Apartemen
Drama
Leyla mendekap tas selempang hitam untuk mengamankan berkas lamaran di dalamnya. Konon, di halte itu suka ada copet; kalau kau membawa sesuatu, harus kau dekap. Halte penuh sesak; tua, muda, lelaki, perempuan, pelajar, pekerja kantoran, dan mungkin ada pula pengangguran seperti Leyla. Pukul 07.30 saat itu.
Leyla berdiri, mengedarkan pandangan, berharap menemukan seseorang yang ia kenal, lalu saling bertegur sapa menanyakan kabar masing-masing. Gadis berambut pendek mirip lelaki itu sudah menyiapkan jawaban bila ada pertanyaan hendak ke mana?
Leyla akan menjawab dengan menegakkan dada: ia hendak melamar ...
Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
1#Cinta
yopi
Komik
Happiness
Moh yoga
Flash
Little Boy #01
Tanti Ardiana
Cerpen
Apartemen
Sulistiyo Suparno
Flash
Pemilik Kontrakan
Martha Z. ElKutuby
Novel
Memeto Mori
Hana
Skrip Film
Senyuman Bintang
Andika Ramadhan
Novel
Sebentar
eSHa
Skrip Film
SEMU
Isqa
Flash
Jangan Tanya Jaraknya
kanun
Cerpen
Bertemu Ajak di Thailand
Kiara Hanifa Anindya
Novel
Hujan dan Kenangan
Kaia Sari
Flash
Gadis Panggilan di Pelataran Masjid
Sulistiyo Suparno
Cerpen
Padmi
Tika Sofyan
Skrip Film
Jarak Kita-Script Film (Skenario Film)
Caressa
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Apartemen
Sulistiyo Suparno
Flash
Bronze
Gadis Panggilan di Pelataran Masjid
Sulistiyo Suparno
Cerpen
Bronze
Daun Jati
Sulistiyo Suparno
Flash
Nyanyian Penyemangat Hidup
Sulistiyo Suparno
Cerpen
Bronze
Jangan Berurusan dengan Polisi
Sulistiyo Suparno
Cerpen
Bronze
Balas Dendam Seorang Pengarang Yunior
Sulistiyo Suparno
Cerpen
Bronze
Dua Perjaka Tua
Sulistiyo Suparno
Flash
Bronze
Mimpi Indah
Sulistiyo Suparno
Flash
Bronze
Radio Kuna Kunawi
Sulistiyo Suparno
Flash
Bronze
Pangeran di Bus Kota
Sulistiyo Suparno
Flash
Bronze
Kerinduan Kucing Jalanan
Sulistiyo Suparno
Cerpen
Bronze
Menunggu Kakak Pulang
Sulistiyo Suparno
Flash
Pembaca Pikiran
Sulistiyo Suparno
Flash
Bronze
Disiplin
Sulistiyo Suparno
Flash
Bronze
Ternyata Begini Rasa Cemburu
Sulistiyo Suparno