Pak Teguh melangkah masuk ke ruang pribadi Rani — cukup dekat untuk disebut pelanggaran.
TEGUH
Sistem inilah yang membangun bangsa ini. Sistem ini telah melahirkan insinyur, dokter, dan pemimpin. Dirancang oleh para ahli, disahkan oleh negara, dan diberkati oleh Presiden sendiri.
Ia mencondongkan tubuh, pemangsa yang kian dekat.
TEGUH
Lalu ada kamu. Enam belas tahun. Tanpa kualifikasi. Tanpa mandat. Hanya seorang remaja dengan... perspektif yang terbatas.
Ia berhenti sejenak. Membiarkan rasa takut itu bergolak.
TEGUH
(desis rendah dan tajam)
Dan menurutmu sistem ini... rusak?
Tawa gugup meledak dari barisan belakang — lalu padam seketika saat kepala Pak Teguh bergeser sedikit ke arah mereka. Keheningan total.
Bisik-bisik menjalar di antara barisan bangku seperti angin di rumput kering:
SISWA-SISWA (O.S.)
(berbisik)
Habis dia... Kenapa dia menulis itu? ... Bodoh sekali... Gila.
Pak Teguh mengangkat satu tangan. Gerakan kecil, kuasa yang luar biasa. Keheningan jatuh seketika. Sempurna. Mutlak. Seperti konduktor yang menghentikan orkestra di tengah nada.
TEGUH
(berbalik menghadap kelas, menjauh dari Rani)
Angkat tangan. Berapa orang di kelas ini yang setuju dengan penilaian Nona Kusuma? Berapa orang yang menganggap sistem pendidikan kita pada dasarnya rusak?
Empat puluh siswa. Empat puluh tangan tetap tertunduk. Tak seorang pun bergerak. Tak seorang pun menunjukkan solidaritas.
Tangan Reza bertumpu di mejanya. Jari-jarinya sedikit melengkung. Ingin terangkat.
Di bawah meja, tangan Arya mencengkeram pergelangan Reza. Kuat. Peringatan. Jangan. Jangan berani-berani.
Tangan Reza tetap di bawah. Tetap aman. Tetap terlibat.
Ia akan mengingat momen ini selamanya. Saat ia memilih diam daripada berani. Keamanan daripada kebenaran. Bertahan hidup daripada berprinsip.
TEGUH
(kembali pada Rani, suaranya sedingin es)
Menarik. Sungguh luar biasa. Kamu benar-benar sendirian dalam pendapat ini. Empat puluh siswa. Empat puluh tidak setuju. Satu setuju — kamu.
Ia membiarkannya meresap. Matematika isolasi.
TEGUH
Katakan padaku, Rani. Ketika empat puluh orang berpikir satu cara, dan satu orang berpikir lain, mana yang lebih mungkin? Bahwa empat puluh orang itu salah? Atau bahwa satu orang itu yang salah?
RANI
(suara nyaris berbisik, serak)
Pak Teguh, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa seluruh sistem ini rusak. Saya hanya bermaksud... kita bisa memperbaiki beberapa aspeknya. Menjadikannya lebih... lebih...
Ia terdiam. Kehilangan kata. Kehilangan keberanian. Kehilangan dirinya sendiri.
TEGUH
Lebih apa? Lebih kebarat-baratan? Lebih liberal? Lebih individualistis?
RANI
Tidak, Pak. Maksud saya—
TEGUH
(memotong)
Apa yang kamu inginkan, Rani?
Pertanyaan itu terdengar filosofis. Padahal jebakan.
TEGUH
Perhatian? Pengakuan? Dipandang sebagai revolusioner pemberani? Pahlawan bagi teman-teman sekelasmu?
Ia melangkah lebih dekat. Kini hanya beberapa inci dari wajahnya.
TEGUH
Atau kamu memang tidak mengerti betapa berbahayanya kata-katamu? Betapa mengguncang? Betapa merusak?
RANI
(air mata mulai menggenang, suaranya bergetar)
Pak, saya hanya berpikir... kalau kita berdiskusi... mungkin kita bisa—
Ia merenggut kertas itu dari tangan Rani.
Pinggiran kertas yang kaku menyayat sela antara ibu jari dan telunjuk Rani. Pak Teguh menghantamkan esai itu ke meja terdekat. PLAK! Suaranya seperti tembakan di ruangan yang sunyi.
Para siswa terlonjak. Rani tersentak paling keras, menarik tangannya ke belakang. Setetes darah muncul dari sayatan kertas itu. Ia menggenggam jempolnya, mengabaikan perih, dan hanya berdiri di sana. Terluka. Dipermalukan. Hancur.
Darah itu akan mengering menjadi bekas luka kecil berbentuk sabit — yang akan menetap di sana selamanya.
TEGUH
Kamu yang menulis esai ini. Benar? Kata-kata ini berasal dari pikiranmu sendiri?
Ia membuka lipatan esai itu, memindainya dengan jeda yang dibuat-buat dramatis.
RANI
(hampir tak terdengar)
Ya, Pak.
TEGUH
Bicara yang keras. Teman-temanmu tidak bisa mendengar kalau kamu bergumam seperti anak kecil yang ketakutan.
RANI
(lebih keras, suaranya bergetar)
Ya, Pak. Saya yang menulisnya.
TEGUH
(senyum puas — pemangsa mencicipi darah)
Bagus. Sangat bagus. Kejujuran itu penting. Akuntabilitas itu penting. Bertanggung jawab atas kesalahan sendiri — itu penting.
Ia membuka esai itu sepenuhnya dan mulai membaca dengan suara lantang, penuh ejekan:
TEGUH
(membaca)
“Keadaan Nasional Saat Ini. Sistem ujian gagal mengukur pemahaman sejati maupun kemampuan berpikir kritis. Sistem ini hanya berfokus pada kemampuan menghafal dan kecepatan mengingat. Siswa dilatih menghafal jawaban yang benar dari buku teks, bukan berpikir mandiri, menganalisis secara kritis, atau memecahkan masalah dunia nyata secara kreatif.”
Ia berhenti. Mendongak. Mengamati seluruh kelas, memastikan semua orang mendengarkan. Semua orang menyerap pelajaran.
TEGUH
(melanjutkan, setiap kata adalah racun)
“Hal ini menciptakan generasi pengikut yang patuh, yang unggul dalam mengikuti instruksi tetapi kesulitan berinovasi. Kita menjadi robot yang diprogram dengan informasi, bukan manusia yang diberkahi kebijaksanaan.”
Hening. Biarkan kata “robot” bergema.
TEGUH
Robot.
Ia mulai melipat kertas itu. Setiap lipatan lambat. Seremonial. Ritualistik.
TEGUH
Kamu memanggil teman-teman sekelasmu — orang-orang yang duduk di ruangan ini, yang kamu kenal sejak sekolah dasar, yang berbagi buku pelajaran denganmu, belajar bersamamu, makan siang bersamamu —
Melipat.
TEGUH
Kamu menyebut mereka robot.
Melipat.
TEGUH
Kamu memanggil aku — gurumu — pemrogram robot.
Melipat.
TEGUH
Kamu menyebut seluruh sistem pendidikan kita — fondasi pembangunan nasional kita — pabrik yang memproduksi mesin tanpa akal.
Lipatan terakhir. Kertas itu kini menjadi persegi kecil. Tak berarti. Hancur. Ia mengangkatnya di antara ibu jari dan telunjuk, lalu memperlihatkannya kepada kelas.
TEGUH
Inilah yang terjadi pada ide-ide berbahaya. Ide yang mengancam stabilitas sosial. Ide yang mendorong kekacauan, bukan ketertiban. Ide yang meninggikan opini individu di atas kearifan kolektif.
Ia berjalan perlahan ke jendela dan membukanya. Panas pagi menerobos masuk bersama suara lalu lintas Jakarta. Kehidupan terus berlanjut di luar.
TEGUH
Ukurannya semakin kecil.
Ia memegang kertas terlipat itu di ambang jendela. Tiga lantai di atas tanah. Ia melepaskannya.
Kertas itu melayang di udara. Berputar. Jatuh. Menghilang.
TEGUH
Sampai mereka menghilang sama sekali.
Ia menutup jendela. Menepuk debu dari tangannya. Seolah membersihkan kotoran.
Ia kembali ke depan kelas. Rani masih berdiri di sana. Air mata mengalir di wajahnya. Menangis tanpa suara.
Para siswa menatap ke mana saja kecuali ke arahnya. Langit-langit sungguh menarik. Meja-meja mereka sungguh menarik. Tangan mereka sendiri pun sungguh menarik. Bukan iba — melainkan menjaga diri. Menatapnya bisa menulari.
Doni, yang duduk dekat bangku Rani, menggeser kursinya sedikit menjauh. Jarak fisik dari kemungkinan terseret.
Reza menatap mejanya begitu lama hingga pandangannya kabur. Rasa malu membakar dadanya seperti asam.
Pengecut. Pengecut. Pengecut.
Arya mencengkeram pergelangan tangannya lebih erat. Menahannya tetap diam. Tetap tenang. Tetap aman.
TEGUH
(berbalik ke papan tulis, mengambil kapur baru)
Izinkan saya menjelaskan kepada kalian semua. Karena rupanya Nona Kusuma percaya bahwa sistem pendidikan kita telah gagal.
Ia menulis dengan huruf besar:
INDIVIDUALISME = KEKACAUAN
Ia menggarisbawahinya. Keras. Kapur berderit — suara yang menyakitkan. Sekali lagi, lebih tegas.
TEGUH
(kembali menghadap kelas)
Individualisme sama dengan kekacauan. Ingat ini. Hafalkan ini. Percayai ini.
Ia mondar-mandir di antara deretan bangku. Para siswa menciut saat ia lewat.
TEGUH
Bangsa kita telah melewati penjajahan, revolusi, percobaan kudeta, krisis ekonomi, dan pergolakan politik. Kalian tahu bagaimana caranya? Kalian tahu kenapa kita masih di sini? Masih berfungsi? Masih berkembang?
Ia berhenti di tengah ruangan.
TEGUH
Karena kita mengerti sesuatu yang tak akan pernah bisa dimengerti orang Barat. “Kebebasan” dan “demokrasi” — itulah yang membutakan mereka.
Ia berhenti sejenak untuk memberi efek.
TEGUH
Satu orang itu lemah. Satu gagasan itu rapuh. Satu suara itu tak berarti. Tetapi seratus sembilan puluh juta orang? Seratus sembilan puluh juta suara berbicara serempak? Itulah kekuatan. Itulah kekuasaan. Itulah kelangsungan hidup.
Ia memberi isyarat melebar.
TEGUH
Kita bukan individu-individu. Kita adalah bangsa. Kita bukan suara-suara yang terpisah. Kita adalah sebuah simfoni. Kita bukan banyak roda yang berputar ke mana pun mereka mau. Kita adalah satu mesin. Satu mesin terpadu yang berputar ke satu arah. Kemajuan.
Ia menggenggam kapur lebih erat. Buku-buku jarinya memutih.
TEGUH
Namun satu roda... hanya satu... yang merasa lebih tahu daripada seluruh mesin...
Ia meremas kapur itu.
Para siswa tanpa sadar mencondongkan tubuh ke depan. Tak sanggup berpaling.
TEGUH
Satu roda yang menyimpang dari jalur yang ditentukan... yang mempertanyakan rancangan mesin... yang menganggap kehendaknya sendiri lebih penting daripada fungsi bersama...
KRAK!
Kapur itu meledak di tangannya. Serpihan beterbangan seperti pecahan peluru. Bubuk putih menyembur, awan debu kapur menggantung di udara, mengendap perlahan seperti abu radiasi. Para siswa terlonjak. Beberapa menjerit. Seorang gadis di barisan depan memekik histeris.
Jantung Reza berdebar kencang. Cengkeraman Arya meninggalkan memar di pergelangan tangannya.
TEGUH
(sangat tenang, mengusap tangan; bubuk kapur berjatuhan seperti abu)
...merusak segalanya.
Hening. Hanya terdengar debu kapur yang jatuh ke ubin, dan dengung lampu neon di atas kepala.