Introvert, ekstrovert, dan ambivert

Aku Aneska, gadis introvert yang tak suka keramaian. Namun, keadaan mendorongku untuk masuk organisasi intra sekolah dan menjabat sebagai sekretaris OSIS. Diharuskan berinteraksi dengan banyak orang, tetapi hanya dua sosok yang membuatku nyaman berinteraksi dengan mereka. Namanya Radeya dan Davie. Radeya, sang Ketos yang pandai berbaur dan menyukai keramaian. Sedangkan Davie, bendahara OSIS yang suka berada di tengah keramaian, tetapi bila lelah dia akan menyendiri. Aku senang berjumpa dengan mereka yang selalu berbaik hati padaku. Banyak yang iri bahkan menghujat aku karena dekat dengan dua cowok tampan di sekolah. Seperti sekarang ini, di ruang OSIS.

“Ih, keliatannya aja polos, diem, kalem, tapi dia deket sama cowok-cowok terkeren satu sekolah. Dasar munafik!” cibir salah satu pengurus OSIS dan disahuti oleh pengurus yang lainnya.

Aku tak masalah dihujat separah apapun, tetapi yang tak bisa aku terima itu karena mereka men-judge aku sebagai sosok munafik. Bagaimana bisa mereka melabeli aku seperti itu? Sakit sekali rasanya.

“Biarkan orang menghujatmu, yang penting kita berdua akan selalu ada di sampingmu,” ujar Davie tulus seraya mengacak-ngacak rambutku yang tergerai indah.

Radeya mendekati pengurus OSIS yang tadi menghujatku, dia menjewer kuping cewek-cewek itu. “Wey, kalian itu pengurus OSIS, panutan bagi siswa-siswi di sekolah. Bukan malah mengajarkan yang tidak baik. Sekali lagi saya dengar ada yang men-judge orang lain, baik itu pengurus ataupun siswa-siswi, saya laporkan ke guru BK.”

Tak ada yang bisa berkutik kalau Radeya sudah beraksi. Aku hanya diam dengan bahu yang sudah bergetar. Namun, tak kunjung mengeluarkan air mata. Radeya kembali duduk di sampingku, menepuk-nepuk bahuku.

“Gimana kalau nanti malam kita ke pemancingan? Biar kau tenang, Ska.”

Davie mengangguk setuju, menoleh ke arahku yang masih menatap lantai dengan sayu. “Aneska, kau jangan diam saja. Kami membutuhkan jawabanmu.”

Aku menatap Davie dan Radeya lekat secara bergantian, lalu mengangguk mengiyakan.

Malam harinya, aku, Radeya, dan Davie ke tempat pemancingan. Radeya dan Davie dengan semangat menyiapkan pancingan dan umpan. Sedangkan aku, memperhatikan dari belakang karena aku takut memancing. Takut ikan itu loncat, atau bisa saja yang didapat malah ikan paus.

“Aneska, kau tau?” tanya Radeya menoleh ke belakang, aku menggeleng. “Ikan-ikan ini masih tetap tenang dan tersenyum walaupun lingkungannya itu sangat tidak baik bagi dirinya. Air yang kotor, ada limbah dan semacamnya, dan ada ikan besar yang bisa kapan saja melahap mereka. Namun, mereka tetap tenang dan tersenyum. Sama seperti dirimu. Dihujat sepedas apapun, kau tetap tenang dan memperlihatkan senyum manismu.”

Bibirku terangkat membentuk bulan sabit, hatiku terenyuh mendengar ucapan Radeya yang menenangkan. Davie menghampiriku, menarik lenganku pelan mendekati kali. “Ikan itu baik, jangan takut sama mereka. Mereka yang mengujatmu juga sebenarnya baik, tetapi mungkin hatinya sedang tidak baik. Tugasmu adalah tetap berbuat baik pada mereka. Okay?”

Aku mengangguk seraya tersenyum hangat, menyeka air mata yang hampir terjatuh. “Terima kasih, Dey, Vie. Terima kasih kalian selalu ada di sampingku dan menemaniku. Tetap seperti ini, ya.”

Davie dan Radeya mengangguk dengan senyuman hangat yang mereka suguhkan. Kami berpelukan beberapa detik lalu melepasnya. Hari-hariku indah karena hadirnya mereka membawa warna baru dalam hidup. Jujur saja, aku sangat menyayangi mereka...

9 disukai 3 komentar 7.1K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
hangat. 🤗🥰 🌟🌟🌟/🌟🌟🌟🌟🌟
Tim ambiennn
Tim ambivert, eh
Saran Flash Fiction