Disukai
0
Dilihat
11
31-X003: Nama yang Terhapus
Aksi
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Alarm berbunyi tepat di pukul 5 pagi. Suara bising membangunkannya di pagi itu. Pemuda itu langsung melambaikan tangannya di sensor jam hologram yang tersemat di tempat tidur, sesaat kemudian bunyi yang menganggu itupun hilang. Ia langsung beranjak duduk, mengusap matanya, lalu menyalakan layar hologram tepat di depan kasurnya dan mengganti ke siaran berita pagi. Dengan gontai ia beranjak dari tempat tidurnya, lalu menekan tombol di sebelah kanan kasur itu yang membuat kasur itu langsung terlipat perlahan dan menempel ke arah tembok. Ia meregangkan badannya sembari menonton siaran berita pagi itu. “Lagi-lagi omong kosong” tukasnya. Ia langsung mengenakan seragamnya sembari bercermin, lalu memandangi wajahnya yang pucat nan kering itu, efek dari cairan kimia kuat untuk membersihkan sisa-sisa zat ataupun mikroba kontaminasi yang mungkin menembus baju pelindungnya. Ia memandangi wajahnya itu sekali lagi, yang bahkan ia sangat yakin sudah dilupakan oleh ibunya. Namanya Adrian, atau lebih tepatnya dulu namanya Adrian. Sekarang ia lebih sering dikenal sebagai ’31-X003’, nomor yang tersemat di bagian dada sebelah kiri seragamnya, dan nomor yang menjadi identitasnya selama hampir 20 tahun ini.

           Ia menatap kalender hologram di dekat pintu keluar kamarnya. “Empat hari lagi” gumamnya. Sudah hampir 20 tahun ia menjalani tugas dinas paling ekstrim di dunia. Para petugas kebersihan yang memastikan kehidupan setiap orang dapat terjaga. Mereka adalah para pahlawan yang tak pernah dinyanyikan oleh penyair manapun, orang-orang yang bergerak di garis terdepan, tembok utama peradaban manusia. Tugasnya hanyalah membersihkan saluran air dan filter. Namun ini bukan saluran air dan filter biasa. Peradaban manusia yang selalu berusaha mendominasi, mendorong dunia bergerak ke arah yang buruk. Seperti prediksi kita semua, permukaan air makin naik, daratan mulai menyusut, bahkan sampai tidak banyak lagi tempat untuk membuang dan memproses limbah. Akhirnya lewat ribuan data dan observasi, laut menjadi satu-satunya tempat membuang limbah yang masih ada. Masalahnya adalah dengan daratan yang semakin menyusut, semakin sedikit pula sumber air tawar yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Maka, mau-tidak mau, suka-tidak suka, seluruh dunia mulai beralih ke air laut.

Masalah selanjutnya yang timbul adalah kondisi laut itu sendiri. Dengan semakin banyak limbah dan polutan yang dibuang ke laut, bahkan dengan sejumlah proses pengolahan limbah, kondisi laut mulai jadi mematikan. Dari mulai limbah rumah tangga sehari-hari, industri, sampai bangkai/zombi robot-robot drone pembersih yang awalnya dibuat untuk membersihkan laut. Laut yang terus-menerus menerima pasokan limbah dengan skala besar mulai berubah menjadi seperti satu kuali besar racun mematikan. Biota laut yang terpapar zat berbahaya setiap saat juga mulai bermutasi menjadi mahluk-mahluk yang mungkin dulu hanya dapat ditemui di komik ataupun film fiksi-ilmiah. Namun air adalah kebutuhan yang esensial, karena itu dibuatlah sebuah sistem pemurnian yang sangat rumit guna memanfaatkan air laut yang sebenarnya sudah tercemar. Tapi seluruh sistem butuh perawatan yang sangat tidak mudah, dan sangat tidak murah. Awalnya robot-robot drone dirakit untuk menjalankan tugas ini, namun proyek itu gagal. Sistem kecerdasan buatan yang ada tidak punya cukup kemampuan untuk memilah dan melakukan perawatan. Biaya produksi yang membengkak juga membuat program itu dihentikan. Para ahli dan elit pun meyakini bahwa untuk hal berbau perawatan dan pembersihan akan selalu membutuhkan kemampuan manusia. Oleh karena itu dibentuklah suatu unit khusus untuk mengemban tugas tersebut. Sebuah pekerjaan penuh bahaya, yang tidak hanya butuh kemampuan fisik,...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)