Mahardika
16. Andaikan Hati Bisa Diatur Sendiri (lanjutan)
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

EXT.TERAS RUMAH DAMAR – SIANG

(Sandika duduk sambil memakan apem. Damar di depannya. Suasana santai.)

SANDIKA (menatap Damar, menunggu)

...

DAMAR (justru balik bertanya.)

Menurut kamu?

SANDIKA (sebal, menyeringai)

Dasar.

(Damar nyengir, puas melihat reaksi sahabatnya.)

DAMAR

(V.O) Masih deg-degan banget sebenernya. Untung aja Dika gak maksa aku buat lanjut kasih kejelasan.

DAMAR (bangkit dari duduknya.)

Minum apa, Dika?

SANDIKA (menoleh)

Yang dingin-dingin boleh, Dam.

Damar memberi isyarat “oke” dengan jari, lalu masuk. Beberapa saat kemudian, Damar kembali membawa nampan berisi gelas dan teko sirop.

SANDIKA

Eh, Damar!

DAMAR (hanya bersuara pendek sambil menuang)

Hm.

(Damar menuang sirop, lalu memberikan gelas.)

Keduanya minum.

DAMAR (melirik)

Mau bilang apa?

SANDIKA (ragu sejenak)

E-, itu. Aku punya info tentang Amel.

DAMAR

Apa aja?

SANDIKA

Dia itu punya kakak cowok. Namanya Bayu.

(meneguk minum lagi.)

DAMAR

Terus apa lagi?

SANDIKA

Baru itu aja.

(Damar mendengus.)

SANDIKA

Segitu juga berguna kali, Dam. Berarti kamu dari sekarang bayangin aja punya kakak cowok. Selama ini kan kamu selalu menghadapi kakak cewek.

DAMAR

Ngaco ah.

SANDIKA

Ngaco gimana? Ya bener kan. Kakak cowok sama cewek itu beda. Kasih sayangnya juga pasti beda. Emang apa salahnya belajar jadi adik ipar yang baik?

DAMAR (buang muka, menghela napas.)

Jadian aja belum. Udah mikir kesana aja.

SANDIKA (nyengir)

Ya gapapa lah.

DAMAR

Dia juga masih jadi pacar orang, Dikaaa!

SANDIKA

Lagian, kamu kenapa harus suka sama pacar orang sih? Kan banyak yang masih jomblo.

DAMAR (menarik napas panjang, bersuara lebih pelan)

Seandainya manusia bisa ngatur hatinya sendiri.

SANDIKA (menatapnya prihatin)

Iya sih. Kita gak bisa milih siapa yang akan kita sukai dan siapa yang bakal suka sama kita. Kadang hidup itu kejam, kita suka sama orang. Orang itu suka sama orang lain. Giliran kita udah move on, dianya suka sama kita. Padahal kalau kita tungguin, belum tentu dia putus sama pacarnya. Belum tentu perasaan kita akan terbalas. Enak ya jadi cewek, gak harus capek ngejar. Gak harus berjuang.

DAMAR

Dikejar juga capek.

SANDIKA

Tetep aja, lebih capek yang ngejar. Kalo yang dikejar kan, tinggal gak usah lari. Jadi gak capek.

DAMAR

Kamu sendiri, gak ada tuh cewek yang disukai?

SANDIKA

Ada kok. Cuma bukan anak sekolah kita. Gak cantik, gak baik, dan rumahnya gak jauh dari rumahku.

DAMAR (keheranan)

Terus, apa yang kamu suka? Kalo gak cantik atau gak pinter, se-enggaknya dia baik.

SANDIKA

Dia emang gak cantik. Tapi cantik banget.

Gak baik. Tapi baik banget.

Dan yang lebih penting, rumahnya deket. Kalo kangen tinggal lewat.

(Damar geleng kepala.)

SANDIKA

Sejauh ini sih kayanya masih aman. Dia gak kelihatan lagi deket sama cowok mana pun.

DAMAR

Belum ditembak?

SANDIKA (tersenyum)

Yaa, nunggu waktu yang tepat aja. Kalau bisa malah mending langsung nikah aja maunya.

DAMAR

Mana tau di sekolahnya dia deket sama seseorang gitu.

SANDIKA (nada meninggi)

Gak lah!

(Damar memilih diam.)

DAMAR

(V.O) Kalo ditanggepin tetus mana ada habisnya dia cerita. Aku juga gak terlalu tertarik sama kisah cintanya yang aneh bin ajaib. Yang penting dia masih normal. Gak gay, itu udah cukup. Gawat kan kalo ternyata dia diem-diem suka sama aku.


FLASHBACK – BAWAH POHON WARU – SIANG MENDUNG

Wulan duduk memeluk lutut, menangis. Damar di sampingnya.

DAMAR (lirih)

Lan...

WULAN (menangis)

Hiks!

(Damar menepuk pundaknya.)

DAMAR

Kalau belum puas nangisnya terusin aja dulu. Tapi sampai kapan, Lan?

WULAN

Hiks!

DAMAR

Kamu disini dari pagi loh.

WULAN

Hiks!


Kemarin ibunya Wulan baru saja dikebumikan. Beliau meninggal karena serangan jantung. Dan hari ini anak itu masih sangat berduka. Namun meski sejak pagi Wulan keluar rumah, ayahnya tidak tampak mencari.

Damar menghela napas keras. Wulan mengangkat wajahnya, sembab.

WULAN

Hiks... kamu kalo mau pelgi. Pelgi aja.

DAMAR

Lan...

WULAN (menatap nanar.)

Aku gak minta kamu temenin. Kamu dateng kesini atas kemauan kamu. Kalo capek pelgi aja.

(menangis lagi.)

DAMAR

Aku mau tungguin kamu selesai nangis.

WULAN

Ngapain? Besok aku juga udah gak disini.

DAMAR (terkejut)

Kamu pindah?

(Wulan mengangguk.)

DAMAR

Kenapa? Kemana?

(Wulan menggeleng.)

DAMAR

Jadi, ini hari terakhir kita main bareng.

WULAN (pelan)

Iya.

DAMAR (menatap Wulan)

Kamu mau es krim?

WULAN

Gak.

DAMAR

Untuk terakhir kali, Lan.

WULAN (menatap tanpa minat.)

Telakhil kali? Aku kan belum mau mati. Pas gede kita juga bisa ketemu lagi. Kalau udah punya uang banyak. Iya kan?

DAMAR

Iya. Gimana kalau cilok? Kamu mau?

(Wulan mengangguk.)

BACK TO : Saat ini

DAMAR

(V.O) Wulan, entah kenapa sampai detik ini kamu masih sering melintasi pikiranku. Pertanyaan-pertanyaan mengenai kabarmu kerap kali mengusik. Seringnya saat aku beranjak tidur. Sekarang sudah ada gadis lain yang mulai ikut menghantui pikiranku. Amel. Apa ini berarti saatnya bagiku untuk melupakan mu Lan?

Bagaimana jika Wulan memang akan kembali? Dan mengenai gadis yang kata ibu, mirip kamh. Bagaimana kalau benar itu memang kamu?

Memang sih, kamu belum tahu mengenai perasaan yang aku pendam sejak kecil. Entah perasaan yang tumbuh sejak kapan. Dan bagaimana juga dengan rahasia yang aku sembunyikan mengenai Wulan. Haruskah aku bongkar suatu hari nanti, atau lebih baik dipendam sampai mati?

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)