Tampak jelas di mataku wajahnya yang terkejut saat pengakuan itu lolos dari bibirku—kata yang bahkan tak sempat kupikirkan matang-matang. Seolah ada sesuatu di dadaku yang lebih dulu lelah menahan diam.
Aku tak menyangka kejujuran bisa terdengar seperti kesalahan.
Raut wajahnya yang semula hidup perlahan mengeras, menjadi datar, asing. Tak ada amarah, tak ada penolakan yang jelas. Justru itu yang paling menakutkan. Kekosongan di wajahnya terasa seperti jarak yang tiba-tiba tercipta di antara kami.
Aku mulai takut pada sunyi.
Dia mundur selangkah, lalu dua. Gerakannya pelan, seakan memberi waktu padaku untuk menarik kembali kata-kata itu—tapi semuanya sudah terlambat. Dia berbalik pergi tanpa satu pun penjelasan.
“Re…” suaraku pecah di ujung nama itu.
Dia tidak menoleh.
Di tempatku berdiri, perasaanku runtuh bersamaan: takut kehilangan, cemas tanpa jawaban, dan duka yang bahkan belum sempat kuakui. Saat itu aku sadar, tidak semua kejujuran berakhir dengan kelegaan. Ada yang justru meninggalkan lubang, dan memaksamu hidup dengan pertanyaan yang tak pernah dijawab.