Ceritanya dimulai 30 tahun yang lalu.
Aku masih kecil saat itu.
Rumahku penuh orang… tapi terasa kosong.
Udara di dalamnya berat, seperti ada sesuatu yang menekan dadaku setiap kali aku menarik napas. Bau keringat, obat-obatan, dan sesuatu yang asing bercampur jadi satu. Tidak ada tawa. Tidak ada percakapan. Hanya suara tangis yang ditahan… dan bisikan-bisikan pelan yang terdengar seperti rahasia yang tidak boleh aku tahu.
Aku berdiri di sudut ruangan, memeluk tubuhku sendiri.
Aku melihat ibu.
Dia bolak-balik keluar masuk kamar dengan langkah yang tidak stabil. Rambutnya berantakan, wajahnya basah oleh air mata, dan matanya… matanya terlihat kosong, seperti tidak benar-benar melihat apa pun di depannya.
Aku belum pernah melihat ibu seperti itu.
Siapa yang ada di dalam kamar itu…?
Kakiku bergerak sendiri.
Pelan… ragu… tapi aku tetap mendekat.
Setiap langkah terasa berat, seolah lantai menahanku untuk tidak melanjutkan.
Aku berhenti di depan pintu.
Pintu itu terbuka sedikit.
Aku mengintip.
Dan di sanalah aku melihatnya.
Ayah.
Tubuhnya terbaring di atas kasur tipis. Tidak bergerak. Tidak seperti biasanya. Tidak ada suara napas beratnya. Tidak ada senyum hangatnya.
Terlalu diam.
Terlalu tenang.
Seperti… bukan ayah yang aku kenal.
“Ayah…?”
Suaraku kecil. Hampir tidak terdengar.
Tidak ada jawaban.
Aku melangkah masuk sedikit.
Orang-orang berdiri mengelilinginya. Beberapa menutup wajah mereka. Beberapa menggigit bibir mereka sendiri, menahan tangis yang akhirnya tetap pecah.
Air mata jatuh ke lantai.
Satu per satu.
Kalau ayah hanya tidur… kenapa semua orang menangis?
Kepalaku terasa penuh.
Aku tidak mengerti.
Lalu…
Ayah berbicara.
Suaranya lemah. Seperti ditarik dari tempat yang sangat jauh.
“Jaga anak-anak ya… maaf aku harus pergi lebih dulu.”
Jantungku berdetak lebih keras.
Pergi?
Ayah tersenyum.
Senyum yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Senyum yang terasa… seperti perpisahan.
Matanya perlahan tertutup.
Dan kali ini… tidak terbuka lagi.
“Ibu…?”
Detik berikutnya…
“JANGAAAANNNN…!! JANGAN PERGI!!!”
Jeritan ibu merobek udara.
Aku tersentak. Tubuhku membeku. Suara itu terasa seperti menghantam kepalaku dari dalam.
Orang-orang bergegas masuk. Ruangan yang sempit itu menjadi semakin sesak. Nafas terasa semakin sulit.
Seseorang menyentuh bahuku.
Hangat… tapi asing.
“Kamu tunggu di luar ya, Taka.”
Aku tidak melawan.
Aku tidak bisa.
Aku hanya mengangguk… seperti boneka yang talinya ditarik.
Aku keluar dari kamar itu.
Dari dunia itu.
Beberapa saat kemudian, mereka keluar.
Mengangkat tubuh ayah.
Tubuh yang tadi masih berbicara padaku.
Sekarang diam.
Kaku.
Tak bergerak.
Aku berdiri di sana, memandanginya lewat celah orang-orang dewasa yang lebih tinggi dariku.
Ayah… mau dibawa ke mana?
Pertanyaan itu berputar di kepalaku, tapi tidak pernah sampai ke mulutku.
Aku mencari ibu.
Ketika dia keluar, aku langsung berlari menghampirinya.
“Ibu… ayah mau dibawa ke mana?”
Tidak ada jawaban.
Dia bahkan tidak menoleh ke arahku.
Seolah-olah… aku tidak ada.
Seolah-olah aku sudah menghilang bersama ayah.
Ada sesuatu yang terasa runtuh di dalam dadaku.
Aku mulai berlari.
Ke satu orang.
Ke orang lain.
“Kenapa ayah dibawa pergi?” “Kenapa kalian semua menangis?”
Tidak ada jawaban.
Tidak ada yang benar-benar melihatku.
Mereka ada di sana… tapi seperti jauh.
Sangat jauh.
Seolah aku sendirian di tengah keramaian.
Akhirnya aku berhenti.
Kakiku lemas.
Aku duduk di sofa.
Mataku menatap lantai yang dingin.
Apa yang terjadi…?
Kenapa ayah pergi…?
Kenapa tidak ada yang menjawabku…?
Pertanyaan-pertanyaan itu menumpuk.
Menekan.
Menghimpit.
Sampai kepalaku terasa sesak.
Aku tidak menangis.
Aku tidak bisa.
Seperti ada sesuatu yang menahan semuanya di dalam.
Aku hanya merasa… kosong.
Dan tanpa sadar…
aku tertidur.
**
Keesokan harinya.
Dunia tetap berjalan.
Seolah-olah tidak ada yang berubah.
Aku bermain di taman seperti biasa.
Berlarian.
Tertawa.
Atau setidaknya… berpura-pura.
Seorang wanita mendekat.
Wajahnya familiar.
“Kamu tidak apa-apa, Taka?”
Aku menatapnya.
“Aku? Kenapa? Aku tidak apa-apa, Tante.”
Jawabanku keluar begitu saja. Ringan. Otomatis.
Dia tersenyum.
Tapi senyum itu… retak.
“Ayahmu meninggal kemarin. Dan kamu tidak menangis sama sekali. Kamu hebat, Taka.”
Dunia terasa berhenti.
Suara di sekitarku menghilang.
Meninggal…?
Kata itu terasa dingin.
Tajam.
Menusuk pelan… tapi dalam.
Ayah… tidak ada lagi?
Bayangan ayah muncul di kepalaku.
Tertawa.
Menggendongku.
Melindungiku.
Lalu…
Hilang.
Begitu saja.
Dadaku terasa sesak.
Tapi tetap… tidak ada air mata.
Aku ingin menangis.
Aku benar-benar ingin.
Tapi tidak ada yang keluar.
Seperti semuanya sudah membeku di dalam.
Aku tersenyum.
Senyum yang terasa asing di wajahku sendiri.
“Terima kasih… aku tidak apa-apa.”
Aku berdiri.
Dan pergi.
Langkahku menuju rumah terasa lebih panjang dari biasanya.
Setiap langkah seperti menyeret sesuatu yang berat.
Aku menunduk.
Tidak berani melihat ke depan.
Pikiranku dipenuhi suara-suara yang tidak bisa aku pahami.
Marah.
Sedih.
Takut.
Kosong.
Semuanya bercampur… menjadi sesuatu yang gelap.
Aku berhenti di depan rumah.
Rumah yang sama.
Pintu yang sama.
Tapi tidak terasa seperti rumah lagi.
Aku berdiri lama di sana.
Tanpa bergerak.
Tanpa suara.
Lalu perlahan… aku menarik napas.
Sejak hari itu… aku berhenti bertanya.
Dan sesuatu di dalam diriku… ikut mati bersama ayah.