Genre → Drama
Hidup Dari Luka
Oleh Yuspan
Mulai membaca
Blurb
Kakak seorang lelaki yang terlahir dari keluarga sederhana, tumbuh dengan kehidupan sederhana pula, Bapak dan Ibunya hanya lulusan SD saja, namun kedua orang tuanya ingin Kakak sekolah lebih tinggi lagi tidak seperti mereka, Kakak juga harus jadi anak yang pinter, nurut, tidak membangkang pada Guru-Gurunya. Dan saat Kakak mulai bersekolah, Ibunya tak pernah izin untuk tidak mengantar Kakak ke sekolah paling tidak saat Kakak kelas satu SD, setiap hari Ibunya selalu mengawasi Kakak di luar kelas, mengintip dari jendela, Ibunya selalu hadir saat dibutuhkan, sampai-sampai apa pun yang tengah ramai di kalangan anak-anak SD itu, Ibu persiapkan, misalnya musim sepatu menyala, Ibunya cepat-cepat beli, musim tas bergambar Power Ranger tapi memiliki roda macam tas koper yang mau naik Haji, cepat-cepat Ibu belikan juga, semua itu Ibu lakukan agar Kakak semangat belajar dan terus mau berangkat ke sekolah. Ibu telah bertekad, supaya apa yang telah menimpanya semasa kecilnya, haram menimpa bagi anaknya.

Sampai Kakak kelas empat SD dan Ibunya sudah tak mengantar lagi Kakak ke sekolah, saat itu lah kehidupan Kakak dimulai. Kakak berteman dengan Raka, laki-laki berkulit putih, rambutnya hitam, lurus, halus, satu wajah penuh ketenangan, dan juga tampan. Raka terlahir dari keluarga sederhana pula, namun dibesarkan dengan lingkungan yang agak liar, Kakak dan Bapaknya Raka senang pelihara merpati, Kakaknya sendiri tak hanya senang merpati juga burung-burung berwarna-warni, Kakaknya juga senang pelihara ayam petarung, maka Raka hidup dalam lingkaran itu. Pertemanan Kakak dan Raka kian erat, sebab Kakak selalu diajak Raka bermain merpati, menerbangkan merpati, melihat adu merpati, juga sambung ayam, lambat laun karena seringnya Kakak diajak Raka, maka Kakak pun membeli sepasang merpati, gara-gara itu pertemanan mereka semakin solid saja.

Tapi setelah hari itu, pertemanan Kakak dan Raka mengalami keretakan, sampai-sampai Raka dan teman-teman yang lainnya menjauhi Kakak, tak pernah lagi Kakak diajak bermain oleh Raka. Meski Kakak telah mencoba jadi teman yang baik pula asik kepada Raka dan teman-temannya, tetap saja Kakak tak dianggapnya. Kakak sedih meratapi dirinya yang kehilangan teman-temannya, Kakak selalu merasa, bahwa sumber dari semua ini, tak lain dan tak bukan karena sebelah tanganya yang tak normal, tangan kanan Kakak tak bisa lurus seutuhnya, mungkin Raka dan yang lainnya malu punya teman seperti Kakak. Dan semua ini gara-gara Kakak ikut pelatihan paskibra saat itu,di mana pembingbing paskibra itu menyadari bahwa salah satu anak didiknya tidak sempurna saat melakukan lencang depan.

Sejak saat itu Kakak mulai malas pergi ke sekolah, dianggapnya sekolah macam di Neraka saja, Kakak selalu malu saat di kelas, tak punya teman saat di kelas. Kakak selalu mengurung diri di kamarnya, sebab hanya kamar tempat ternyaman yang Kakak miliki, tak ada lagi, orang-orang di kampung Kakak sendiri pun setelah tahu tentang sebelah tangan Kakak yang tak bisa lurus ini, mereka selalu menertawakan Kakak. Kakak merasa ingin menonjok wajah mereka, tapi Kakak hanya anak SD saja yang kebetulan punya tangan aneh.

Akhirnya sekolah SD selsai, Kakak pun melanjutkan ke SMP, Kakak bersekolah jauh dari rumah, jauh dari sekitaran rumah, harus naik angkutan umum untuk bisa sampai ke sekolahnya itu. Semua itu Kakak lakukan agar supaya tak berjumpa dengan tetangga-tetanngganya, terlebih teman-teman SD. Saat mengikuti MOS masa orientasi siswa, semua baik-baik saja, tapi setelah itu Kakak bertemu lagi dengan Raka di SMP, rupanya Raka juga bersekolah di sini, maka setiap hari Kakak sekolah macam maling saja, selalu waspada, bersembunyi dari tempat-tempat ramai, menyendiri.

Malangnya nasib Kakak, di SMP pun dirinya mendapat perlakuan yang tak wajar, dipermalukan di tempat umum sudah menjadi sarapannya Kakak. Namun di dalam kesengsaraannya, dalam kegelapannya, Kakak jatuh cinta kepada seorang wanita bernama Zoelfa. Zoelfa seorang wanita yang terlahir dari kelurga berada, Ibunya seorang pensiunan, tapi Zoelfa tak memilki seorang Bapak, namun cinta Kakak tak pernah terwujud, Kakak merasa tak pantas untuk Zoelfa, kehidupan memalukannya tak pantas dibagikan dengan wanita cantik itu. Kakak hanya mengaguminya saja.

Tamat dari SMP Kakak telah belajar banyak hal, dan bertekad di kehidupan selanjutnya jangan pernah ada lagi yang menertawakannya, menghinanya, kalau ada yang seperti itu, Kakak akan menghajarnya habis-habisan. Kemudian masuk lah Kakak ke SMK di mana kini Kakak takkan pernah ikut upacara, takkan pernah ikut pelajaran penjaskes, takkan pernah ikut ekstrakulikuler pramuka, pkoknya apa pun yang berbau baris-berbaris, Kakak tak sudi mampir, seingat Kakak, kehancuran hidupnya, luka-luka yang berdatangan ke dalam hatinya, semua itu lewat baris-berbaris.

Dan benar, karena Kakak tak pernah ikut upacara dan tak pernah ikut pelajaran penjaskes, kini teman-teman sekelasnya malah segan terhadap Kakak. Mereka menganggap kalau Kakak telah memiliki ilmu kebal bacok, mereka tahu itu dari gerak-geriknya Kakak katanya, menurut mereka, Kakak yang pendiam, tak banyak bicara, selalu tenang saat masuk ke kelas, meski dia tak ikut upacara, tidak lain, orang-orang seperti itu telah memiliki ilmu itu. Ternyata maksud Kakak untuk tidak diketahui kekurangannya, saat sekolah SMK begitu mengerikan anggapannya.

Seperti sebuah kutukan Kakak menganggapnya. Bahwa seberapa besar usaha Kakak untuk menghindar dari masa lalunya, masa lalu itu datang menyertainya, Kakak heran sendiri, bisa-bisanya di SMK ini Kakak bertemu lagi dengan Raka. Sempat Kakak khawatir kalau kepedihannya terulah kembali, di saat-saat kegelisahan itu Kakak melihat Zoelfa juga di SMK ini.

Saat itu lah kehidupan Kakak jadi lebih berani, lebih kuat, lebih percaya diri, untuk menghadapi semua kepedihannya yang lalu dan siap menghadapi kepedihannya yang mungkin saja datang.
Tokoh Utama
Kakak
Raka
Zoelfa
Kamu harus masuk terlebih dahulu untuk mengirimkan ulasan, Masuk
Belum ada Ulasan
Tentang Penulis
Yuspan
-
Bergabung sejak 2020-01-01
Telah diikuti oleh 9 pengguna
Sudah memublikasikan 1 karya
Menulis lebih dari 56,869 kata
Rekomendasi