Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
15
Surat Untuk Ibu
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Malam itu hujan jatuh perlahan di balik jendela kamar, seperti langit yang sedang belajar menyimpan tangisnya sendiri. Di dalam ruangan itu, aku duduk bersimpuh di lantai, memeluk rindu yang tak lagi punya wujud. Di depanku, selembar foto Ibu terdiam dalam bingkai waktu—tak berubah, hanya menatap tanpa pernah bisa menjawab.

Aku menunduk lama, seolah berharap kenangan bisa berbicara sekali lagi. Dan malam itu, aku akhirnya menulis sesuatu yang tidak pernah berani kukatakan dengan suara.

Surat untuk Ibu

Untuk sang candramawa paling temaram dalam riwayat hidupku, perempuan yang dahulu menjelma griya bagi jiwa kecilku yang gemetar menghadapi dunia.

Sudah dasawarsa berlalu sejak semesta merenggut hadirmu dari lengkung hidupku. Namun hingga detik ini, rinduku masih tinggal utuh—tak susut barang sejengkal, tak luruh barang sehela napas. Ia menetap di relung kalbu seperti aksara purba yang dipahat pada dinding waktu.

Aku masih mengingat segalanya tentangmu dengan begitu rinci, seolah ingatan adalah satu-satunya anugerah yang belum sempat dirampas takdir dariku. Suaramu yang lirih bagai kidung swargaloka di penghujung malam. Jemarimu yang halus saat mengusap rambutku dengan kasih yang nyaris membuat dunia terasa nirduka. Dan tawamu itu—masih terdengar seperti gemericik amerta yang jatuh perlahan ke telaga jiwaku yang kering.

Dahulu aku mengira dunia akan selalu serupa pangkuanmu. Hangat, teduh, dan penuh welas asih. Ternyata aku keliru.

Dunia setelah kepergianmu menjelma belantara yang dingin. Manusianya saling bertubrukan tanpa benar-benar saling menggenggam. Kata-kata mereka kerap setajam sembilu, dan kehidupan berjalan tanpa iba pada jiwa-jiwa yang kelelahan. Aku tumbuh dewasa di tengah riuh yang asing, memunguti serpih-serpih diriku sendiri sambil berpura-pura tetap utuh.

Aku lelah, Ibu. Lelah menjadi seseorang yang selalu tampak baik-baik saja di hadapan dunia, padahal di dalam dada ini ada samudra nestapa yang tak pernah benar-benar reda. Kadang aku ingin pulang. Namun rumah itu telah karam bersamamu.

Pada malam-malam tertentu, ketika langit menggigilkan bumi dengan kesunyian yang pekat, aku duduk sendiri sambil memeluk lututku, lalu diam-diam berharap semesta berbaik hati mengembalikanmu walau hanya barang sekejap. Sebab setelah engkau tiada, tak ada lagi tempat bagi segala getir yang kupendam diam-diam. Tak ada lagi mata yang menatapku dengan cinta semurni doa.

Orang-orang menyebutku tangguh. Padahal sesungguhnya aku hanya terlalu piawai menyamarkan luka. Aku belajar tersenyum dengan dada yang remuk. Belajar tertawa di tengah batin yang carut-marut. Belajar menelan tangis hingga air mataku sendiri lupa jalan pulang.

Wahai perempuan paling kupuja dalam hidup ini, tahukah engkau? Hingga kini aku masih mencarimu pada banyak hal. Pada aroma hujan pertama di bulan Desember. Pada nyanyian lirih yang terdengar dari rumah-rumah tua. Pada perempuan-perempuan lembut yang menatap anaknya dengan mata penuh kasih. Namun dunia terlalu fana untuk mampu menghadirkan sosok sepertimu dua kali.

Ada begitu banyak kisah yang ingin kuceritakan kepadamu. Tentang hidup yang perlahan menggerus bahagiaku sedikit demi sedikit. Tentang malam-malam panjang yang kulewati sendirian sambil menahan isi kepala yang gaduhnya nyaris memekakkan jiwa. Tentang diriku yang semakin pandai terlihat kuat, justru ketika hatiku sedang paling rapuh.

Aku rindu dipeluk tanpa perlu menjelaskan luka apa pun. Aku rindu didengarkan tanpa takut dianggap merepotkan. Aku rindu menjadi anak kecilmu lagi—yang percaya bahwa selama jemarimu menggenggam tangannya, dunia tak akan pernah mampu mencederainya. Namun waktu rupanya kejam.

Ia terus menyeretku maju tanpa pernah memberiku kesempatan untuk benar-benar sembuh dari kehilanganmu. Mereka bilang kala mampu meredakan duka, tetapi itu dusta belaka. Kala hanya mengajarkanku bagaimana caranya hidup berdampingan dengan kehampaan. Sebab rinduku padamu tak pernah benar-benar usai. Ia menjelma niskala, berdiam di setiap denyut nadiku seperti mantra yang tak selesai dilafalkan.

Kadang aku takut lupa pada suaramu. Takut wajahmu perlahan kabur dari ingatan seperti kabut yang ditelan fajar. Maka setiap malam aku menghidupkanmu kembali lewat kenangan-kenangan kecil yang kupeluk erat sendirian. Aku mengingat caramu menyebut namaku dengan penuh cinta, caramu tertawa, caramu membuat dunia terasa lebih lunak bagi seorang anak kecil yang penakut sepertiku.

Dan bagian paling pilu dari semua ini adalah ... dunia tetap berjalan setelah kepergianmu, seolah kehilanganmu bukan kiamat kecil bagi hidupku. Matahari masih terbit seperti biasa. Orang-orang masih saling jatuh cinta. Kota-kota masih riuh oleh tawa manusia. Sedangkan aku diam-diam tetap tertinggal pada hari ketika semesta memutuskan membawamu pergi.

Wahai candrakirana dalam hidupku, jika kelak para jiwa yang saling merindu dipertemukan kembali di antara lorong-lorong keabadian, maka izinkan aku menemukanmu sekali lagi.

Bukan sebagai manusia dewasa yang penuh luka seperti sekarang. Melainkan sebagai anak kecilmu—yang tertidur damai di pangkuanmu, sementara dunia belum sempat mengajarinya tentang kehilangan.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)