PROTOKOL PENGHAPUSAN
3. Meja yang Bersih
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

Beberapa siswa terengah. Adrenalin melonjak. Lawan atau lari.


Tetapi tak ada tempat untuk lari. Dan melawan? Tak terpikirkan.


TEGUH

(pada Rani, suaranya kini lembut — lebih menakutkan daripada teriakan)

Duduklah, Rani. Kita sudah membuang cukup banyak waktu berharga di kelas ini karena kekeliruanmu yang sesaat. Penilaianmu. Ketertarikanmu pada individualisme Barat. Kebingunganmu tentang perilaku yang pantas.


Rani tidak bergerak. Kakinya tak mau digerakkan. Lututnya terkunci. Lumpuh oleh rasa takut. Seluruh tubuhnya bergetar seperti daun tertiup angin.


TEGUH

(lebih keras, memerintah)

Saya bilang, duduk.


Seperti robot yang tiba-tiba dialiri daya, ia bergerak. Berjalan menuju bangkunya. Setiap langkah menyiksa — seperti berjalan di dalam air, di pasir hisap, di tengah kerumunan yang menghakimi. Eksekusi publik dalam gerak lambat.


Para siswa mempelajari meja mereka dengan saksama. Permukaan meja yang luar biasa. Belum pernah mereka memperhatikan pola serat kayunya. Menarik sekali. Tak ada kontak mata. Tak ada simpati. Tak ada solidaritas. Sebab melihat berarti ikut terlibat. Berarti menjadi korban berikutnya.


Rani sampai di bangkunya. Barisan ketiga, bangku kedua dari jendela. Ia duduk. Tangannya terlipat di pangkuan secara otomatis — respons terlatih. Postur patuh. Matanya terpaku pada permukaan meja. Tak mau mendongak. Tak bisa.


Hancur. Remuk. Dijadikan contoh.


Reza duduk dua baris di belakangnya. Mengamati segalanya. Merasakan segalanya. Otot lehernya menegang seperti kabel baja yang nyaris putus. Pulpennya digenggam begitu erat hingga hampir patah. Tangannya gemetar. Ingin bangkit. Ingin bicara. Ingin bertindak.


Otaknya berteriak: KATAKAN SESUATU! BELA DIA! LAKUKAN SESUATU YANG BENAR!


Insting bertahan hidup lebih lantang: DIAM! TETAP AMAN! JANGAN JADI KORBAN BERIKUTNYA!


Tatapannya bertemu tatapan Pak Teguh sepersekian detik. Senyum tipis menyungging di wajah sang guru. Dingin. Penuh arti. Menantang.


Silakan. Aku menantangmu. Aku menunggu. Beri aku alasan.


Saat itu juga Reza melihat masa depannya runtuh seperti domino: nilai buruk di ujian berikutnya, tercatat permanen. Surat rekomendasi ditolak. Lamaran universitas ditolak. Orang tua kecewa. Mimpi hancur. Arah hidup berantakan.


Semua itu untuk apa? Satu momen keberanian yang sia-sia? Satu tindakan tak berarti yang toh tak akan menyelamatkannya?


Sepadankah? Adakah sesuatu yang sepadan?


Tangannya turun. Perlahan. Seolah terbebani rantai. Kembali ke permukaan meja: posisi aman. Posisi terlibat. Posisi pengecut.


Ia mencoret-coret kertas. Lingkaran-lingkaran penuh amarah. Goresan kasar. Pulpennya mengukir alur dalam di buku catatan. Kertas berderit karena tekanan. Seratnya robek.


SRET.


Halaman itu koyak, sudutnya terlepas — kekerasan kecil terhadap sesuatu yang tak berdaya.


Dua baris di depannya, Rani memejamkan mata. Napasnya memburu, jantungnya seperti kelinci yang terpojok. Sesuatu di dalam dirinya mati. Sebuah pintu besi terbanting di dadanya, mengunci keberanian dan menggantinya dengan kepatuhan.


Ia membuka buku tulisnya. Merapikan halaman yang koyak, menambalnya dengan selotip. Berpura-pura bahwa diam tidak membunuh jiwanya. Namun ia tahu: ia sedang memilih bertahan hidup, bukan membela kebenaran. Dan ia membenci itu.


Pak Teguh kembali mondar-mandir, tangan terlipat di belakang punggung.


TEGUH

Dengar baik-baik. Saya ingin kejelasan. Tanpa ambiguitas.


Ia berhenti dan mengetuk sebuah meja dengan buku jarinya. Tok. Tok.


TEGUH

Berpikir kritis itu penting. Saya sangat mendukungnya. Sangat.


Ia berjalan lagi. Tenang. Terukur. Mengendalikan setiap inci oksigen di ruangan.


TEGUH

Tapi — dan ini intinya — berpikir kritis punya tempat. Punya waktu. Dan punya metode yang dapat diterima.


Ia mendekati papan tulis, mengambil kapur baru, dan menulis di samping pesan sebelumnya:


BERPIKIR UNTUK SISTEM, BUKAN MELAWAN SISTEM


Ia berbalik menghadap kelas. Debu kapur di jari-jarinya seperti cat perang. Seperti tanda otoritas.


TEGUH

Berpikir kritis yang mendukung tujuan kolektif kita — yang memperkuat stabilitas sosial, yang membantu kita maju bersama secara harmonis — itu membangun bangsa. Itu bagus. Itu berharga. Itulah yang dilakukan warga negara yang terdidik, bertanggung jawab, dan patriotik.


Ia menunjuk para siswa dengan kapur. Gerakan menuduh.


TEGUH

Tetapi pemikiran kritis yang memecah belah — yang mempertanyakan landasan yang telah kita sepakati bersama, yang menaruh pendapat seorang remaja di atas kebijaksanaan jutaan orang dewasa, yang meninggikan perspektif individu di atas konsensus nasional...


Ia berhenti. Membiarkan bebannya meresap.


TEGUH

Itu bukan berpikir kritis. Itu kesombongan. Itu keegoisan. Itu kekacauan yang menyamar sebagai kecerdasan. Itu racun Barat yang menyamar sebagai pencerahan.


Hening. Hanya dengung lampu neon. Perut seseorang berbunyi keras. Pergeseran duduk yang canggung.


Di luar: lalu lintas Jakarta bergemuruh. Pedagang berseru-seru. Kehidupan normal terus berjalan. Di dalam: tekanan. Ketegangan. Ketakutan.


TEGUH

Dipahami?


Tak ada jawaban. Pertanyaan itu menggantung, menuntut. Para siswa membeku, takut bicara, takut bergerak.


TEGUH

(suaranya menebal, memerintah)

Saya bertanya: mengerti?


SISWA

(serempak sempurna, otomatis, terlatih seperti militer)

Baik, Pak.


Seperti paduan suara. Seperti sekte. Seperti peleton yang menjawab sersan. Dilatih sejak sekolah dasar — sepuluh ribu pengulangan selama bertahun-tahun. Tanpa berpikir. Hanya kepatuhan.


TEGUH

(senyum tak sampai ke mata, puas)

Luar biasa. Sangat bagus. Sangat patuh. Ini membuat saya senang.


Ia kembali ke mejanya dan membuka buku nilai. Pena merah siap seperti senjata. Ia membalik halaman, mencari kelas ini, memindai nama-nama.


TEGUH

Ujian nasional tinggal empat belas hari lagi. Dua minggu dari hari ini. Saya telah mempersiapkan kalian dengan matang. Sepanjang tahun ini saya mengajari kalian persis apa yang perlu kalian ketahui. Persis apa yang perlu kalian hafalkan. Persis jawaban mana yang benar.


Ia mengangkat pandangan dari buku. Matanya menyapu kelas seperti lampu sorot di halaman penjara.


TEGUH

Kalian tahu apa yang diharapkan. Kalian tahu jawaban mana yang mendapat nilai tertinggi. Pendapat mana yang dapat diterima. Pandangan dunia mana yang cocok. Pikiran mana yang aman.


Jeda. Biarkan implikasinya meresap dalam-dalam.


TEGUH

Jika ada siswa di kelas ini — siapa pun — yang tidak setuju dengan metode mengajar saya, filosofi pendidikan saya, pandangan saya tentang nilai-nilai sosial dan nasional yang benar...


Jeda lebih lama. Ancaman menggantung seperti pedang.


TEGUH

Kalian sepenuhnya bebas untuk memilih tidak mengikuti ujian. Bebas untuk tidak berpartisipasi. Bebas untuk abstain.


Jeda.


TEGUH

Dan bebas pula menghadapi konsekuensi alami dari pilihan itu.


Senyumnya melebar. Penuh perhitungan. Menikmati kuasa.


TEGUH

Kalian enam belas, tujuh belas tahun. Cukup umur untuk mengendarai sepeda motor. Cukup umur untuk bekerja. Cukup umur untuk menikah di beberapa provinsi. Cukup umur untuk memahami dengan sangat jelas bahwa setiap pilihan menghasilkan konsekuensi. Setiap tindakan menghasilkan reaksi. Setiap keputusan ada harganya.


Ia menatap langsung ke arah Rani. Rani merasa kecil.


TEGUH

Ya?


Tak ada yang menjawab. Tak ada yang berani. Keheningan membentang, menekan.


CRING!


Bel meledak. Tajam. Keras. Tak terduga. Penyelamat. Seperti alarm, seperti pembebasan, seperti izin untuk bernapas lagi.


Beberapa siswa terlonjak. Sesaat tak seorang pun bergerak, takut ini jebakan.


Lalu Pak Teguh mengibaskan tangan. Gestur yang meremehkan.


TEGUH

Bubar.


Para siswa menyambar tas, buku, kertas, pensil. Apa saja. Kepanikan yang terkendali. Pelarian yang putus asa. Berbondong-bondong menuju pintu, mencari udara, mencari ruang, mencari jarak dari ruangan ini, dari momen ini, dari rasa malu ini.


Dalam tiga puluh detik, kelas nyaris kosong.


Hanya Rani yang tersisa. Masih duduk. Membeku. Menatap meja seolah serat kayunya menyimpan jawaban.


Reza berkemas dengan lambat. Terlalu lambat. Sengaja lambat. Terus meliriknya. Ingin bicara. Ingin minta maaf. Apa saja.


Maafkan aku. Itu tidak adil. Dia salah. Kamu benar. Aku pengecut, tapi kamu pemberani.


Kata-kata itu terbentuk di benaknya, jernih, kalimat-kalimat yang sempurna. Mati di tenggorokan. Larut sebelum mencapai bibir. Sebab bicara sekarang tidak menghapus diam yang tadi. Tidak membebaskan. Tidak memperbaiki.


Arya sudah pergi. Pergi cepat-cepat. Ia tak sanggup melihat Rani lagi.


Rani akhirnya berdiri. Kakinya gemetar, tak stabil, seperti belajar berjalan setelah kecelakaan. Ia bergerak ke pintu. Pelan. Retak.


Ia melewati Reza dalam jarak kurang dari semeter. Begitu dekat hingga bisa disentuh. Bisa diajak bicara. Bisa terhubung.


Reza membuka mulut. Ini dia. Kesempatan terakhir. Sekarang. Katakan sesuatu. Apa saja.


Tak ada yang keluar. Tenggorokan kering. Suara hilang. Keberanian hilang.


Rani lewat. Tidak menatapnya. Tidak menatap siapa pun. Matanya lurus ke depan, wajahnya tanpa ekspresi, seperti mayat berjalan.


Lalu pergi.


Reza menyampirkan tas di bahunya. Siswa terakhir yang keluar. Ia menoleh ke belakang sekali.


Pak Teguh duduk sendirian di mejanya, menorehkan tanda merah di buku nilai. Catatan permanen. Konsekuensi permanen. Menulis masa depan Rani. Hukumannya. Penghapusannya.


Semuanya kembali normal. Seolah tak terjadi apa-apa. Seolah jiwa Rani Kusuma tidak baru saja dihancurkan di depan umum. Seolah menyaksikan kehancuran seseorang tidak ikut menghancurkan para saksinya.


Pintu menutup di belakang Reza.


SORE HARI


INT. KORIDOR SEKOLAH – SORE


Panjang. Sempit. Menyesakkan. Lebih parah daripada tadi pagi.


Dinding terasa semakin sempit. Langit-langit semakin rendah. Udara semakin berat. Noda air di langit-langit melebar seperti penyakit yang menyebar.


Poster propaganda lain terpasang setiap beberapa meter:


“DISIPLIN ADALAH KUNCI SUKSES”

“BERTANYA MENCIPTAKAN KEKACAUAN”

“PERSATUAN MELALUI KEPATUHAN”


Bel pulang telah lama berbunyi. Reza berjalan sendirian, melawan arus siswa yang pulang. Langkah kakinya bergema. Hampa.


Siswa lain berkelompok. Tertawa. Bicara. Menjalani hidup, berpura-pura pagi tadi tak pernah terjadi. Mereka menjauhinya. Sesuatu terpancar dari dirinya — rasa bersalah, rasa malu, rasa takut — seperti aura, seperti penyakit. Mereka merasakannya, seperti hewan yang mencium kelemahan. Jauhi. Jangan sentuh. Kontaminasi menyebar.


Di ujung koridor: pintu kelas tadi pagi, terbuka sedikit. Berderit di engsel yang berkarat.


Reza berhenti. Menatap. Sesuatu menariknya, tak terjelaskan, seperti gravitasi. Seperti takdir.


Ia melihat sekeliling. Tak ada yang memperhatikan. Tak ada yang peduli.


Ia berjalan ke arah pintu itu.


INT. RUANG KELAS – SORE


Berbeda dalam cahaya sore. Lebih lembut. Keemasan. Nyaris indah. Nyaris ramah.


Butiran debu menari dalam sinar matahari yang menembus jendela kotor, membuat segalanya terasa seperti mimpi. Tak nyata. Seperti kenangan.


Empat puluh bangku, semuanya kosong. Kursi-kursi didorong masuk, rapi, sempurna. Menunggu hari esok. Murid berikutnya. Korban berikutnya.


Slogan-slogan Pak Teguh sudah lenyap dari papan tulis. Bubuk kapur di lantai pun sudah disapu. Pagi tadi seolah tak pernah ada. Yang tersisa hanya sebaris soal matematika kemarin, yang tak pernah dihapus siapa pun, bertahan seperti hantu:


x + y = ?


Tak ada jawaban. Pertanyaan dibiarkan menggantung. Seperti semuanya.


Reza bergerak seperti orang berjalan dalam tidur. Tanpa berpikir. Tanpa memilih. Kakinya membawanya ke sebuah bangku. Barisan ketiga, kedua dari jendela.


Bangku Rani.


Di sinilah ia duduk tadi pagi. Di sinilah ia akan duduk besok — jika ia kembali. Akankah ia kembali?


Reza berhenti di depannya. Menatap.


Bangku itu terawat sempurna. Bersih. Tanpa noda. Tak ada goresan pulpen yang dipakai dengan gugup. Tak ada inisial yang diukir murid bosan. Tak ada bekas lingkaran gelas. Tak ada aus akibat siku yang bersandar.


Tak ada bukti pernah dipakai. Seolah belum pernah diduduki. Seolah suci. Seolah terpelihara. Seolah menunggu.


Bahkan debu yang menyelimuti setiap permukaan lain tidak menempel di sini. Seperti medan gaya yang tak terlihat. Seperti tempat suci.


Reza mengulurkan tangan. Gemetar. Jari-jarinya melayang di atas kayu. Lalu menyentuh. Permukaannya dingin. Padat. Nyata.


Jari-jarinya menelusuri pola tak terlihat. Menulis kata-kata yang tak akan pernah terucap. Permintaan maaf yang tak akan pernah terdengar.


REZA

(berbisik, suaranya bergetar)

Maafkan aku.


Telapak tangannya menekan rata ke kayu. Putus asa. Memohon.


REZA

(lebih keras, marah pada dirinya sendiri)

Aku ingin menolongmu. Seharusnya aku bicara. Seharusnya aku membelamu. Seharusnya aku lebih baik. Seharusnya aku lebih berani.


Suaranya pecah. Air mata panas membakar di belakang matanya, tetapi tak mau jatuh. Ia tak mengizinkan dirinya menangis. Ia tak pantas mendapat kelegaan itu.


REZA

(hampir terisak)

Aku minta maaf. Ya Tuhan, aku sangat menyesal. Kumohon... maafkan aku.


Ruangan itu tak menawarkan apa pun. Tak ada pengampunan. Tak ada penghiburan. Tak ada kedamaian. Hanya keheningan. Debu. Cahaya sore yang membungkus keindahan, membuat kengerian tampak damai.


Reza menarik tangannya cepat-cepat, seolah meja itu membakarnya. Seolah sentuhan rasa bersalah itu menyakitkan secara fisik. Ia mengusap matanya dengan kasar. Marah. Jijik pada dirinya sendiri. Lemah. Pengecut.


Ia berbalik dan berjalan ke pintu. Setiap langkah lebih berat daripada sebelumnya. Di ambang pintu, ia menoleh sekali. Bangku kosong. Ruangan kosong. Jiwa kosong.


Ia pergi. Pintu menutup di belakangnya dengan KREEEK yang panjang dan memilukan — terdengar seperti tangisan. Seperti dinding yang berduka.


Lalu hening. Mutlak. Berat. Hanya gema engsel yang berderit, memudar... memudar... memudar... sampai tak ada apa-apa.


Hanya keheningan. Dan rasa malu. Dan awal dari tiga puluh dua tahun rasa bersalah.

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)