PISAU

 

“kapan nikah?”

“yang lain udah pada nikah loh.”

“Udah ada yang punya anak juga.”

Ada tiga gadis muda, mereka baru berusia dua puluh lima tahunan, pernah satu sekolah. Hingga ketiganya sudah menikah dan salah satunya belum. Dia yang sejak tadi dibicarakan untuk cepat menikah hanya diam. Pernikahan bukan hanya sekedar memandang usia, mental atau lingkungan. Tapi pernikahan lebih itu, pemikiran jauh bagaimana mental kamu jika sudah punya anak, membesarkan anak dengan baik. Bukan membentak tapi menasehati. Itu jauh berbeda. Entah yang lain memikirkannya atau tidak.

Tapi bagi gadis satu ini, pernikahan tak seserhana saling mencintai, ingin bersama, bahagia di hari pesta. Tapi setelahnya. 

“Iya, semoga kalian masih bisa lihat aku menikah ya.” Katanya pamit kepada tiga teman-temannya. 

Disatu malam, salah satu gadis yang berkumpul itu ditemukan tak bernyawa dengan tangan kirinya yang diiris pisau. Darah ada dimana-mana. Kemungkinan dari dokter puskesmas yang memeriksa, dia kehabisan darah. Dimalam yang lain, gadis kedua mati, ditemukan sudah tak bernyawa setelah menggores lehernya sendiri. Dan gadis ketiga,

“tolong jangan bunuh aku, Na.” Gadis ketiga itu ketakutan. Dia terus merangkak mundur. Hingga tubuhnya membentur tembok. 

“Apa kamu memikirkan ketika kamu dan yang lain terus bertanya, kapan aku menikah?” gadis yang belum menikah itu tertunduk, dia menggoreskan pisau dapurnya ke wajah teman terakhirnya itu. 

“Aku minta maaf, Na.”

“Aku juga minta maaf.”

Blesss. Pisau itu menusuk tepat dihati gadis ketiga. 

4 disukai 1 komentar 1.4K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
menikah bukanlah perkara mudah, itu sulit
Saran Flash Fiction