Daftar isi
#1
Bab 1: Langkah Menuju Puncak Menara Gading
#2
Bab 2: Memori Bojongsari
#3
Bab 3: Rahasia Identitas Lintang
#4
Bab 4: Kebimbangan Sang Konglomerat
#5
Bab 5: Munculnya Serigala Betina
#6
Bab 6: Persaingan Terselubung
#7
Bab 7: Umpan Manis Viona Alamanda
#8
Bab 8: Jaring Laba-Laba Mulai Terbentang
#9
Bab 9: Manipulasi Dua Arah
#10
Bab 10: Sang Eksekutor Misterius
#11
Bab 11: Pengalihan Alibi Sekon
#12
BAB 12: PERINTAH MENUJU MAUT
#13
BAB 13: PEMBANTAIAN DI RUMAH MEWAH
#14
BAB 14: TELEPON JEBAKAN
#15
BAB 15: PERANGKAP SEMPURNA DI TKP
#16
BAB 16 : KEPUNGAN SIRINE POLISI
#17
BAB 17: DUNIA LINTANG YANG RUNTUH
#18
BAB 18: SIKSAAN DI RUANG GELAP
#19
Bab 19: Penghakiman Oleh Media
#20
Bab 20: Persidangan Sandiwara
#21
Bab 21: Kesaksian yang Menghancurkan Jiwa
#22
Bab 22: Pecahnya Aliansi Dua Sahabat
#23
Bab 23: Ketukan Palu Seumur Hidupul
#24
Bab 24: Kudeta Sempurna Viona
#25
Bab 25: Rekonsiliasi di Sel Sempit
#26
Bab 26: Dua Tahun dalam Kegelapan
#27
Bab 27: Narapidana Baru di Sel Nomor 13
#28
Bab 28: Misteri Indigo Malam
#29
Bab 29: Provokasi Lapangan Olahraga
#30
Bab 30: Pengakuan Berdarah Tumbal
#31
Bab 31: Kenyataan yang Menghantam Tumbal
#32
Bab 32: Aliansi Tiga Terpidana
#33
Bab 33: Penyelundupan Alat Rekam
#34
Bab 34: Sang Pengacara Muda dari LBH
#35
Bab 35: Meledaknya Berita PK
#36
Bab 36: Kepanikan di Lantai Atas
#37
Bab 37: Perintah Pembunuhan di Lapas
#38
Bab 38: Pertempuran Darah di Selasar Lapas
#39
Bab 39: Tumbal yang Sekarat
#40
Bab 40: Kabut yang Luruh di Kepala Lintang Aruna
#41
Bab 41: Lepas dari Sanatorium
#42
Bab 42: Menyusup ke Rumah Masa Kecil
#43
Bab 43: Penyekapan Lintang
#44
Bab 44: Persidangan PK
#45
Bab 45: Tumbal Bersaksi di Atas Kursi Roda
#46
Bab 46: Serangan Bukti Digital Forensik
#47
Bab 47: Penggerebekan Rumah Bawah Tanah
#48
Bab 48: Saksi Kunci Terakhir
#49
Bab 49: Pembebasan demi Hukum
#50
Bab 50: Menyembuhkan Luka Hati
Apakah Anda akan menghapus komentar ini?
Apakah Anda akan menghapus komentar ini?
#46
Bab 46: Serangan Bukti Digital Forensik
Bagikan Chapter
Chapter ini masih diperiksa oleh kurator
Chapter Terkunci
Cuplikan Chapter ini
Hukum sering kali berjalan tertatih-tatih laksana kerbau lumpuh di atas lumpur sawah Bojongsari namun ia menjelma menjadi peluru kendali ketika data komputasi mulai menuntut haknya Di tengah histeria publik atas penunjukan jari Tumbal di atas kursi roda pintu utama ruang sidang kembali dihantam dari luar hingga engselnya berderit parau Pengacara Aris melangkah masuk membelah barikade jurnalis dengan kemeja flanel yang koyak di bagian bahu kiri akibat pergulatan semalam di Jalan Sentosa 1
Beli Chapter
Baca chapter ini, detik ini juga
Rp1.000
atau 1 kunci
Beli Novel
Semua chapter akan terbuka
Rp23.000
atau 23 kunci
Chapter Sebelumnya
Chapter 45
Bab 45: Tumbal Bersaksi di Atas Kursi Roda
Chapter Selanjutnya
Chapter 47
Bab 47: Penggerebekan Rumah Bawah Tanah
Sedang Dibicarakan
Flash
Bronze
Kalau Kambing Bisa Ketawa...
Shabrina Farha Nisa
Novel
Bronze
AMBYAR THE TEAM
yuntari ifti
Cerpen
NEGERI YANG PENDUDUKNYA GUNDUL
Ani Hamida
Novel
Sandwich Americano
Brown Sugar
Cerpen
Bronze
Pinjam Seratus
Heri Winarko
Novel
BAPER: Balon Perindu
Priy Ant
Novel
Gold
From Zero to Zero
Noura Publishing
Cerpen
Astrophile
Fianaaa
Flash
The Scion
Ariq Ramadhan Nugraha
Novel
Bronze
Laksana Angkasa
Syafi'ul Mubarok
Komik
Pusaka
Indar, F.A Rahman
Cerpen
Bronze
Surat dari Jakarta
Ron Nee Soo
Novel
Bronze
ASTAGHFIRULLAAH (Suropati)
Hermawan
Cerpen
Dihari Bunga itu Mekar lagi
Dimas Hendra
Cerpen
Bronze
Hiraeth
Illa Fadillah
Novel
Bronze
LATED (KOREK API)
Joe Abbas
Novel
Antara Bayang dan Cita
Kurokami
Flash
Bronze
Jangan Pernah Percaya Gosip
Alfian N. Budiarto
Flash
Nasihat terakhir
Gampil Saerupa
Flash
Bronze
Orderan Terakhir Ardiansyah
Nuel Lubis