Calon Suami Akhir Zaman
15. Bertemu lagi

SCENE 24 INT, KANTOR SANJAYA KOPERATION, SORE

CU : Jam dinding menunjukkan pukul 5 sore.

Karyawan kantor terlihat menghilang satu persatu karena sudah jam pulang kantor. Dan hanya tersisa beberapa saja yang terpaksa lembur.

INTER CUT

Ruang pentri

Tampak Prasetio sedang mencuci gelas kotor di wastafel. Aska membantunya menelungkup kan gelas-gelas yang sudah di cuci.

Prasetio mematikan keran, bertepatan dengan suara azan yang terdengar berkumandang.

Prasetio : "Alhamndulillah." Ucapnya ketika mendengar suara azan.

Prasetio cont'd : "Sudah azan, mau ikut bapak enggak shalat jama'ah di masjid dekat sini?" Tawarnya pada Aska.

Aska sontak terdiam. Wajahnya seperti terenyuh, selama ini ia menyadari tidak pernah melaksanakan shalat.

Sedangkan wajah pak Prasetio terlihat raut wajah tidak enak.

Prasetio : "Maaf sebelumnya, kalo bapak enggak tanya dulu, kamu muslim apa bu--" Kalimatnya terputus.

Aska : "Saya muslim, pak." Sahutnya cepat sembari tersenyum samar.

Prasetio ikut tersenyum dan mengangguk.

Aska cont'd : "Saya muslim dan saya mau ikut bapak shalat jama'ah di masjid." Lanjutnya dengan mata berbinar.

Prasetio : "Kalo begitu, yasudah ayo. Berangkat."

Aska mengangguk dan mereka berlalu keluar dari pentri.

CUT TO

SCENE 25 INT, MASJID DARUL NAJJAH, PETANG

Terlihat Aska yang sedang berada di tempat wudhu.

Sedangkan Prasetio terlihat sudah masuk ke dalam masjid dan duduk di sana menunggu iqomat.

Aska terlihat canggung karena benar-benar sudah lupa cara berwudhu.

Akhirnya ia celingukan melihat kanan dan kirinya mengikuti gerakan orang berwudhu.

Tiba-tiba slide bayangan muncul di benaknya.

FLASH BACK

Aska teringat saat kecil dulu ia di ajari cara berwudhu oleh kakeknya.

FLASH BACK CUT TO

Aska selesai berwudhu dan segera menyusul Prasetio ke dalam barisan saf shalat.

Iqomat terdengar, semua berdiri dan bersiap untuk shalat.

Bayangan Aska saat masih kecil dengan masa kini silih berganti. Terlihat Aska yang celingukkan mengikuti gerakan orang shalat di sisi kanan dan kirinya.

Hingga tibalah mengucap salam.

Aska tersenyum, wajahnya seolah memperlihatkan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

INTER CUT

Aska dan Prasetio terlihat sudah ada di pelataran masjid.

Prasetio : "Aska, saya duluan ya? Udah di tungguin di rumah." Tersenyum.

Aska : "Iya, pak, hati-hati di jalan." Serunya seraya melambai ke arah Prasetio yang sudah melangkah berlalu dari hadapannya.

Setelahnya, samar-samar ia mendengar suara wanita sedang mengaji di sebuah rumah, tepatnya rumah yang berada di seberang masjid.

Karena merasa penasaran, Aska berjalan mendekati asal suara.

Tibalah ia di halaman rumah tanpa pagar.

Aska melangkah hati-hati. Dan tak lama dari balik pintu utama yang terbuka. Aska melihat seorang wanita yang sedang mengaji di ruang tamu. Dan Aska mengenali wajah itu.

Aska : "Mala?" Serunya Dengan suara sedikit keras.

Nirmala yang mendengar itu langsung menghentikan aktifitas mengajinya dan menoleh ke asal suara.

Matanya memperhatikan siapa yang sedang ada di luar sana.

Nirmala : "Aska?" Ucapnya saat sudah mengenali siapa pemuda di depan sana.

Nirmala pun segera beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah depan.

Aska : "Assalamualaikum." Ucap Aska saat Nirmala sudah ada di ambang pintu rumahnya.

Nirmala : tersenyum. "Wa'alaikumsalam." Jawabnya. (beat)

Kini Aska sudah tampak duduk di teras.

Sedangkan Nirmala baru kembali dari dalam rumah dan membawakan secangkir teh untuk Aska.

Nirmala : "Di minum teh nya, mumpung masih anget." Tawarnya lembut.

Aska : "Makasih, ya." Mengangkat gelas tehnya dan meyeruputnya sedikit.

Aska cont'd : "Aku baru inget, waktu kecil aku kan pernah kesini, dan waktu itu adalah hari pertama kita kenalan."

Keduanya pun terkekeh.

Nirmala : "Aku pikir kamu lupa, ternyata kamu masih inget aja."

Aska : "Oh... Iya, kok sepi, pada kemana?" Aska memperhatikan ke dalam rumah.

Nirmala : "Oh itu... Ayah sama Bundaku lagi ke malang, ada kerabat yang sedang ngadain hajatan di sana. Kalo Alif, lagi keluar, dia lagi pengajian bareng temen-temen cowoknya."

Aska mengangguk.

Aska : "Emm... Kamu enggak lupa kan, kalo kamu punya janji buat ngajarin aku ngaji?"

Sontak Nirmala terkekeh.

Nirmala : "Aska... Kamu kalo belajar ngaji, kamu bisa belajar sama siapa aja, enggak harus nunggu aku? Iya kan?"

Aska : "Pokoknya aku enggak mau tahu, kamu udah janji waktu itu."

Nirmala : "Loh... Loh kok jadi maksa. Aku tahu, ini pasti akal-akalan kamu aja kan?"

Aska tersenyum.

Aska : "Ya... Tapi karena janji itu, aku jadi berusaha terus untuk bisa ketemu kamu."

Nirmala : "Dan sekarang udah ketemu kan?"

Aska : "Tapi aku pingin punya banyak waktu lagi yang bisa ku habisin bareng kamu."

Nirmala : "Ya... Terus?"

Aska : "Mau enggak jalan-jalan sebentar temenin aku makan di luar?"

Nirmala : "Kalo aku enggak mau gimana?"

Aska : "Kenapa? Kamu takut ada yang marah?"

Nirmala mengangguk.

Wajah Aska pun terlihat langsung kecewa.

Aska : "Jadi kamu beneran udah ada yang punya?"

Nirmala mengangguk lagi.

Wajah Aska bertambah gusar.

Aska : "Siapa?" Suara nya lirih menahan sedih.

Nirmala : "Orang tua aku lah?" Nirmala terkekeh.

Aska mendengus.

Aska : "Maksud aku bukan itu, tapi seseorang yang sepesial... gitu." Bertanya ragu-ragu.

Nirmala menggeleng.

Wajah Aska seketika kembali sumringah.

Aska : "Lah terus kenapa aku ajak jalan enggak mau?"

Nirmala : "Aku cuma takut sang pemilik kehidupan aku marah kalo aku jalan berdua-duaan sama kamu yang bukan muhrim."

Aska : "Lah... Sekarang kita lagi berdua'an? Apa bedanya?"

Nirmala : "Tapi di sini masih lingkungan rumah aku, di depan sana ada banyak santri, jadi kita enggak sedang berdua aja."

Aska : "Terus kalo aku kangen sama kamu gimana? Kalo jalan berdua aja enggak boleh?"

Dahi Nirmala berkerut.

Nirmala : "Maksudnya?"

Aska : "Gimana kalo aku minta nomer handpone kamu?"

Nirmala sontak kembali terkekeh.

Nirmala : " jangan ngomongin nomer handpone dulu deh, sekarang aku mau tanya sama kamu, Aska... Sebenarnya apa tujuanmu datang ke Jogja? Dan kamu bekerja jadi OB, bukankah itu salah satu perusahaan papamu?"

Aska langsung terdiam sejenak.

Aska : "Jujur karena aku pingin ketemu kamu, dan aku terpaksa jadi OB itu syarat supaya aku bisa tetap kerja disini." Sahutnya jujur.

Nirmala (VO) : "Aku enggak nyangka kamu punya tekad sekuat itu buat bisa ketemu sama aku, Aska." Membatin.

Nirmala : "Terus setelah ini apa yang akan kamu lakuin? Sekarang kita udah ketemu, dan kita udah ngobrol banyak."

Aska : "Hei...hei... Kenapa nanya nya jadi serius banget gini. Ya... Kenapa kita enggak nikmati waktu yang kita punya ini buat ngobrol santai aja."

Nirmala menggeleng.

Aska : "Kenapa begitu? Kamu selalu memperumit segala sesuatunya, Mala."

Nirmala : "Aku cuma enggak ingin menempatkan mu pada situasi yang salah, Aska."

Aska : "Maksud kamu apa?"

Keduanya terdiam lama.

Tiba-tiba sudah ada mobil datang di pelataran rumah Nirmala

Nindi : "Tuan muda!" Serunya dan buru-buru keluar dari dalam mobil.

Sontak Aska dan Nirmala menoleh ke asal suara.

Nindi membungkuk sedikit pada Aska dan Nirmala.

Kemudian berjalan mendekat.

Nindi : "Maaf jika mengganggu, tadi tuan muda Adam menelpon saya, kata pelayan di rumah tuan muda Aska belum pulang, dan tuan muda Adam menyuruh saya mencari tuan, dia takut anda kesasar, tapi dia tidak bisa mencari anda sendiri karena sedang ada di tempat pengajian." Jelasnya.

Aska : "Ah... Iya, tadi gue lupa hubungin Adek gue dan bilang mau pulang telat." Keluhnya.

Nirmala : "Sebaiknya kamu pulang sekarang, Aska. Besok kamu kan harus kerja, nanti kamu kecape'an." Bujuk Nirmala.

Aska : "Tapi aku belum puas ketemu sama kamu." Sangkalnya.

Nindi : "Besok anda harus datang jam 6 pagi, anda ingat itu?" Mengingatkan.

Aska : "Astaga... Kamu enggak liat ya! Aku masih ada urusan, aku bisa kok pulang sendiri." Mendengus pada Nindi.

Nirmala : "Pulanglah, Aska. Insya Allah kita masih banyak waktu lagi untuk hari esok." Bujuknya lagi.

Aska menghela nafas pasrah kali ini.

Aska : "Oke... Aku pulang. Assalamualaikum." Wajahnya terlihat tidak rela berpisah dengan Nirmala.

Nirmala : "Wa'alaikumsalam." Sahutnya tanpa senyuman kali ini.

Nindi mengangguk pada Nirmala berpamitan.

Nirmala balas mengangguk.

CUT TO

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar