Kematian Cokelat

Seorang pria tua nampak duduk bersimpuh di sebelah kanan makam istrinya. Matanya yang kusam, menatap lemah nisan istrinya yang baru saja meninggal seminggu yang lalu. Ia menaburi coklat bertoppingkan kacang almond, kacang mete, dan buah-buahan kering di atas tanah kuburan istrinya itu.

Kepalanya yang tua, tetiba teringat akan kenangan indah, tentang menyantap sayur lodeh yang terlampau asin di hari kedua mereka menikah.

“Kau tahu? Ini adalah masakan terlezat yang pernah aku santap sepanjang hidupku.” Pujinya sambil menahan rasa asin yang cukup kuat.

“Sungguh?” wajah sang istri sumringah.

“Iya, tentu saja. Akan lebih lezat lagi bila kau sedikit mengurangi garamnya.”

Kepalanya yang tua, tetiba pula teringat akan kenangan ketika mereka sedang berlibur berdua di Pantai Ngliyep. Cuaca waktu itu sedang panas-panasnya, membikin kepala sang istri jadi pusing kelimpungan, sehingga berhari-hari ia harus terbaring sakit di atas ranjang karena demam.

“Minumlah, teh hangat ini. Ibuku biasa membuatkan teh hangat kepadaku, bila aku sedang sakit. Teh hangat adalah obat dari segala penyakit.”

Istrinya terkekeh. “Bila aku sakit parah, kau harus membuatkanku banyak sekali teh hangat nantinya. Terima kasih, suamiku.”

Dalam kenangnya, pria itu mencium kening istrinya. Ia lalu menceritakan banyak kisah konyol sewaktu masih bujang, istrinya tak berhenti tergelak-gelak dibuatnya.

Kepalanya yang tua, teringat juga mengenai kenangan indah sewaktu berdansa lembut sekadarnya di dapur, selagi radio memutar lagu Can’t Help Falling in Love. Walau kakinya berkali-kali tak sengaja diinjak oleh suaminya, wanita itu malah tersenyum. Mereka terus saja berdansa sambil memejamkan mata. Hingga keduanya lupa, bila sedang memanaskan soto kemarin malam, sehingga didihan uapnya menggoyang-goyangkan tutup panci.

Pria itu tersenyum, senyumnya tipis, matanya agak berkaca-kaca. Udara sore menjadi lebih dingin. Pria itu memasukkan tangannya ke dalam kantong sweater rajutan mendiang sang istri. Sweater warna abu. Sweater yang sudah agak lusuh, bekas dipakai dan dicuci berulang-ulang kali. Ia selalu merasa bahwa sweater itu bisa menguarkan aroma tubuh istrinya yang khas: aroma coklat.

Tiba-tiba senyumnya menghilang begitu saja. Ia teringat akan jeritan. Ia teringat akan tangis. Ia teringat akan rasa sakit. Rasa sakit yang mengerikan. Membuat istrinya menangis sepanjang waktu. Wanita itu tak lagi punya nafsu makan. Dia tak pernah lagi ceria. Dia tak pernah lagi tertawa bila suaminya menceritakan kisah-kisah masa lalu. Jiwa wanita itu telah koyak.

Karena tak kuasa harus melihat istrinya berminggu-minggu tersiksa oleh rasa sakit akibat kanker. Pria itu pun memutuskan untuk membekap istrinya dengan bantal, ketika dia sudah tertidur usai menderita sepanjang malam. Tubuh yang kecil itu terkejang-kejang selama beberapa saat, lalu badannya terkulai lemas, hingga akhirnya mati.

"Tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita. Berbahagialah atas kematianmu yang manis." Bisiknya lirih pada telinga wanita malang itu.

14 disukai 5 komentar 951 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
lah, malah dia sendiri yang bunuh...
hehe makasih
kasian deh sih kakek tuanya. :( good job kakak penulisnya
endingnya membagongkan wkw
Saran Flash Fiction