"Kamu tidak mau memukulku?" suaranya bergetar. Rahasia kelam yang ia simpan bertahun-tahun itu akhirnya tumpah, bertelanjang dada di antara mereka.
Laki-laki itu tetap duduk di tepi ranjang. Tak ada gelas pecah. Tak ada bentakan. Hanya jemarinya yang saling bertaut erat—begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kenapa kamu tidak marah?!" perempuan itu setengah berteriak, dadanya naik turun. Ia sudah bersiap untuk ledakan amarah yang menghancurkan. Ketenangan suaminya justru membuatnya histeris. "Reaksimu tidak masuk akal! Marah! Usir aku!"
Laki-laki itu mendongak. Matanya merah, basah, dan jelas menampung rasa sakit yang hebat. Ia tidak sedang berpura-pura baik-baik saja.
"Aku terluka," suaranya serak, hampir tenggelam. "Sangat. Tapi kalau aku mengamuk dan meruntuhkan rumah ini, apa yang tersisa dari kita besok pagi?"
Ia melangkah mendekat, pelan dan terhuyung, lalu meletakkan telapak tangannya yang gemetar di atas kepala istrinya—merekatkan kepala perempuan itu ke dadanya sendiri.
"Sudah terlalu banyak rasa sakit di sekitar kita," bisiknya di antara napas yang tertahan. "Aku tidak mau menambahnya lagi."
Perempuan itu membeku dalam pelukan tersebut. Diiringi detak jantung yang berpacu hebat di dadanya, ia menangis sejadi-jadinya. Ia baru menyadari betapa rusaknya cara berpikir kita: begitu terbiasa dengan kekacauan, sampai lupa bahwa memaafkan bukanlah ketiadaan rasa sakit, melainkan keberanian untuk merangkul tepat di atas luka itu sendiri.