EXT. PINGGIR JALAN – SIANG
Langit tampak gelap. Awan hitam tebal menyelimuti seluruh langit. Seolah bumi akan segera diserbu bala tentara dari balik mendung.
Atau memang benar-benar akan turun hujan.
Damar, cowok jangkung itu menuntun sepedanya perlahan. Di sampingnya berjalan Wulan, cewek mungil yang menggerakkan kaki pendeknya dengan cepat untuk mengimbangi langkah panjang Damar. Mereka menyusuri pinggiran aspal.
Tiba-tiba rintik hujan turun. Keduanya segera menepi. Mereka berbelok ke sebuah bengkel berteras yang tampak tutup.
EXT. TERAS BENGKEL – SIANG
DAMAR mengibas-ngibaskan rambutnya yang sedikit basah lalu menyisirnya dengan jari.
DAMAR
Sebenarnya tadi rencana kamu, kita mau ke mana?
WULAN (menoleh)
Nggak tahu.
DAMAR (mengernyit, mulutnya sedikit ternganga)
WULAN (berkedip.)
Yang nggak terlalu banyak orang aja.
Hujan semakin deras. Damar memandang sekeliling bengkel. Ia melihat sebuah bangku plastik yang digantung dekat pintu aluminium.
DAMAR (segera mengambil bangku itu)
Duduk, gih.
WULAN (menatap Damar)
Kamu?
DAMAR
Udah duduk aja.
Wulan menurut. Damar melipat tangan di depan dada. Tatapannya lurus ke arah hujan.
DAMAR
Katanya mau cerita.
WULAN
Aku—
(Lalu terdiam)
Damar menoleh. Wulan tampak ragu. Tatapannya kosong.
DAMAR
Lan.
Wulan menggigit bibir bawahnya. Matanya berkedip beberapa kali. Lalu menundukkan kepala. Damar tak dapat melihat jelas ekspresinya.
WULAN (terisak)
Hiks.
Damar segera mendekat, berjongkok di depan Wulan. Dengan ragu, tangannya bergerak hendak mengusap air mata Wulan. Namun Wulan menepis pelan. Ia mengusap wajahnya sendiri. Kemudian mengangkat kepala.
DAMAR
Ada apa sebenarnya?
(menatap Wulan penuh keyakinan)
Sorot matanya menyiratkan bahwa ia tak akan marah atau kecewa apa pun yang akan dikatakan Wulan.
Saat Wulan membalas tatapannya, Damar mengangguk mantap. Lalu tersenyum tipis.
WULAN
A-a-a-ku...
(kembali terdiam lalu memejamkan mata, air mata menetes dari sudut matanya)
WULAN
Hiks... hiks...
DAMAR meraih tangan kanan Wulan, menggenggamnya dengan kedua tangan. Erat. Penuh harapan.
DAMAR
Ini, kan, aku, Lan. Damar Mahardika, sahabat kamu sendiri. Apa pun yang akan kamu katakan, aku pasti bisa terima.
WULAN (menghela napas berat. Menggeleng beberapa kali)
DAMAR
Nggak apa-apa.
WULAN (menatap Damar sekali lagi)
Aku cuma sampah.
(Dan kembali menangis)
Ia menyembunyikan wajah di balik rambut panjangnya yang berantakan.
Damar masih menggenggam tangannya. Pikirannya berusaha memahami maksud ucapan itu. Ia tak ingin memaksa Wulan berbicara. Melihat tubuh rapuh itu berguncang saja sudah membuatnya iba. Damar menunduk. Menatap lantai semen.
WULAN
Aku merasa udah nggak pantas hidup lagi.
DAMAR (mengangkat kepala)
WULAN (menatapnya dengan mata berkaca-kaca)
Kayak udah nggak ada harapan lagi buatku. Aku merasa benar-benar jadi sampah.
Hujan masih turun deras. Damar menghela napas panjang. Genggamannya semakin erat. Ia memejamkan mata sebentar. Berusaha merangkai kata. Apa yang harus ia katakan? Atau lebih baik diam dan membiarkan Wulan meluapkan semuanya?
DAMAR (membuka mata)
Tiba-tiba suara hujan hilang. Genggamannya kosong. Angin pun tak terasa lagi.
Damar berkedip. Menoleh ke kanan dan kiri. Gelap.
DAMAR
Lan...
(meraba-raba sekeliling)
Empuk. Lembut. Sunyi. Tangan kirinya menyentuh benda keras dan tipis. Sebuah ponsel. Ia meraihnya. Menyalakan layar. Tertera pukul 01.30 dini hari.
DAMAR
Hufftttt. Cuma mimpi.
Ia duduk. Napasnya masih terengah.
DAMAR
Tapi, mimpinya terlalu nyata untuk sekadar jadi bunga tidur. Sedih banget, lagi.
INT. DAPUR RUMAH DAMAR – MALAM
Damar keluar kamar. Berjalan menuju dapur. Mengambil gelas. Menuang air putih. Lalu meminumnya perlahan.
INT. KAMAR DAMAR – MALAM
DAMAR kembali ke kamar. Sebelum tidur memang ia memikirkan Wulan. Namun tidak membayangkan yang aneh-aneh. Ia hanya memikirkan satu hal.
Kenapa cowok kurus yang bersama Wulan waktu itu menyebut Wulan dengan nama Saras. Itu saja.
EXT. SEKOLAH – PAGI
Pagi yang cerah di pertengahan Agustus. Damar berjalan keluar dari area parkir setelah menstandarkan sepedanya.
Ia duduk di bangku kayu tepi lapangan. Memperhatikan beberapa siswa laki-laki yang sedang bermain bola.
Dari kejauhan, Yulian datang setelah turun dari angkot.
YULIAN
Woi! Nggak ke kelas dulu, Dam?
DAMAR (menoleh)
Ntar aja.
Yulian berdiri di sampingnya. Ikut memperhatikan permainan bola sesaat. Namun tampak tidak tertarik.
YULIAN
Aku mau ke kelas. Mau kubawakan sekalian nggak tasnya?
DAMAR
Boleh, deh.
DAMAR (melepas ransel dan menyerahkannya)
Makasih, ya.
Yulian hanya mengangkat sebelah alis dan sedikit tersenyum. Lalu pergi.
Damar masih duduk. Menunggu sesuatu. Beberapa menit berlalu. Tak kunjung datang. Damar akhirnya berdiri. Mulai meninggalkan lapangan.
Tiba-tiba—
OLIVIA
(O.S.) Dam!
DAMAR (berhenti, lantas membalikkan badan)
OLIVIA (berlari kecil mendekatinya sambil terengah)
Masih inget aku, kan?
Damar menggeleng. Olivia membelalakkan mata.
OLIVIA
Aku Olivia, anak kelas IPS 2. Yang waktu itu bareng cewek rambutnya dikuncir. Ada poninya juga. Emm, kita pas itu ketemu di depan tempat fotocopy kalau nggak salah. Gara-gara hujan ti—
DAMAR (mengangkat tangan)
Stop. Intinya, sekarang kamu mau apa?
OLIVIA (menelan ludah)
Minta nomer hape kamu.
DAMAR
Buat?
OLIVIA
Koleksi.
DAMAR
Koleksi?
OLIVIA
I-iya.
Damar mengangguk. Ia lalu memberikan nomor ponselnya. Kemudian berjalan menuju kelas.
INT. KELAS XII IPA 4 – PAGI
Yulian memperhatikan Damar yang masuk kelas. Heran. Danar tampak sangat ceria. Langkahnya ringan. Ia tersenyum kepada hampir semua orang.
YULIAN (menatapnya curiga)
Auranya, tumben.
DAMAR
Tumben gimana?
YULIAN
Habis ketiban durian runtuh?
DAMAR
Sakit, dong.
YULIAN
Ya, maksudnya—
DAMAR
Maksudnya apa?
YULIAN
Tahu, ah.
DAMAR (menyeringai puas melihat ekspresi kesal sahabatnya)
INT. KELAS XII IPA 4 – SIANG
Dua jam pelajaran berlalu. Siswa-siswa mulai membereskan buku. Sebagian hanya menyimpannya di kolong meja. Termasuk Yulian.
YULIAN
Kantin, yuk, Sob.
DAMAR (menyilangkan tangan, menoleh ke sana kemari, sesekali menatap langit-langit kelas)
Aku nitip aja, deh, air mineral.
SANDIKA (tiba-tiba datang)
Eh, Si Kembar! Kalian tumben masih di sini!
Yulian menoleh. Damar masih menatap langit-langit. Sandika berdiri di depan meja mereka.
SANDIKA
Lagi nerawang apaan, Dam?
YULIAN
Tahu, tuh. Dari pagi dia agak aneh, gitu emang.
SANDIKA
Dari pagi?
YULIAN (mengangguk, lalu berdiri)
SANDIKA
Jangan-jangan kesambet.
YULIAN (merangkul bahu Sandika)
Udah biarin aja, yuk.
(Mereka berjalan keluar)
DAMAR
Jangan lupa titipanku, ya!
Tanpa menoleh, Yulian mengacungkan jempol.
INT. KELAS XII IPA 4 – LANJUT
Damar termenung. Teringat kejadian tadi pagi. Saat Olivia meminta nomornya. Sebagai syarat, ia juga meminta nomor Amel. Kini nomor itu sudah ada. Tetapi ia bingung. Harus memulai obrolan dari mana. Apalagi menurut kabar yang ia dengar, Amel sudah punya pacar.
DAMAR
(V.O.) Suatu saat nanti Tuhan pasti akan memberi tanda, apa keputusanku tepat atau sedikit melenceng. Lagi pula, Wulan seperti tak ingin terhubung lagi denganku. Untuk apa aku memikirkannya lagi. Iya, kan?
Damar kembali teringat mimpinya.
DAMAR
(V.O.) Tapi mengenai mimpi itu...
Tiba-tiba—
AMEL
Hay!
(berdiri di depannya sambil melambaikan tangan)
Damar terlonjak kaget. Nyaris jatuh dari kursinya. Jantungnya berdebar. Grogi. Bingung.
DAMAR
Eh, hai juga.
Amel tersenyum. Senyum yang membuat pipinya sedikit terangkat. Damar semakin gugup. Amel menggaruk belakang kepala. Lalu melihat sekeliling. Ia duduk di bangku kosong dekat Damar.
Hari itu kelas sedang kosong saat jam istirahat.
AMEL
Tadi kata Oliv kamu minta nomer aku.
DAMAR (menatapnya)
Nggak boleh?
AMEL
Bu-bu-kan. Maksud aku... kok belum di-chat ya? Apa nomernya belum di-save, terus ilang?
DAMAR
Udah, kok.
Amel tersenyum. Damar memberanikan diri menatapnya. Jantungnya seperti sedang senam.
DAMAR
Cuma aku bingung, mau chat apa.
AMEL (mengulurkan tangan)
Sini, biar aku ping nomer aku. Terus nanti aku save nomer kamu.
Damar segera merogoh saku celana. Menyerahkan ponselnya.
DAMAR
(V.O.)Apa ini berarti pertanda dari Tuhan, kalau aku nggak salah untuk dekati Amel?
FADE OUT.