PROTOKOL PENGHAPUSAN
11. Yang Diingat Hati
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

DUA PULUH ENAM TAHUN KEMUDIAN – 2052


EXT. JAKARTA – UDARA – SIANG HARI (2052)


Kota telah berubah. Tetapi bukan menjadi distopia. Menuju sesuatu yang lebih terbuka. Lebih transparan. Lebih bebas.


Aksi protes dinormalkan. Perbedaan pendapat ditoleransi. Bertanya didorong.


Sistem itu tidak runtuh dalam semalam. Tetapi retak cukup lebar untuk memungkinkan orang bernapas.


INT. MUSEUM MEMORIAL – SIANG


MUSEUM KORBAN PROTOKOL PENGHAPUSAN


Bangunan modern. Kaca dan baja. Cahaya masuk dengan leluasa. Dinding-dindingnya dipenuhi foto. Nama-nama. Kisah-kisah. Bukti. Empat puluh tujuh ribu orang diperingati. Banyak yang teridentifikasi. Banyak yang tidak, dan selamanya tak diketahui. Namun diakui. Keberadaan mereka diakui.


Di tengah aula utama: layar besar.


PARA PELAPOR


Tiga siluet di depan panel berlatar cahaya. Tidak ada foto yang tersisa. Hanya nama-nama yang terukir di baja:


REZA MAHENDRA (1978–2026)


ARYA PRASETYO (1978–2026)


KIARA MAHENDRA (2005–2026)


Di bawahnya, sebuah plakat menjelaskan pengorbanan mereka:


“Tiga orang yang mempertaruhkan segalanya untuk mengungkap Protokol Penghapusan. Keberanian mereka menyelamatkan ribuan orang dan membongkar penindasan sistematis selama beberapa dekade. Meskipun wajah dan ingatan mereka dihapus, tindakan mereka tetap ada. Kita mengingat apa yang mereka lakukan, meskipun kita tidak dapat mengingat siapa mereka.”


Pahlawan tanpa wajah. Martir tanpa kenangan. Namun tidak dilupakan. Tidak sepenuhnya.


DINA (74, rambut putih, mata lelah, menua dengan anggun) berdiri di depan etalase. Ia datang setiap minggu. Setiap minggu selama dua puluh enam tahun. Tidak tahu mengapa. Tidak ingat siapa orang-orang ini. Namun merasa tertarik ke sini. Merasakan sebuah sambungan yang tak bisa ia jelaskan.


Ia membacakan nama-nama itu dengan lantang. Seperti doa. Seperti ritual.


DINA

(berbisik, penuh hormat)

Reza. Arya. Kiara.


Nama-nama itu tidak berarti apa pun bagi pikiran sadarnya. Otaknya tak mampu membentuk ingatan. Namun hatinya mengingat. Tubuhnya mengingat. Jiwanya mengingat.


Ia menyentuh kaca etalase. Lembut. Penuh hormat. Seperti menyentuh sesuatu yang sakral.


DINA

Terima kasih. Siapa pun kalian. Apa pun yang kalian lakukan.


Di belakangnya: rombongan sekolah. SISWA-SISWA (16–17) mencatat, mempelajari sejarah. Seorang GURU (40-an, bersemangat) berbicara kepada mereka:


GURU

Ingat nama-nama ini. Ingat pengorbanan mereka. Pelajari Protokol Penghapusan. Pahami bagaimana itu bisa terjadi. Agar kita tidak pernah membiarkannya terjadi lagi.


Para siswa menulis nama. Mempelajari bukti. Mengajukan pertanyaan. Generasi berikutnya belajar. Tetap waspada.


Seorang siswi — PEREMPUAN (16, mata tajam, ekspresi tegas) — berhenti di depan layar. Ada sesuatu pada nama “Reza” yang terasa pas. Ia tak bisa menjelaskan alasannya. Ia mengeluarkan buku catatan. Menulis nama itu. Menggarisbawahinya. Sesuatu yang perlu diselidiki lebih jauh. Sesuatu yang perlu dipertanyakan.


Benih telah ditanam.


Pola terus berlanjut. Tetapi kali ini sistem tidak bisa menghapusnya. Terlalu banyak yang mengawasi. Terlalu banyak yang bertanya. Terlalu banyak transparansi. Kali ini perlawanan punya ruang untuk tumbuh.


EXT. MUSEUM MEMORIAL – HALAMAN DALAM – SORE


Dina duduk di bangku. Sore yang hangat. Burung-burung bernyanyi.


Ia memegang sebuah kalung. Kusam. Tua. Entah bagaimana sudah lama ada padanya; ia tidak ingat dari mana. Tidak tahu mengapa ia menyimpannya.


Ukirannya sudah terlalu aus untuk dibaca dengan jelas. Tetapi menyentuhnya terasa... tepat. Penting. Ia selalu memakainya. Satu-satunya ikatan pada sesuatu yang hilang. Seseorang yang telah tiada.


Ponselnya berdering. Putrinya menelepon. (Ya, ia punya seorang putri. Bagaimana mungkin? Tidak ingat kehamilan. Tidak ingat persalinan. Tidak ingat masa bayi. Tetapi putri itu ada. Menelepon setiap minggu. Penyayang. Selalu ada.)


DINA

(menjawab)

Halo?


ANAK PEREMPUAN (V.O.)

(hangat)

Ma, aku cuma mau mengecek keadaan Mama. Mama ke museum lagi ya?


DINA

Iya. Aku tidak tahu kenapa aku terus datang ke sini.


ANAK PEREMPUAN (V.O.)

Mungkin Mama mengenal seseorang. Seseorang yang menghilang.


DINA

Mungkin. Aku tidak ingat.


ANAK PEREMPUAN (V.O.)

Tidak apa-apa, Ma. Ada hal-hal yang tetap diingat hati meskipun pikiran sudah melupakannya.


Mereka berbicara. Hal-hal sepele. Kehidupan sehari-hari. Percakapan biasa. Namun di baliknya: bayangan keluarga yang pernah ada. Cinta yang bertahan dari penghapusan.


Dina menutup telepon. Duduk. Memperhatikan orang-orang yang mengunjungi museum. Siswa. Keluarga. Penyintas. Aktivis. Semuanya datang untuk mengingat. Untuk belajar. Untuk mencegah.


INT. MUSEUM MEMORIAL – SORE


Di bangku kayu panjang, Dina duduk diam. Blusnya rapi, wajahnya tenang namun kosong. Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah PULPEN.


CLOSE UP


Ibu jari Dina menekan tombol pulpen berkali-kali.


CEKLEK. CEKLEK. CEKLEK.


Cepat, obsesif — sama persis dengan gerakan RANI (16) di tahun 1994.


KEMBALI KE ADEGAN


Dina berhenti. Ia membuka telapak tangannya. Di sana tergeletak sebuah KALUNG logam kusam. Ia menatap ukiran yang nyaris terhapus. Hanya beberapa kata yang masih terbaca: “...jangan pernah berhenti bertanya... – Ayah”.


DINA

(berbisik, bingung)

Bertanya tentang apa?


Ia menghela napas dan menutup kembali kepalan tangannya. Baginya, itu hanyalah benda antik tak bermakna. Ia menatap sebuah foto besar di dinding museum: RANI KUSUMA (16), dengan mata pemberontaknya yang abadi.


DINA

Kasihan sekali anak ini...


Seorang STAF MUSEUM muda mendekat.


STAF MUDA

Waktunya minum obat, Bu Dina. Mari, saya antar ke mobil.


Dina tersenyum santun. Ia berdiri, merapikan blusnya yang licin. Ia tidak tahu siapa gadis di foto itu. Ia adalah bukti hidup dari keberhasilan “Protokol Penghapusan”.


CUT TO:


DETAIL: SAKU BLUS DINA


Saat ia berjalan menjauh, kamera menyorot NODA TINTA SEGAR yang merembes di saku blusnya, akibat pulpen yang bocor karena terlalu sering ditekan. Di jempolnya, terlihat BEKAS LUKA SABIT yang sudah tua.


Kamera ZOOM OUT perlahan. Dina hilang di antara kerumunan pengunjung yang sibuk memotret sejarah yang telah ia lupakan.


FADE TO BLACK.


TEKS PUTIH muncul di layar hitam:


Tirani yang paling sempurna bukan yang memenjarakan tubuhmu.

Tapi yang membuatmu lupa bahwa kau pernah melawan.


JEDA (2 DETIK).


DIPERSEMBAHKAN UNTUK:


Semua orang yang dihapus dari sejarah.

Semua orang yang dibungkam oleh rasa takut.

Semua orang yang berbicara.


FADE OUT.

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)