BIBIR MODERN

Pak Fredy merasa iri dan keki melihat Zamran yang sekarang semakin necis, klimis dan bergaya perlente hingga membuat para karyawan perempuan terpesona.

Gaya bicaranya yang suka ceplas-ceplos seenaknya, memang terkadang menyakitkan di telinga untuk didengarkan.

Dan anehnya, setiap berpapasan dengannya, Pak Fredy sengaja melengos, memalingkan muka.

Namun Zamran hanya cengar-cengir saja. Sepertinya Pak Fredy merasa benar-benar keberatan jika karir Zamran menanjak.

Zamran melangkah menuju ke mejanya disambut dengan ocehan Mbak Ratna yang sok merasa cantik sedunia dan suka turut campur urusan orang lain, ”Hei, dasi jadul masih dipakai, sudah gak jaman!”

Zamran menyeringai, ”Mbak, dasi boleh kuno, asal otak modern!”

“Eh, Mran, beli saja yang bermotif kembang-kembang pasti cocok denganmu!” kata Mbak Ratna dengan sinis.

“Itu nggak ada gunanya, kalau otak si pemakai tidak berkembang!”sahut Zamran.

Mbak Ratna kembali menebalkan warna bibirnya dengan lipstik warna merah menyala.

“Mbak, tahu nggak, kriteria bibir modern?” balas Zamran.

“Jangan sok tahu!” jawab Mbak Ratna sinis.

“Bibir yang modern itu, tidak perlu lipstick. Yang penting kalau nyeplos bermutu!” kata Zamran yang semakin membuat telinga Mbak Ratna memerah.

“Sudah sana pergi, dasar penjilat!” umpat Mbak Ratna dengan perasaan jengkel.

Zamran hanya tersenyum dan bergegas melenggang ke tempat duduknya. Akan tetapi belum sempat dia duduk sudah dipanggil oleh Bu Santi.

Mendangar itu, Mbak Ratna girang dan tersenyum, ”Nah, kini baru tahu rasa!"

“Kenapa sih, aku kok selalu diberi kesempatan untuk menjilat? Tuh, membuktikan bahwa bibir dan dasiku modern!” balas Zamran dengan seenaknya .

Zamran mendengarkan semua ucapan Bu Santi. Kemudian dia membisikkan sesuatu di telinga Bu Santi.

“Gila, kamu!" ucap Bu Santi.

“Bilang saja begini, target menurun karena ternyata di perusahaan ini banyak manajer mondar-mandir!”

Bu Santi hanya bisa ternganga, ”Apa maksudmu?”

“Ya, manajer yang bisanya hanya mondar-mandir saja." jawab Zamran.

“Lalu apa hubungannya dengan penjualan?” tanya Bu Santi semakin bingung.

“Bayangkan saja, jika banyak manajer mondar-mandir seperti Pak Fredi, apa mutu produk bisa dipastikan terjamin?” jawab Zamran.

“Masuk akal juga perkataanmu. Ya, aku sudah mengerti!” kata Bu Santi sambil manggut-manggut.

Esok hari, saat melihat dengan Zamran, Pak Fredy tidak melengos, melainkan sengaja berbalik dan tidak mau berpapasan, seakan-akan Zamran menderita penyakit menular. Sebaliknya Zamran cuma nyengir.

Dalam hati dia bergumam, ”Apa selain ada manajer mondar-mandir, sekarang ada juga manajer langkah seribu! Ketemu bawahan saja kok ketakutan!"

Tiba-tiba Zamran dikejutkan oleh kedatangan Bu Santi dengan senyum di bibirnya. “Mran, sukses besar! Pak Fredy sudah bertekuk lutut!”

6 disukai 9 komentar 2K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
saya suka frasa "bibir modern" :D terdengar menggelitik sekali...
@affarain : Iya sih, tapi Zamran ganteng lho...
pantesan ibu ibu kesel ya hahaha
@affarain : Karakter tokohnya cuek, cerdas sedikit bengal dan sangat pede hehehe...
Zamran lucu ya
@kaanunun : Ternyata pak Fredy, kukira justru yang lucu dan menyebalkan adalah Zamran :-)
pa fredy :0
@kaanunun : Kalau menurut kakak, tokoh yang kocak di sini siapa :-) :-)
ahahah lucuu banget 😂
Saran Flash Fiction