Disukai
0
Dilihat
9
LABIRIN: The Endless Corridor
Horor
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

“Hah... hah... hah...”

Suara napas terengah-engah bergema berat, memantul kasar di sepanjang lorong batu yang sempit dan gelap gulita. Derap langkah kaki beradu cepat dengan permukaan lantai tanah yang basah dan licin. Setiap kali ia memutar kepala ke belakang, jantungnya serasa dihantam palu godam.

Di balik remang bayang-bayang, entitas itu terus mengejarnya. Sosok raksasa berwarna hitam legam bertubuh tinggi menjulang, dengan puluhan wajah menyeramkan yang tertanam dan bergidik di sekujur kulitnya. Masing-masing wajah mengerang tanpa suara, memancarkan ekspresi yang saling bertabrakan: amarah yang membara, tangisan histeris, rasa takut luar biasa, hingga tatapan dendam yang menusuk ke tulang belakang Rian.

Entitas itu melayang dan merayap tanpa henti, memangkas jarak dan tak membiarkan Rian mencuri napas walau sejengkal pun.

Di ujung lorong yang samar, sebuah titik pendar mengambang. Rian makin mendekati pintu berukir bercahaya, simbol mutlak akhir perjalanannya di labirin ini. Dalam kunjungan-kunjungan sebelumnya, lorong menuju pintu ini adalah bagian favoritnya, suasananya selalu memberikan ketenangan magis. Namun kali ini, tidak ada kata tenang ketika maut merayap tepat di belakang punggungnya.

Dengan sisa tenaga dan lengan yang gemetar hebat, Rian mengulurkan tangan. Jemarinya yang dingin meraih gagang besi tua, memutarnya, dan mendorong pintu itu sekuat tenaga.

Brak!

Seketika, gelombang cahaya putih yang sangat menyilaukan menyergap pandangannya, menelan seluruh bayangan hitam dan menghapus gema erangan di belakangnya....

Beberapa jam sebelumnya...

Seorang pria terbaring telentang di atas lantai batu yang dingin dan berdebu. Bau lembap yang pekat, bersatu dengan aroma besi tua berkarat yang sangat ia kenali, mendadak menyerbu dan menusuk tajam ke dalam saluran pernapasan Rian.

Perlahan, kelopak matanya yang terasa berat terbuka. Ia menyipitkan pandangan, membiarkan pupil matanya beradaptasi dengan penerangan yang remang di dalam ruangan bersudut kusam itu.

Rian m...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)