari wisudamu.

AMIRA

Kapan?

CARLA

Saat kita di foto, kamu melihatku kan padahal aku nggak akan merebutnya darimu loh.

Amira hanya diam.

CARLA

Tapi, jika kamu nggak jujur padanya biar dia jadi milik kakak saja, kakak merasa dia pria yang paling baik dari semua pria yang aku temui. Ya walaupun sikapnya nyebelin sih, tapi aku suka sikapnya itu.

AMIRA

Jadi sudah sejauh mana kakak menyukainya.

CARLA

Entahlah, ternyata perasaan manusia itu rumit ya.

Amira kemudian membaringkan tubuhnya kembali.

CARLA

Maaf.

Amira menghiraukan ucapan maaf Kakaknya namun memeluk carla erat dan membisikkan sesuatu.

AMIRA

Aku yang akan mendapatkannya.

CARLA

(Tersenyum)

Baguslah, ini baru adikku Amira.

102. EXT. KAMPUS KOREA - LINGKUNGAN KAMPUS - SIANG

Ali sedang duduk di taman sambil mengerjakan suatu hal terkait pekerjaannya sebagai dosen kontrak di kampus. Di tengah kesibukannya Amira mendatangi Ali dan duduk si sampingnya

AMIRA

Ada waktu luang nggak.

ALI

Ada sebenernya sekarang juga luang, emang ada apa.

AMIRA

Bisa ajak aku berkeliling di kota ini setidaknya ke tempat yang pernah kamu kunjungi.

ALI

Banyak tempatnya, toh aku sudah disini lebih dari dua tahun.

AMIRA

Kalau gitu ajak aku ke semua tempat itu.

ALI

Kalau hari ini nggak bisa.

AMIRA

(Kecewa)

Kenapa?

ALI

Aku harus segera menyelesaikan semua pekerjaanku sebagai dosen di sini terlebih masih banyak hal yang harus kulakukan, kenapa kamu tidak meminta kakakmu bukannya sekarang dia nggak ada jadwal mengajar.

AMIRA

Nggak bisa, aku hanya ingin kamu, terlebih malam ini aku harus pulang lagi.

ALI

Begitu ya, sikapmu sama sekali tidak berubah ya saat kita terakhir bertemu.

Amira hanya tertawa.

ALI

Jadi kamu mau kemana?

AMIRA

Aku teringat satu tempat dalam foto kakakku, bisa kamu membawaku ke sana juga, aku ingin mengambil satu foto ditempat itu.

Amira membiarkan ali melihat foto di ponselnya.

103. EXT. KAMPUS KOREA - LINGKUNGAN KAMPUS - CONTINUOUS

Ali cukup terkejut dengan apa yang dilihat dari ponselnya. Ali hanya tersenyum lalu mengajak Amira pergi ke taman itu.

ALI

Tempat itu ya, akan ku antar.

AMIRA

Terimakasih, nanti tolong ambil satu foto untukku ya.

104. EXT. PERKOTAAN KOREA - LATER

Ali dan amira bergegas menuju taman itu. Sebuah taman yang pernah ali kunjungi bersama carla. Di sepanjang perjalanan amira aktif berbincang dengan ali. Mereka terlihat menikmati obrolannya.

AMIRA

Bagaimana pekerjaan mu di sini tadi terlihat cukup sibuk ya.

ALI

Alhamdulillah aku masih bisa mengaturnya.

AMIRA

Maaf ya membuatmu menemaniku di hari sibukmu.

105. EXT. NAMI ISLAND - TAMAN - SORE

Ali berjalan jalan bersama amira obrolan di perjalanan amira teruskan di taman itu. Sambil berjalan ke tempat foto itu amira berjalan di samping ali sampai tiba di lokasi foto itu Amira melangkah lebih cepat di depan ali.

AMIRA

Apa kau tahu, aku sudah lama ingin pergi ketempat ini.

ALI

Begitu ya.

AMIRA

Iya, tempat ini seperti negri dongeng yang ada di setiap cerita, aku menyukainya.

Ali hanya diam.

AMIRA

Dulu aku pernah bermimpi loh. Melihat seseorang di tempat ini. Dan anehnya lagi mimpi itu serasa nyata bagiku.

ALI

Mimpi ya, bukankah itu aneh.

AMIRA

Aneh, kurasa tidak. Setidaknya mimpi itu memberikan ku sebuah alasan untuk terus mencari jawabnya.

ALI

Apa kau sudah mendapatkannya.

Amira tersenyum, lalu mengambil satu buah kamera dari tasnya dan memegangnya di kedua tangannya.

Amira berlari menuju ke tempat di depan sana. Berdiri di dekat satu pohon ginko lainnya.

AMIRA

Ali bisakah kamu memotretku. Pakai ponselmu ya.

ALI

Lalu kamu membawa kamera untuk apa.

Amira tersenyum lalu memotret ali diterpa oleh beberapa daun ginko yang berguguran.

AMIRA

Memotretmu ali.

ALI

Memotretku tapi kenapa?

AMIRA

Agar aku bisa terus melihatmu walau aku sudah pulang.

ALI

Apa sampai segitunya ya.

Ali berjalan menghampiri amira. Satu hembusan angin membuat beberapa daun ginko gugur kembali. Amira mengangkat tangannya dan mengambil satu daun yang akan jatuh.

Ali yang melihat itu berhenti seketika teringat akan mimpi yang dia alami dulu.

AMIRA

Apakah kamu ingat daun ini. Bukankah daun ini mirip denganmu ali.

ALI

Entahlah aku sudah lama tak melihat sosok itu.

AMIRA

Apakah dia sangat berarti bagimu ali?

Ali hanya diam.

AMIRA

Aku ingin menjadikan daun ini milikku seutuhnya. Apa kamu menerimanya.

ALI

Kenapa kamu tertarik pada daun yang sudah jatuh. Bukankan daun yang masih ada pada dahan pohonnya lebih indah.

AMIRA

Aku tahu seberapa besar pengorbanan yang daun ini berikan pada pohon tempatnya hidup. Aku juga tahu seberapa besar rasa sabar daun ini.

ALI

Jadi kenapa Amira ...

Ali mulai melihat pada amira dengan sedih

AMIRA

Apa kamu masih belum mengerti juga, aku menyukaimu tak bisakah kamu menerima perasaanku Saat ini.

ALI

Jadi begitu ya, kenapa malah jauh jauh datang ke sini untuk mengatakan itu.

AMIRA

Entahlah perasaan itu rumit, aku tidak bisa menyangkalnya. Ini usahaku untuk mendapatkan apa yang aku inginkan kumohon mengertilah.

Ali hanya tersenyum melihat amira.

ALI

Aku mau tanya sekali lagi.

Amira melihat ali dengan serius.

ALI

Apa kau yakin ingin bersamaku.

AMIRA

Apa kehadiranku di depanmu itu tak bisa membuktikan keseriusanku ini.

ALI

Aku tidak menyangkanya mira.

AMIRA

Aku juga, bisakah aku mulai egois sekarang.

Ali tertawa lalu berjalan mendekati Amira.

ALI

Bukankah dari dulu kamu emang egois.

AMIRA

Biarin, jadi kapan kita nikah.

ALI

Kok langsung ke sana.

AMIRA

Bukannya kamu sudah mengizinkanku untuk egois.

ALI

Ya tapi kan nggak gitu juga, aku belum memikirkan sampai ke sana.

AMIRA

Ya sudah, tak usah kau pikirkan sendiri kini kamu memilikiku.


Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar