21. INT. KAMAR KOS RATNA – MALAM HARI
Ratna datang di kamar, menaruh makanan yang baru dia beli di meja kerjanya. Mengambil standing untuk ponselnya, kemudian menghubungi mamanya sambil menuangkan makanan dimangkuknya.
Saat mamanya mengangkat, Ratna langsung menyerbu dengan desakan ke mamanya.
RATNA (V.O.)
Ma, gawat, ma. Sepertinya mama harus cari tau deh ma, bener apa nggak…
Indri menghentikan percakapan anaknya, dan memberikan salam dengan penekanan.
INDRI (V.O.)
Assalamu’alaikum.
RATNA (V.O.)
Waalaikumsalam ma.
INDRI (V.O.)
Ya Allah, kasih salam dulu. Tanya kabar dulu. Bukan langsung nyerocos.
RATNA (V.O.)
Penting ma penting.
INDRI (V.O.)
Kamu ya, keenakan merantau apa, nelepon orangtua jadi jarang. Ditelepon sering nggak diangkat, di chat lama balasnya.
RATNA (V.O.)
Ampun ampun ma, lain kali, bener deh.
INDRI (V.O.)
Gitu terus kamu bilangnya.
RATNA (V.O.)
Ma, ini aku nelepon bukan untuk minta diceramahin. Aku mau nyampein hal penting.
INDRI (V.O.)
Anaknya siapa sih ini, abndelnya ketulungan. Kenapa?
RATNA (V.O.)
Anak mama papalah, anak siapa lagi. Mama di mana, sama siapa?
INDRI (V.O.)
Ck! Mama di ruang tamu sama papa juga.
RATNA (V.O.)
Loudspeaker aja ma, biar papa sekalian dengar.
INDRI (V.O.)
Sebentar. Sudah nih. Kenapa?
RATNA (V.O.)
Mama sama papa harus ke tempat oma deh. Mama sama papa harus cari tau, emang oma belakangan lagi ngomongin wasiat atau warisan ya?
AGUS (V.O.)
Kenapa kamu tiba-tiba ngomong gini?
RATNA (V.O.)
Tadi sore aku mau santai sebentar di rootop PH, ternyata ada Aruna lagi ngobrol sama rekan aku. Dari pembicaraan yang aku dengar sepertinya dalam waktu dekat ini Aruna akan pulang, terus aku dengar katanya ada pembicaraan penting yang harus disampaikan dengan dia sama orang rumah.
AGUS (V.O.)
Mungkin aja itu masalah lain, kan? Bukan tentang wasiat atau warisan.
RATNA (V.O.)
Nggak pa, aku yakin, bisa jadi oma mau ngasih sesuatu yang penting, apalagi oma juga habis jatuh sakit, kan. Ini kan oma lagi di rawat sama Om Haris dan Tante Lina. Pokoknya mama dan papa harus cari tau.
INDRI (V.O.)
Besok deh mama pergi ke rumah omamu, mama cari informasi.
AGUS (V.O.)
Apa kalau perlu kamu nginap aja ya di sana.
INDRI (V.O.)
Oke deh pa.
AGUS(V.O.)
Nanti kami cari tau. Kamu kabari kami terus ya pergerakan Aruna di sana.
RATNA (V.O.)
Siap pa, sehat-sehat terus ya mama dan papa.
INDRI (V.O.)
Ya, aamiin. Kamu juga ya, jaga diri, jangan makan sembarangan.
RATNA (V.O.)
Ya ma. Assalamu’alaikum.
INDRI & AGUS (V.O.)
Waalaikumsalam.
Ratna memutus sambungan telepon itu dan melanjutkan makannya.
CUT TO
22. INT. RUANG TAMU RUMAH AGUS DAN INDRI – MALAM HARI
Indri dan Agus terdiam sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing. Indri mulai gelisah dan mengencangkan genggaman pada gawainnya.
AGUS
Sayang, besok sepertinya kita harus ke rumah orangtua kamu.
INDRI
Ya, yang. Perasaanku jadi nggak enak. Apa mama mau membahas tentang pewaris yayasannya ya?
AGUS
Yayasan?
Agus menatap Indri lekat dan memfokuskan perhatiannya kepada Indri.
INDRI
Ya, yayasan mama yang dekat tempat penambangan yang pernah kamu ceritakan dulu itu.
Agus mengenggam tangan Indri dan berkata dengan antusias.
AGUS
Kalau gitu, kita harus cari cara yang buat dapatin itu. Gimanapun caranya kita harus cari informasinya dulu.
Indri menatap heran ke suaminya karena tiba-tiba antusias.
INDRI
Kenapa memang yang?
AGUS
Aku pernah ketemu sama salah satu petugas batu bara di sana. Dia bilang, perusahaannya mau membeli tanah yang ditempati yayasan mama dengan harga lima kali lipat.
INDRI
Lima kali lipat? Memang berapa pa?
AGUS
Sekitar dua puluh milyar per kilo meternya dan kamu tau yang, waktu aku sampaikan ke mama masalah perusahaan tambang yang mau beli tanah mama di sana itu, mama bilang nggak akan pernah jual tanahnya yang ada di sana.
INDRI
Banyak banget pa.
AGUS
Banget, jadi kita harus cari info dulu yang tentang wasiat atau warisan. Bayangkan aja yang, yang ujung-ujungnya terima warisan paling banyakkan pihak keluarga Aruna, paling nggak kita bisa ambil bagian wasiatnya mama.
INDRI
Oke yang, aku siap-siap dulu buat barang-barang yang aku perluin untuk nginap dirumah mama.
Agus mengangguk, Indri pergi menuju kamar. Agus masih duduk, menggosok tangannya.
AGUS (V.O.)
Inilah saat-saat yang ditunggu tiba juga. Aku akan buat cara gimana wasiat atau warisan itu bisa didapatkan dengan jumlah yang lebih banyak ke keluargaku.
Agus menyandarkan dirinya dengan nyaman di sofa, merentangkan kedua tangannya, memejamkan matanya dan tersenyum membayangkan jika keinginannya menjadi kenyataan.