EXT. PARKIR SMA TUNAS BANGSA – SIANG
Matahari terik menggantung di langit Surabaya. Cahaya memantul keras dari aspal parkiran sekolah.
Sebuah AVANZA HITAM memasuki gerbang depan SMA Tunas Bangsa, melaju pelan, lalu berhenti. Tak lama, XENIA BIRU TUA menyusul dan parkir di sebelahnya.
Pintu Avanza terbuka. Seorang SOPIR turun lebih dulu, disusul PAK EGAR (40-an), guru berkacamata minus, rapi dan tegas. Dari pintu tengah Avanza, EMPAT SISWA LAKI-LAKI turun, salah satunya DAMAR (17) — tubuh jangkung, wajah tenang, sorot mata lelah. Dari Xenia, turun DUA GURU (laki-laki dan perempuan berkerudung) bersama TIGA SISWI.
Mereka semua berkumpul di parkiran.
DAMAR (menarik napas panjang. Dadanya naik, lalu turun perlahan)
(V.O.) Akhirnya aku bisa bernapas mulai besok.
PAK EGAR (berdehem, membuat semua perhatian tertuju padanya)
Saya ingin mengucapkan terima kasih atas partisipasi dan kerja keras kalian selama kompetisi olahraga beberapa hari ini.
PAK EGAR (berhenti sejenak, menatap wajah-wajah lelah di depannya)
Dan selamat kepada Bunga dan Dimas yang lolos ke tingkat provinsi.
PAK EGAR (mengangkat tangan)
Tepuk tangan!
Semua bertepuk tangan.
Damar melirik ke samping — ke arah DIMAS (17), cowok berambut keriting dengan senyum sok percaya diri.
Dimas menyadari tatapan itu. Ia membalas dengan seringaian kecil.
DAMAR (V.O.)
Sejak dulu, Dimas memang jago berenang.
————————
EXT. DEPAN KELAS LANTAI BAWAH – SORE
Jam dinding sekolah menunjukkan PUKUL 15.00. Siswa-siswi mulai bubar. Area sekolah semakin sepi.
Damar duduk di BANGKU PANJANG depan kelasnya. Ia menjatuhkan tubuhnya dengan letih.
Dari kejauhan, BUNGA (17) melintas.
BUNGA
Kamu nggak bawa sepeda, kan?
DAMAR (menoleh)
Iya. Kenapa?
BUNGA (berhenti di depan Damar)
Kalau nunggu angkot di sini nanti ketinggalan, loh.
DAMAR (terdiam, tatapannya kosong sejenak)
Iya.
BUNGA (sambil mengangguk kecil)
Ya udah, yuk. Bareng aja ke sananya. Aku juga nggak bawa motor.
DAMAR (menyipitkan mata)
Aku mau bareng temen. Orangnya lagi ikut ekskul.
BUNGA (Manyun. Tanpa sadar, kakinya mengentak pelan)
Ya udah. Aku duluan.
(lalu berbalik dan pergi)
DAMAR (menatap punggung Bunga yang menjauh)
(V.O.) Entah kenapa, akhir-akhir ini tiap lihat dia, jantungku berdebar.
———————
EXT. DEPAN KELAS – LANJUTAN
DIMAS (tiba-tiba muncul dan duduk di sebelah Damar)
Dam, kamu kok kayak nggak suka gitu lihat aku lolos?
DAMAR (melirik malas)
Nggak juga.
DIMAS (tersenyum mengejek, lalu meletakkan tangan di pundak Damar)
Senyum dong. Tunjukin kebahagiaan kamu.
DAMAR (menahan kesal)
(V.O.) Ini orang nggak jelas banget.
Tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahu kiri Damar.
SANDIKA (17), (bertubuh gempal, berdiri di belakang Damar)
Yuk, pulang!
Damar berdiri. Tangan Dimas terlepas. Ia menatap Dimas, lalu tersenyum tipis sebelum pergi. Dimas tertinggal, mengumpat pelan.