EXT.TERAS RUMAH DAMAR – SIANG
(Sandika duduk sambil memakan apem. Damar di depannya. Suasana santai.)
SANDIKA (menatap Damar, menunggu)
...
DAMAR (justru balik bertanya.)
Menurut kamu?
SANDIKA (sebal, menyeringai)
Dasar.
(Damar nyengir, puas melihat reaksi sahabatnya.)
DAMAR
(V.O) Masih deg-degan banget sebenernya. Untung aja Dika gak maksa aku buat lanjut kasih kejelasan.
DAMAR (bangkit dari duduknya.)
Minum apa, Dika?
SANDIKA (menoleh)
Yang dingin-dingin boleh, Dam.
Damar memberi isyarat “oke” dengan jari, lalu masuk. Beberapa saat kemudian, Damar kembali membawa nampan berisi gelas dan teko sirop.
SANDIKA
Eh, Damar!
DAMAR (hanya bersuara pendek sambil menuang)
Hm.
(Damar menuang sirop, lalu memberikan gelas.)
Keduanya minum.
DAMAR (melirik)
Mau bilang apa?
SANDIKA (ragu sejenak)
E-, itu. Aku punya info tentang Amel.
DAMAR
Apa aja?
SANDIKA
Dia itu punya kakak cowok. Namanya Bayu.
(meneguk minum lagi.)
DAMAR
Terus apa lagi?
SANDIKA
Baru itu aja.
(Damar mendengus.)
SANDIKA
Segitu juga berguna kali, Dam. Berarti kamu dari sekarang bayangin aja punya kakak cowok. Selama ini kan kamu selalu menghadapi kakak cewek.
DAMAR
Ngaco ah.
SANDIKA
Ngaco gimana? Ya bener kan. Kakak cowok sama cewek itu beda. Kasih sayangnya juga pasti beda. Emang apa salahnya belajar jadi adik ipar yang baik?
DAMAR (buang muka, menghela napas.)
Jadian aja belum. Udah mikir kesana aja.
SANDIKA (nyengir)
Ya gapapa lah.
DAMAR
Dia juga masih jadi pacar orang, Dikaaa!
SANDIKA
Lagian, kamu kenapa harus suka sama pacar orang sih? Kan banyak yang masih jomblo.
DAMAR (menarik napas panjang, bersuara lebih pelan)
Seandainya manusia bisa ngatur hatinya sendiri.
SANDIKA (menatapnya prihatin)
Iya sih. Kita gak bisa milih siapa yang akan kita sukai dan siapa yang bakal suka sama kita. Kadang hidup itu kejam, kita suka sama orang. Orang itu suka sama orang lain. Giliran kita udah move on, dianya suka sama kita. Padahal kalau kita tungguin, belum tentu dia putus sama pacarnya. Belum tentu perasaan kita akan terbalas. Enak ya jadi cewek, gak harus capek ngejar. Gak harus berjuang.
DAMAR
Dikejar juga capek.
SANDIKA
Tetep aja, lebih capek yang ngejar. Kalo yang dikejar kan, tinggal gak usah lari. Jadi gak capek.
DAMAR
Kamu sendiri, gak ada tuh cewek yang disukai?
SANDIKA
Ada kok. Cuma bukan anak sekolah kita. Gak cantik, gak baik, dan rumahnya gak jauh dari rumahku.
DAMAR (keheranan)
Terus, apa yang kamu suka? Kalo gak cantik atau gak pinter, se-enggaknya dia baik.
SANDIKA
Dia emang gak cantik. Tapi cantik banget.
Gak baik. Tapi baik banget.
Dan yang lebih penting, rumahnya deket. Kalo kangen tinggal lewat.
(Damar geleng kepala.)
SANDIKA
Sejauh ini sih kayanya masih aman. Dia gak kelihatan lagi deket sama cowok mana pun.
DAMAR
Belum ditembak?
SANDIKA (tersenyum)
Yaa, nunggu waktu yang tepat aja. Kalau bisa malah mending langsung nikah aja maunya.
DAMAR
Mana tau di sekolahnya dia deket sama seseorang gitu.
SANDIKA (nada meninggi)
Gak lah!
(Damar memilih diam.)
DAMAR
(V.O) Kalo ditanggepin tetus mana ada habisnya dia cerita. Aku juga gak terlalu tertarik sama kisah cintanya yang aneh bin ajaib. Yang penting dia masih normal. Gak gay, itu udah cukup. Gawat kan kalo ternyata dia diem-diem suka sama aku.
FLASHBACK – BAWAH POHON WARU – SIANG MENDUNG
Wulan duduk memeluk lutut, menangis. Damar di sampingnya.
DAMAR (lirih)
Lan...
WULAN (menangis)
Hiks!
(Damar menepuk pundaknya.)
DAMAR
Kalau belum puas nangisnya terusin aja dulu. Tapi sampai kapan, Lan?
WULAN
Hiks!
DAMAR
Kamu disini dari pagi loh.
WULAN
Hiks!
Kemarin ibunya Wulan baru saja dikebumikan. Beliau meninggal karena serangan jantung. Dan hari ini anak itu masih sangat berduka. Namun meski sejak pagi Wulan keluar rumah, ayahnya tidak tampak mencari.
Damar menghela napas keras. Wulan mengangkat wajahnya, sembab.
WULAN
Hiks... kamu kalo mau pelgi. Pelgi aja.
DAMAR
Lan...
WULAN (menatap nanar.)
Aku gak minta kamu temenin. Kamu dateng kesini atas kemauan kamu. Kalo capek pelgi aja.
(menangis lagi.)
DAMAR
Aku mau tungguin kamu selesai nangis.
WULAN
Ngapain? Besok aku juga udah gak disini.
DAMAR (terkejut)
Kamu pindah?
(Wulan mengangguk.)
DAMAR
Kenapa? Kemana?
(Wulan menggeleng.)
DAMAR
Jadi, ini hari terakhir kita main bareng.
WULAN (pelan)
Iya.
DAMAR (menatap Wulan)
Kamu mau es krim?
WULAN
Gak.
DAMAR
Untuk terakhir kali, Lan.
WULAN (menatap tanpa minat.)
Telakhil kali? Aku kan belum mau mati. Pas gede kita juga bisa ketemu lagi. Kalau udah punya uang banyak. Iya kan?
DAMAR
Iya. Gimana kalau cilok? Kamu mau?
(Wulan mengangguk.)
BACK TO : Saat ini
DAMAR
(V.O) Wulan, entah kenapa sampai detik ini kamu masih sering melintasi pikiranku. Pertanyaan-pertanyaan mengenai kabarmu kerap kali mengusik. Seringnya saat aku beranjak tidur. Sekarang sudah ada gadis lain yang mulai ikut menghantui pikiranku. Amel. Apa ini berarti saatnya bagiku untuk melupakan mu Lan?
Bagaimana jika Wulan memang akan kembali? Dan mengenai gadis yang kata ibu, mirip kamh. Bagaimana kalau benar itu memang kamu?
Memang sih, kamu belum tahu mengenai perasaan yang aku pendam sejak kecil. Entah perasaan yang tumbuh sejak kapan. Dan bagaimana juga dengan rahasia yang aku sembunyikan mengenai Wulan. Haruskah aku bongkar suatu hari nanti, atau lebih baik dipendam sampai mati?