Flash Fiction
Disukai
2
Dilihat
11
Hujan di Musim Kemarau
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Terkadang, lambatnya waktu bisa sangat membunuhmu. Mereka seakan menolak menyembuhkan rasa sakit yang datang bertubi-tubi dan menyiksa. Terkadang, hujan tak selalu tentang kesejukan dan semilir angin lembut sambil menyeduhkan teh hangat, atau bergelung dalam selimut tebal sambil memandang suasana rimbun hujan. Terkadang, bagi seseorang yang memiliki kenangan buruk, suara hujan mampu menjadi momok menakutkan dan menyedihkan yang tak ingin di dengarnya.

Aku bukanlah seseorang yang mudah merasa jenuh dan bosan ketika waktu terasa berjalan begitu lama. Aku bukanlah seseorang yang ketika hujan aku panik lupa membawa payung dalam tas. Aku lebih suka bersentuhan dengan air hujan, menyanyi dan berlarian di bawah guyuran air hujan. Aku juga bukan sosok yang takut petir. Aku bahkan tak pernah berteriak kaget sambil menutup telinga rapat-rapat ketika petir menyambar hebat. Aku selalu menikmati setiap masa-masa itu, toh pelangi datang setelah hujan dan petir datang bukan?

Tapi itu dulu. Itu adalah aku yang dulu. Ketika aku tak pernah takut pada apapun. Ketika aku belum merasakan kehilangan apapun.

Semenjak pertengahan Desember tahun lalu, semua itu tak lagi sama. Kenangan akan hujan dan menikmati petir tak lagi terasa menyenangkan. Kini, aku selalu ketakutan saat hujan tiba. Aku selalu menangis dan menutup telinga saat paduan antara hujan dan petir menyatu. Hujan kadang tak turun tepat waktu. Saat aku berusaha kerang menjauh sejauh-jauhnya melupakan kenangan buruk itu, hujan dan petir tak pernah absen menemaniku.

Kenangan itu masih teramat jelas di ingatan, masih pula terasa menyakitkannya untukku. Dalam beberapa waktu, aku berusaha keras berdamai dengan masa lalu, melupakan masa-masa itu. Tapi aku selalu gagal. Aku selalu berakhir menangis dan ketakutan, entah karena kejadian itu atau karena aku dulu terlalu suka dengan hujan.

Hari itu, kami mengucapkan janji suci pernikahan. Hari paling sakral dalam sejarah hidup kami. Harusnya, hari itu adalah hari yang paling membahagiakan. Sebelum akhirnya hujan badai dan petir hadir di tengah-tengah acara serta merta mengacaukan senyum bahagia kami. Belum genap sehari aku menyebutnya suamiku, belum genap sehari aku mengatakan cinta sebagai istri sahnya, kehilangan itu datang tiba-tiba. Saat sebuah tiang dekorasi ambruk menimpa tubuhnya, duniaku terasa hancur lebur. Tubuh penuh luka dan darah yang terus-terusan keluar dari kepalanya, telapak tangannya yang dingin, serta senyum dan air mata itu, aku ingat semuanya.

“Kamu harus bahagia, Sa,” katanya waktu itu. “Istriku, maafkan aku…”

Aku tak pernah tahu sebanyak apa dosaku hingga aku dihukum dengan kesakitan ini? Bukankah aku selalu menerima hujan bahkan petir dengan tangan terbuka? Bukankah aku selalu menerimanya tanpa protes apa-apa? Tapi bagaimana aku berusaha keluar dari rasa sakit setelah kehilangannya adalah yang paling aku rasakan.

DUARRRRRRR

“Akhhhhhh!!” aku refleks menutup kedua telingaku, dadaku bergemuruh hebat, tanganku gemetar tak karuan, tangisku pecah. Kilas balik adegan itu kembali terputar tak terkendali, meleburkan niatku untuk berdamai dengan masa lalu. “By, aku takut…”

Pada akhirnya, aku selalu ketakutan dan berharap dia datang lalu mendekapku seerat dulu. Tapi, semua itu jelas tak akan pernah terjadi dan aku tau apa alasannya. Kini, aku kembali terduduk di lantai kamarku. Menangis memeluk lutut, menikmati rasa sakit sekaligus kehilangan ini.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)