Mahardika
5. Bunga Tidur
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

EXT. DEPAN RUMAH DAMAR – SORE


BRAK!

Suara sepeda menabrak sesuatu lalu terpelanting memecah sore yang tenang. DAMAR (17) yang baru saja menstandarkan sepedanya di garasi tersentak.

Ia berbalik cepat, lalu berlari keluar rumah.


EXT. SEBERANG JALAN – CONTINUOUS

Isak tangis terdengar. Di seberang jalan, WULAN (17) duduk di aspal, menangis terisak. Tak jauh darinya, sebuah sepeda torpedo tergeletak, roda belakangnya masih berputar perlahan di dekat pohon mangga.

DAMAR (memastikan jalanan sepi, lalu menyeberang)

Kamu nggak apa-apa?


WULAN (menunduk, menatap siku kirinya yang berdarah)

Berdarah…


Seragam putih abu-abunya ternoda merah. Rambutnya kusut. Tas sekolahnya terlempar, nyaris masuk got.


DAMAR (berjongkok di depan Wulan)

Bisa berdiri sendiri nggak?


WULAN (mendongak, mata sembab itu menatap Damar—terbelalak)

Dika?


DAMAR (ikut terkejut)

Wulan?!


EXT. DEPAN RUMAH DAMAR – BEBERAPA SAAT KEMUDIAN

Wulan duduk di bangku kayu. Damar menyandarkan sepeda Wulan ke garasi, mengambil tasnya, lalu masuk rumah. Ia kembali membawa segayung air dan kotak P3K.


DAMAR (duduk di sebelah Wulan)

Kamu kok bisa jatuh di situ, Lan?


WULAN (habis nangis)  

Menghindari kucing…


DAMAR (mengerjap, lalu menyodorkan gayung)

Udah dong nangisnya. Yang luka dicuci dulu. Nanti dikasih obat merah.


Wulan menurut. Ia melepas sepatu, menyiram kakinya di bawah pohon mangga.


DAMAR (menatap siku kiri Wulan yang masih mengalirkan darah)

Airnya kurang?


WULAN (kembali duduk)

Cukup. Cuma lecet kok.

(menyentuh kedua lututnya bergantian)


DAMAR (mendelik)

Terus siku kiri kamu? Seragam kamu kena darah.


WULAN (membuang muka, lalu menjulurkan lengan)

Yang ini kamu aja. Sekalian diobatin.


DAMAR (berdecak, bangkit mengambil air lagi)


Saat kembali—


WULAN

Kalau nggak ikhlas, nggak usah!


DAMAR (tetap berjongkok, membersihkan luka, mengoles obat merah, lalu menempelkan kasa)

Masih takut lihat darah?


WULAN (mengangguk kecil)

Iya…


DAMAR

Terus kalau datang bulan gimana? Nangis juga?


WULAN (menoleh tajam, mengusap sisa air mata, lalu menyisir rambut)

Enggaklah! Itu beda. Kamu nggak sopan tahu.


DAMAR

Ya… maaf.


EXT. DEPAN RUMAH DAMAR – SORE (LANJUT)

Matahari terik. Jam di ponsel Wulan menunjukkan PUKUL 14.00.


WULAN (mengenakan kembali sepatunya)

Makasih ya, Dika.


DAMAR (menatap Wulan)

Iya.


Wulan selesai mengikat tali sepatu.

TIBA-TIBA—


CUT TO:

INT. KAMAR DAMAR – GELAP

Semua gelap. Damar mengerjap. Gelap. Kembali mengerjap.

SFX

KRING! KRIIING! KRIIING!

Alarm ponsel berbunyi nyaring.


INT. KAMAR DAMAR – PAGI

Damar tersentak duduk di ranjang.

Keringat tipis di pelipisnya.


DAMAR (menatap sekeliling kamar yang masih gelap, lalu berkata pelan)

Aku kira kita bener-bener ketemu, Lan…


Ia menyibakkan selimut, turun dari ranjang. Membuka tirai jendela. Menyalakan lampu. Cahaya pagi masuk perlahan.


DAMAR (merapikan tempat tidur)

(V.O) Hari Minggu. Aku sengaja bangun jam lima pagi…

buat lari.


Damar mengambil pakaian olahraga.

FADE OUT. 🌒


♡♡♡Yaahhh cuma mimpi, gimana dong??♡♡♡

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)