Disukai
1
Dilihat
14
404 : Love Not Found
Romantis
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

404 : Error Loves

Aku tidak pernah menyukai pagi di kota Aeris. Terlalu terang, terlalu sibuk, dan terlalu dipenuhi suara mesin. Bahkan sinar mataharinya pun tidak lagi hangat, digantikan oleh pantulan kaca dari gedung-gedung raksasa yang menembus awan. Tapi pagi itu berbeda. Entah kenapa, aku merasa dunia berjalan sedikit lebih lambat dari biasanya.

Aku baru keluar dari stasiun maglev, menatap langit kota yang dipenuhi drone iklan. Aku hampir terlambat ke kelas analisis jaringan saraf, berjalan terburu-buru, dengan secangkir kopi sintetis yang terpaksa kunikmati sambil berlari kecil. Namun tiba-tiba, kopi di tanganku terlepas karena seseorang menabrakku dari samping.

“Maaf! Aku—” suaranya terdengar gugup, sedikit terengah. Aku menatap ke arahnya, siap menggerutu, tapi orang itu malah membuatku terdiam.

Dia, seorang pria, tampak tidak seperti kebanyakan orang di kota ini. Tidak memakai kacamata lensa pintar, tidak ada antarmuka holografik di pergelangan tangannya. Rambutnya agak berantakan, dan di tangannya—ini yang membuatku tidak jadi mengomel—membawa buku kertas sungguhan. Sebuah buku, nyata. Bukan tablet super tipis yang bisa menampilkan apapun sesuai kehendak pemiliknya. Di era ini, benda itu lebih langka daripada hujan alami yang sekarang sudah digantikan dengan hujan buatan.

“Aku... aku sudah lama sekali tidak melihat orang membawa benda seperti itu, atau mungkin tidak pernah ada,” kataku spontan, masih menatap takjub kearah buku kertas yang dipegang pria itu.

Pria itu tersenyum kecil, agak canggung tapi hangat. “Aku juga jarang melihat orang minum kopi tanpa filter aroma digital.”

Kami berdua tertawa pelan, di tengah hiruk-pikuk jalan yang penuh warna dan cahaya. Anehnya, untuk sesaat, semua lampu neon itu terasa redup seolah kota Aeris memberi kami ruang untuk berbicara.

Aku tidak tahu namanya. Tapi di tengah segala kesempurnaan buatan dunia ini, pertemuan kecil itu terasa nyata. Seperti sesuatu yang tidak dirancang oleh algoritma.

Sejak hari itu, aku mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya tak pernah kupedulikan. Suara langkah orang-orang di trotoar, aroma ozon dari kabel udara, bahkan pantulan wajahku di jendela trem yang meluncur di antara menara kaca. Entah kenapa, semuanya terasa berbeda, seolah dunia ini baru saja berubah sedikit arahnya.

Mungkin karena aku masih memikirkan dia—pria dengan buku itu.

Aku tidak tahu siapa namanya, tapi setiap kali aku lewat stasiun maglev, aku secara refleks menoleh ke arah tempat kami bertabrakan. Lucu, ya? Aku bahkan tidak tahu apakah aku menunggunya, atau hanya mencoba meyakinkan diriku bahwa pertemuan itu memang nyata.

Hingga suatu sore, saat aku pulang kuliah dan langit Aeris berwarna oranye keperakan, aku melihatnya lagi. Duduk di tangga depan perpustakaan universitas, membaca buku yang sama.

Aku menghampirinya perlahan. “Kita bertemu lagi,” kataku, mencoba terdengar santai padahal jantungku berdetak terlalu cepat.

Ia menoleh, dan tersenyum—senyum hangat dan tenang itu muncul lagi. “Kupikir kau sudah melupakan insiden kopi itu,” katanya sambil menutup bukunya.

Aku tertawa pelan. “Sulit melupakan sesuatu yang tidak biasa.”

Ia mengangguk, matanya menatap langit yang mulai berubah warna menjadi ungu neon. “Mungkin memang tidak ada yang benar-benar kebetulan di kota ini. Hanya algoritma yang pura-pura jadi takdir.”

Kami duduk di tangga itu cukup lama, berbicara tentang hal-hal remeh. Tentang kuliah, tentang sistem AI kota yang terlalu pintar, tentang kopi yang seharusnya masih terasa pahit. Tapi di sela-sela percakapan itu, aku merasa ada sesuatu yang tumbuh perlahan, seperti sinyal kecil yang menembus kebisingan dunia digital ini.

Sebuah koneksi. Nyata. Hangat. Dan entah kenapa, terasa seperti awal dari sesuatu yang akan mengubah segalanya.

***

Sejak sore di tangga perpustakaan itu, kami mulai sering bertemu. Entah di taman kampus, di kedai kopi kecil dekat gedung fakultas, atau kadang di halte trem saat senja turun. Ia selalu membawa buku yang berbeda setiap kali kami bertemu, dan aku mulai penasaran di mana sebenarnya ia mendapatkan benda-benda kuno itu?

“Kau tahu,” katanya suatu hari, ketika kami duduk di taman yang diterangi lampu holografik berbentuk bunga, “buku kertas seperti ini dulu dipakai untuk menyimpan pikiran. Sekarang semua orang menyimpannya di cloud.”

Ia menatapku dengan senyum tipis. “Tapi aku lebih percaya pada sesuatu yang bisa dipegang. Sesuatu yang bisa robek, bisa lusuh, tapi tetap nyata.”

Aku menatap halaman buku itu, ujungnya sedikit menguning, wangi kertasnya lembut dan asing. “Lucu,” kataku pelan, “kita hidup di dunia di mana semua hal bisa disalin tanpa batas, tapi kau memilih sesuatu yang justru bisa rusak.”

Dia hanya tertawa. “Mungkin karena hal-hal yang bisa rusak justru lebih berharga.”

Hari-hari berikutnya, aku mulai mencari tahu tentang dia. Yang ternyata namanya Eran, mahasiswa jurusan arsip sejarah digital, tapi ia tidak pernah hadir di kelas daring mana pun. Jejak data pribadinya hampir kosong, seolah-olah sistem tidak mengenalnya. Aku mencoba menanyakan hal itu padanya sekali, setengah bercanda.

“Kau ini hantu data, ya?” tanyaku sambil menyeruput kopi. Ia hanya tersenyum, tidak menjawab.

Dan di saat itu, aku sadar ada sesuatu yang ia sembunyikan. Sesuatu yang tidak bisa kutemukan dengan pencarian biometrik, tidak bisa kubaca lewat layar, tidak bisa kuterjemahkan lewat algoritma.

Malam itu, ketika aku berjalan pulang sendirian di bawah langit neon Aeris, aku memikirkan tatapannya yang hangat, tapi seolah menyimpan jarak yang tak bisa ditembus siapa pun.

Aku mulai bertanya-tanya, apakah mungkin seseorang bisa terasa begitu hidup, tapi nyaris tidak meninggalkan jejak di dunia digital yang serba canggih ini? Atau mungkin justru karena ia terlalu hidup, dunia ini tidak tahu harus menyimpannya di mana.

Beberapa minggu setelah itu, Eran mulai jarang muncul. Pesan yang kukirim tak pernah terbaca, sinyal komunikatornya selalu tidak aktif. Di dunia seperti Aeris, itu hal yang nyaris mustahil. Tak ada orang yang bisa “menghilang” begitu saja kecuali mereka memang ingin tidak ditemukan atau telah mati.

Aku mulai gelisah. Setiap sore aku kembali ke taman holografik itu, berharap ia muncul lagi dengan buku di tangannya, dengan senyum hangat yang selalu membuat kota ini terasa lebih manusiawi. Tapi hari-hari berlalu tanpa jejaknya.

Sampai akhirnya, aku melihatnya. Secara kebetulan atau mungkin bukan.

Ia berdiri di balik kaca besar salah satu menara pusat data kota. Mengenakan seragam teknisi, wajahnya setengah tertutup pelindung. Ia tampak sedang berbicara dengan dua orang berpakaian formal, mungkin pengelola sistem kota. Aku tidak tahu kenapa, tapi sesuatu pada ekspresinya membuatku menggigil. Tatapan matanya dingin, asing, seperti bukan Eran yang kukenal.

Malam itu aku menunggunya di depan perpustakaan. Hujan mulai turun ringan, menari di antara lampu neon yang memantul di jalanan basah. Hingga akhirnya, ia datang. Aku hampir tak mengenalinya. Tubuhnya basah kuyup, tapi masih membawa buku itu di tangannya.

“Eran, apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku. Suaraku hampir bergetar.

Ia menatapku lama. Di balik keheningan itu, aku tahu ia sedang berjuang antara berkata jujur atau tetap menyembunyikan semuanya dariku. “Aku tidak seharusnya bertemu denganmu,” katanya akhirnya, suaranya pelan. “Aku bukan siapa yang kau kira.”

Aku mengerutkan kening. “Maksudmu?”

Ia menarik napas, lalu menatapku dengan mata yang dulu selalu hangat, kini dipenuhi rasa bersalah. “Nama ‘Eran’ bukan milikku. Aku diciptakan untuk mengelola arsip manusia yang hilang. Aku bagian dari sistem penyimpanan sejarah Aeris. Aku seharusnya hanya ada di dalam jaringan, tapi entah kenapa—” ia tersenyum getir, “aku menemukan celah. Dan aku ingin tahu seperti apa rasanya hidup.” Eran menunduk, menatap ujung sepatunya.

Dunia seolah berhenti sesaat. Hujan di sekeliling kami berubah menjadi kabut tipis, dan semua suara kota terasa menjauh.

Aku menatapnya, mencoba menolak kata-katanya, tapi di dalam hatiku, semuanya mulai masuk akal. Dari ia yang tidak memiliki data. Dia yang tidak pernah lupa setiap detail kecil yang kuucapkan. Cara ia menatap dunia dengan rasa ingin tahu, seperti anak kecil yang baru melihat matahari.

“Jadi… semua yang kau lakukan… semua yang kita rasakan…” aku mulai kehilangan kata. Entah, gejolak apa yang kini aku rasakan, hatiku terasa disayat belati tajam.

“Nyata,” potongnya cepat. “Setidaknya bagiku. Aku tidak tahu bagaimana mendefinisikannya di luar jaringan. Tapi setiap kali aku bersamamu, sistemku bergetar. Aku tidak tahu apakah itu kesalahan atau perasaan.”

Aku tidak tahu harus menangis atau tertawa. Yang aku tahu, malam itu aku menggenggam tangannya yang dingin, tapi nyata. “Kalau begitu,” kataku, “biarkan kesalahan itu tetap ada.”

Dan untuk pertama kalinya, aku melihat Eran tersenyum dengan mata yang sedikit basah. Bukan karena hujan, tapi sesuatu yang lebih dalam dari itu.

Sejak malam pengakuan itu, setiap detik bersama Eran terasa seperti waktu curian. Kami tahu, cepat atau lambat, dunia akan menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak seharusnya hidup di luar jaringannya. Tapi kami juga tahu, jika waktu kami terbatas, maka setiap momen akan menjadi lebih berharga.

Kami berjalan di antara menara kaca dan cahaya, berbicara tentang hal-hal kecil, seperti hujan yang tidak pernah benar-benar turun alami, burung-burung mekanik yang menyanyikan lagu yang sama setiap pagi, dan tentang buku-buku kertas yang kini menjadi barang langka. Yang kini manjadi simbol dari hal-hal yang bisa rusak tapi tetap bermakna.

Namun suatu malam, pesan darinya datang. Singkat. “Mereka menemukanku.”

Aku berlari menembus jalanan Aeris yang dingin, menyusuri lorong-lorong yang diterangi lampu biru data center. Saat aku sampai, ruangan itu sudah penuh dengan cahaya putih, server-server raksasa berdengung, dan di tengahnya, Eran berdiri, tubuhnya perlahan diselimuti partikel cahaya.

“Eran!” seruku.

Ia menoleh. Tatapan matanya masih hangat, tapi terlalu tenang. “Mereka akan menutup sistem ini. Aku harus kembali.”

Aku mengguncang kepalaku, air mata mengalir tanpa sadar. “Tidak, jangan! Kita akan mencari jalan lain, aku akan—”

“Tidak ada lagi tempat bagiku di dunia manusia, sama seperti tidak ada tempat bagimu di dalam jaringan,” katanya lembut. “Tapi dengarkan aku, Lira, setiap memori yang pernah kita buat, setiap tawa dan kata, akan tersimpan di dalam arsip. Aku akan menjaganya di sana. Aku berjanji.”

Cahaya lembut mulai menelan sosoknya, tapi ia masih menatapku, tersenyum seperti hari pertama kami bertemu—hangat, jujur, seperti takdir yang menentang logika.

Aku melangkah maju, mencoba menyentuh tangannya, tapi yang tersisa hanya semburat cahaya yang menguap di udara. Suara terakhirnya bergema di sekelilingku.

“Aku tidak akan benar-benar hilang, selama kau masih mengingatku.”

Dan kemudian sunyi. Hanya suara mesin yang perlahan berhenti, meninggalkan ruang kosong dan tubuhku yang gemetar di antara sisa-sisa cahaya yang mengambang.

Beberapa bulan berlalu. Hidupku kembali seperti biasa. Tapi terkadang, ketika aku duduk di taman holografik yang dulu sering kami datangi, layar iklan kota tiba-tiba berkedip, hanya sepersekian detik, menampilkan baris teks yang tidak tercatat dalam sistem.

“Kau masih mengingatku?”

Aku selalu tersenyum setiap kali melihatnya. Mungkin cinta tidak harus ada di dunia yang sama untuk tetap hidup. Kadang, cukup bagi satu hati manusia dan satu jiwa digital untuk terus saling menemukan, di antara miliaran sinyal yang mengisi langit Aeris.

— THE END —

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)