Keberadaanmu Tidak Lagi Nyata

Pintu apartemen kubuka. Sesosok laki-laki menyambut hangat dengan senyuman. Tidak ingin menanggapi, aku menutup pintu tanpa membalas senyum. Berlalu melewatinya. Menaruh tas ke atas meja, sebelum merebahkan diri pada sofa.

Tak.

Sebuah gelas diletakkan olehnya. Air di dalamnya beriak kecil. Sebuah peristiwa teringat olehku.

Memejamkan mata, mencoba menenangkan diri, aku mengangkat tubuh dari posisi bersandar. Melihatnya menatapku teduh sambil menyodorkan beberapa botol padaku.

“Minum dulu obatnya.” Suara lembutnya terdengar di telinga. Rasa rindu kembali menjalar. Menyesakkan dada.

“Hari ini aku akan memasak makanan kesukaanmu.”

Wajah kupalingkan dari pandangan. Menahan air mata yang mendesak keluar.

“Tapi janji minum obatnya.”

Berusaha menguatkan diri. Kedua tanganku mencengkram kuat. Kembali melihatnya yang sudah beralih pergi ke dapur. Suara potongan mulai terdengar. Menggema di seluruh ruangan.

Aku menarik napas kuat.

Mengendurkan cengkeraman.

Beberapa botol kubuka.

Meminum obat di dalamnya.

Tak lama, suara potongan berhenti.

Tidak terdengar lagi.

Ruangan kembali senyap.

Aku melihat ke bawah, menatap nanar tanganku yang memegang pisau. Potongan sayur tergeletak di atas nampan.

“Bima....”

Aku berlirih pelan. Beberapa bulir air jatuh membasahi nampan. Keheningan berganti isak. Memenuhi sepi di hati.

“Aku akan sembuh.”

Seperti yang kau inginkan.

3 disukai 630 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction