FADE IN:
LAYAR HITAM
Keheningan. Murni. Sempurna.
Kemudian, TEKS PUTIH muncul karakter demi karakter, seperti seseorang mengetik di terminal komputer tua:
“Beberapa dosa dilakukan dalam diam.
Beberapa di antaranya terhapus dari ingatan.
Namun tak satu pun lolos dari konsekuensi.”
Kata-kata itu BERKILAU. Lalu mulai LARUT — bukan memudar, melainkan larut — piksel demi piksel, seperti dihapus oleh kode yang tak terlihat.
Sinyal statis menyala, lalu berganti menjadi:
EXT. JALANAN JAKARTA – PAGI HARI (1994)
Fajar menyingsing dengan enggan. Matahari — kuning telur yang berdarah — berjuang menembus kabut asap industri, memulas kota dengan jingga yang pucat.
SUPER: “JAKARTA, INDONESIA – MEI 1994”
Kota terbangun sedikit demi sedikit. Roda gerobak berdecit: pedagang kaki lima mendorongnya menembus kabut, membawa aroma nasi goreng dan teh manis. Aroma perjuangan untuk bertahan hidup.
Lalu kawanan itu: ratusan sepeda motor melaju menembus warna abu-abu, deru mereka seperti sarang tawon yang marah.
Sebuah bus meraung, paru-paru hitam yang mengembuskan asap diesel. Di dalamnya penumpang berdesakan seperti ternak, wajah-wajah terhimpit kaca. Sudah lelah. Sudah babak belur.
Pemandangannya bagai sebuah anomali: reruntuhan peninggalan Belanda tahun 1920-an yang membusuk di samping rangka baja gedung pencakar langit yang setengah jadi.
Semuanya sementara. Semuanya menunggu masa depan yang tak kunjung tiba.
EXT. SMA NEGERI SATYA NEGARA – PAGI
Sebuah monumen tiga lantai bagi kemerosotan institusi.
Dibangun penjajah Belanda pada 1920-an. Dulu putih; kini kuning seperti gigi tua. Genteng merahnya lepas di sana-sini, celah-celah pada senyum yang patah.
Jendela-jendelanya berjeruji — bukan untuk mencegah penyusup masuk, melainkan agar para siswa tetap di dalam.
Gerbang besi berderit terbuka, memprotes dengan suara berkarat.
Para siswa berbondong masuk berseragam putih-abu-abu. Ratusan. Potongan rambut seragam. Ransel yang sama. Nyaris tanpa suara.
Mereka tidak berlari. Tidak tertawa. Tidak berteriak. Hanya berjalan. Mata menunduk, bahu terkulai. Patuh.
Di pos jaga duduk SEORANG PENJAGA (60-an, pensiunan militer, kumis setebal sapu ijuk), memindai kartu pelajar dengan ketelitian mesin.
BEEP. Ia memberi isyarat masuk. BEEP. Masuk. BEEP. Masuk.
Ia tidak memperhatikan wajah. Dua puluh tahun bekerja di sini, dan tak sekali pun ia benar-benar melihat wajah seorang siswa. Bagi dia, mereka bukan manusia. Hanya nomor.
Di atas gerbang, sebuah spanduk berkibar ditiup angin pagi:
“DISIPLIN ADALAH KUNCI SUKSES”
Kainnya pudar, tepinya berjumbai, sudutnya sobek. Tak seorang pun membacanya lagi. Tak perlu. Pesan itu sudah masuk ke dalam diri mereka lewat pengulangan.
INT. KORIDOR SEKOLAH – PAGI
Panjang. Sempit. Menyesakkan.
Cat hijau institusi mengelupas dari dinding seperti kulit mati, memperlihatkan kerusakan puluhan tahun. Di langit-langit, noda air melebar menjadi peta cokelat yang organik.
Lampu neon BERKEDIP spasmodik — gas yang sekarat, kabel yang terbuka. Bahaya kebakaran di tempat yang sudah ditinggalkan oleh Tuhan dan negara.
Poster propaganda berjajar di dinding, beberapa meter sekali. Satu menampilkan siswa yang memberi hormat pada bendera, postur sempurna, tatapan kosong:
“TAAT HARI INI, PEMIMPIN ESOK HARI”
Satu lagi memajang kelima sila Pancasila dalam huruf berornamen:
“PANCASILA – DASAR NEGARA KITA”
Tak seorang pun ingat lagi apa artinya. Hanya simbol. Kalori kosong bagi jiwa.
Dua anak lelaki berjalan melawan arus siswa.
REZA MAHENDRA (16) — rambut dipangkas begitu pendek hingga kulit kepalanya tampak. Seragam disetrika dengan presisi militer. Ia bergerak hemat dan hati-hati, seperti orang yang belajar mengecilkan diri. Matanya melihat segalanya, tetapi tak mengungkapkan apa pun.
ARYA PRASETYO (16) — rambut sedikit lebih panjang dari aturan (pemberontakan kecilnya). Seragamnya selalu kusut, sekuat apa pun ibunya berusaha. Energinya gelisah, nyaris tak terkendali. Tangannya tak bisa diam. Matanya melirik ke mana-mana.
Sahabat terbaik. Delapan tahun, sejak sekolah dasar. Tak terpisahkan. Namun berbeda dalam satu hal yang menentukan: Reza menembus kerumunan dengan mudah, naluriah mencari celah, menghindari rintangan. Arya menabrak tiga orang dalam sepuluh detik.
Mereka berhenti di keran air minum. Keduanya minum, tetapi itu hanya penundaan yang menyamar sebagai rasa haus.
ARYA
(pelan, sambil mengamati wajah-wajah di sekitar)
Kudengar Rani akan mempresentasikan esainya hari ini. Jam pelajaran pertama. Kelas Pak Teguh.
Reza tidak langsung menjawab. Ia menyesap air lagi, mengulur waktu.
REZA
(menatap lurus ke depan, tidak menoleh pada Arya)
Ya. Aku tahu.
ARYA
Dia itu sangat berani atau sangat bodoh. Aku belum bisa memutuskan yang mana.
REZA
(senyum tipis dan getir)
Mungkin keduanya.
Mereka berlama-lama di sana. Tak satu pun ingin pergi ke kelas.
ARYA
Menurutmu kita harus mengatakan sesuatu? Mendukungnya?
Reza menyeka mulutnya perlahan, mengulur waktu untuk merangkai jawaban yang aman.
REZA
Apa? Bahwa kita sepakat sistemnya rusak?
ARYA
Memangnya kamu setuju? Bahwa sistemnya rusak?
Reza tidak langsung menjawab. Ia menatap poster di dinding — “BERSATU KITA TEGUH” — cat pada kata BERSATU mulai mengelupas. Ia menangkap ironinya.
REZA
(hati-hati, setiap kata ditimbang)
Menurutku sistem ini bekerja dengan sempurna. Hanya saja tidak untuk semua orang. Sistem ini dirancang untuk memilah. Pemenang dan pecundang. Yang patuh dan yang mengganggu.
ARYA
Itu bukan jawaban.
REZA
Itu jawaban yang aman.
ARYA
(memperhatikan sahabatnya)
Sejak kapan kamu peduli soal aman?
REZA
(akhirnya menatapnya; ada sesuatu yang tua di matanya)
Sejak dulu. Kamu saja yang tidak pernah menyadarinya.
Mereka saling menatap. Sesuatu yang mendasar terungkap. Fondasi persahabatan itu mulai retak: Arya akan bicara, Reza akan diam. Satu jalan menuju bahaya, satu lagi menuju keselamatan. Keduanya berujung penyesalan.
Bel berbunyi — tajam, menuntut, final, seperti ketukan palu hakim. Para siswa bergegas ke kelas, terseret arus.
ARYA
(mulai melangkah)
Ayo. Jangan sampai ketinggalan eksekusinya.
Reza mencengkeram lengannya. Keras.
REZA
(bisikan mendesak)
Jangan bercanda soal itu.
Senyum Arya memudar. Mereka berdua tahu ia tidak bercanda.
INT. RUANG KELAS – PAGI
Empat puluh meja dalam grid kaku 8×5. Dinding hijau institusi yang pucat, retak dan kusam. Di depan, papan tulis retak dengan bekas debu kapur yang tak pernah hilang. Di sampingnya, meja guru dari kayu jati yang berat dan kokoh — monumen kekuasaan yang dirancang untuk bertahan lebih lama daripada daging dan tulang di ruangan ini.
Di sisi kiri, jendela berjeruji menghadap tembok bata lima meter jauhnya. Tak ada langit. Tak ada jalan keluar. Hanya bata.
Para siswa masuk berbaris — mekanis, berirama, seperti koreografi hafalan otot.
RANI KUSUMA (16) berdiri di depan kelas. Ia sudah menjadi patung selama lima belas menit. Kertas esai digenggam erat. Tangannya gemetar.
CLOSE UP: TANGAN RANI
Ia memegang sebuah pulpen plastik murah. Ibu jarinya menekan tombol pulpen itu berulang kali.
CEKLEK. CEKLEK. CEKLEK.
Cepat — kegugupan yang ditekan. Ujung jempolnya mulai memerah.
CLOSE UP: SAKU SERAGAM
Di saku seragam putihnya merembes NODA TINTA biru kecil. Pulpen itu bocor karena ditekan tanpa henti.
Setetes keringat menuruni pelipisnya. Seragamnya tipis karena sudah dicuci ribuan kali; sol sepatunya berkali-kali diganti sampai kulitnya aus. Tetapi dagunya terangkat, dan matanya menyimpan badai tanpa suara.
Para siswa lain berbisik, mata mereka melirik lalu berpaling. Mereka memperlakukannya seperti penyakit menular. Seperti hantu.
DONI (16, bertubuh kekar, berwajah bulat, mudah gugup) mencondongkan tubuh ke siswa di sebelahnya.
DONI
(berbisik)
Kenapa dia cuma berdiri di situ?
SISWA 1
(balas berbisik, gugup)
Pak Teguh sengaja membuatnya menunggu. Perang psikologis. Pernah kulihat dia begitu.
SISWA 2
(mencondongkan badan)
Dia gila. Kenapa dia menulis esai itu?
DONI
Isinya apa?
SISWA 1
(melirik sekeliling, memastikan tak ada yang mendengar)
Katanya dia mengkritik sistem ujian nasional. Menyebutnya otoriter. Katanya itu menghancurkan kemampuan berpikir kritis.
Para siswa menarik napas tajam. Kata itu. “Otoriter.” Kata yang berbahaya.
SISWA 2
Tamat dia. Benar-benar tamat. Pak Teguh akan menghancurkannya.
Mereka terdiam saat Reza dan Arya masuk.
Reza langsung melihat Rani berdiri di sana. Perutnya mual — bukan karena terkejut, ia tahu ini akan terjadi, melainkan karena takut. Seperti menonton kecelakaan mobil dalam gerak lambat.
Arya juga melihatnya. Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal.
Mereka menuju bangku mereka di barisan kelima. Arya di dekat jendela, Reza di sebelahnya. Bangku yang sama seperti biasa. Wilayah yang diklaim lewat pengulangan.
Reza tak bisa berhenti menatap Rani. Ia tampak begitu kecil. Rentan. Sendirian.
Seluruh dirinya berteriak: Tolong dia. Katakan sesuatu. Lakukan sesuatu.
Seluruh dirinya berbisik: Tetap tenang. Tetap aman. Bertahan hidup.
Ia menunduk. Membuka buku catatan. Berpura-pura membaca.
Pengecut. Ia tahu itu. Ia membenci dirinya karena itu.
Dan tetap melakukannya.
Di depan, Bapak TEGUH WIBOWO (50-an) duduk di mejanya, membaca koran Kompas. Batiknya disetrika rapi. Kacamata tebalnya memantulkan lampu neon di atas kepala, menyembunyikan matanya. Wajahnya seperti dipahat dari granit — tanpa kehangatan, tanpa belas kasihan, hanya otoritas.
Ia membaca dengan santai. Halaman depan: reformasi ekonomi. Membalik halaman dengan sengaja pelan. Membuat Rani menunggu. Menunjukkan dominasi bahkan sebelum satu kata terucap.
Jam dinding di atas papan tulis: TIK. TIK. TIK. Setiap detik terasa panjang. Waktu menjadi elastis ketika kita ketakutan.
Rani menggeser berat badannya. Kaki kiri ke kaki kanan, lalu kembali. Kertas di tangannya berdesir. Sebuah robekan kecil muncul di tempat ibu jarinya mencengkeram terlalu keras. Ia menyadarinya, melonggarkan genggaman, tetapi tak bisa berhenti gemetar.
Pak Teguh membalik halaman. Santai. Sepuasnya.
Akhirnya — setelah waktu yang terasa seperti keabadian yang dipadatkan jadi lima menit — ia menyingkirkan koran itu. Melipatnya dengan presisi, tepian sempurna. Semuanya terkendali.
Ia berdiri perlahan. Kursinya menggesek ubin; bunyinya keras di tengah kesunyian. Lalu langkah sepatunya: KLIP-KLAP-KLIP.
Sepatu Oxford, dipoles sampai mengilap seperti cermin. Harganya lebih mahal daripada penghasilan sebulan sebagian besar keluarga murid.
Ia mengitari Rani perlahan. Pemangsa yang mengintai mangsa terluka. Kini ia berada di belakang Rani. Rani tak bisa melihatnya, hanya merasakan kehadirannya. Beban otoritas yang menekan.