Kursi tertawa

Kantin sekolah harusnya adalah tempat yang merdeka. Tempat siswa-siswi untuk makan, istirahat, melepas lelah dan saling melempar tawa setelah lelah belajar di dalam kelas. Namun, ditempat ini tidak ada yang boleh melempar lawakan atau pun tertawa barang sekalipun. Tidak boleh sama sekali, selama mereka berada dikantin.

Disana ada satu buah kursi yang bernama kursi tertawa. Konon, setiap kali ada yang melempar lawakan atau pun ada yang tertawa, kursi ini akan langsung merespon dengan bergetar atau bergoyang.

"Ngit.ngit.ngit." Suara kursi itu.

Sekilas akan terlihat seperti ada orang yang tertawa diatasnya, lalu menggoyang-goyangkan kursinya, padahal kosong. Bahkan suatu waktu, jika terdengar suara orang refleks tertawa dengan keras, Kursi itu langsung bergerak, kursinya bisa sampai terlempar dan melukai orang disekitarnya. Tidak ada yang berani mendekati kursi itu. Tidak ada yang berani mendudukinya. kursi itu selalu dibiarkan kosong.

Pernah ada yang memindahkan nya ke gudang. Tetapi anehnya kursi ini selalu kembali. Pernah ada yang mau membakarnya, tiba-tiba leher orang itu langsung merasa tercekik. Tak lama kemudian ia kesurupan. Akhir nya ibu wakil kepala sekolah menyarankan pada pak Yono, selaku kepala sekolah. kursi itu sebaiknya dibiarkan saja berada pada tempatnya, dengan alasan, suasana kantin akan lebih tertib dan rapih. murid-murid akan langsung masuk kekelas setelah selesai istirahat tanpa ada yang mau bolos. Ibu wakil kepala sekolah ini sangat disiplin dan menggilai ketertiban. Ia merasa kursi itu adalah solusi.

Setiap sebelum pulang ibu wakil kepala sekolah datang ke kantin. Mendekati kursi itu, lalu membersihkan nya dengan lap berwarna putih setiap hari.

Suatu hari, situasi awalnya damai. Petaka pun dimulai.

Seorang siswi tiba-tiba jatuh pingsan. Tak lama kemudian perlahan ia bangkit. Ia berdiri dan tertawa.

"Hihihi."

Siswi itu kesurupan dikantin. Mukanya memerah, matanya memutih, kepalanya meliuk-liuk dengan aneh.

Orang-orang yang melihatnya merinding ketakutan.

Padahal mereka merasa sudah menahan diri. Tidak ada yang melempar lawakan ataupun tertawa. Siswi yang kesurupan itu menjerit. Ia merangkak-rangkak, lalu ia melihat salah satu siswi dan mengejar nya. Siswi itu langsung lari kepojok, berlindung dibalik temannya yang lain. Sontak hal itu membuat kumpulan siswi yang duduk dipojok menjerit dan lari berhamburan. Mata siswi itu melotot. Kemudian ia duduk di atas meja, memakan kertas yang ada didepan nya lalu mengeluarkan suara cekikikan yang menyeramkan.

"Hihihi."

Siswi yang kesurupan itu terus meracau. Ia bilang ia merindukan lawakan dan keseruan yang ada dikantin.

Siswa dan siswi yang ada disana menjadi dilema. Tidak ada yang berani pada siswi itu. Kemudian satu persatu siswi roboh. Sekolah itu kesurupan massal.

1 disukai 168 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction