Aira

Jika daksa molekmu malas menyibak selimut, aku akan menariknya lalu membuangnya jauh-jauh. Kau marah di atas kasur di bawah nabastala yang masih menghitam. Aku tersenyum seraya menatap wajah sayumu dengan bekas kasur di pipi kananmu. Lalu tertawa kecil tatkala melirik genangan air di bawah bibirmu. Meneteskan liur ketika tidur adalah rutinitasmu.

Kujelaskan padamu sudah tiba waktu Subuh. Bahkan azan hampir selesai berkumandang. Kau berupaya untuk kembali mendekap guling kesayanganmu yang selalu bisa membuatmu terlelap. Dengan sedikit memaksa aku menarik kedua tanganmu lalu membiarkan jantungmu berdegub di dadaku. Kemudian kubopong beratmu yang separuh dari beratku. 

Tempat berwudu adalah destinasi pertama kita. Kupersilakan kau menyentuh tirta suci itu dahulu. Mengalir di beberapa bagian tubuh indahmu yang semata hanya untukku. Setelah selesai kau sedikit mengerjaiku dengan memercikkan air padaku. Aku menggeram; menyeringai seram, tetapi tidak berupaya mengejar karena kudengar iqamah menggetarkan telingaku.

Kau berdiri tenang di belakangku, bersolek mengagumi mukena putihmu yang harum: baru dicuci. Aku selangkah di depanmu, mengenakan sarung kotak-kotak cokelat pemberian almarhum bapak. Syukur kupanjatkan karena aku masih bisa berdiri di hadapan-Mu, Allah. Pun terima kasih kuucapkan atas izin dari-Mu untuk membimbing wanita solehahku menuju hadirat-Mu yang mulia.

Kau tersenyum; menutupi mulutmu dengan Al-Qur'an yang siap kau baca bersamaku.

2 disukai 1 komentar 283 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Kiwww
Saran Flash Fiction