NYAI ORAY
1. SALAKA DOMAS
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

FADE IN

 

BLACK SCREEN : O.S : Kawih Sunda “SALAKA DOMAS”

IEU.. IEU LAYANG.. IEU KUMALAYANG.. SAHA ANU HAYANG.. KUDU WANI NEANG.. IEU.. IEU LAYANG.. SAHA ANU MEUNANG.. JONGJON KUMELENDANG.. JONGJON LAMUN MIANG..

Sayup-sayup alunan tembang SALAKA DOMAS mengawal malam. ESTABLISH suasana Kerajaan GALUH yang terselimuti kabut malam. Beralih pada pegunungan dan hutan yang membingkai kota ageung yang berada ditengahnya. Bulan sabit sesekali menghilang saat awan hitam beriring melintasinya. DUARRR..!! Petir menggelegar. Diikuti kilat yang membelah langit malam.

O.S : Suara tertawa perempuan tua yang menyeramkan. TENSION BUILDS UP.

 

FADE OUT

 

01. EXT/INT. HUTAN SANCANG. AIR TERJUN. GUA. NIGHT

CAST : JAYADEWATA

HIGH ANGLE : ESTABLISH Pemandangan Hutan SANCANG yang rimbun dengan pepohonan. Tampak curug Sawer menjulang gagah. Suara air terjun menggemuruh dahsyat. Kabut tipis mengelilingi sekeliling. CAMERA membelah air terjun yang menggemuruh. Memasuki sebuah ruangan gua yang temaram.

Di dalam gua, diantara gemuruhnya air terjun, JAYADEWATA sedang bersemedi. Tangannya bersidekap. Matanya terpejam. Suara gemuruh air perlahan menghilang. Berganti dengan suara gemericik air yang menentramkan.

DUARRR..!! Tiba-tiba Petir menggelegar di angkasa. Gua bergetar hebat, seperti ada gempa bumi. Kilatan cahaya menerpa wajah JAYADEWATA.

ZOOM IN TO CU : Kedua mata JAYADEWATA seketika terbuka.

Di saat bersamaan, tujuh bayangan Maung Bodas (Harimau Putih) muncul dari berbagai sudut, mengelilingi JAYADEWATA. TENSION BUILDS UP.

Auman Maung Bodas menggema, bersahut-sahutan. Tangan JAYADEWATA mulai bergetar. Tatapannya mengitari sekeliling gua. Waspada dengan kehadiran ke 7 Maung Bodas yang tengah mengaum dan bersiap menerkam. CU : Wajah-wajah Maung Bodas yang sadis dan bersiap menerkam. TENSION BUILDS UP.

CUT TO

 

02. EXT. BUKIT JARIAN. NIGHT

CAST : NYAI ORAY

O.S : Suara tertawa Perempuan Tua yang menyeramkan. PANNING AROUND ke sekeliling pemandangan BUKIT JARIAN. Sebuah tempat persembahan untuk upacara seba. Bukit itu berada diantara tebing-tebing cadas yang tinggi.

Di tengah tanah lapang diatas sebuah bukit. NYAI ORAY berdiri diatas batu besar yang menjulang. Busananya berkelebatan tertiup angin. DUARR..! Kilat menyambar.

Kecantikan wajah NYAI ORAY dipantulkan cahaya kilat. Dikepalanya ada mahkota berupa tanduk hitam dalam lengkungan yang elegan. Sepasang sayap kelelawar hitam cantik tersembul dipunggungnya. (Penggambaran kecantikan dan sikap elegan tokoh NYAI ORAY merujuk pada tokoh Maleficient di film Maleficent)

ZOOM IN TO CU : Bibir cantik NYAI ORAY yang bergumam penuh intimidasi.

NYAI ORAY
Malam ini.. Aku harus menandai siapa Perawan Seba yang akan aku jadikan tumbal untuk melanggengkan kecantikan dan kekuatanku..

Dari bibir cantik itu terdengar kembali suara tertawa yang menyeramkan. NYAI ORAY melesat terbang diikuti ribuan kelelawar yang mengikutinya. TENSION BUILDS UP.

CUT TO

03. INT. GUA SANCANG. NIGHT

CAST : JAYADEWATA

BRASSHH..!! Ketujuh Maung Bodas menyerang JAYADEWATA. Serangan maung Bodas disambut JAYADEWATA hanya dengan menggerakkan tangan dengan jurus MAPAG RAGA. DUARR..! DUARR..! Satu persatu Maung Bodas terpental saat menyerang. Maung Bodas marah. Mereka serempak menyerang dengan ganas. FIGHT SERU.

Tubuh JAYADEWATA salto ke udara dengan ringan. Membuat jurus-jurus dengan tangan dan kakinya yang bergerak indah. BUGHH..! BUGHH..! tendangan memutar JAYADEWATA berhasil melumpuhkan enam maung Bodas. Ke enam Mung Bodas terpental ke dinding gua dan menghilang seperti asap. Menyisakan satu MAUNG BODAS (sebenarnya Raja Jin bernama PRABU GILING WESI SAKTI) yang masih tersisa. Sementara JAYADEWATA kembali bersedekap dalam duduk semedinya.

CU : Sepasang mata JAYADEWATA beradu pandang dengan mata MAUNG BODAS.

MAUNG BODAS mengaum murka. BRASSSHH..! Melompat menyerang JAYADEWATA dalam aumannya yang menggema. Pertarungan kembali terjadi. JAYADEWATA meladeni serangan MAUNG BODAS dengan santai. Jurus-jurus indah MAPAG RAGA kembali diperlihatkan. Tubuhnya meliuk indah menghindari serangan. Membuat MAUNG BODAS kesal. Dia semakin membabibuta menyerang.

Di detik-detik terakhir, JAYADEWATA menggerakan telunjuknya seperti menjentik sesuatu. CLING..!! Kilatan cahaya memantul dari gelang timah yang dipakai ditangannya. Pantulan cahaya itu meluncur cepat menuju MAUNG BODAS yang kaget luar biasa. DUARRR..! MAUNG BODAS terpental dan meraung kesakitan.

JAYADEWATA menyadari kelemahan lawan. Ia pun melesat ke arah MAUNG BODAS yang baru saja menjejakkan kakinya di tanah setelah tubuhnya membentur dinding gua. SRETT..! JAYADEWATA mengalungkan gelang timah itu di kedua kaki depan MAUNG BODAS. Membuat MAUNG BODAS seketika mengaum kembali.

MAUNG BODAS
Ampuun... ampuunn..!! Aku menyerah.. Kuakui kesaktianmu.. kisanak.. Jangan habisi aku..!! Aku berjanji.. Aku akan menjadi abdi setiamu.. Asal engkau membiarkan aku tetap hidup..!!

 

JAYADEWATA bersalto ke udara. Kemudian menjejakkan kakinya di tanah. Sementara MAUNG BODAS meringkuk kesakitan di sudut gua. Tubuhnya perlahan berubah menjadi sosok manusia.

JAYADEWATA kembali menggerakkan tangannya. Dari tangannya muncul seberkas cahaya, melesat ke arah MAUNG BODAS. MAUNG BODAS berhenti mengaum. Sesaat kemudian ia bangun. Lalu menghaturkan sembah.

MAUNG BODAS
Hamba haturkan sembah hamba untuk RADEN.. Terimakasih RADEN sudah memberi kesempatan hamba untuk tetap hidup.. Hamba janji.. Hamba akan memenuhi janji hamba..

 

JAYADEWATA
Aku pegang janjimu. Pengabdianmu kuterima..!! Kupanggil kamu dengan nama TABLO.. KI TABLO..!!
 

MAUNG BODAS kembali menghaturkan sembah. Diantara tatapan tajam JAYADEWATA. Sesaat setelah menghaturkan sembah, MAUNG BODAS menghilang. Sementara JAYADEWATA kembali melanjutkan semedinya.

 CUT TO

 

04. EXT. DESA CIPELES. RUMAH KUWU CIPELES. NIGHT

CAST : NYAI ORAY, EXTRAS

ESTABLISH : Pemandangan sebuah desa. SFX : Suara auman srigala.

Dari kejauhan, terlihat bayangan seperti burung besar melayang. Diikuti oleh ribuan kelelawar yang mengikutinya dari belakang. Suaranya khas. Membuat setiap orang yang mendengarnya bergidik ngeri. Rombongan manusia kelelawar itu menyambangi satu persatu rumah WARGA. Mengitari atapnya. Hingga rombongan itu berhenti di sebuah rumah besar ditengah desa.

Sepasang kaki menapak di tanah. Diikuti tapak-tapak kaki lain yang merubah wujudnya dari kelelawar menjadi sosok-sosok manusia berjubah hitam panjang. Mereka berbaris di belakang sosok pemimpinnya yang berdiri paling depan. Mereka menghela senjata rantai dengan bandul tengkorak diujungnya.

DUARRR..!! Kilat menyambar. Menampakkan wajah cantik sang pemimpin yang tak lain dan tak bukan adalah NYAI ORAY. NYAI ORAY terkekeh sinis. Sementara wajah-wajah pengikutnya yang berbaris dibelakang tampak sudah. Wajah-wajah pucat pasi berwujud tengkorak berbingkai jubah panjang menjuntai menyapu tanah.

NYAI ORAY
Aku sudah menentukan.. Siapa yang harus dijadikan tumbal saat purnama ketiga belas nanti..!
 
PASUKAN
Sendiko NYAI..!
 
NYAI ORAY
Darah perawan itu ada di rumah itu..!!

 

Suara NYAI ORAY tegas menggema. Tangannya yang memegang tongkat berkepala tengkorak yang dililit beberapa ekor ular membuat satu gerakan. Dari mulut tengkorak di tongkatnya muncul cahaya merah.

DUARR..!! NYAI ORAY menghentakkan cahaya itu menuju rumah. Seketika, cahaya merah itu mengelilinginya. NYAI ORAY tersenyum sinis. Lantas melesat terbang. Diikuti pasukannya yang kembali berubah wujud menjadi pasukan kelelawar.

CU : Pintu rumah KI KUWU yang sudah bertanda gambar kelelawar hitam yang dibelit ular.

CUT TO

 

05. EXT. TANAH LAPANG. NIGHT

CAST : BUJANG MANIK, EXTRAS

 

Di sebuah tanah lapang. Pendekar Misterius sedang bertarung dengan Tiga pendekar hitam. FIGHT SERU. Ditengah-tengah pertempuran, pendekar misterius yang bernama BUJANG MANIK itu melontarkan pertanyaan seputar keberadaan anaknya yang hilang.

BUJANG MANIK
Cepat kalian katakan..! Dimana keberadaan anakku..!! Yang kalian ambil saat dia masih bayi..!! Katakan..!!

PENDEKAR 1
Percuma kamu tanyakan itu..!! Kami tidak tahu dimana keberadaan anakmu..!!
 
BUJANG MANIK
Bohong..!! Aku yakin.. Kalian pasti menyembunyikannya di satu tempat..!

 

BUJANG MANIK melompat menerjang Tiga Pendekar Hitam. Ketiga Pendekar bersalto dalam gerakan serempak. Membentuk formasi tiga berlian mengelilingi BUJANG MANIK. DUARR..!! Mereka melontarkan tenaga dalam dengan kekuatan penuh.

BUJANG MANIK gesit bersalto ke udara. DUARR..!! Tenaga dalam ketiga Pendekar saling beradu. Menimbulkan percikan api dan berbalik menyerang ketiganya seperti bumerang.

BRAKK..!! ketiga Pendekar terpental dan berguling ke belakang. BUJANG MANIK tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia menyusul mereka dengan serangan jurus AMBEK PATI.

DUARR..!! Dua Pendekar tak mampu berkelit dari serangan mendadak itu. Keduanya tewas seketika. Sementara Pendekar satu yang sadar akan situasi, sontak melompat kabur. Namun BUJANG MANIK mengejarnya dengan bersalto ke udara dan terbang.

BUGGHH..!! Tendangan BUJANG MANIK tepat bersarang di punggung Pendekar satu. Membuat Pendekar satu terlempar beberapa meter. BUJANG MANIK segera menyusulnya.

Namun saat menjejakkan kaki di depan Pendekar satu. BUJANG MANIK terperanjat kaget. Karena Pendekar satu sudah menghunus pedangnya.

BUJANG MANIK
Cepat katakan..!! Dimana anakku..!!
 
PENDEKAR SATU (Terkekeh)
Cari aku di neraka..! kalau kamu ingin mengetahui keberadaan anak kamu..!

 

BRASSHH..!! Pendekar satu menancapkan pedang ke dadanya. Dia melakukan harakiri di depan BUJANG MANIK. Hal itu membuat BUJANG MANIK limbung. Tubuhnya melorot ke tanah dalam posisi bersimpuh.

BUJANG MANIK
Dimana engkau sebenarnya, anakku..? Ayah rindu dengan kamu.. Seratus purnama kita terpisah... Hati ayah sakit setiap kali mengingat takdir yang membuat kita seperti ini.. 

 

ZOOM IN TO CU : Sepasang mata BUJANG MANIK yang meneteskan air mata. Kesedihan menggerayangi sekujur tubuhnya. Dengan gontai dia menghampiri kudanya. Menaikinya perlahan. Lantas menutup matanya dengan selembar kain hitam.

BUJANG MANIK
Bawalah aku bertemu anakku, SHENTIR.. (nama kuda yang berarti lampu -sansekerta) Terserah kamu, mau bawa aku kemana..

 

BUJANG MANIK menarik tali kekang. SHENTIR pun berlari kencang. Sosok keduanya menembus kabut dan menghilang dibalik kegelapan malam.

CUT TO


Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)