Hujan di Langit Kelabu

 Langit biru tidak pernah memaksa untuk menatapnya, berbeda dengan kelabu. Kali ini datang dengan teriakannya yang memaksa untuk diperhatikan. Awan hitam itu seperti lelaki itu, hadir mengguncangkan kedamaian hati. Menggores lebih dalam, menaruh garam lebih banyak. Perkenalan lebih lama daripada hubungan yang terjalin. Lelaki yang mengakhiri hubungan melalui surat yang dibalas tanpa mendapatkan kembali balasan. Bodoh. Lulu merasa dirinya bodoh, merelakan satu tetes air mata menyambut kepergiannya. Berakhir karena alasan klise, alasan yang selalu menguji hubungan di akhir masa sekolah. Hubungan yang berusia seumur jagung, nyatanya telah membiru di hati. Dua tahun masa perkenalan cukup membuat banyak lubang di ingatan. Jalinan yang dipaksa hanya membuat jarak semakin jauh. Tanggal cantik tidak menjamin hubungan menjadi indah.

Luka yang tergores tidak mudah Lulu obati, tidak seperti mengobati luka di jarinya. Hari yang baru bagi Lulu, hanya angin lalu baginya. Dukungan kakak perempuannya tidak membuat hubungan mereka berlanjut. Jika sedari awal bukan Lulu yang ada dihatinya, mengapa menggores terlalu dalam. Jika dia, teman sekelas perempuannya yang berlabuh lebih awal, mengapa masih berusaha menggoyahkan perasan yang Lulu punya. Terlalu cepat mengakhiri, terlalu cepat memulai hubungan baru.

“Arghh!!” Lulu melemparkan buku coklat. Muak dengan semua kenang yang tertulis di dalamnya. Terhitung lima tahun telah berlalu, bohong jika Lulu bilang telah melupakannya. Perandaian-perandaian yang tidak ingin Lulu ucapkan. Mengapa takdir tidak menghapuskan lelaki itu dari ingatan.

Di luar jendela kamar, hujan masih menyelesaikan tugasnya. Lulu bangkit memakai kardigan, mengambil payung dan pergi keluar. Menyebrangi ribuan tetes air, Lulu memasuki kedai makanan cepat saji. “Mari kita lupakan dia dengan makan yang enak.” gumam Lulu.

Memesan menu yang diinginkan, Lulu menunggu di meja yang tak jauh dari tempat memesan. Mata Lulu bosan menangkap pemandangan yang membuatnya iri. Mengapa Lulu tidak bisa merasa bahagia dengan kesendiriannya. Lulu menundukkan wajahnya, memaksa membuat kaki-kaki meja menjadi menarik untuk ditatap.

“Atas nama Lulu.” Lulu berdiri, menghampiri mas-mas yang memanggilnya. Mengambil kotak yang dibungkus kantung plastik putih. Baru selangkah, Lulu kembali membalikkan badan.

“Mas, saya hanya pesan satu kenapa ada dua kotak?” Memperlihatkan dua kotak kertas di balik kantung plastik.

Mas yang ditanya tersenyum, “Itu dari pacarnya, Mbak.” Lulu mengikuti arah ibu jari mas-nya. Seorang lelaki dengan punggung tegap berjalan keluar kedai. Lulu mengernyit, tidak merasa kenal dengan lelaki itu.

“Mas, serius?” tanya Lulu memastikan.

“Loh itu bukan pacar, Mbak?” Lulu bingung, dibalasnya dengan senyum canggung dan mengejar lelaki yang ditunjuk mas-nya tadi.

Mungkin lelaki itu merasakan seseorang mengejar dibelakang, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Lulu pun ikut memperlambat kakinya, menatap cemas punggung yang berbalut jaket denim.

Perlahan tubuh tegap itu berbalik memperlihatkan wajah pemiliknya. Melihatnya kembali, tubuh Lulu bergetar, kakinya tidak dapat menahan, terduduk menutupi wajah dengan payung. Dia kembali. Lelaki berkacamata itu kembali.

Di sela isak tangis, Lulu mendengar langkah kaki mendekat. Lulu mengeratkan pegangan pada payung sampai lelaki itu berkata, “Maafkan aku.” Tangan Lulu terlepas dari payung, menatap lelaki di depannya. Tidak mempedulikan air yang mulai membasahinya, Lulu hanya terus menatapa memastikan dia tidak salah lihat.

“Pakai payungnya, nanti sakit.” suara lelaki itu terdengar khawatir. Lulu yakin, itu memang dia.

4 disukai 878 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction