Mahardika
17. Wulan? Saras?

EXT. DEPAN RUMAH DAMAR – MALAM

Langit tampak cerah. Bulan sabit menunjukkan sebagian wajahnya. Damar berdiri di depan rumah. Mengenakan celana cokelat susu sebatas lutut dan hoodie abu-abu. Sepoi angin malam meniup rambut ikalnya.

BU LASTRI

(O.S.)Dek!

Damar menoleh.

Pintu depan terbuka. Bu Lastri berjalan cepat ke arahnya lalu berhenti di teras dan melambaikan tangan.

Damar segera mendekat.

BU LASTRI

Kamu beli beberapa camilan kesukaan kakakmu, sama beli jajan yang kamu mau. Jangan mampir-mampir ya.

(Lalu menyerahkan selembar uang bergambar presiden pertama Indonesia)

DAMAR

Iya, Bu.

(memasukkan uang ke saku celana)

Ia bergegas mengeluarkan sepeda dari garasi lalu menaikinya.


EXT. JALAN MENUJU MINIMARKET – MALAM

Damar mengayuh sepeda dengan kecepatan sedang. Hari ini Citra akan pulang dari Malang. Kebetulan Pak Heru sedang ada urusan pekerjaan di luar kota dan baru bisa kembali besok pagi jika tidak ada perubahan rencana. Biasanya saat mendengar putri tercintanya akan pulang, Pak Heru langsung bergegas membeli banyak camilan dan buah. Meski tak diucapkan, dari sikapnya Damar sudah menyadari bahwa sang ayahanda lebih menyayangi kakaknya.

Wajar, sih.

Katanya, jika orang tua punya anak lebih dari satu, maka ada salah satu anak yang paling disayangi. Dan kali ini, karena tidak bisa menyambut kedatangan putri tercintanya, Pak Heru menelepon Bu Lastri agar menyuruh Damar membelikan camilan untuk kakaknya.


INT. MINIMARKET – MALAM

Damar menyusuri rak-rak. Ia mengambil keripik kentang, keripik singkong, keripik pisang, dan beberapa botol minuman kemasan. Setelah merasa cukup, ia meletakkan semua belanjaan di meja kasir.


EXT. DEPAN MINIMARKET – MALAM

Damar keluar dari minimarket. Tepat di depan, berdiri seorang cewek mungil mengenakan jaket merah bata. Posisinya membelakangi Damar.

CEWEK MUNGIL

Yuk, Bang!

Tanpa menoleh, cewek itu berjalan menuju motor Scoopy yang terparkir dekat sepeda Damar.

Damar mematung.

Karena merasa tidak diikuti, cewek itu menoleh. Lalu tertunduk malu. Dia salah orang.

DAMAR (berjalan menghampiri)

Kamu yang waktu itu 'kan?

Cewek itu menatapnya.

DAMAR

Yang beli es campur di bawah pohon beringin.

Cewek itu mengangguk kecil.

Lampu minimarket cukup terang. Damar memperhatikan wajahnya dengan jelas. Pipi tirus. Mata sayu. Kulit agak pucat. Namun rambutnya kini diikat rapi.

DAMAR

Kamu sama siapa?

Sebenarnya Damar sudah tahu dengan siapa cewek itu datang. Yang ingin ia ketahui adalah siapa sesungguhnya cowok yang bersama cewek tersebut.

Jantung Damar berdebar hebat. Sosok di depannya sangat mirip dengan Wulan. Tinggi badan. Bentuk wajah. Hidung mungil. Bibir tebal. Hanya kulit gadis ini lebih bersih.

Sedangkan Wulan yang terakhir ia ingat memiliki kulit lebih gelap dan pipi agak tembam.

Cewek itu tidak menjawab. Ia hanya menunduk dan membuang pandangan.

DAMAR

Apa kamu beneran Wulan?

Cewek itu melirik dengan ekor matanya. Terlihat sedikit terkejut.


DAMAR (mengerjap)

Jadi, kamu beneran Wulan?

(Ekspresinya penuh tak percaya)

DAMAR

Kamu...

Ia kehilangan kata-kata. Damar sadar. Cewek di depannya tampak tidak nyaman. Bahkan terlihat takut dan berusaha menghindar.

Cewek itu tetap menunduk. Berusaha menyembunyikan wajahnya.

WULAN

A-a-ku... (suara bergetar) Aku udah bukan Wulan yang dulu.

Jantung Damar semakin berdegup kencang. Ternyata benar. Dia Wulan. Sahabat kecilnya.

Dan ada apa dengan dia? Kenapa mengatakan bahwa dia bukan Wulan yang dulu? Sebelum Damar sempat bertanya lagi...

Seorang cowok kurus keluar dari minimarket. Menghampiri mereka.

COWOK KURUS

Siapa kamu?

DAMAR (menoleh)

Aku Damar.

COWOK KURUS (mengernyit)

Oh, Masnya teman Saras?

DAMAR (mengerutkan dahi)

Saras?

COWOK KURUS (menepuk bahu kanan Wulan)

Iya. Cewek manis ini kan namanya Saras.

(Lalu menaikkan kacamatanya yang melorot)

Lalu kembali menatap Damar penuh tanda tanya. Dia bingung. Damar juga bingung.

♡♡♡


INT. KAMAR DAMAR – MALAM

Damar berbaring di atas tempat tidur. Mengingat kejadian di minimarket.

Ia bangkit. Berjalan menuju lemari. Berdiri di depan cermin besar. Di sana tampak pantulan dirinya: Seorang laki-laki berkulit sawo matang. Bekas jerawat di wajah. Rambut ikal berantakan. Dan sebuah atapan tajam.

DAMAR

Tadi, cowok kurus kerempeng itu manggil aku Mas? Emang aku setua itu? Padahal dia juga udah tahu namaku.

DAMAR (tersenyum tipis lalu tersenyum lebar memperlihatkan gigi, kemudian melotot, meringis, menyeringai, menyipitkan mata)

Sama aja. Kayaknya mukaku tetep ganteng-ganteng aja, tuh.

Ia melepaskan hoodie. Menggantungnya di kapstok. Kini ia hanya mengenakan kaus merah. Kembali menatap cermin. Mendekatkan wajah. Menyentuh bekas jerawat di pipinya. Memperhatikan pori-pori besar pada wajahnya.

Damar terkekeh.

Menjauh dari cermin. Menjatuhkan tubuhnya ke kasur berseprai merah. Membuang napas panjang. Perlahan memejamkan mata.

DAMAR

Cowok kerempeng itu mungkin menganggap mukaku udah kayak bapak-bapak tukang kuli bangunan kali, ya? Namanya juga sering kena panas matahari. Kena debu. Asap. Wajar sih dia pikir aku tua. Tapi kan badanku masih kelihatan postur anak SMA. Emang ya gara-gara pakai hoodie itu jadi kelihatan tua.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang sangat familiar.

CITRA

(O.S.) Dek! Kakak pulang!

♡♡♡


EXT. DEPAN TEMPAT FOTOKOPI – SIANG

Damar menghentikan sepedanya. Menstandarkan sepeda. Lalu duduk di bangku panjang yang tersedia.

Dari luar terlihat beberapa siswa sedang berdesakan mengantre di dalam tempat fotokopi. Ada yang fotokopi. Scan. Laminating. Atau mencetak.

Seorang cewek mungil berjaket merah bata berdiri di dekat sepeda Damar.

DAMAR

Wulan.

Cewek itu langsung menghampiri dengan langkah tergesa. Ia meletakkan jari telunjuk kirinya di depan mulut. Memberi isyarat diam.Lalu ikut duduk di bangku.

Damar mengerutkan dahi.

WULAN

Kamu jangan panggil aku pakai nama itu lagi sekarang.

(menggeleng pelan)

DAMAR

Kenapa, Lan?

Wulan langsung membungkam mulut Damar dengan tangan kanannya. Matanya mendelik cemas. Berharap Damar mengerti.

Akhirnya Damar mengangguk.

WULAN

Mulai sekarang panggil aja Saras.

Damar memiringkan kepala. Meminta penjelasan.

Wulan berdiri. Lalu mengangguk. Memberi isyarat agar mereka mencari tempat yang lebih nyaman untuk berbicara.

DAMAR

Oke.

FADE OUT.

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)