HOPE AND DREAM
11. #11
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

17. INT. RUANG RAWAT INAP RUANG SEHATI NO 7 – PAGI HARI

 

Atiya dan Irfan memperhatikan Fathan yang sedang teleponan hingga selesai. Atiya duduk di kasurnya dan Irfan sedang mencuci tangan.

 

ATIYA

Siapa, tumben sampai seperhatian itu? Sampai titip salam segala ke keluarganya.

 

FATHAN

Anggota di tempat kerja aja mi.

 

ATIYA

Kirain calon mantu umi.

 

FATHAN

Nantilah mi, masih mau fokus karir dulu.

 

ATIYA

Ya Allah nak, sampai umur berapa, ini kamu sudah 32 tahun loh.

FATHAN

35? Mungkin kisaran segitu mi.

 

ATIYA

Ya Allah, umi keburu mati kalo segitu. Umi itu mau lihat kamu nikah, sebelum umi meninggal.

 

Fathan mendekati Atiya dan menggenggam tangannya.

 

FATHAN

Umi jangan bilang gitu, umi harus masih lama lagi hidup sama Fathan.

 

Irfan mendudukan dirinya di kursi yang di sediakan di kamar, dia sibuk mengupaskan buah-buahan untuk Atiya.

 

IRFAN

Gimana nggak ngomong gitu, kalau umimu bisa ada di sini karena sempat henti jantung.

 

Fathan kaget, lantas dia menatap Atiya terkejut.

 

FATHAN

Umi, benaran? Nggak bohong. Kan abi?

 

Atiya langsung menatap Irfan dengan muka jengkelnya.

 

ATIYA

 Abi ya, nggak bisa apa basa-basi dulu atau pakai kosa kata halus biar Fathan nggak kaget!

 

FATHAN

Jadi mi?

 

IRFAN

Ya maaf mi, kan tau, abi kurang jago basa-basinya.

 

ATIYA

Ya gitu kata dokter, Alhamdulillah ini sudah mendingan, tapi harus jaga lagi pola makan, olahraga dan lain-lain.

 

FATHAN

Ya Allah mi. Tau gini kan umi sama abi di Tanggerang aja.

 

IRFAN

Kan nggak tau. Umimu juga ingin lihat datangin makan almh nenekmu di Yogya. Ini kita juga tunggu isi infus umimu habis baru kita langsung pulang.

 

FATHAN

Pulang ke mana?

 

ATIYA

Tanggerang.

 

FATHAN

Umi serius?

 

ATIYA

Umi mau istirahat di rumah sendiri, kalau kambuh lagi juga umi mau mieninggalnya di rumah sendiri juga.

 

FATHAN

Umii…

 

Atiya menatap Fathan dengan mimik penuh harap dan menggenggam erat tangannya.

 

ATIYA

Jadi umi mohon, umi ingin banget lihat Fathan nikah, lihat Fathan membangun rumah tangga. Biar umi tenang kalau umi bisa lihat kamu bahagia, ya?

 

Fathan menundukkan kepalanya, berpikir keras, sedangkan Atiya menggenggam tangan Fathan lebih erat lagi.

 

ATIYA (CONT’D)

Ya?

 

Fathan menghembuskan napasnya lemah. Kemudian menatap Atiya lembut.

 

FATHAN

Fathan usahain ya mi.

 

ATIYA

Kapan?

 

FATHAN

Sampai tahun depan ya.

 

ATIYA

Itu terlalu lama. Sampai akhir tahun ini kamu harus nikah ya. Itu pun umi nggak bisa menjamin.

 

FATHAN

Ya allah umi, jangan bilang gitu. Tapi mi, kalau tahun ini waktunya tinggal tiga bulan lagi dong.

 

ATIYA

Jadi mau bagaimana? Dokter bilang, kan ini keadaaan umi nggak bisa diprediksi kapan terjadi henti jantung lagi.

 

FATHAN

Fathan usahain ya mi.

 

Atiya hanya menganggukan kepalanya dengan muka penuh kelegaan.

 

FATHAN

Fathan, mau ke kantin dulu ya cari makan. Umi sama abi ada yang mau dititip?

 

 IRFAN

Umimu sudah dapat makan dari rumah sakit, abi aja beliin makan juga ya di bawah, sama kopi.

 

FATHAN

Oke. Fathan keluar dulu ya.

 

Fathan keluar untuk membeli makanan dan minuman ke kantin. Setelah dua menit telah berlalu, Irfan berjalan mendekati pintu sambil membawa piring dengan buah yang sudah dia kupas dan membuka pintu itu sedikit, memeriksa bahwa Fathan sudah tidak di dekat sana lagi.

 

ATIYA

Gimana bi?

 

IRFAN

Super aman, gila, istri abi tercantik, aktingnya bagus banget sih.

 

Irfan berjalan mendekati Atiya dan duduk di kursi jaga samping tempat tidur Atiya.

 

ATIYA

Abi gimana sih, nggak ngebantu lagi. Syukur aja si Fathan nggak curiga seperti biasanya.

 

IRFAN

Kalau abi ikut-ikutan panasin, yang ada Fathan jadi curiga mi.

 

ATIYA

Alhamdulillah pokoknya bi, anak kita akhirnya mau nikah juga. Jadi nggak sabar.

 

IRFAN

Makanya mi, jaga kesehatannya, jangan sampai maagnya kambuh sampai harus di bawa ke rumah sakit segala.

 

ATIYA

Ya bi, siap.

 

IRFAN

Nih makan dulu.

 

Irfan menyerahkan piring yang berisi buah yang dia kupas tadi.

 

ATIYA

Terima kasih abi.

 

IRFAN

 

Sama-sama umi sayang.

 

Irfan memperhatikan Atiya yang makan buah-buahan.

 

CUT tO


Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)