Novel
Genre → Fantasi
Diantara Rterik dan Harmoni
Mulai membaca
Telah selesai
Gratis untuk dibaca
Novel ini masih diperiksa oleh kurator
Blurb
Bab 1: Istana Kaca dan Kasih Sayang Tanpa Batas
​Langit sore di atas kawasan Menteng, Jakarta, selalu menyisakanbias keemasan yang memantul di jendela-jendela besar rumah mewah bergaya kolonial modern. Di salah satu sudut rumah berpagar tinggi itu, seorang anak perempuan bernama Kirana duduk bersila di atas permadani wol tebal. Di depannya terbentang sebuah papan monopoli besar, ditemani tumpukan uang mainan kertas yang berantakan.
​Kirana adalah pusat gravitasi di rumah itu. Lahir dari pasangan pengusaha sukses di bidang logistik internasional, ia mendapatkan segalanya sejak hari pertama ia menghirup udara dunia. Papanya, Omardhi, seorang pria paruh baya yang selalu sibuk dengan ponsel satelit dan kontrak bernilai miliaran, akan langsung berubah menjadi sosok yang paling lembut begitu melihat senyuman Kirana. Sementara mamanya, Nadira, adalah tipikal sosialita anggun yang memastikan setiap helai pakaian putrinya adalah produk desainer papan atas asal Paris atau Milan.
​Namun, orang yang paling memanjakannya di dunia ini adalah sang nenek—Oma Siska.
​"Kiran sayang, jangan duduk di lantai dingin begitu, nanti masuk angin," suara Oma Siska terdengar lembut dari ambang pintu, membawa secangkir cokelat hangat dan piring kecil berisi kue, kue tradisional kesukaan Kirana.
​"Oma! Kiran lagi mau menang nih dari Papa," seru Kirana ceria, menunjukkan pion logam berbentuk topi kebanggaannya. Omardhi hanya bisa tertawa pasrah sambil mengangkat kedua tangannya, pura-pura menyerah di hadapan sang putri tunggal.
​Bagi Kirana, dunia luar adalah tempat yang aman, mewah, dan penuh warna pastel. Ketika usianya menginjak masa sekolah, ia dimasukkan ke salah satu sekolah swasta paling elit di Jakarta Selatan. Sekolah itu bukan sekadar tempat menimba ilmu, melainkan panggung sosial bagi anak-anak konglomerat, pejabat tinggi, hingga para bintang cilik sinetron yang wara-wiri di layar kaca setiap malam.
​Di sekolah tersebut, Kirana tidak merasa kecil hati. Dengan latar belakang keluarganya, ia mudah beradaptasi. Sahabat-sahabatnya adalah anak pemilik stasiun televisi swasta, putri seorang menteri, dan beberapa artis remaja yang wajahnya menghiasi majalah remaja bulanan. Mereka sering menghabiskan waktu istirahat di kantin eksklusif, membahas koleksi tas terbaru atau rencana liburan musim panas ke Aspen. Kirana hidup di dalam gelembung emas yang sempurna, di mana badai sepertinya tidak pernah diizinkan menyentuh permukaannya.
​Bab 2: Bayangan Hitam di Balik Senyum Manis
​Waktu berjalan cepat. Gelembung emas itu perlahan menipis ketika Kirana menginjak usia tujuh belas tahun. Ia tumbuh menjadi seorang gadis berambut panjang ikal sebahu dengan mata bulat yang memancarkan kepercayaan diri. Di masa-masa SMA inilah, ia mengenal Rama.
​Rama bukanlah anak dari kalangan elit seperti teman-teman sebayanya. Ia adalah pemuda dari luar lingkungan perumahan mereka, seorang senior di sebuah kursus musik yang kebetulan sering berinteraksi dengan Kirana. Rama memiliki daya tarik yang berbeda: misterius, urakan, dan sangat intens dalam memerhatikan Kirana. Bagi Kirana yang selama ini hidup dalam aturan terstruktur dan perlindungan ketat keluarga, sikap berani Rama terasa seperti sebuah petualangan baru.
​Awalnya, semua terasa manis. Rama memuji setiap nada yang dimainkan Kirana di piano, membawakannya bunga mawar setiap kali mereka bertemu secara diam-diam, dan mengatakan bahwa Kirana adalah satu-satunya hal yang berharga di dunianya.
​Namun, perlahan-lahan, warna manis itu berubah menjadi gelap.
​"Siapa yang meneleponmu tadi malam, Kiran?" tanya Rama suatu sore di dalam mobil sedan tuanya, jarinya mencengkeram setir dengan buku-buku jari yang memutih.
​"Itu sahabatku, Silla, Ram. Dia cuma tanya PR matematika," jawab Kirana dengan nada sabar, mencoba merapikan kerah kemeja Rama.
​"Jangan bohong! Aku benci kalau kamu bicara dengan cowok lain, bahkan lewat telepon!" bentak Rama tiba-tiba. Suaranya menggelegar di dalam kabin mobil yang sempit, membuat Kirana terlonjak kaget.
​Itu bukan yang pertama kalinya. Larangan mulai berdatangan: tidak boleh mengenakan pakaian tertentu, tidak boleh nongkrong bersama teman-teman artisnya tanpa izin, hingga ponsel Kirana yang harus selalu memperlihatkan lokasi secara langsung (real-time).
​Puncaknya terjadi pada suatu malam akhir pekan. Karena Kirana terlambat membalas pesan WhatsApp selama setengah jam—karena ia sedang menemani Oma Siska minum teh—Rama mendatangi gerbang belakang rumah Kirana dengan amarah meluap-luap. Ketika Kirana menemuinya untuk meminta agar Rama tidak berteriak di dekat rumah, sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Kirana.
​Pipi itu panas. Air mata Kirana seketika tumpah, bukan hanya karena rasa sakit di wajahnya, tetapi karena kesadaran bahwa pria yang ia cintai ternyata adalah monster yang kejam dan ringan tangan.
​Bab 3: Kebebasan Palsu di Aspal Hitam Sudirman-Menteng
​Kabar tentang kekerasan yang dialami Kirana tidak bisa disembunyikan begitu saja ketika tanda lebam di pipinya terlihat oleh Mamanya. Nadira histeris, menangis histeris di pelukan suaminya, sementara Omardhi mengepalkan tangan dengan kemarahan yang belum pernah dilihat Kirana sebelumnya. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, hubungan terlarang itu diputus secara sepihak oleh keluarga Kirana. Omardhi bahkan mengancam akan membawa jalur hukum jika Rama mendekati putrinya lagi.
​Namun, trauma dan rasa hampa menghantam jiwa Kirana dengan keras. Ia merasa kehilangan kendali atas hidupnya sendiri. Di satu sisi, ia merasa lega karena terbebas dari cengkeraman Rama; di sisi lain, ia merasa kosong.
​Untuk mengisi kekosongan itu, Kirana menemukan pelarian yang berbahaya: balap liar.
​Melalui seorang kenalan lama di lingkungan luar sekolahnya, Kirana mulai menyelinap keluar rumah lewat jendela kamar di lantai dua setiap pukul dua belas malam. Ia mengenakan jaket kulit hitam milik papanya, mengenakan helm full-face, dan mengendarai mobil sedan sport bermesin gahar milik keluarganya—yang telah dimodifikasi secara diam-diam di bengkel bawah tanah langganannya.
​Kawasan Jalan Sudirman hingga Menteng yang sunyi di tengah malam menjadi sirkuit pribadi bagi anak-anak muda pemberontak kota Jakarta. Suara deru knalpot racing, bau karet ban yang terbakar di atas aspal panas, dan sorak-sorai penonton pinggir jalan menjadi candu baru bagi Kirana.
​Di balik kemudi, saat ia memacu mobil hingga kecepatan ratusan kilometer per jam melewati gedung-gedung pencakar langit yang gelap, Kirana merasa hidup. Setiap tikungan tajam di sekitar Bundaran HI hingga jalanan rimbun Menteng adalah pertaruhan. Jantungnya berdegup kencang, menghapus bayangan tangan Rama yang pernah menyakitinya, menghapus rasa bersalah karena membohongi orangtuanya.
​Bab 4: Harmoni di Antara Dua Dunia
​Meskipun malam harinya dihabiskan di atas aspal jalanan kota yang keras dan penuh risiko, sisi lain dari jiwa Kirana tetap berpijak pada kelembutan seni.
​Sejak usianya sepuluh tahun, Kirana memiliki bakat luar biasa dalam bermusik. Jari-jemantinya yang lentik sangat mahir menari di atas tuts organ dan piano. Meskipun keluarganya kaya raya, Oma Siska selalu menanamkan nilai bahwa hidup harus bermanfaat bagi sesama.
​Itulah sebabnya, setiap akhir pekan sore, Kirana rutin mendatangi YMI (Yayasan Musik Indonesia) atau panti sosial binaan setempat untuk mengajar anak-anak kurang mampu bermain organ secara gratis.
​"Kak Kiran, jariku kok kaku ya kalau mau main nada C mayor?" tanya seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun bernama Aldi, mengenakan kaos pudar dengan senyuman tulus.
​Kirana, dengan wajah tanpa pulasan makeup berlebihan dan senyuman paling tulus yang ia miliki, berlutut di sebelah kursi organ anak tersebut. Ia meraih tangan kecil Aldi, membimbingnya dengan lembut.
​"Jangan kaku, Aldi. Bayangkan air mengalir di sungai. Lembut, tapi pasti," bisik Kirana sabar. Di sini, di ruangan sederhana berbau kayu tua dan suara tuts organ yang berderit, Kirana merasa menemukan kedamaian sejati.
​Selain mengajar di YMI, Kirana juga menerima panggilan private organ ke rumah-rumah keluarga kelas menengah atas di sekitar perumahan elitnya. Uang hasil mengajarnya tidak pernah ia ambil untuk kepentingan pribadi; semuanya ia masukkan ke dalam kotak amal khusus untuk membelikan buku dan alat musik bagi anak-anak di YMI. Dunia ganda ini ia jalani dengan rapi: siang hari sebagai guru musik yang anggun dan berhati emas, malam hari sebagai pembalap liar jalanan yang penuh adrenalin.
​Bab 5: Lembaran Baru di Negeri Kangguru
​Tahun kelulusan SMA tiba dengan gegap gempita. Pesta perpisahan digelar di sebuah hotel bintang lima dengan dekorasi bunga segar yang menghabiskan biaya setara harga mobil baru. Teman-teman artis dan anak pengusahanya sibuk berfoto dengan gaun malam mewah, merayakan akhir masa remaja mereka di Jakarta.
​Namun, di ruang kerja Omardhi, suasana jauh dari kata pesta. Di atas meja kayu mahoni, terbentang dua tiket pesawat satu arah tujuan Sydney, Australia, beserta surat penerimaan resmi dari sebuah universitas bisnis terkemuka di sana.
​"Kiran, Papa sudah tahu semuanya," suara Omardhi tenang namun tegas, memecah keheningan malam. Pria itu menatap putrinya dengan pandangan sarat akan kasih sayang dan kekecewaan yang terpendam. "Papa tahu soal malam-malam di Sudirman. Papa tahu kamu mencari pelarian."
​Kirana menunduk, air matanya langsung menetes ke lantai marmer. Ia tidak bisa membela diri. Rahasia besarnya—balap liar, mobil sport yang dimodifikasi, dan luka batin akibat Rama—ternyata telah tercium oleh mata dan telinga orangtuanya yang memiliki jaringan luas di ibu kota.
​"Kamu anak satu-satunya Papa dan Mama," lanjut Omardhi, suaranya sedikit bergetar. "Kami memberikan segalanya karena kami mencintaimu. Tapi kami tidak ingin melihatmu menghancurkan masa depanmu di jalanan Jakarta demi hal-hal yang tidak ada artinya. Tempat ini... terlalu penuh dengan kenangan buruk dan distraksi untukmu."
​Oma Siska, yang duduk di samping cucunya, merangkul pundak Kirana erat-erat. "Kiran sayang, dengarkan Papa. Australia bukan hukuman. Itu adalah tempat di mana Papa dulu belajar membangun mimpi dari nol. Oma ingin cucu kesayangan Oma menjadi wanita yang kuat, mandiri, dan hebat di luar sana."
​Kirana menangis sesenggukan dalam pelukan neneknya. Ia menyadari bahwa cinta keluarga ini, meskipun terkadang terasa mengekang, adalah jangkar yang menyelamatkannya dari kehancuran total.
​Seminggu kemudian, di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, di bawah pengawalan ketat keluarga dan pelukan hangat sahabat-sahabat artisnya yang melambaikan tangan dengan air mata berlinang, Kirana melangkah mantap menuju pintu keberangkatan. Di dalam tas jinjingnya, ia membawa sebuah partitur lagu klasik terakhir yang ia ajarkan di YMI dan kenangan tentang jalanan Jakarta yang bising.
​Pesawat melesat menembus awan malam, membawa Kirana meninggalkan masa lalu yang kelam menuju fajar baru di benua Australia—siap merajut takdir baru dengan jemari lentiknya yang kini lebih kuat dari sebelumnya.
Tokoh Utama
Kirana
Kamu harus masuk terlebih dahulu untuk mengirimkan ulasan, Masuk
Belum ada Ulasan
Disukai
0
Dibaca
3
Tentang Penulis
Novia Andriani
-
Bergabung sejak 2026-07-15
Telah diikuti oleh 10 pengguna
Sudah memublikasikan 5 karya
Menulis lebih dari 2,644 kata pada novel
Rekomendasi dari Fantasi
Rekomendasi