INT. RUMAH DINA – RUANG TAMU – PAGI HARI (SETELAHNYA)
Cahaya fajar menyaring masuk melalui jendela. Lembut. Halus.
Dina terbangun di sofa. Masih mengenakan pakaian kemarin. Bingung. Terasa... aneh. Hampa. Tersesat. Ada sesuatu yang salah secara mendasar, tetapi ia tidak bisa menunjuk apa.
Ia duduk tegak. Melihat sekeliling rumah. Semuanya terasa familier. Semuanya terasa salah.
Ia berjalan perlahan melewati ruangan-ruangan.
INT. KAMAR TIDUR – TERUSAN
Ia membuka lemari. Setengah kosong. Pakaiannya di satu sisi. Gantungan kosong di sisi lainnya.
Bukankah kemarin lebih penuh? Ia mengerutkan kening. Mencoba mengingat. Tidak. Memang selalu selapang ini. Benar kan?
Namun dadanya terasa hampa. Seolah sebagian dirinya hilang.
INT. KAMAR MANDI – TERUSAN
Satu sikat gigi di tempatnya. Sampo miliknya. Handuknya.
Tentu saja. Ia tinggal sendirian. Selalu begitu... bukan?
Sakit kepalanya memburuk. Seperti migrain. Seperti amnesia. Seperti dukacita atas sesuatu yang tidak bisa ia ingat.
INT. RUANG TAMU – TERUSAN
Ia berjalan ke bufet. Ada sebuah foto di sana.
Foto pernikahan. Ia ada di sana. Cantik. Muda. Tersenyum dalam kebaya putih.
Memegang... udara kosong. Lengannya melingkari sesuatu yang kosong. Namun posisi tubuhnya menunjukkan ada seseorang di sana. Berdiri di sampingnya. Memeluknya.
Ia menatap foto itu sambil mengerutkan kening. Otaknya mencoba membentuk ingatan. Gagal. Mencoba lagi. Gagal lagi.
DINA
(berbisik ke ruangan kosong)
Siapa yang seharusnya ada di sana?
Tak ada jawaban. Hanya rumah kosong. Foto kosong. Hidup yang hampa.
Telepon berdering. Ibunya. Ia menjawab sambil tetap menatap foto itu.
DINA
Halo, Ma.
IBU (V.O.)
(cemas)
Dina, sayang. Mama hanya ingin menanyakan kabarmu. Suaramu terdengar sedih.
DINA
Aku merasa melupakan sesuatu yang penting. Seseorang yang penting.
IBU (V.O.)
Seperti siapa?
DINA
Aku tidak bisa... Aku tidak ingat. Tapi rasanya sakit.
IBU (V.O.)
Mungkin kamu hanya lelah. Bekerja terlalu keras. Jaga dirimu baik-baik.
DINA
Ma... foto pernikahanku. Kapan itu diambil?
IBU (V.O.)
(bingung)
Pernikahan? Belum, Sayang. Kamu kan selalu fokus pada karier. Ingat?
DINA
Benar. Benar. Tentu saja. Tapi rasanya tidak benar.
Ia menutup telepon. Menatap foto itu lagi. Ruang kosong itu menghantuinya. Ia meletakkan foto itu telungkup. Tak tahan melihatnya.
MONTASE – PENGHAPUSAN SISTEMATIS
TAYANG DI BERBAGAI LOKASI
Basis data pemerintah: nama-nama menghilang.
REZA MAHENDRA – HAPUS
ARYA PRASETYO – HAPUS
KIARA MAHENDRA – HAPUS
Catatan universitas: tak pernah terdaftar. Tak pernah lulus.
Catatan pekerjaan: tak pernah dipekerjakan. Tak pernah bekerja.
Rekening bank: tak pernah dibuka. Tak pernah ada.
Profil media sosial: lenyap begitu saja saat digulir. Teman-teman merasakan ada celah di foto. Tidak ingat siapa yang dihapus.
Kontak telepon: nama terhapus dengan sendirinya. Percakapan hilang.
INT. CNA CORP – KANTOR REZA – SIANG
Petugas kebersihan masuk dengan troli. Meja Reza kosong. Tanpa papan nama. Tanpa foto. Tanpa barang pribadi.
Tak seorang pun duduk di sana. Tak pernah ada seorang pun yang duduk di sana.
Keesokan paginya: seorang karyawan baru duduk di sana. Tidak bertanya.
INT. APARTEMEN ARYA – SIANG
Pemilik gedung masuk bersama penyewa baru. Apartemen kosong. Debu tebal. Jendela retak. Tak ada yang tinggal di sini selama bertahun-tahun.
Catatan sewa menunjukkan kekosongan sejak tahun 2020. Selalu kosong.
INT. LAB KOMPUTER UNIVERSITAS – SIANG
Rekan satu kelompok proyek akhir tiba membawa kopi. Di meja pojok ada dua kursi, tetapi hanya satu laptop.
Ia tampak bingung. Bukankah selalu ada seseorang di kursi yang satunya?
Tidak. Kelompok ini memang hanya dia. Ia mengangkat bahu, membuka laptopnya. Lupa.
SATU MINGGU KEMUDIAN
INT. JAKARTA – BERBAGAI LOKASI – SIANG HARI
Kota terus berjalan. Kehidupan terus berjalan. Sistem terus berjalan.
Tetapi ada sesuatu yang berbeda.
LAYAR TV DI KAFE, KANTOR, DAN RUMAH:
PEMBAWA BERITA (V.O.)
“Berita terkini: kebocoran data besar-besaran mengungkap dugaan program pengawasan pemerintah...”
Aksi protes jalanan mulai terbentuk. Orang-orang membawa papan bertuliskan:
SIAPA YANG HILANG?
TRANSPARANSI
KAMI MENGINGAT
SEKARANG!
Liputan berita internasional: PBB menuntut penyelidikan atas basis data orang hilang... Kecaman internasional terhadap “protokol penghapusan”... 47.000 nama dirilis...
INT. KANTOR JURNALIS INVESTIGASI INTERNASIONAL – SIANG
SEORANG JURNALIS (30-an, bertekad, kelelahan) memeriksa dokumen-dokumen bocoran.
LAYAR KOMPUTER: RIBUAN BERKAS. FOTO. CATATAN. BUKTI.
Ketukan di pintu. SEORANG SUMBER (gugup, anonim, berhoodie) masuk.
SUMBER
Anda meminta bukti fisik.
Ia meletakkan sebuah benda di atas meja. Kecil. Logam. Usang.
JURNALIS
Apa ini?
SUMBER
Kalung. Ditemukan di apartemen yang seharusnya kosong. Sistem mencatat apartemen itu kosong selama bertahun-tahun. Tetapi kalung ini membuktikan seseorang pernah tinggal di sana.
Jurnalis memeriksanya. Ada ukiran di bagian belakang: “Untuk Kiara. Jangan pernah berhenti bertanya. – Ayah”
JURNALIS
Siapa Kiara?
SUMBER
Menurut berkas yang bocor: gadis yang membongkar semua ini. Gadis yang sudah tidak ada lagi.
JURNALIS
Tapi benda ini ada.
SUMBER
Ya. Benda fisik. Tidak bisa dihapus secara digital.
Jurnalis itu menatap kalung tersebut. Bukti bahwa seseorang pernah ada. Bukti cinta. Bukti pengorbanan.
JURNALIS
Aku akan memastikan kisah ini diceritakan. Sekalipun aku tidak bisa menyebut namanya.
SUMBER
Hanya itu yang dia inginkan. Kisahnya terungkap. Kebenaran terbuka.
Sang sumber pergi. Jurnalis kembali menulis. Kalung itu tergeletak di samping keyboard — jangkar fisik bagi hantu digital.