Just a Moment With You

Rintik-rintik hujan mulai berjatuhan kala Andara turun dari angkutan umum. Intensitasnya perlahan semakin kencang, tidak dapat dicegah, dan langit perlahan meluruhkan tangisnya. 

Mengambil langkah panjang, Andra bergegas menuju pos satpam. Rambut sebahunya sedikit basah, berikut dengan seragam sekolahnya.

Memang, hujan tidak dapat dihindari ketika tanpa peringatan ia turun membasahi bumi. Sama seperti dia yang juga tidak dapat Andara hindari setelah tiba-tiba hadir tanpa permisi.

Andara menggigit bibir bawahnya, sesaat mencuri pandang. Tidak jauh berbeda dengan dirinya, Bara juga basah tersiram hujan, bahkan ada titik air yang menggantung di ujung rambutnya. 

Karena merasa diperhatikan, Bara menoleh dengan kikuk.

Buru-buru Andara menurunkan pandangan kala tatapan mereka tanpa sengaja bertautan.

Dari dalam pos, Pak Tutuk menegur mereka berdua. 

"Dek, pakai payung ini terus masuk. Sudah mau bel, nanti kalian terlambat." 

“Makasih, Pak.” Andara menerima payung yang Pak Tutuk ulurkan dengan senyuman meski benaknya diserang kegalauan. Membayangkan dirinya berjalan beriringan dengan Bara saja sudah membuat napasnya sesak. Andara harus bagaimana?

"Biar gue yang pegang." Suara Bara bergema di telinga Andara, menyentak angannya hingga jatuh berhamburan.

Tanpa Andara sadari, Bara sudah mengulurkan tangan. Wajah bersemu kemerahan saat meminta payung dalam genggaman Andara untuk dia ambil alih.

Dengan gugup Andara memindahkan payung di tangannya pada Bara. Sedikit dalam sedetik, jari kelingking Andara menyentuh tangan Bara dan membuat Andara tersengat kaku. Andara terpekur diam untuk beberapa saat, merasakan debaran aneh dalam dadanya.

"Ayo, jalan." Bara sedikit mencondongkan payung di tangan kanannya ke arah Andara. 

Andara menyusup ke bawah payung. Bersama berjalan perlahan menembus hujan. Merasakan bahu mereka bergesekkan dalam diam penuh kecanggungan.

Bagi Andara, jarak sepuluh meter yang mereka tempuh terasa sangat berarti. Batas satu sentimeter antara lengannya dan lengan Bara semata saksi betapa mereka pernah sedekat ini. Kendati pautan seribu kilometer perasaan di antara mereka meninggalkan sesak dalam hati.

"Makasih udah payungin gue." Andara menarik anak rambut ke balik telinga dengan perasaan gugup.

Bara menggaruk tengkuknya. "Hm, payungnya biar gue yang balikin."

Andara mengangguk, lantas berbalik berniat masuk kelas. Saat itu suara Bara mengintrupsi pergerakan Andara, merayu Andara untuk kembali berbalik, tetapi tidak Andara lakukan.

Bagaimana bila yang Andara dengar hanya suara hatinya yang berharap Bara memanggil namanya?

"Andara ...."

Kenyataan menampar Andara. Suara itu memang menyebut nama Andara, memanggil Andara.

Diiringi keraguan dalam hatinya, Andara memberanikan diri berbalik. 

"Iya?" sahut Andara gugup.

"Masih bersih. Pakai buat keringin rambut lo." Bara mengulurkan sapu tangan berwarna putih miliknya pada Andara.

Andara segan menerima, tetapi tidak jua ingin menolak. 

"Makasih, Bara."

Bara mengangguk kecil, kemudian berjalan mendahului Andara menuju kelasnya. 

Andara tidak dapat beranjak. Waktu seakan berhenti berputar, mengabadikan senyum kecil yang sempat tercetak kala Bara berjalan melewatinya barusan.

Andara suka senyum Bara.

5 disukai 4 komentar 4.9K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@heenan : Aaww, makasiiih Karena momen sederhana pun bisa manis kalau ada aku dan kamu, eh, kalau ada sesuatu maksudnya😂
@chrystalstories : Cmiwiiw, ampe meleleh nggak?😁
Kak nim sih selalu jago bikin cerita2 manis. Kebersamaan yg cm sepuluh meter bbs bgt dijadiin momen sweet😍😍
🥰😍 Aku ter-uwu-kan
Saran Flash Fiction