2. INT. RUANG TIM PRODUKSI DAN TIM STRATEGI – PAGI HARI
Aruna sudah duduk di kursi kerjanya. Tyas dan Rosa datang bareng sambil ngobrol ringan. Tyas yang melirik ke arah meja kerja para pegawai, terkejut dan tiba-tiba memperagakan orang terkejut yang berlebihan. Tyas memegang mukanya dengan kedua telapak tangannya, postur tubuhnya seperti orang squat.
TYAS
Ya Tuhan! Keajaiban dunia.
Rosa langsung melihat apa yang dilihat Tyas, dia terkejut dan lari ke arah Aruna sambil memegang mukanya Aruna dan menolehkan ke kanan dan ke kiri.
ROSA
Ya Allah Gusti, ini benar Aruna, kan Mbak Tyas?
Rosa berbicara nyaring, dengan muka kagetnya. Aruna menatap malas kedua rekan kerjanya. Tyas tertawa sambil presensi.
TYAS
Sepertinya kembarannya deh. Oi sini, presensi dulu.
Rosa mendekat ke Tyas sambil geleng-geleng kepala dan ikut presensi.
ROSA
Dunia mau kiamat deh mbak.
TYAS
Emang sudah siap lu?
ROSA
Belum mbak, masih banyak dosanya ini.
Tyas dan Rosa duduk di tempatnya masing-masing. Tyas mengeser kursi kerjanya ke dekat Aruna.
TYAS
Kesambet apa deh lu, Run, tumben banget pagi.
ARUNA
Mau konsul sama ibu Rosa yang terhormat, soalnya besok saya pulang kampung.
TYAS
Idih, enak banget deh kerjanya WFH.
ARUNA
Iri?
TYAS
Nggak, ngapain kalau ujung-ujungnya sama-sama stres, haha.
ROSA
Makanya Mbak Tyas, kalau kerja dinikmati biar nggak stres.
TYAS
Memang kamu nggak stres?
Tyas menatap Rosa dengan menaikan alisnya.
ROSA
Jangan ditanya lagi, stres berlipat-lipat, apalagi ditambah Aruna konsulnya sebulan lewat online.
Aruna langsung menatap ke arah Rosa.
ARUNA
Lah, jadi gimana mbak nasib saya? Sudah beli tiket subuuh tadi mbak.
ROSA
Ya sudah, jadwalin aja ulang penerbangannya atau batalin aja.
ARUNA
Mbak yang beliin tiket yang baru, mau?
Aruna menatap Rosa dengan mimik menantang.
ROSA
Ya nggak mungkinlah.
ARUNA
Sumpah deh, Mbak ini nyebelin banget sih.
ROSA
Ampun-ampun, omong-omong, kita bicarain di luar aja ya, tempat yang privasi, soalnya kalau sampai bocor nggak mungkin, kan.
ARUNA
Oke deh mbak. Saya mau ke ruangan Pak Fathan dulu ya, serahin berkas izin WFH.
ROSA
Oke, habis itu nyusul aja ya lu, gue duluan, lagi butuh kafein nih, ngantuk.
ARUNA
Siap laksanakan.
Aruna memberi hormat ala tentara ke Rosa dan pergi ke ruangan manajer strategi.
15. INT. DEPAN RUANG MANAJER STRATEGI – PAGI HARI
Aruna mengetuk beberapa kali pintu itu, tapi tidak ada jawaban. Aruna heran, saat dia berbalik ingin kembali ke ruangan kerjanya, bertemu dengan Swarti.
ARUNA
Loh!
SWARTI
Loh!
ARUNA
Ya Allah ibu bikin kaget aja.
SWARTI
Mbak Aruna mau ke tempat bapak?
ARUNA
Ya bu, bapak belum datang ya?
SWARTI
Bapak kerjanya WFH hari ini mbak, tapi ini saya dimintai tolong beliau buat bersihin ruangannya.
ARUNA
Oh gitu ya bu, terima kasih ya bu infonya. Saya ke ruangg kerja saya dulu.
SWARTI
Ya mbak, saa-sama. Silakan mbak.
Aruna kembali ke ruang kerjanya dan Swarti masuk ruangan Fathan.
18. EXT. ROOTOP PH – PAGI HARI
Aruna naik ke rootop PHnya untuk menelpon Fathan. Aruna duduk di salah satu bangku, panggilan pertama ternyata tidak diangkat oleh Fathan, panggilan kedua ternyata tidak diangkat juga. Saat percobaan panggilan yang ketiga, telepon itu diangkat.
ARUNA (V.O.)
Halo, Assalamu’alaikum.
17. INT. RUANG RAWAT INAP RUANG SEHATI NO 7 – PAGI HARI
Ponsel Fathan yang di charger bordering. Atiya yang berada di samping memperhatikan hingga deringan itu mati. Tidak lama setelahnya kembali ada telepon dari nomor yang sama.
ATIYA
Bi, coba bilang Fathan, ini dua kali sama nomor yang sama siapa tau penting.
IRFAN
Than, ini ada telepon dua kali dari nomor yang sama, penting kali ini. Masih lama?
FATHAN
Bentar lagi Bi, bisa tolong angkatkan dulu bi?
IRFAN
Umi kamu aja yang angkat.
FATHAN
Oke bi.
IRFAN
Mi, tolong angkatin aja kata Fathan.
Saat Atiya ingin mengangkat teleponnya, deringan itu mati duluan. Saat ponsel Fathan bordering kembali, Atiya langsung mengangkatnya.
ATIYA (V.O.)
Waalaikumsalam. Ya?
INTERCUT TELEPON ARUNA, ATIYA DAN FATHAN
ARUNA (V.O)
Selamat pagi, saya Aruna. Permisi, saya ingin menanyakan apakah Pak Fathan ada?
ATIYA (V.O)
Pagi, ada, tapi masih di belakang. Ada keperluan apa, mau disampaikan?
ARUNA (V.O)
Kalau begitu nanti aja bu, karena ingin menyampaikan perihal WFH saya. Terima kasih bu.
ATIYA (V.O)
Ya, sama-sama.
ARUNA (V.O)
Assalam…
Belum selesai salam Aruna sudah dipotong dengan Atiya.
ATIYA (V.O)
Eh, ini Fathan sudah ada. Mau ngomong sekarang?
ARUNA (V.O)
Boleh bu.
Atiya menyerahkan ponsel itu kepada Fathan yang sedang menggosok rambutnya dengan handuk. Fathan berjalan menjauh dan duduk di kursi yang disediakan di ruangan itu.
FATHAN (V.O)
Halo
ARUNA (V.O)
Halo pak, saya Aruna.
FATHAN (V.O)
Ya Run, kenapa?
ARUNA (V.O)
Maaf sebelumnya pak menganggu. Saya sudah meminta perizinan kerja WFH selama satu bulan saya mengikuti kompetisi itu. Karena berhubung bapak nggak di tempat, untuk suratnya boleh saya titip pak ke Mbak Tyas atau Mbak Rosa.
FATHAN (V.O)
Oh ya, bisa Run, titipkan aja ke mereka. Nanti saya ambil. Maaf ya hari ini saya WFH.
ARUNA (V.O)
Nggak papa pak.
FATHAN (V.O)
Oke, hati-hati ya besok, salam buat keluarga kamu.
ARUNA (V.O)
Baik pak, terima kasih pak sekali lagi. Assalamu’alaikum.
FATHAN (V.O)
Waalaikumsalam.
Panggilan berakhir.
CUT TO