Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
132
RED #3
Romantis

Hal terberat untuk dilawan bukanlah melawan orang lain akan tetapi melawan diri sendiri.

Ketika diri sudah dikuasai oleh ego yang tinggi dan ketakutan untuk mengakui bahwa diri sudah kalah terhadap sesuatu maka saat itulah yang dilawan adalah diri sendiri.

Jika para lelaki mengeluh betapa susahnya memahami wanita, maka aku juga akan mengeluh betapa susahnya memahami satu lelaki ini. Bukan karena ia terlalu rumit, justru karena ia terlalu sibuk melawan dirinya sendiri sehingga ia bingung dan tidak bisa bertanggungjawab akan kebingungannya itu.

Ia selalu memiliki jawaban untuk berbagai persoalan. Namun, ketika persoalannya adalah dirinya sendiri, ia mendadak kehilangan seluruh kemampuannya.

Ia bingung.

Lucunya, ia tidak hanya membingungkan dirinya sendiri. Ia juga menyeret orang-orang di sekitarnya masuk ke dalam kebingungan yang sama. Bayangkan apa yang orang-orang sekitarnya pikirkan ketika ia menyeret mereka semua masuk ke dalam masalahnya?

Ia bilang rindu, lalu menganggapnya lelucon.

Ia menghubungi lebih dulu, lalu mencari alasan agar seolah bukan dirinya yang memulai.

Ia ingin bercerita, tetapi membutuhkan seribu alasan sebelum akhirnya mengucapkan kalimat pertama.

Ia peduli, tetapi takut jika kepeduliannya terlihat terlalu jelas.

Ia mendekat, tetapi panik ketika jaraknya mulai terlalu dekat.

Semua yang ia lakukan seperti orang yang sedang berjalan di dalam labirin yang ia bangun sendiri. Pada akhirnya semua yang ia lakukan hanya berakhir pada satu kesimpulan, ketidakjelasan.

Aku selalu bertanya-tanya apa yang ia maksud dengan terus berputar-putar dalam ketidakjelasannya selama ini? Sampai akhirnya aku sadar, masalahnya bukan ia tidak memiliki perasaan.

Masalahnya adalah ia terlalu takut mengakui perasaannya sendiri.

Ia begitu sibuk menjaga harga dirinya, sampai lupa bahwa harga diri tidak pernah tumbuh dari kebohongan-kebohongan kecil yang ia buat untuk melindungi dirinya. Pada akhirnya, semua kebohongan itu tidak lagi melindungi baik dirinya maupun harga dirinya, semua kebohongan itu malah semakin membuat dirinya terjun payung ke dalam jurang kehancuran.

Ia terlalu takut menghadapi penolakan, ia takut disalahkan, ia takut terlihat lemah dan membutuhkan seseorang. Dan aku yang sudah terlalu lelah melihat semua itu, aku sudah muak mengalah dan mengluarkan energi untuk menanggapi semua itu.

Padahal yang paling melelahkan bukanlah penolakan, akan tetapi hidup bertahun-tahun tanpa pernah jujur kepada diri sendiri.

Aku tidak ingin mengejeknya, akan tetapi aku ingin ia tahu bahwa dirinya di mataku terlihat seperti seseorang yang terus berlari mengelilingi pikirannya sendiri, seolah-olah kejujuran adalah sesuatu yang harus dihindari.

Aku muak dan benar-benar sudah lelah menambahkan nomor ke dalam daftar red ku, dan mungkin ini akan menjadi nomor terakhir.

Padahal hidup akan jauh lebih sederhana jika suatu hari ia berani jujur dan bertanggungjawab. Sayangnya, kesederhanaan sering kali menjadi hal yang paling sulit dilakukan bagi orang yang terlalu banyak berpikir.

Aku sudah tidak punya energi apapun untuk dirinya, bagaimana mungkin aku yang bukan siapa-siapa ini bisa marah dan meluapkan emosi pada dirinya yang bahkan tidak pernah selesai dengan dirinya sendiri?

Sekarang, aku hanya bisa tertawa setiap kali melihatnya kembali berputar di lingkaran setan yang sama. Ia begitu takut menghadapi isi hatinya sendiri, hingga ia membuat semua orang ikut kebingungan.

Dan pada akhirnya, mungkin, orang yang paling lama ia sakiti bukanlah aku ataupun orang lain. Melainkan dirinya sendiri.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi