Mencari di Sawah.

Hari itu malam mencekam. Wahyudi berdiri menengok di antara barisan tembakau yang tingginya mencapai dada orang dewasa.

Srek... srek...

Daun ditampar orang yang lalu lalang.

Kretek!

Tanah diinjak-injak sandal-sandal kotor.

Langit berapi-api perlahan ditelan kegelapan. Tapi riuh manusia gemuruh membahana.

Dingin merasuki tengkuk Wahyudi. Hingga getaran napas di samping telinga merindingkan bulu kuduk.

"Kamu udah cari di sana?" tanya sesosok kasat mata yang entah sejak kapan mematung di belakang.

"Entahlah. Aku lupa." Wahyudi hilang ingatan seketika. Rasanya seperti dibungkam kabut misteri.

*****

Horor ini bermula dari pintu rumah tua yang berderit.

Kriit.

Sepasang kaki santai masuk seakan tak berdosa. Perlahan tapi pasti sampailah ia di suatu ruangan berserakan perabotan.

"Anakku!" Jeritan sore memekakkan cicak dan tokek. Takutlah mereka dan sembunyi ke lubang pertapaan.

Disisirlah seisi bangunan hingga kaki goyah. Badan linglung napas tersengal-sengal tak kuasa menahan sakit yang menusuk sukma. Saat pandangan kabur ia pun terbujur di tanah liat.

Bruk!

Beberapa pasang mata yang melintas terhenyak dengan tubuh yang belum seutuhnya keluar dari pintu bambu.

"Tolong! Ada yang pingsan."

Teriakan menggelegar sadarkan badan yang terkulai.

"Anakku hilang!"

Banjir tangis seorang ibu. Manusia-manusia lain memeriksa. Jendela dan pintu terkunci rapat.

Pandangan tertuju pada serdadu pohon yang melambai-lambai. Bisikan angin memanggil-manggil.

Hsiiiissss.....

Warga menelan ludah. Kuatkan iman lalu memasuki kurungan minim cahaya. Ya, tegalan atau halaman belakang yang rimbun tanaman peneduh. Penginapan jin, legendanya.

Segala penjuru mata angin diselidiki. Tapi yang dicari tak tampak. Atas bawah ditatap jikalau tak kasat mata sedang bercanda. Hasilnya nihil.

Mentari silaukan mata. Prajurit palawija berjaga di depan. Penduduk bercengkerama. Tak ada jalan lain. Di bawah naungan angkasa, mungkin ditemukan darah daging suci.

Wahyudi dan temannya menghampiri sumur sawah, yaitu bendungan irigasi mini. Lubangnya kecil tak bersemen tapi dalamnya menghanyutkan.

Deg deg deg!

Berdebar ketakutan yang dibalut rasa penasaran.

Tap tap tap.

Langkah kaki selambat jarum jam. Tibalah mereka di tepi lingkaran mistis, lalu melongok.

Tada!

Balita meloncat ke udara. Senanglah hati si anak. Tapi tidak bagi bapak-bapak. Merinding di sekujur tubuh. Syukurlah anak jatuh tepat dalam buaian.

Sumur pun ditutup sementara. Mantra do'a dikomat-kamitkan. Tak lupa si anak dan rumah tua ikut diruqyah. Tenanglah hati penduduk, kecuali ibu.

"Bu, kapan bayar utang?"

Lemas kembali raga ibu. Si anak hanya tertawa cekikikan.

Jember, suatu hari di tahun 2021.

Catatan:

Berdasarkan kisah nyata yang sempat menjadi perbincangan di kawasan Wuluhan. Tentu sudah dibumbui. Mana perbedaannya silahkan cari tahu sendiri di lokasi. Tapi satu bocoran, penulis tidak tahu jika si ibu punya hutang atau tidak. Penulis tidak berprasangka, jadi bagian ini murni fiksi demi cerita yang indah.

3 disukai 3.1K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction