Aku selalu menyiapkan koper untuk orang-orang yang mencintaiku. Bukan karena mereka hendak pergi, setidaknya tidak pada awalnya. Biasanya mereka datang membawa sesuatu yang kecil: sebungkus makanan yang katanya kebanyakan dibeli, jaket karena malam sedang dingin, buku yang mereka pikir akan kusukai, atau pesan singkat menjelang tidur yang tidak pernah kuminta tetapi selalu kubaca sampai habis. Mereka duduk di ruang tamu, berbicara tentang hal-hal yang tidak penting, tertawa ketika aku salah mengucapkan sesuatu, lalu sebelum pulang mengatakan bahwa besok mereka akan datang lagi. Aku akan mengangguk, tersenyum, dan setelah pintu tertutup, diam-diam mengeluarkan sebuah koper dari bawah tempat tidur.
Koper pertama kubelikan untuk seorang laki-laki yang pernah mencintaiku dengan cara yang terlalu sabar. Ia hafal pesananku, tahu aku tidak suka suara pintu dibanting, selalu mengirim kabar ketika sudah sampai rumah, dan suatu kali menungguku hampir dua jam hanya karena aku mengatakan mungkin aku akan datang. Ketika ia bertanya apakah aku bisa membayangkan hidup bersamanya, aku menjawab tidak. Bukan karena aku tidak mau. Aku hanya sudah tahu bahwa semua yang terlalu baik biasanya memiliki tanggal kedaluwarsa yang tidak diberitahukan di awal.
Ia menangis malam itu, dan keesokan harinya aku membelikannya tiket pulang.
Setelah itu ada beberapa orang lain. Tidak banyak. Aku tidak pernah memberi mereka cukup waktu untuk menjadi terlalu penting. Ketika seseorang mulai mengingat hal-hal kecil tentangku, aku mulai sibuk; ketika mereka mulai bertanya kapan aku pulang, aku pulang semakin larut; ketika mereka mengatakan ingin tinggal, aku mulai menunjukkan semua bagian diriku yang paling sulit dicintai, satu demi satu, sampai mereka kelelahan sendiri. Kalau mereka masih bertahan, aku akan mengatakan bahwa mereka pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik, dan meskipun mereka selalu menyangkalnya, aku tetap percaya pada akhirnya mereka akan mengerti.
Di dalam lemari ada tujuh koper sekarang, semuanya kosong dan semuanya kuberi label dengan nama orang yang sudah tidak datang lagi. Beberapa nama sudah tidak kuingat wajahnya, beberapa masih muncul sesekali ketika aku sedang mencuci piring atau melihat dua gelas di rak dan lupa bahwa aku tinggal sendiri, sementara ada satu koper yang tidak pernah sempat kuberi nama karena orangnya pergi terlalu cepat. Ada juga satu yang masih berisi kemeja biru milik seseorang yang pernah berkata, sambil tertawa, bahwa aku terlalu pandai mencari alasan untuk ditinggalkan.
Malam ini seseorang datang lagi. Ia duduk di lantai dapur bersamaku dan memakan mi instan dari mangkuk yang sama, tidak banyak bertanya, hanya memindahkan kursinya sedikit lebih dekat ketika aku mengatakan rumah ini terlalu sepi, membiarkanku diam ketika aku tidak ingin bicara, lalu mengambil handuk ketika hujan turun dan meletakkannya di bahuku seperti tindakan itu sudah biasa dilakukan bertahun-tahun. Sebelum pulang, ia berkata, “Besok aku datang lagi,” dan aku hanya mengangguk sampai pintu tertutup dan rumah kembali sunyi.
Aku berdiri di dapur cukup lama, mendengarkan suara langkahnya menghilang di ujung jalan, kemudian membuka lemari dan menemukan koper kedelapan masih berada di tempatnya, belum pernah kusentuh, belum diberi nama, seolah-olah sejak awal memang menunggu seseorang yang bahkan belum tahu bahwa ia akan pergi. Aku mengeluarkannya dan meletakkannya di lantai, dan tidak lama kemudian dari luar terdengar suara langkah kembali mendekat, berhenti tepat di depan rumah, disusul suara kunci diputar perlahan.
Aku tidak bergerak ketika pintu terbuka dan seseorang masuk, meletakkan sesuatu di meja makan, lalu berjalan mendekat tanpa mengatakan apa-apa; aku hanya bisa mendengar napasnya dan gesekan kain bajunya ketika ia berhenti beberapa langkah di depanku, sementara koper yang terbuka itu tetap tergeletak di antara kami, kosong, tanpa nama.
Barangkali selama ini aku memang tidak pernah menyiapkan koper untuk orang-orang yang pergi. Aku hanya terlalu terbiasa memastikan bahwa setiap orang yang mencintaiku sudah punya jalan untuk meninggalkanku.
Sebab rupanya ada orang-orang yang menghabiskan seluruh hidupnya bukan untuk mencari seseorang yang mau tinggal, melainkan untuk memastikan tak seorang pun sempat membuktikan bahwa mereka bisa.