HOPE AND DREAM
6. #6
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

18. EXT. ROOTOP PH – SORE HARI

 

Aruna berdiri di pagar pembatas rootop di PHnya. Dia diam menikmati hembusan angina sore. Tidak lama, Rosa datang dari belakang sambil membawa dua gelas cangkir kopi panas. Tepat setelah dia berdiri di samping Aruna memberikan segelas kopi panas.

 

ROSA

Nih buat lu.

 

Aruna menyambut dengan senyuman.

 

ARUNA

Terima kasih Mbak.

 

Rosa menatap lurus ke depan sambil menyeruput minumannya.

 

ROSA

Mau ngomong apa?

 

ARUNA

Duduk dulu yuk Mbak.

 

Aruna berjalan mendekati bangku yang disediakan di sana. Rosa mengikuti dari belakang. Sambil menatap cangkir kopinya dan memutar-mutarnya.

 

 ARUNA (CONT’D)

Mbak, kira-kira bisa nggak kalau aku nanti konsultasi masalah cerita aku ke Mbak online aja?

 

Rosa menatap Aruna heran. Aruna menatap balik ke arah Rosa.

 

ROSA

Kenapa memang?

 

ARUNA

Sepertinya aku harus balik kampung deh Mbak. Nenek aku sempat jatuh sakit. Satu pekan yang lalu juga ditelepon, katanya ada hal yang harus disampaikan.

 

ROSA

Hal pentng? Aih, bau-baunya seperti mau kabari masalah wasiat atau warisan aja.

 

ARUNA

Husstt! Mbak jang…

 

Perkataan Aruna terputus sesaat setelah mereka mendengar bunyi suara hamtaman dipintu Rootop. Aruna dan Rosa segera berbalik dan menatap pintu yang berbunyi. Rosa curiga, lantas menghampiri pintu dengan buru-buru untuk mencek secara langsung.

 

ROSA

SIAPA? SIAPA YA? Sialan.

 

Rosa berteriak beberapa kali dan mengumpat.

 

19. INT. TANGGA ROOTOP PH – SORE HARI

 

Sampai di depan pintu rootop, Rosa langsung turun untuk mencek siapa yang sedang menguping pembicaraan dia.

 

Saat diperiksanya, ternyata dia tidak menemukan sesuatu yang mengganjal. Kemudian dia kembali lagi ke atas.

 

18. EXT. ROOTOP PH – SORE HARI

 

Rosa kembali dengan mimik muka herannya. Aruna menghampiri.

 

ARUNA

Siapa Mbak?

 

ROSA

Aneh, aku nggak ketemu siapa-siapa. Tapi kalau suara tadi hanya hantaman angina juga nggak mungkin bakal senyaring itu.

 

Rosa kembali ke tempat duduknya. Aruna menakuti Rosa dengan menayunkan telapak tangannya ke depan.

 

ARUNA

Mbak, jangan-jangan…

 

ROSA

Apaan sih Run, masih sore juga. Aneh-aneh aja deh.

 

ARUNA

Mbak nggak tau, cerita dari anak-anak kalau di PH kita ini banyak penunggu…

 

Rosa langsung memotong ucapan Aruna dengan penuh penekanan dan nada kesal.

 

ROSA

Penunggu penunggu, penunggu apaan, penunggu cinta alias jones, jomblo ngenes. Emang ya kalau itu banyak!

 

ARUNA

Ihh, Mbak kok gitu sih! Ingat Mbak, ucapan adalah doa, saya sih nggak mau ikut-ikutan gabung grup penunggu cinta, ngenes bangeettt..

 

ROSA

Cocok lu jadi ketuanya Run.

 

ARUNA

Jangan ngomong gitu lah Mbak. Ya Allah jangan kabulkan kata-kata Mbak Rosa. Aamiin.

 

ROSA

Ya deh iya, yang tua ini ngalah aja sama yang burik.

 

Aruna yang ingin tertawa karena Rosa mengakui dirinya tua, tiba-tiba menjadi cemberut setelah mendengar perkataan Rosa dikalimat selanjutnya.

 

 ARUNA

Aih Mbak! Nyebelin dah. Yang tadi gimana? Bisa nggak?

 

ROSA

Idih sewot Mbak, jangan-jangan ngaku nih kalau burik.

 

Rosa kembali menggoda Aruna, tapi Aruna semakin kesal dan akhirnya teriak geram kepada Rosa.

 

ARUNA

MBAKK!!

 

ROSA

Ampun-ampun. Ya, aman aja. Email aja, lebih enak.

 

ARUNA

Ngomong gitu kek daritadi, malah bikin orang emosi dulu.

 

Aruna membuang mukanya sambil menaikan bibirnya ke samping. Rosa tertawa dan mencolek pipi Aruna.

 

ROSA

Seru sih jailin yang muda.

 

ARUNA

Sudah ah Mbak, saya mau pulang aja.

 

Aruna berdiri dan siap pergi, tapi ditahan oleh Rosa.

 

ROSA

Bentaran lagi, lah. Menghabiskan kopi dulu nanggung.

 

ARUNA

Ya, iya.

 

Akhirnya Aruna kembali duduk di samping Rosa sambil memandangi langit-langit.

 

20. INT. DINDING BAWAH TANGGA ROOTOP PH – SORE HARI

 

Ratna masih mengatur napasnya, kakinya masih terlipat seperti posisi sedang bersembunyi. Tangannya memegangi dadanya karena jantungnya yang berdegup kencang.

RATNA

(Dengan suara lirih)

Hampir, huft, hampir aja ketahuan. Apa maksudnya tadi, ada pembicaraan penting? WasiatSepertinya aku harus menanyakan ini ke ayah atau mama. Ada hal penting apa yang terjadi di rumah.

 

Ratna masih mengatur napasnya dan sesekali melihat ke atas bagian tangga menuju rootop.

 

Di arah yang berlawanan Swarti baru saja menyelesaikan tugas bersih-bersih sorenya. Setelah menyimpan barang bersih-bersihnya di gudang samping tangga dekat rootop, dia melihat Ratna yang duduk menekuk kakinya sambil sesekali melihat ke atas. Saking herannya Swarti ikut berjongkok memperhatikan Ratna.

Ratna merasa ada yang aneh di sampingnya lantas menengok dan terkejut. Ratna berteriak nyaring, Swarti yang kaget dengan teriakannya jadi ikut terkejut dan keluar kelatahannya.

 

RATNA

Eh maling, maling.

 

SWARTI

Hantu, hantu.

 

Setelah mereka menguasai keterkejutannya, Ratna berdiri yang diikuti Swarti.

 

RATNA

Sudah ah bu, mau pulang saya.

 

SWARTI

Ya, hati-hati.

 

RATNA

Ya, ibu juga.

 

Ratna pergi meninggalkan Swarti yang masih geleng-geleng heran dengan tingkah Ratna.

 

CUT TO


Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)